Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
38 Weeks!


__ADS_3

Tidak terasa bulan pun telah berganti bulan. Usai kehamilan Sara juga kian bertambah. Perutnya sudah menyembul sempurna laksana bola. Saat ini, kehamilan Sara sudah memasuki Trimester terakhir. Oleh karena itu, kali ini Belva mengajak Sara untuk melakukan pemeriksaan lagi.


"Nanti sore seperti biasa ya Sayang ... dari kantor, aku akan jemput dulu dan kita ke Rumah Sakit yah. Harus cek up dan memastikan kondisinya Adik Bayi. Buku catatan pemeriksaannya jangan lupa dibawa, nanti aku daftarkan langsung saja dari kantor biar dapat nomor antrian cepat," ucap Belva.


"Iya Mamas ... aku udah masukkan bukunya ke dalam tas sejak semalam kok, Mas. Biar enggak ketinggalan. Berarti nanti seperti biasa kan? Evan kita ajak enggak Mas?" tanyanya kali ini kepada suaminya.


"Coba ditanya saja Sayang ... Evannya mau gimana, kalau mau di rumah ya enggak apa-apa. Kalau mau ikut, ya kita ajak saja. Sudah saatnya membantu Evan supaya dia bisa memilih apa yang dia mau," balas Belva.


Sara pun menganggukkan kepalanya, kali ini dia akan mengikuti saran dari suaminya itu dan akan membiarkan Evan untuk memilih. Anak bisa didorong untuk belajar memilih dan tidak harus terus-menerus mengikuti apa yang dimaui oleh orang tua. Setidaknya anak bisa memutuskan dengan sederhana untuk membuat pilihan, menimbang mana pilihan yang tepat, dan menerima konsekuensi dari pilihannya.


"Oke deh, nanti tanyain ke Evannya langsung saja," balas Sara.


Setelahnya Sara mulai mengantar suaminya itu sampai ke depan pintu. Bumil satu itu tak pernah absen untuk mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu. Mencium punggung tangan suaminya, dan menunggu sampai mobil yang dikendarai suaminya berlalu pergi.


"Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu ya Sayang ... sama seperti biasa pesanku, jangan kecapekan. Nanti sore udah siap yah, aku akan jemput kamu, dan kita akan ke Rumah Sakit," pamit Belva kepada istrinya.


Pria itu kemudian menundukkan kepalanya, dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Sara.


"I Love U," ucap Belva lagi.


Belva kemudian menundukkan wajahnya, dan kemudian pria mengusap dan memberikan kecupan di perut Sara.


"Baby Boy, Papa berangkat kerja dulu yah ... I Love U," ucap Belva.


Sara tersenyum, hatinya benar-benar merasa hangat bisa merasakan kasih sayang dan perhatian yang begitu tulus dari suaminya itu. Kehamilannya kali ini, berbeda jauh dengan dirinya waktu hamil Evan dulu. Di mana dirinya dan Belva sebisa mungkin menghindari kontak fisik. Namun, sekarang tiada hari tanpa kontak fisik. Entah itu sekadar bergelayut manja, mencium pipi, atau bersandar di dada suaminya.

__ADS_1


"Hati-hati Papa ... ditunggu nanti sore yah," balas Sara sembari melambaikan tangannya kepada suaminya itu.


***


Sepanjang hari Belva fokus untuk bekerja dan berusaha menyelesaikan semuanya. Hingga menjelang sore, Belva pun memilih untuk pulang karena dia akan segera menjemput Sara dan mengajaknya ke Rumah Sakit.


Usai kehamilan Sara sudah memasuki Trimester Akhir. Oleh karena itu, keduanya akan lebih sering melakukan cek up dan bahkan melakukan cek dalam untuk melihat bahwa proses pembukaan mungkin saja sudah terjadi.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Belva pun segera pulang, dan menjemput istrinya.


"Ke Rumah Sakit sekarang Sayang?" tanya Belva begitu dia memasuki rumah dan melihat Sara sudah bersiap dan menunggunya di ruang tamu.


"Iya, sekarang aja yuk Mas ... daripada nanti kemalaman. Evan juga mau ikut kok," balas Sara.


"Evan mau ikut Papa dan Mama ke Rumah Sakit?" tanya Belva.


Belva pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengajak Sara dan Evan mengikuti Belva untuk masuk ke dalam mobil.


Belva segera mengemudikan mobilnya dan membawa Sara dan Evan ke Rumah Sakit. Lantaran Belva sudah mendaftar di pagi hari, kali ini Sara pun mendapatkan nomor antrian satu.


"Halo, selamat sore Bu Sara, Suami, dan Evan ...."


Dokter Indri yang menyambut mereka dengan begitu ramah. Keramahan Dokter Indri ini jugalah yang membuat Sara nyaman selama diperiksa dan konsultasi dengan Dokter Indri.


"Sore Dokter," sapa Sara dan Belva bersamaan.

__ADS_1


Kemudian Dokter Indri membuka buku pemeriksaan Sara, kemudian mulai menulis tanggal pemeriksaan, dan melihat pertambahan berat badan, serta tekanan darah Sara.


"Sudah 38 minggu ya Bu Sara. Dari awal hamil hingga sekarang, kenaikan berat badannya hingga 17 kilogram," ucap Dokter Indri.


Perlahan Sara pun menganggukkan kepalanya dan tertawa, " Iya Dok, banyak banget naiknya ya Dok?" balas Sara.


"Tidak juga kok Bu Sara, bahkan ada yang mengalami kenaikan berat badan hingga lebih dari 20 kilogram. Jadi, tidak apa-apa," penjelasan dari Dokter Indri.


Setelah itu, Dokter Indri meminta Sara untuk berbaring di atas brankar dan melanjutkan pemeriksaan dengan USG.


"Usai kehamilan sudah 38 minggu. Di sini terlihat yah jika ruang gerak si baby di dalam sini mulai berkurang. Hal ini dikarenakan karena besar dan berat badan baby yang semakin hari semakin bertambah. Sekarang kita ukur dulu panjang bayinya yah ... dari kepala hingga ke tumitnya, sekitar 49 centimeter. Lalu, kita lanjut untuk mengukur berat badannya. Wah, ternyata sudah besar ya Bu Sara ... sudah 3 kilogram," jelas Dokter Indri dengan begitu detailnya.


"Posisi bayi dan plasentanya bagaimana Dok? Memungkinkan tidak saya melahirkan secara normal lagi?" tanya Sara kali ini kepada Dokter Indri.


Mulailah Dokter Indri kembali menggerakkan transducer di tanggannya dan meminta Sara dan Belva memperhatikan letak posisi bayi dan plasenta melalui monitor. "Ini posisi bayinya ya Bu Sara dan Bapak. Hmm, sayangnya ... posisi bayi Bu Sara dalam keadaan melintang dengan kepalanya yang berada di dekat pinggang. Lalu, itu plasentanya justru berada tepat di dekat jalan lahir, atau biasa disebut plasenta previa," jelas Dokter Indri lagi.


Apa yang baru saja disampaikan oleh Dokter Indri membuat Sara menyipitkan matanya, jantungnya menjadi berdebar-debar saat Dokter Indri mengatakan bahwa posisi bayinya dalam keadaan melintang.


"Jadi, bagaimana Dok?" tanya Sara lagi kali ini.


"Jika bayi dalam keadaan terbalik, kaki yang dibawah atau sungsang, kami masih berani menyarankan melahirkan normal. Namun, jika sudah melintang seperti ini dan juga terjadi plasenta previa, maka salah satu cara yang disarankan adalah melakukan Caesar," jawab Dokter Indri.


Memahami bahwa mungkin Sara menginginkan untuk bisa melahirkan secara normal, Dokter Indri pun kemudian tersenyum. "Melahirkan itu memang opsi atau metode melahirkan yang disarankan itu normal atau Caesar. Tidak ada bedanya Bu, karena Ibu melahirkan anak Ibu sendiri. Apa benar lebih sakit melahirkan secara normal? Jawabannya tidak juga, karena melahirkan secara Caesar pun juga sakit. Pemulihan untuk metode Caesar juga lebih lama. Namun, jangan takut karena keutamaan sebuah operasi Caesar adalah ibu dan janinnya sehat," jelas Dokter Indri lagi.


Merasa mendapat penjelasan dari Dokter Indri, perlahan Sara mengangguk. “Iya Dok … tidak apa-apa. Hanya saja, semula saya mikirnya bisa melahirkan dengan normal.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa Bu … semua calon Ibu juga demikian kok. Jadi sekarang, dibawa happy saja Bu. Tanamkan dalam hati dan pikiran Ibu bahwa tidak lama lagi akan bertemu dengan si buah hati. Itu saja,” tambah Dokter Indri.


__ADS_2