
Sisa hari di Rumah Sakit dijalani Sara dengan belajar memandikan baby Evan dari perawat. Layaknya mengikuti kelas Neonatal, atau kelas untuk belajar mempersiapkan merawat bayi yang baru saja lahir. Biasanya para ibu baru merasa kurang berpengalaman, masih harus banyak belajar, karena itu sisa hari benar-benar dimanfaatkan Sara untuk belajar.
Awalnya Sara merasa takut untuk memandikan Evan. Bayi itu terlihat begitu mungil, terkesan rapuh, karena itulah Sara takut sebenarnya. Akan tetapi, perawat di tempat itu menolong dan memotivasi Sara untuk berani mencoba.
“Aduh, rasanya saya takut …,” ucap Sara kepada perawat itu.
“Tidak apa-apa Bu Sara … itu alamiah kok. Para New Moms biasanya merasa takut memegang bayinya sendiri. Hal yang wajar, tetapi jika terus-menerus takut justru menjadi tidak bisa. Padahal si baby harus dirawat oleh Ibunya mendapatkan kasih sayang dari Ibunya,” jelas perawat tersebut.
Sara pun mengangguk, “Baiklah … saya akan belajar,” ucapnya demikian.
Sekalipun memegang baby Evan masih terlihat kaku, tetapi Sara tetap belajar untuk memandikan bayi itu dengan air hangat, membersihkan badan putranya yang kulitnya begitu lembut itu, dan setelahnya Sara belajar mengeringkan dahulu tali pusar milik Evan, barulah memakaikan pakaian kepada putranya itu.
Senyuman terulas di wajah Sara saat dia telah berhasil memandikan dan mengenakan pakaian pada Baby Evan.
“Wah, kamu cakep sekali, Nak,” puji Sara kepada putranya itu.
Perawat pun tersenyum, “Benar … cakep banget babynya,” ucap perawat yang turut memuji ketampanan bayi Evan itu.
“Sekarang belajar menggedong bab ya Bu. Ingat ya, gedong itu bukan untuk membelit bayi. Gedong itu hanya supaya bayi merasa hangat. Lilitan yang terlalu keras justru merusak postur tubuh bayi,” jelas dari sang perawat.
Sara mengangguk dan harus mengingat-ingat bahwa gedong itu berfungsi hanya untuk menghangatkan baby saja.
Mulailah perawat menata kain untuk gedong, membuat bentuk segitiga. Lalu menaruh tubuh bayi di agak ujung, lalu mulai membungkus bayi itu, merapikannya dan mengikat di bagian kaki.
“Nah, sekarang silakan Bu Sara mengikuti cara tadi dan belajar menggedong Babynya,” instruksi dari perawat.
Sara berusaha mengulang cara menggedong dan mulai mempraktikannya perlahan. Lagi-lagi wanita itu tersenyum saat berhasil menggedong Baby Evan.
“Oke sudah bisa ya Bu Sara, sekarang bisa istirahat. Mumpung babynya tidur, Bu Sara mungkin ingin membersihkan diri bisa,” jelas perawat itu dan mulai berpamitan keluar dari ruangan Sara.
__ADS_1
Apa yang dikatakan perawat itu benar, Sara pun ingin membersihkan dirinya. Agaknya mandi dengan air hangat bisa menyegarkan dirinya. Untuk itu, Sara kemudian sedikit membangunkan Belva yang tengah tertidur di sofa.
“Pak Belva,” sapanya lirih.
“Hmm, ada apa?” rupanya Belva pun dengan cepat menyahut. Pria itu kemudian mengucek matanya dan segera duduk.
“Bisa tolong jaga Baby Evan dulu tidak Pak? Aku mau mandi,” pamitnya kepada Belva.
Belva kemudian berdiri, dia mengatur air shower di kamar mandi menjadi air hangat dengan suhu yang tepat. Lantas pria itu membuka koper milik Sara, bermaksud mempersiapkan pakaian ganti milik wanita itu.
“Ayo, aku antar ke kamar mandi,” ucapnya.
Dengan cepat Belva membawa Sara memasuki kamar mandi. “Kamu bisa mandi sendiri?” tanyanya kini kepada Sara.
“Bisa Pak,” jawabnya.
Belva kemudian mengangguk, “Baiklah … jangan dikunci pintunya. Kalau ada apa-apa panggil namaku,” ucap pria itu.
“Sudah selesai?” tanya Belva yang berdiri di dekat pintu kamar mandi.
“Iya sudah …,” jawab Sara dengan singkat.
“Wajah kamu pucat,” ucap Belva yang seketika panik melihat wajah Sara yang lagi-lagi pucat. Pria itu segera merangkul bahu Sara, membantu wanita itu berjalan kembali ke brankarnya. “Kamu sakit?” tanyanya lagi.
Dengan cepat Sara menggeleng, “Enggak … cuma aku takut tadi lihat darah nifas banyak banget. Jadi pusing,” ucapnya kini.
“Maaf ya … pasti semua ini sakit banget buat kamu,” ucap Belva yang merasa tidak enak hati dan sekaligus kasihan kepada Sara.
“Tidak apa-apa Pak,” ucapnya.
__ADS_1
Belva lantas menolong Sara untuk mengeringkan rambut wanita itu yang masih setengah basah dengan handuk kecil, dan menyisirinya perlahan. Setelahnya, Belva pun tanpa permisi segera merengkuh tubuh Sara dalam pelukannya, tangannya bergerak mengusapi punggung Sara dengan lembut.
“Aku sampai kehabisan kata-kata setiap kali berbicara sama kamu. Pada intinya, thank you so much, you make me dreams come true,” ucap pria itu.
Sara sedikit mengangguk, kendati dia tidak bersuara dan sama sekali tidak menjawab. Setidaknya Sara pun membutuhkan pelukan Belva kali ini. Setidaknya ada sebuah pelukan hangat yang merengkuhya, menenangkannya sejenak. Kali ini, Sara melupakan sejenak rasa getir dalam hatinya, keduanya tangannya bergerak dan melingkari pinggang Belva. Sara tampak memejamkan matanya dan menikmati kehangatan yang Belva berikan kepadanya.
Hingga menjelang malam, keduanya hanya terlibat dalam beberapa obrolan, dan terkadang Sara memberikan ASI untuk Evan. Lantaran merasa ngantuk, Sara pun memilih untuk tidur. Malam itu berlalu dengan Sara yang tidur di atas brankar, dan Belva yang tidur di atas sofa.
***
Keesokan harinya …
Usai sarapan di Rumah Sakit, Belva dan Sara bersiap untuk kembali ke rumah. Pria itu tampak membantu Sara berkemas. Merapikan barang-barang milik Sara dan juga miliknya. Membayar seluruh biaya persalinan Sara, dan juga mengambilkan obat untuk Sara.
“Kamu bisa jalan?” tanya Belva kini kepada Sara.
Wanita itu pun dengan cepat mengangguk, “Iya … jalannya pelan-pelan pasti bisa,” jawab Sara.
Sekalipun terkadang bekas jahitannya masih perih dan ngilu, tetapi sejak kemarin Sara sudah bisa berjalan. Kendati demikian dia tetap harus berjalan perlahan karena tidak bisa berjalan cepat.
Belva pun mengangguk, pria itu lantas menyamakan langkah kakinya dengan kaki Sara sekarang ini.
“Pelan-pelan saja. Keselamatanmu jauh lebih penting, Sara,” ucap pria itu.
“Makasih Pak Belva,” sahut Sara yang memang berjalan perlahan dan juga sembari menggendong Baby Evan dengan kedua tangannya.
“Kita pulang ke rumah yah,” ucap Belva kali ini.
“Iya Pak,” sahut Sara dengan singkat.
__ADS_1
Sara hanya mengikuti Belva saja. Pulang kembali ke kediaman Belva, sekaligus Sara membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih pasca bersalinnya. Sehingga wanita itu pun mengikuti Belva.