Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kunjungan Keluarga


__ADS_3

“Berbaring dulu saja Sayang, kamu mau ngapain? Aku bantu,” ucap Belva yang terlihat sigap dan ingin membantu Sara yang saat itu seakan ingin beranjak dari brankarnya.


“Agak duduk, Mas … punggungku panas berbaring terus,” jawabnya. Ada keluhan dari Sara karena merasakan punggungnya panas karena terlalu lama berbaring.


Belva pun segera mengambil remote untuk mengatur brankar yang ditempati Sara menjadi posisi seperti yang diharapkan Sara. Kemudian Belva mengambil selimut untuk menutupi kaki Sara, supaya tidak kedinginan karena AC di kamar VVIP itu sangat dingin. Ada AC central dan juga AC biasa yang terpasang di dalam kamar.


“Udah enak belum?” tanya Belva kemudian.


“Udah, gini kan bisa setengah duduk,” balas Sara.


“Pakai metode ERACS sakit enggak Sayang?” tanya Belva lagi. Setidaknya Sara yang bisa merasakan, sehingga Belva kali ini bertanya, dan berharap bahwa rasa sakit yang dirasakan Sara tidak terlalu sakit.


Sebab, untuk operasi Caesar dengan metode ERACS sendiri saja begitu mahal. Sampai puluhan juta rupiah. Akan tetapi, Belva tidak segan menggelontorkan uang sebanyak itu asalkan Sara tidak merasakan sakit dan bisa pulih dengan lebih cepat. Apa pun akan Belva lakukan asalkan istrinya itu bisa melahirkan tanpa merasakan sakit berlebih.


"Sakit sih Mas ... nyeri di bekas sayatan. Ngilu rasanya di sayatan ini ... sama dipasangi kateter ini biking enggak nyaman," aku Sara.


Jika persalinan normal memang rasa sakit akan dirasakan mulai dari proses pembukaan sampai melahirkan. Sementara untuk operasi caesar, rasa sakit akan muncul usai persalinan usai. Selain itu tim medis masih rutin memantau kondisi tubuh Sara, termasuk mengecek seberapa banyak jumlah perdarahan postpartum (nifas), tekanan darah, dan suhu tubuh Sara.


"Ya sabar yah ... tadi kata perawatnya, kateter masih harus dipasang kurang lebih 12 jam setelah persalinan. Jadi ya, sabar dulu ... infusnya juga masih dipasang tadi kan ada obat yang disuntikkan melalui infus juga," jelas Belva kepada istrinya itu.


"Ada merasakan yang lain enggak?" tanya Belva lagi.


"Sekarang sih sudah enggak ... tapi tadi merasa kedinginan dan pusing saja Mas, mungkin efek obat biusnya. Sekarang, udah lebih baik kok," balas Sara.


Belva pun mengamati Sara dan reaksi yang ditunjukkan istrinya itu, kemudian Belva menggenggam tangan Sara yang terlepas dari selang infus di sana.


"Yang kuat yah ... pengorbanan kamu untuk melahirkan dua jagoan kita berdua benar-benar luar biasa," ucap Belva.


"Nanti, kalau masih nyeri di luka sayatannya, aku mintakan obat pereda nyeri kepada Dokter Indri." Lagi Belva berbicara dan mengatakan bahwa dia bisa meminta obat pereda nyeri yang bisa untuk mengurangi rasa ngilu di luka bekas sayatan di sana.

__ADS_1


"Lalu, aku boleh pulang kapan Mas?" tanya Sara.


Sebab, Sara tidak ingin berlama-lama di Rumah Sakit. Rasanya sudah ingin pulang ke rumah dan berkumpul dengan Evan dan anggota keluarga yang lainnya. Entah, rasanya berlama-lama di Rumah Sakit justru membuat tubuh Sara terasa sakit, dan tidak sehat.


"Sabar ... belum ada 12 jam usai operasi Caesar. Kondisi kamu harus dipantau dulu, Sayang ... besok coba aku konsultasi dulu, kalau sudah boleh pulang, besok kita pulang," jawab Belva.


Sampai menjelang sore hari, terdengar ketukan dari kamar Sara. Rupanya seluruh keluarga suaminya datang untuk menjenguknya. Termasuk Evan yang begitu girang melihat Mamanya. Evan langsung menghambur dan memeluk Mamanya itu.


"Mama, Evan kangen," ucapnya. Kalimat rindu yang kali pertama meluncur dari bibir Evan. Begitu rindu rasanya kepada sang Mama.


"Sama Nak ... Mama juga kangen sama Kak Evan," balas Sara. Tidak dipungkiri Sara pun begitu kangen dengan Evan. Rasanya ingin selalu memeluk dan bertemu dengan putra sulungnya itu.


Kemudian Mama Diana dan Papa Agastya mendekat dan memberikan selamat untuk Sara.


"Selamat Sara," ucap keduanya bersamaan.


"Selamat Kak Sara," ucap Amara dan Rizal yang juga turut mengunjungi Sara dan mengucapkan selamat kepadanya.


Mendapat kunjungan dari seluruh anggota keluarga suaminya membuat Sara begitu haru. Dulu, saat melahirkan Evan, Sara hanya di Rumah Sakit bersama Belva. Kini, ada keluarga besar yang menjenguknya dan menunjukkan kasih sayang serta perhatiannya kepadanya. Untuk itu, tentu Sara merasa begitu senang.


"Mana nih cucunya Opa dan Oma?" tanya Papa Agastya kepada Sara dan Belva.


"Ini  Opa ... cucunya Opa dan Oma, adiknya Kak Evan," balas Belva.


Kini semua atensi teralihkan pada bayi laki-laki yang tertidur di dalam box bayi. Evan pun sampai kagum melihat adiknya yang sebelumnya ada di perut Mamanya, kini bisa dia lihat secara langsung.


"Adik bayinya Ma?" tanya Evan.


"Iya Nak, dia adiknya Kak Evan," balas Sara.

__ADS_1


"Mirip Evan waktu bayi enggak Kak?" Kini giliran Amara yang bertanya kepada Sara.


Perlahan ada anggukan samar dari Sara, "Iya, mirip Evan ... hanya saja, pipinya si adik lebih chubby," balas Sara.


"Namanya siapa nih cucunya Oma?" tanya Mama Diana yang tentu ingin tahu siapa nama cucu laki-lakinya itu.


"Elkan, Oma ... namanya Elkan Agastya," sahut Belva.


"Wah ... duo E dari keluarga kamu, Belva ... cucu Oma cowok semuanya. Evan, Jerome, dan Elkan. Tambahin lagi cucu cewek dong, biar ada yang Oma belikan dress yang lucu," ucap Mama Diana.


Mendengar apa yang diucapkan Mama Diana membuat seluruh keluarga tertawa. Namun, Sara yang tampak menggelengkan kepalanya, merasa tidak sanggup lagi untuk mengandung lagi.


"Nanti tambahin cucu cewek ya buat Oma," pinta Mama Diana kali ini.


"Biar Jerome agak besar dulu, Ma," balas Amara.


"Sara sudah cukup dua saja, Ma," balas Sara.


Namun, agaknya berbeda dengan Belva yang seakan menginginkan hal yang sama seperti Mamanya.


"Nanti kalau Elkan sudah tiga tahun, Ma ... setidaknya kan Sara sudah pulih dan juga siapa tahu nanti Sara berubah pikiran, jadinya bisa nambah lagi. Iya kan Sayang?" tanya Belva dengan merangkul bahu istrinya itu.


Sontak saja Sara menatap horor pada suaminya itu. Ngilu bekas sayatan saja masih terasa, kateter juga masih dipasang hingga 12 jam ke depan, tetapi bisa-bisanya suaminya membicarakan menambah anak lagi.


“Udah … dua aja ya Mas,” balas Sara kali ini.


Kemudian Belva hanya tersenyum dan kian merangkul istrinya itu. “Iya, dua untuk sekarang … cuma kan nanti tambah lagi,” balas Belva dengan begitu entengnya.


Jika bisa dan memungkinkan, Belva memang ingin memiliki banyak anak dengan Sara. Dia ingin di masa tuanya nanti melihat anak-anak dan keturunannya hidup bahagia bersama. Mungkin layaknya pemikiran orang zaman dulu di mana banyak anak banyak rejeki. Namun, bersama Sara, Belva menginginkan banyak anak dari istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2