Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Baby Boy atau Baby Girl?


__ADS_3

Tidak terasa sudah beberapa pekan berlalu, itu artinya usia kehamilan Sara pun juga semakin bertambah usianya. Hari ini akan menjadi hari di mana Sara harus kembali ke Rumah Sakit dan memeriksakan kondisi janinnya.


"Mas, nanti anterin ke Rumah Sakit yah," pinta Sara kepada suaminya itu.


"Boleh ... jam biasa kan?" tanya Belva.


"Iya, nanti aku daftar pakai Whatsapp dulu, biar dapat nomor antriannya. Kalau sudah, aku kabarin," balas Sara.


"Ya sudah, penting nanti sore kamu siap-siap saja yah. Jadi, biar bisa langsung berangkat ke Rumah Sakit," balas Belva.


"Iya, Papa ... aku akan bersiap kok," balas Sara. Sara kemudian berdiri di samping suaminya, kemudian Sara kembali berbicara kepada suaminya itu.


"Mas, peluk dulu sebentar dong," pinta kali ini.


Belva yang sedang berdiri di cermin rias pun menaruh sisir di tangannya, dan segera memeluk Sara. Tumben-tumbenan istrinya itu meminta dipeluk terlebih dahulu. Mungkin saja memang efek hormon kehamilan yang membuat Sara lebih manja dengan suaminya.


"Sini ... dipeluk Mamas dulu. Mamanya dipeluk Mamas, si baby dipeluk Papa," sahut Belva.


Belva memeluk Sara untuk beberapa saat lamanya, dan Sara pun membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Di pagi hari, dengan suaminya yang sudah rapi dan wangi, menjadi kesukaan sendiri bagi Sara di kehamilan kali ini.


"Kamu lebih manja ya Sayang hamil kali ini ... apa jangan-jangan baby kita girl ini," balas Belva.


"Entah ... enggak tahu, cuma aku seneng saja nempelin kamu kayak gini. Udah rapi, harum lagi. Seneng deh," balasnya.

__ADS_1


Belva pun terkekeh geli dan sesekali menciumi kening istrinya itu, "Kamu bisa saja ... tiap hari aku juga rapi dan wangi, Sayang. Dulu, waktu hamil Evan, aku tuh suka banget dengan aroma Jeruk Pomello parfum kamu. Seharian saja tidak mencium aroma itu, bikin aku pusing," aku Belva dengan jujur.


"Oh ... jadi dulu, suka pelukin aku karena hirupi aroma Jeruk Pomello di parfum aku?" tanya Sara.


"Iya ... sekalian memang aku memang ingin memeluk kamu. Masak dulu kita suami istri, tetapi enggak ada komunikasi. Hubungan suami istri dalam satu tahun juga cuma hitungan jari. Apa enggak nyesek tuh?" ucap Belva dengan tiba-tiba.


Sara yang kali pertama mendengar unek-unek dari suaminya nyatanya justru tertawa, "Habis ... dulu kan kamu sewa rahim aku saja. Enggak cinta sama aku. Sedih tahu, digumuli dan tidak pernah mengucapkan I Love U," sahut Sara.


Ya, dulu ada kalanya Sara menginginkan tiga kata itu terucap dari bibir Belva. Namun, sampai rahim sewaan berakhir, tidak pernah sekali pun Belva mengucapkan kata cinta itu kepada Sara. Bahkan, setiap kali Belva usai menggumulinya dan hanya mengucapkan terima kasih, dada rasanya begitu sesak, hatinya terasa nyeri. Namun, sepenuhnya Sara memahami bahwa dirinya memang bukan siapa-siapa bagi Mr. CEO itu.


"Maafkan aku yang dulu, Sayang ... cuma sekarang, sampai kamu tua nanti, aku akan selalu mengucapkan I Love U kepadamu. I Love U, Istriku," ucap Belva dengan memejamkan matanya dan kian memeluk Sara dengan begitu eratnya.


Keduanya masih berpelukan untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Sara mengurai pelukannya, dan mendorong sedikit dada Belva. "Ya sudah, sana berangkat bekerja dulu ... nanti sore aku tunggu yah," balas Sara.


Sebab, hari Belva rasanya ada yang kurang jika Sara tidak mengantarnya sampai ke depan pintu. Untuk itu, pasti Belva akan menggandeng tangan istrinya itu sampai ke depan pintu.


"Bye, aku kerja dulu yah ... hati-hati di rumah. Tidak usah kecapekan sama Elkan. I Love U, Istriku," ucap Belva sembari melambaikan tangannya dan memasuki mobil mewahnya.


***


Sore harinya ....


Sara sudah bersiap dengan buku catatan pemeriksaan miliknya. Menunggu suami tercinta pulang dan akan mengantarnya ke Rumah Sakit. Untuk kali ini, Evan dan Elkan tidak ikut ke Rumah Sakit karena mereka memilih untuk bermain di rumah dengan Bibi Tini di rumah.

__ADS_1


"Yuk, Sayang ... sekarang saja," ucap Belva yang memasuki rumah masih mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kemeja panjang itu.


"Mas enggak mandi dulu?" tanya Sara kepada suaminya.


"Gini saja ... takut telat. Kamu dapat nomor antrian duluan soalnya. Yuk, sekarang," ajak Belva kepada Sara untuk segera berangkat ke Rumah Sakit.


Sore hari dengan lalu lintas yang cukup ramai. Sara melihat pemandangan yang bergerak dari balik kaca jendela mobilnya. Keduanya sesekali juga saling mengobrol, sehingga tidak terasa sekarang mereka sudah tiba di Rumah Sakit.


Mengantri terlebih dahulu dan menunggu sampai perawat memanggil nama Sara untuk memasuki ruang pemeriksaan dengan Dokter Indri. Hampir dua puluh menit keduanya menunggu, sampai pada akhirnya giliran Sara.


"Selamat malam Bu Sara dan Pak Belva," sapa Dokter Indri kepada keduanya.


"Malam Dokter," sahut Sara.


Kemudian Dokter Indri melihat catatan pemeriksaan Sara terlebih dahulu. Melihat catatan berat badan dan tekanan darahnya, kemudian mencatatkan beberapa hal di sana.


"Jika sesuai catatan di sini, harusnya kehamilan Bu Sara sudah 19-20 weeks. Artinya sudah setengah jalan ya Bu Sara," ucap Dokter Indri.


"Iya Dokter, ini saja sudah kelihatan lebih membuncit, Dok ... dibandingkan kehamilan sebelumnya," balas Sara.


"Benar Bu Sara ... kalau nanti posisi bayinya bagus, kita bisa melihat jenis kelaminnya nih. Bu Sara dan Suami ingin baby boy atau girl?"


Tanya Dokter Indri dengan setengah tertawa menatap Sara dan Belva. Pemeriksaan bayi selama masih berada dalam kandungan memang menyenangkan. Sama seperti pertanyaan ingin baby boy atau baby girl juga rasanya menggelitik dan membuat orang tua ingin tahu jenis kelamin babynya.

__ADS_1


__ADS_2