Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Luapan Kerinduan pada Evan


__ADS_3

Banyak berbicara membuat Sara kian mengenal sosok Belva. Penilaiannya kepada Belva berubah dengan seiring waktu berjalan. Terlebih saat kini Belva menjadi pribadi yang lebih terbuka, bisa mengutarakan perasaannya, tentu itu akan semakin membuat Sara mengenali sosok suaminya itu.


"Mas," panggil Sara kepada suaminya.


"Hmm, apa?" Belva menyahut dengan cepat.


"Sering-sering cerita sama aku kayak gini yah. Supaya aku makin mengenalmu. Jujur saja kalau aku belum sepenuhnya mengenalmu. Kalaupun aku mengenalmu, itu adalah sisa-sisa memori empat tahun lalu. Manusia berubah seiring berjalannya waktu, pun denganmu. Jadi, sering-sering cerita dan sharing denganku yah?" pinta Sara kali ini kepada Belva.


Pria yang sedari tadi duduk dan merangkul bahu Sara itu perlahan menganggukkan kepala dan melirik sekilas kepada Sara.


"Iya, kamu juga. Jangan memendam semuanya sendiri. Perlu ada keterbukaan antara suami dan istri. Jadi, kamu pun sering-sering bercerita denganku. Apa pun itu kamu bisa cerita sama aku," balas Belva.


Sara merespons dengan memberikan anggukan dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Membiarkan waktu perlahan dalam kesunyian hanya percikan air yang digerakkan oleh kaki-kaki keduanya yang masih berada di dalam kolam renang.


Sampai pada akhirnya, tiba juga saatnya untuk menjemput Evan di Bandara.


"Kita jemput Evan sekarang yuk?" ajak Belva kali ini kepada Sara.


Wanita pun perlahan berdiri, mengganti pakaiannya, dan membawa sling bagnya kemudian mengikuti Belva keluar dari kamar. Tentu Sara sangat senang karena akhirnya dirinya bisa bertemu dengan Evan.


"Ke Bandara jauh juga ya Mas? Mana jalannya sepi kayak gini,” ucap Sara sembari memperhatikan jalanan di pulau Bintan yang masih sepi dan dipenuhi pepohonan di kanan dan kirinya.


“Iya Sayang … jalan di luar pulau Jawa ya seperti ini. Ini saja sudah bagus karena sudah diaspal jalannya, jadi aman lah,” balas Belva.


Hampir 45 menit berkendara, barulah mereka tiba di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah. Menunggu pesawat dari Jakarta yang akan segera mendarat beberapa saat lagi. Belva dan Sara sudah bersiap di pintu kedatangan.


“Kamu sudah kangen banget ya sama Evan?” tanya Belva kini.


“Iya, kangen banget,” balas Sara.

__ADS_1


“Kalau ada Evan, nanti Papanya tergeser dong,” keluh Belva kali ini.


“Ya enggak tergeser … cuma kan waktunya bagi-bagi. Kan sudah tiga hari penuh sama Papanya Evan. Jadi boleh enggak kalau hari ini aku sama Evan dulu?” tanya Sara kali ini kepada Belva.


Perlahan Belva pun menganggukkan kepalanya, sembari menatap Sara. “Iya-iya … boleh kok,” balasnya kini.


Hampir lima belas menit menunggu akhirnya diberitakan bahwa pesawat udara dengan rute penerbangan dari Jakarta menuju Tanjung Pinang telah mendarat. Sara dan Belva pun begitu lega. Beberapa saat lagi Sara akan bertemu dengan putranya yang sudah sangat dirindukannya itu.


Satu per satu penumpang mulai keluar dari melalui pintu kedatangan. Sara dan Belva juga tampak mengamati satu per satu penumpang. Hingga akhirnya mereka melihat keluarga Amara dan Evan yang sudah kelihatan. Rupanya dari jauh Evan juga sudah melihat Mama dan Papanya, sehingga anak itu mulai sedikit berlari dan segera menggapai Mama dan Papanya.


"Papa, Mama," teriak Evan sembari menghambur ke pelukan Sara.


Sara pun segera sedikit berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Evan. Lantas Sara memeluk Evan dengan begitu eratnya.


"Mama sangat kangen kamu, Van," ucap Sara.  Bahkan air mata berlinangan begitu saja dari sudut mata Sara karena begitu merindukan Evan.


Ada luapan kerinduan yang membuat Sara yang sudah berusaha menahan tangis akhirnya air mata itu keluar dengan sendirinya. Evan pun memeluk Mamanya dengan sama eratnya.


Amara, Rizal, dan Jerome pun turut bergabung dengan Sara, Belva, dan Evan. Terlebih Amara dan Rizal yang tampak tertawa-tawa melihat wajah cerah Belva Agastya. Pria yang biasanya berwajah dingin dan datar itu, kini bisa berekspresi dengan begitu cerahnya.


"Gimana Kak, tiga hari cukup kan? Langsung jadi enggak nih keponakan kedua buat aku?" goda Amara kepada Belva.


Belva hanya diam dan seolah enggan menanggapi ucapan adiknya itu. "Makasih yah, sudah mau aku repotkan," balas Belva. Rupanya justru Belva tengah berterima kasih dan tidak menanggapi perkataan Amara sebelumnya.


“Nanti kalau mau honeymoon kedua boleh kok Kak … di Bogor saja, di Villa. Malamnya kan Evan bisa tidur di rumahku,” balas Amara lagi.


Belva enggan menanggapi. Bagaimana dia bisa memiliki waktu selama tiga hari bersama Sara sudah cukup. Selain itu, sebahagia apa pun dirinya bisa giat-giat mengunjungi ladang halal milik Sara, Belva tidak akan terlalu sering menitipkan Evan juga. Sebab, Belva tahu bahwa tidak baik jika Evan terus-menerus dititipkan. Yang ada justru Belva akan mencari waktu supaya bisa membagi waktu untuk keduanya.


Kemudian mereka semua segera keluar dari bandara dan masuk ke mobil yang sudah disewa oleh Belva. Belva yang mengemudikan mobil itu, kemudian Rizal duduk di kursi co-driver. Di belakang diduduki Sara, Evan, Amara, dan Jerome. Kali ini, Evan rupanya minta dipangku oleh Mamanya. Mungkin lantaran tiga hari tidak bertemu, sehingga Evan begitu menempel dengan Mamanya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, dua keluarga itu mengobrol. Terutama Belva dan Rizal yang sesekali membahas bisnis property milik mereka berdua. Sementara Sara menunjukkan tempat-tempat yang mereka lintasi di sepanjang jalan kepada Evan.


Hampir 45 menit berkendara, kini mereka telah tiba di Resort yang berada tepat di tepi pantai Trikora itu.


“Ini kamar untuk kalian,” ucap Belva memberikan sebuah kunci kepada Rizal.


“Makasih,” balas Rizal.


Sementara Evan sudah menggandeng tangan Sara terlebih dahulu untuk memasuki kamar. “Mama, Evan mau bobok siang dulu yah … tadi di pesawat tidak bisa tidur. Bobok sama Mama yah?” tanya Evan kali ini.


Sara menganggukkan kepalanya, kemudian dia menggantikan pakaian Evan terlebih dahulu dan menyeka wajah putranya itu dengan handuk kecil yang dibasahi dengan air hangat. Setelah itu, Sara mulai menidurkan Evan terlebih dahulu. Rupanya Evan benar-benar mengantuk, hanya dipeluk oleh Sara sembari diusapi puncak kepalanya, Evan sudah terlelap.


Belva yang menyusul masuk ke kamar pun tersenyum melihat Evan yang sudah terlelap dalam pelukan Sara.


“Evan sudah tidur?” tanya Belva.


“Iya, mungkin dia ngantuk dan capek juga. Tadi katanya di pesawat tidak bisa tidur,” jawab Sara.


Belva kemudian menganggukkan kepalanya, pria itu mengganti celananya terlebih dahulu. Mengganti jeans yang dia kenakan menjadi celana pendek rumahan, kemudian dia turut berbaring di sisi Sara yang masih kosong.


“Tidur dulu juga saja Sayang, kamu pasti juga capek kan?” tanya Belva kepada istrinya itu.


“Boleh?” tanya Sara.


“Boleh, kita tidur dulu saja. Nanti malam kalau bisa lagi yah,” bisik Belva kini kepada Sara.


Dengan cepat Sara pun memelototkan matanya, “Libur semalam dulu gak boleh Mas?” tawarnya kali ini.


Belva nyatanya nyaris tertawa dan menelisipkan tangannya di bawah kepala Sara, “Bercanda Sayang … aku cuma bercanda. Waktu untuk kita berdua masih banyak. Jadi, santai saja,” balas Belva kini.

__ADS_1


Sara menganggukkan kepala, dan dia merasa lega. Tidak mengira dengan candaan suaminya yang seperti itu. Perlahan Sara memilih memejamkan matanya dan membiarkan Belva untuk memeluknya. Memang lebih baik beristirahat terlebih dahulu. Ada Evan dan ada Belva, Sara merasa lebih tenang dan bahagia sekarang ini.


__ADS_2