Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bahagianya Duo E


__ADS_3

Ketika akhir pekan tiba, keluarga Agastya itu memilih menikmati akhir pekan dengan berenang bersama di kolam renang. Seperti biasanya, ada Evan yang begitu senang bisa berenang. Bahkan Evan juga begitu jago berenang dan menyelam, tentu dengan dibimbing oleh Papanya, sehingga Evan kian mahir saja dalam berenang. Sementara Elkan pun tak mau kalah. Dia juga sebatas bermain air saja, dan Sara lah yang menemani si Kakak kecil yaitu Elkan untuk bermain air.


“Papa, ayo battle Pa … siapa yang paling cepat sampai ke ujung, dia juaranya. Papa berani enggak?”


Evan terpikir ide untuk mengajak Papanya battle berenang dari ujung ke ujung. Rasanya akan begitu seru bisa battle dengan Papanya.


“Oke boleh … emangnya Kak Evan yakin bisa?” tanya Belva.


“Bisa … coba saja, Pa … kalau Evan tidak kuat ya Evan berhenti di tengah jalan saja,” balasnya.


Belva menganggukkan kepalanya, karena biar setidaknya Evan mau berusaha dan mencoba. Jika tidak pernah mencoba, tidak akan pernah tahu hasilnya. Oleh karena itu, memang Belva membiarkan saja Evan berusaha berjuang.


“Ya sudah … yuk. Siap yah, satu … dua … yak!”


Belva sedikit berteriak untuk memulai battle renang dengan putranya sendiri, sementara dari jauh Sara tersenyum dan juga mengamati suami dan anaknya yang sedang battle renang itu.


“Apa Ma?” tanya Elkan dengan menunjuk-nunjuk ke arah kolam renang untuk dewasa.


“Itu Papa dan Kak Evan sedang battle renang. Berlomba, nanti akan ada pemenangnya,” balas Sara.


“Adik?” tanya Elkan yang kini menunjuk dirinya sendiri. Mungkin maksudnya, kenapa Adik Elkan tidak diajak berenang bersama.


Sara pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Adik di sini saja sama Mama … nanti kalau Adik sudah semakin besar, Adik berlatih renang dengan Papa. Oke?”


“Oke-oke,” sahut Elkan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Rupanya battle kali ini dimenangkan oleh Evan, bukan karena Belva yang mengalah, tetapi memang Evan begitu jago dan kuat menahan nafas di dalam air, sehingga Evan pun menang.


“Yeay! Menang!” Evan berteriak. Rasanya bisa menjadi seorang pemenang itu terasa begitu menyenangkan.

__ADS_1


Hingga Papa Belva dan Evan pun saling tos dengan tangannya. Sangat senang bisa mendukung si Evan untuk berusaha dan mencapai apa yang dia mau. Ke depannya, Belva pun akan mendukung Evan, dan membantu putranya itu sampai mencapai kesuksesan. Membiarkan Evan untuk berusaha dan berjuang dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri.


Usai berenang dan bermain air, kemudian mereka memilih untuk bersantai bersama di ruang keluarga. Dengan smart TV yang diputar lagu anak-anak Cocomelon kesukaan Elkan. Evan pun tidak keberatan dan justru menemani adiknya itu untuk melihat channel dari Youtube itu.


“Kak Evan dan Dik El, sini Mama dan Papa pengen bicara sama kalian,” panggil Sara kepada kedua putranya itu.


“Ada apa Ma?” tanya Evan yang berlari lebih dahulu dan duduk di pangkuan Mamanya.


Walaupun perut Sara sudah sedikit membuncit, tetapi Evan masih senang saja duduk di pangkuan Mamanya. Sementara Elkan juga menyusul dan duduk di depan Sara. Belva sampai menggelengkan kepalanya, “Sini loh … dipangku Papa satu. Kasihan Mama, kalau kalian berdua maunya dipangku Mama kayak gitu,” ucap Belva.


“Sama Mama saja, Pa,” jawab Evan.


“Ya ampun, kalian itu bucin sama Mama,” balas Belva dengan kian menggelengkan kepalanya.


“Mau bicara apa Ma?” tanya Evan kepada Mamanya.


Kemudian Sara pun tersenyum menatap putra sulungnya itu, “Begini … Mama kan sekarang baru hamil. Lalu, kalian berdua pengennya punya adik baby cewek atau cowok?” tanya Sara.


Evan dan Elkan teriak bersamaan. Sampai Sara dan Belva pun tertawa mendengar jawaban serempak dari kedua putranya itu.


“Nah, semalam kan Mama sudah ke Rumah Sakit dan cek kondisinya adik bayi … jadi, nanti kalian akan memiliki adik cewek. Seneng enggak?” tanya Sara lagi.


Evan dan Elkan pun sama-sama menganggukkan kepalanya, “Iya, senang dong, Ma … senang banget,” jawab Evan.


“Suka Ma, i like it,” balas Elkan dengan sikap lucunya yang membuat gemas.


“Wah, jadi adiknya Evan sudah lengkap ya Ma … ada Adik El yang cowok, dan nanti ada adik cewek yang cantik seperti Mama,” balas Evan dengan tiba-tiba.


Belva pun tertawa mendengar jawaban dari Evan itu, “Memangnya menurut Evan, Mama cantik yah?” tanyanya.

__ADS_1


“Iya, cantik dong, Pa … cantik banget malahan. Serumah paling cantik kan Mama,” jawab Evan.


Tentu saja di rumah, Sara yang paling cantik karena hanya dia yang perempuan. Suami dan kedua anaknya adalah laki-laki. Jadi, sudah pasti jawaban yang diberikan oleh Evan bersifat mutlak.


“Di dalam hidup Papa, juga hanya Mama yang paling cantik,” jawab Belva dengan tiba-tiba.


Sara tertawa sampai menahan perutnya yang sakit karena tertawa mendengar ucapan absurb dari suami dan putra sulungnya itu. Agaknya memang Belva dan Evan ini begitu klop satu sama lain. Sampai Sara geleng kepala melihat keduanya.


“Nanti adik baby akan secantik Mama … dinamain awalannya E juga ya Ma … jadi kan sama seperti Evan dan Elkan. Sama-sama berawalan huruf E,” pinta Evan.


Adik bayinya masih berada di dalam perut Mamanya, tetapi Evan sudah mengajukan request lebih dulu supaya adiknya nanti juga diberikan nama dengan awalan huruf E. Supaya sama dengan Evan dan juga Elkan.


“Iya … nanti Mama dan Papa cari nama yang bagus dulu yah untuk adik baby. Coba deh nanti Mama dan Papa belajar dulu cari nama E untuk adik kalian,” balas Sara.


“Oke Ma … wah, Evan senang banget akan memiliki adik cewek. Evan akan sayang banget sama adik nanti. Evan akan menjaga Elkan dan untuk Baby E nanti, Ma,” balasnya.


Lagi-lagi Sara tersenyum mendengar ucapan dari Evan. Sebab, Evan ada kalanya terlihat begitu dewasa melebihi usianya. Terlihat penyayang dan bisa mengalah dengan adiknya. Apakah mungkin Evan merasa karena dia sulung dan lebih tua dibandingkan adik-adiknya. Namun, Sara juga merasa bangga dengan karakter dan kepribadian Evan yang bagus.


“Makasih Kakak Evan … nanti sayangi adik baby sama seperti Kak Evan sayang sama Adik Elkan,” balas Sara.


“Mama, cayang adik … El juga,” sahut Elkan yang tidak mau ketinggalan.


Sara pun menganggukkan kepalanya dan memeluk kedua putranya itu, “Iya … Kakak El juga sayang adik baby? Makasih ya Kakak El,” balas Sara.


“Dik El, Ma … Kakaknya Evan,” balas Elkan lagi.


Sara kemudian mengusapi puncak kepala putranya itu, “Kan di perut Mama ada babynya … nanti kalau si baby lahir, dia akan memanggil kamu Kakak. Jadi, mulai sekarang Mama dan Papa panggilnya Kakak Elkan yah. Kalau Kak Evan itu tetap memanggil kamu Adik El, karena Kakak Evan jauh lebih tua dan besar dibanding kamu,” jelas Sara kepada Elkan.


Entah tahu atau tidak, Elkan hanya menganggukkan kepalanya saja, “Akak El,” balasnya.

__ADS_1


Sungguh, bisa berbagi kabar baik kepada kedua putranya rasanya begitu bahagia. Kini, mereka sudah memberitahu kepada Evan dan Elkan mengenai jenis kelamin adik bayinya. Masih setengah jalan menuju waktu persalinan nanti. Rasanya kian tak sabar memiliki Trio E yang akan menyemarakkan rumah besar mereka.


__ADS_2