Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Welcome to Bintan


__ADS_3

Rupanya Belva benar-benar all out merencanakan bulan madunya bersama Sara. Bahkan Belva sudah berencana untuk menitipkan Evan selama sepekan kepada Amara. Lagipula ada Jerome, sehingga Evan bisa bermain-main dengan putra adiknya itu. Kendati demikian, Belva mengizinkan kepada Amara untuk menyusulnya jika Evan benar-benar tidak bisa ditahan. Belva bernegosiasi setidaknya memberikannya waktu tiga hari penuh bersama Sara terlebih dahulu.


“Yakin Mas, kita pergi tanpa mengajak Evan?” tanya Sara kepada suaminya itu. Sara sebenarnya begitu khawatir. Terlebih Evan sekarang terlihat begitu menempel padanya, yang Sara takutkan adalah jika Evan menangis dan mencari keberadaan Mama dan Papanya.


“Iya Sayang … hanya sepekan. Namun, aku sudah berbicara kepada Amara kalau nanti Evan sudah rewel dan tidak bisa ditahan mereka bisa menyusul kita,” balas Belva kali ini.


Sara lantas menatap wajah suaminya itu. Sebenarnya apa yang tengah direncanakan oleh Belva hingga Belva menitipkan Evan kepada adiknya terlebih dahulu. Padahal Sara sama sekali tidak keberatan untuk mengajak Evan sekaligus.


“Kasihan Evan … tidak bisakah kita membawanya?” tawar Sara kali ini kepada Belva.


Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa. Setidaknya beri aku waktu tiga hari penuh bersamamu. Sudah sepekan kita menikah, apakah kita tidak akan melakukan ritual yang tertunda?” tanya Belva kali ini.


Mendengar perihal ritual yang tertunda, sontak Sara berdebar-debar bahkan dirinya kesusahan untuk menelan salivanya sendiri. Suaminya itu agaknya ingin benar-benar menyelesaikan ritual yang tertunda setelah keduanya resmi bersatu kembali.


“Isshss, bicaranya,” keluh Sara kali ini.


Nyatanya Belva justru tergelak dalam tawa, pria lantas memeluk Sara dari belakang dan mendekapnya erat.


“Berikan aku waktu tiga hari saja … setelah empat tahun berlalu, setelah sepekan pernikahan kita berdua. Apakah kamu tidak mau memberikan tiga hari saja untuk suamimu ini?” tanya Belva kali ini.


Semua yang dikatakan Belva benar adanya. Selama empat tahun bahkan selama sepekan pernikahan mereka, masih ada ritual yang belum terselesaikan. Rasanya Sara tidak ingin egois, apalagi sekarang Belva sudah menjadi suaminya yang halal.


“Kenapa diam? Tidak mau menjawab? Usai ini, aku tidak masalah berbagi waktu bahkan kasih sayangmu dengan Evan dan calon adiknya lagi,” lagi Belva berbicara dan seakan meminta Sara untuk mengabulkan permintaannya sekarang ini. Ya, Belva hanya meminta waktu tiga hari saja. Menikmati sepanjang hari dengan Sara tanpa ada interupsi dari Evan. Setelahnya Belva berjanji bahwa dirinya rela berbagi waktu, kasih sayang, dan perhatian dari Sara dengan Evan atau pun dengan calon buah hatinya nanti.

__ADS_1


“Baiklah,” jawab Sara dengan singkat.


***


Keesokan Harinya …


Kini Sara dan Belva sedang berada di ruang tunggu keberangkatan di Bandara Internasional Soekarno - Hatta, menunggu waktu boarding keduanya memilih duduk dengan tenang sembari mengamati para penumpang yang berlalu-lalang memenuhi bandara.


“Kita kemana Mas?” tanya Sara kali ini.


“Ke Bintan, Sayang … Pulau Bintan di Tanjung Pinang. Aku sengaja memilih tempat di dalam negeri saja, supaya kalau Evan tiba-tiba menyusul kita hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam penerbangan,” jawab Belva.


Rupanya Belva memiliki pertimbangan tersendiri mengapa memilih mengajak Sara berbulan madu di dalam negeri saja. Tentu Belva mempertimbangkan Evan, jika putranya itu hendak menyusul, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam penerbangan saja.


Belva lantas menganggukkan kepalanya, “Bagus dong. Di sana ada sebuah private resort dan kita akan menempatinya selama sepekan,” balas Belva kali ini.


Ya, sebuah private resort dengan pemandangan pantai yang berpasir putih akan menjadi tempat yang dituju Belva kali ini. Private Resort yang sedikit jauh dari area perkotaan, menjadi pilihan bagi Belva untuk menikmati bulan madu bersama dengan Sara. Belva merasa bahwa dirinya dan Sara juga berhak menikmati fasilitas bulan madu usai perpisahan yang begitu panjang. Bulan madu yang membuatkan kian dekat dengan Sara tentunya.


Hingga akhirnya, para penumpang dengan tujuan penerbangan Jakarta menuju Tanjung Pinang pun dipersilakan untuk memasuki pesawat. Sara dan Belva berjalan dan menuju ke pesawat. Keduanya bahkan bergandengan tangan untuk memasuki badan pesawat.


Tidak berselang lama, begitu penumpang sudah memasuki pesawat, pramugari pun menginstruksikan kepada penumpang untuk menegakkan sandaran, mengenakan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela karena pesawat akan segera lepas landas.


Saat pilot mulai menerbangkan pesawat, dan membawa badan pesawat perlahan untuk terbang di udara, Sara pun menggenggam bahkan meremas tangan Belva.

__ADS_1


“Aku takut,” aku Sara kali ini.


Belva pun mempererat genggamannya dan tersenyum menatap Sara, “Tidak perlu takut … ada aku,” balasnya kali ini.


Sampai pada akhirnya pesawat telah terbang di angkasa. Gumpalan awan putih dan angkasa biru seakan membingkai perjalanan mereka siang itu. Sementara di bawah menunjukkan pemandangan pulau-pulau Indonesia yang seakan mengapung di tengah samudra biru. Pemandangan yang sangat indah yang terlihat dari pesawat terbang.


Hingga akhirnya perjalanan selama 2 jam pun dilalui dengan baik, kini Belva dan Sara telah mendarat di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Perjalanan menuju resort pun dilanjutkan dengan menaiki mobil yang akan mengantarkan mereka ke kawasan bernama Lagoi. Sebuah tempat yang tersohor dengan pantai birunya yang tenang dan pasir putihnya. Benar-benar menawan.


“Daerahnya masih sepi ya Mas?” tanya Sara sembari mengamati jalanan di sekitarnya.


“Benar Sayang … pusatnya kan di Tanjung Pinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, cuma untuk resort dan hotel yang bagus di Lagoi. Bahkan ada White Sand Islands yang begitu bagus, pesohor dunia saja datang ke Bintan,” ucap Belva kali ini.


“Serius Mas?” tanya Sara.


“Iya serius … kalau jadi, akan dibuat Sirkuit Moto GP di sini. Di Lagoi nanti karena ada akses pelabuhan yang dibuka di kawasan Kijang,” jelas Belva.


“O … aku malahan baru tahu,” balas Sara.


Tentu saja Belva tahu karena dirinya adalah pengusaha di bidang property, sehingga mengetahui perkembangan bisnis property dan rekonstruksi di Indonesia.


Sampai pada akhirnya, mereka telah tiba di resort yang disewa Belva untuk dirinya dan Sara selama seminggu penuh. Bahkan Belva juga menyewa sebuah mobil yang akan dipakainya untuk berkendara bersama Sara mengelilingi Pulau Bintan.


“Akhirnya sampai juga … Welcome to Bintan, Sayang. Bersiaplah, karena kali ini aku tidak akan menunda-nunda lagi,” ucap Belva sembari membuka pintu kamar yang akan mereka tempati.

__ADS_1


Sebuah kamar berukuran besar, dengan didonimasi dengan furniture dari kayu menjadi pilihan Belva kali ini. Dari jendela kamar mereka, terdapat panorama lautan biru dengan pasir putihnya dan menawan. Jangan lupakan juga ada private pool atau kolam renang pribadi di dalam resort mewah itu. Agaknya Belva benar-benar totalitas untuk membuat acara bulan madu yang spesial bersama dengan Sara.


__ADS_2