
Begitu Akad nikah sudah berlangsung, Sara dan Belva memilih bergabung dengan tamu undangan yang jumlahnya hanya beberapa gelincir saja. Konsep intimate wedding party memang begitu terasa pada pernikahan Belva dan Sara kali ini.
"Sudah nangisnya, masak sejak tadi nangis terus sih," ucap Belva kini yang mencoba menyeka buliran air mata membasahi wajah Sara dengan menggunakan ibu jarinya.
"Pak Belva yang bikin aku nangis kayak gini," balas Sara.
Agaknya Sara justru menyalahkan Belva yang sukses membuatnya menangis seperti ini. Tentu ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis bahagia. Sekalipun semua terasa kejutan, tetapi Sara begitu bahagia hari ini.
"Maaf ... aku cuma ingin membuktikan kalau aku sungguh-sungguh. Niatan yang baik bukankah lebih baik disegerakan?" tanya Belva kali ini.
Perlahan Sara turut menganggukkan kepalanya, "Iya ... cuma ini terlalu cepat. Baru sebulan mungkin dari pertemuan kita kembali setelah empat tahun, justru kini kita sudah kembali menikah," balas Sara.
"Aku tidak mau kehilangan cintaku lagi, Sara... dua tahun ini begitu berat buatku hidup sendirian dan membesarkan Evan. Lagipula, perasaan kita saling bertaut, jadi lebih baik disegerakan. InsyaAllah, semua sudah diberikan jalan yang terbaik dari Allah," balas Belva kali ini.
Kali ini Belva menunjukkan sisi lemahnya sebagai seorang pria. Hidup sebagai duda dan membesarkan seorang putra yang masih Batita (bawah tiga tahun) tidaklah mudah. Sehingga begitu kembali bertemu dengan Sara, mengungkapkan perasaannya, dan perasaan Sara juga sama lebih baik Belva menyegerakan niat baiknya.
"Apakah seberat itu?" tanya Sara kini.
Belva pun menganggukkan kepalanya, "Aku pernah kehilangan kamu dan Anin. Jadi, aku harus memperbaiki diriku. Aku tidak ingin menjadi pria yang kehilangan lagi, Evan membantuku berubah. Sekarang, ini adalah niat baik dan bukti aku benar-benar cinta kamu, Sara," ucap Belva kali ini.
Mendengar ucapan Belva, nyatanya justru Sara kembali meneteskan air mata. Jadi, selama dua tahun ini memang menjadi fase terberat bagi kehidupan Belva. Memang kehilangan pasangan hidup rasanya separuh nyawa kita turut melayang, juga beradaptasi dengan Evan yang masih begitu kecil sudah pasti tidaklah mudah bagi Belva.
Melihat Sara yang kembali menangis, Belva lantas merangkul bahu istrinya itu. “Sudah Sara … ini hari bahagia kita. Jadi jangan menangis. Lagipula, semuanya sudah berlalu dan sekarang aku memilikimu bukan?” ucap Belva kali ini.
__ADS_1
Perlahan Sara menganggukkan kepalanya, “Iya,” balasnya dengan terisak.
Hingga akhirnya, tanpa Sara dan Belva ketahui ada seseorang yang turut hadir pada pernikahan mereka sore itu. Dia adalah Zaid. Ya, Zaid nyatanya berbesar hati dan bahkan turut menghadiri pernikahan sederhana yang digelar oleh Belva. Pria itu dengan tenang berjalan ke arah Sara dan Belva. Menatap Sara dengan sorot matanya yang tajam, sebisa mungkin Zaid mempertahankan senyuman di wajahnya.
“Hei Sara …,” sapa Zaid kali ini.
Sontak saja Sara dan Belva mengangkat wajah dan menatap sosok Zaid yang sudah berdiri di hadapannya.
“Zai,” balas Sara. Sungguh Sara tidak menyangka bahwa pria itu akan datang di hari bahagianya.
Sara tahu bahwa tidak mudah menghadiri pesta pernikahan seseorang yang singgah di dalam hatinya, tetapi Zaid melakukannya. Sara tahu, hari bahagianya justru adalah hari yang pilu bagi Zaid.
Akan tetapi, di hadapan Sara kali ini Zaid mengulas senyuman di wajahnya. Menatap Sara dengan tersenyum.
“Selamat ya Sara … akhirnya hari ini pun tiba,” ucap Zaid. Pria itu terlihat bisa menguasai dirinya dan emosinya kali ini.
Terlihat Zaid yang menggelengkan kepalanya secara samar, “Tidak perlu meminta maaf Sara … karena perasaan tidak bisa dipaksakan. Apa pun yang terjadi, aku datang karena ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk kalian berdua,” ucap Zaid.
Pria itu lantas menatap Belva, “Tolong jagalah Sara … dia adalah wanita yang baik. Aku tahu sendiri bagaimana baiknya Sara. Aku juga tahu walaupun dia jauh dari Evan, tetapi dia adalah seorang Ibu yang baik. Seorang Ibu yang berjuang untuk bisa memberikan ASIP untuk Evan sampai Evan berusia 2 tahun. Jadi, jagalah Sara dan bahagiakanlah dia,” ucap Zaid kali ini kepada Belva.
Zaid mengatakan semua itu kepada Belva karena Zaid tahu seberapa keras Sara berjuang untuk bisa memberikan ASIP eksklusif untuk Evan. Selama dua tahun, Sara benar-benar berkomitmen untuk menabung ASIP dan mengirimkannya setiap dua pekan untuk Evan.
Belva pun lantas menganggukkan kepalanya, “Terima kasih … selama ini kamu baik kepada Sara,” balas Belva. Bukan sekadar omong kosong, tetapi Zaid memang pria yang baik.
__ADS_1
“Sama-sama … aku benar-benar ikhlas melepaskan Sara. Doaku semoga kalian berdua akan selalu berbahagia,” ucap Zaid kali ini.
Lagi, Zaid menatap Sara dengan senyuman, lantas pria itu seolah meminta izin kepada Belva.
“Boleh aku memeluk Sara untuk terakhir kalinya?” tanya Zaid kali ini.
Tampak kedua mata Belva yang membola. Pria yang sudah menjadi posesif itu tentu tidak rela jika Sara dipeluk oleh orang lain, terlebih orang itu adalah Zaid. Akan tetapi, mengingat Zaid yang sudah baik kepada Sara selama empat tahun ini, Belva pun mengangguk samar.
“Silakan,” balas Belva.
Zaid mengangguk, pria itu mengambil satu langkah ke depan dan kemudian memeluk Sara.
“Selamat berbahagia Sara … jangan selalu hidup dalam penyesalan dan kesedihan. Kini ada suaminya yang akan berbagi kebahagiaan bersamamu. Kisah kita memang tidak akan pernah bersama, tetapi doaku akan selalu bersamamu. Selamat berbahagia,” ucap Zaid kali ini dengan tulus.
Sungguh Zaid membuktikan bahwa hakikat tertinggi dari mencintai adalah rela melepaskan orang yang kita cintai tanpa harus memilikinya. Zaid, pria itu benar-benar berhati emas, bahkan dengan hati yang tulus dia mendoakan kebaikan untuk Sara.
Usai memberikan selamat bagi Sara dan Belva, lantas Zaid berpamitan dengan keduanya.
"Baiklah, aku pamit. Ingat Pak Belva, bahagiakan Sara … hiduplah bahagia bersama. Sara, aku pamit yah …."
Perlahan Zaid pun berlalu dari hadapan keduanya. Mengambil beberapa langkah ke depan, sampai akhirnya Zaid membalikkan badannya dan kembali menatap Sara. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Sara.
Situasi yang haru, dan Belva sangat tahu kenapa semua ini terjadi. Lantas Belva merangkul bahu Sara dan mengusapi lengannya perlahan.
__ADS_1
"Dia pria yang baik, kiranya Zaid mendapatkan pendamping hidup yang baik pula," gumam Belva dengan lirih.
Ya, Zaid adalah pria yang baik. Cintanya untuk Sara juga begitu tulus. Hanya saja semesta memang tidak menakdirkannya untuk bersatu dengan Sara. Pria berhati emas itu suatu saat nanti pastilah akan menemukan kebahagiaannya.