
Hari ini, Anin benar-benar berpamitan kepada Belva dan Sara untuk berangkat ke Bali. Bagaimanapun Anin tetap mengutamakan pekerjaannya sebagai model. Lagipula, jadwal pemotretan sudah diatur oleh agensinya, sehingga Anin tinggal mengikuti setiap jadwal yang diberikan oleh agensinya. Akan tetapi, sebelum berangkat, Anin berpamitan dulu dan meninggalkan pesan untuk Sara.
“Sara, aku pamit dulu ya … aku akan ke Bali untuk satu minggu. Aku titipkan Belva padamu ya,” pamit Anin siang itu.
Hingga Sara akhirnya pun mengangguk, “Iya Kak, jaga diri Kakak baik-baik,” balas Sara.
Usai berpamitan dengan Sara, Anin pun segera bergegas menuju bandara, dan dia siap untuk mengikuti sessi pemotretan di Pulau Dewata, Bali.
***
Sore hari saat Belva pulang dari kantornya, pria itu memilih memasuki kamarnya terlebih dahulu. Rasanya begitu penat karena seharian banyak klien yang datang dan berkonsultasi masalah property ke kantornya. Praktis, sepanjang hari Belva benar-benar tidak bisa memegang handphonenya. Hingga sekarang, pria itu tengah membuka pesan yang sudah masuk ke dalam handphonenya sejak tadi siang. Rupanya pesan itu adalah dari Anin.
[To: Belva]
[Aku pamit ya, aku ada pemotretan ke Bali selama satu minggu.]
[Hati-hati di rumah.]
[Tolong jangan terlalu dingin, ajak Sara mengobrol. Ibu hamil juga membutuhkan perhatian bukan?]
Membaca deretan pesan itu, Belva hanya mengernyitkan keningnya. Sekeras apa pun dia meminta, nyatanya Anin tetap lebih mengutamakan pekerjaan dan kariernya. Seolah semua harta, saham, dan property yang dia miliki tidak bisa menjadikan Anin untuk sedikit lebih memperhatikan rumah tangganya.
Untuk mengusir penatnya, Belva memilih untuk mandi terlebih dahulu. Pria itu baru berniat untuk turun ke bawah saat jam makan malam saja.
Hampir jam 19.00, barulah Belva turun ke bawah. Di sana yang dia lihat pertama kali adalah Sara yang tengah memanaskan sayuran dan menghidangkannya di meja makan. Pemandangan yang langka bagi Belva, karena biasanya Bibi Watinya yang menyiapkan semua makanan di meja.
“Kenapa kamu yang menyiapkan semuanya Sara?” tanya Belva tiba-tiba kepada Sara.
__ADS_1
“Oh, ini karena Bibi Wati sedang pamit pulang ke desanya, Pak … katanya cucunya sakit. Siang tadi, Bibi Wati sudah telepon Pak Belva tetapi tidak dijawab,” jawab Sara.
Ah, barulah Belva ingat bahwa ada telepon dari Bibi Wati ke handphonenya. Hanya saja karena terlalu sibuk, Belva sampai tidak mengangkat panggilan itu.
“Kalau Kak Anin sedang ada pemotretan ke Bali, Pak … untuk satu minggu,” ucap Sara yang hanya bisa sekadar menyampaikan informasi saja sebenarnya.
Belva kemudian menggeser kursi itu dan segera duduk di sana, “Iya, aku sudah tahu,” sahutnya.
Setelah itu, keduanya sama-sama menikmati makan malamnya. Belva tampak mengernyitkan keningnya saat melihat piring Sara hanya terisi dengan sedikit makanan.
“Kenapa makanmu sedikit sekali?” tanya Belva dengan menunjukkan wajah heran.
Sara kemudian mengangguk, “Iya, Pak … tadi aku kebanyakan makan buah, jadi makan malamnya sedikit saja,” jawabnya.
“Oh, tetapi ingat makanan yang bergizi juga supaya bayinya sehat,” sahut Belva.
Setelah itu, Sara memilih membereskan meja makan, mencuci peralatan makan yang telah mereka pakaian, memastikan tidak ada kotoran yang tersisa, barulah Sara ingin beranjak ke kamarnya. Akan tetapi, saat Sara berbalik rupanya Belva masih berdiri di dekat meja makan. Dalam diam, pria itu tampak mengamati Sara.
“Tidak perlu kamu bereskan malam-malam begini, bisa dibereskan besok pagi,” ucap Belva kepada Sara.
Akan tetapi, Sara kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa Pak, lagipula menunda-nunda itu juga tidak baik. Peralatan makan yang kotor lebih baik segera dicuci dan dibersihkan,” jawabnya.
Saat Sara menjawab demikian, rasanya Belva melihat sosok wanita yang mau menjadi ibu rumah tangga dan mengurus rumah. Entah rasanya, terkadang Belva merindukan sosok wanita yang mau mengurus rumah tangga, dan mau mengurus dirinya. Selama ini, Belva lebih banyak mengurus dirinya sendiri. Bahkan pakaian yang dia pakai setiap hari, dia juga yang mengambilnya dari walk in closet.
Melihat Belva yang masih diam, Sara memilih melewati pria itu begitu saja dan segera naik ke dalam kamarnya.
Sara tidak menyangka jika rupanya Belva mengekorinya dan turut mengikutinya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Loh, Pak … ngapain di sini?” tanya Sara itu yang tampak terkejut karena Belva justru turut mengikutinya masuk ke dalam kamar.
“Seminggu ini, aku tidur di sini yah,” jawab Belva dengan spontans.
Lagi-lagi, rasanya Sara menjadi dilema. Ingin menolaknya, faktanya di rumah besar nan mewah ini dirinya hanya menumpang. Ingin mengizinkan, tetapi dia takut kalau pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta kepada suami kontraknya itu. Pilihan yang sulit memang sulit, tetapi karena Belva telah memasuki kamarnya, maka yang bisa dilakukan Sara hanyalah mengangguk pasrah.
Tanpa menunggu lama, Belva memilih duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi sofa, menyusul Sara yang sudah terlebih dahulu duduk di sana.
Melihat Belva yang terlihat kecapean dan letih, Sara pun memberanikan diri untuk bertanya, “Capek ya Pak?” tanyanya singkat.
Belva pun mengangguk, “Iya, banyak kerjaan di kantor,” jawabnya.
Setelah itu, Belva kembali melirik kepada Sara, “Kamu gimana? Mual dan muntah enggak?” tanyanya kepada Sara.
“Aku selalu sehat kok, Pak … semoga aku selalu sehat sampai melahirkan nanti,” jawab Sara.
Keinginan yang sudah pasti menjadi impian para wanita hamil yaitu bisa sehat sampai melahirkan nanti. Mungkin adalah sebuah keinginan yang simpel, tetapi bagi Sara itu adalah mimpi besarnya.
Dalam hatinya, Belva seakan tertegun, bagaimana bisa di hadapannya saat ini ada seorang wanita yang tidak ambisius, dan hanya memiliki mimpi-mimpi yang sederhana.
“Kamu yakin, tidak mengidam apa pun?” tanya Belva lagi untuk mencoba mencari tahu apa yang sedang diinginkan Sara saat ini. Setidaknya jika Sara menginginkan sesuatu, Belva berharap bisa membelikan apa yang Sara inginkan.
Sara menggelengkan kepalanya, “Tidak Pak, kenapa rasanya aku tidak ngidam apa pun,” jawabnya.
Setelah mengatakan itu, rasanya Sara menguap. Dirinya cukup capek dan mengantuk malam ini, oleh karena itu, Sara memilih beranjak menuju ke tempat tidurnya. Akan tetapi, baru saja Sara ingin menarik selimut, tiba-tiba listrik padam. Sumber pencahayaan di seluruh rumah itu padam.
“Akhhh,” teriak Sara yang tampak kaget karena listrik padam dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Berharap bahwa listrik akan segera menyala dan mengusir ketakutannya sekarang ini.