Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Keputusan Terakhir Sara


__ADS_3

Memasuki kamar dengan perasaan gamang itulah yang dialami Sara sekarang ini. Di satu sisi tawaran Anin seakan memberinya harapan untuk bisa melihat tumbuh kembang Evan, tetapi ucapan Anin tak sepenuhnya menentramkan hati Sara. Sebab, jika hanya menemani tumbuh kembang Evan, dia bisa hanya sekadar menjadi pengasuh bagi putranya sendiri.


Bagaimana dengan hatinya? Yang nyaris tiap hari terasa sakit karena perasaannya yang nyatanya justru tumbuh untuk pria yang awalnya hanya menyewa rahimnya. Perasaan yang dipikir hanya sekadar kerja sama, nyatanya telah berubah di dalam hati Sara. Haruskah Sara bisa melihat tumbuh kembang Evan dan terus-menerus menekan perasaannya.


Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan?


Jika aku memutuskan satu dari lain hal apakah tidak masalah?


Dalam hidupku yang sebatang kara ini, sejujurnya keluarga Belva dan Anin sangat baik …


Namun, keberadaanku tak ayal hanya seperti orang ketiga di antara pasangan suami istri tersebut.


Saat hati ini sudah memiliki nama pemiliknya, sayangnya semua tidak akan bisa terwujud dengan begitu saja. 


Semoga hatiku memilih yang tepat ya Tuhan …


Semoga apa pun keputusannya, biarkanlah Evan tumbuh sehat bersama dengan orang tuanya.


Sara lantas membaringkan dirinya di atas tempat tidurnya, wanita itu mulai berusaha memejamkan matanya walaupun begitu sulit. Hingga tidak terasa, malam berlalu dengan begitu cepat. Surya pagi kembali menyapa melalui sela-sela tirai kamarnya.


Sara pun bangun dan segera melakukan pumping terlebih dahulu. Usai mengosongkan sumber ASI-nya, Sara kemudian menyiapkan air hangat untuk memandikan Evan. Wanita itu tersenyum saat menatap wajah putranya yang tertidur dengan begitu damai.


“Nak, jika nanti Bunda harus pergi dari sini, berjanjilah kamu akan tumbuh sehat dan bahagia ya Nak … selamanya Bunda akan selalu menyayangimu,” ucap Sara.


Baru beberapa saat Sara menatap putranya itu, rupanya Evan pun bangun. Bayi berusia 2 bulan itu membuka kelopak matanya perlahan-lahan dan tersenyum menatap wajah Sara.


Air mata Sara pun jatuh seketika, pemandangan seperti ini mungkin akan segera berlalu dua hari lagi. Hatinya terasa sesak, tetapi bagaimana Sara harus mempertahankan sesuatu dan melepaskan sesuatu.


Dengan perlahan Sara mulai melepaskan baby sleepsuit yang dikenakan Evan dan segera memandikan putranya itu. Kegiatan pagi yang selalu Sara sukai adalah saat memandikan Evan seperti ini, sembari bersenandung ria, kemudian Sara akan membilas badan Evan dan mulai mengenakan pakaian bayi untuk Evan. Kegiatan berlanjut dengan memberikan ASI untuk bayinya itu.

__ADS_1


“Sara, kamu ada di dalam?” terdengar suara Anin dari luar kamar Sara.


“Ya Kak, aku di dalam. Masuk saja,” balas Sara.


Anin pun lantas memasuki kamar Sara dan tersenyum melihat Evan yang sedang mendapatkan sumber kehidupan pertamanya dari Sara. “Hei … anaknya Mama baru minum ASI yah? Kamu pinter banget minumnya, Van … pelan-pelan minumnya,” ucap Anin sembari mengusap puncak kepala Evan.


Setelah itu, Anin pun menatap wajah Sara.


“Sudah mengambil keputusan?” tanya Anin.


Sara hanya diam, bingung sebenarnya harus menjawab seperti apa. Dia punya pertimbangan sendiri saat ini.


“Nanti malam kita bisa bicara lagi, Kak.” Kali ini Sara yang terlebih dahulu mengucapkan kepada Anin untuk mengajak mereka kembali berbicara.


Anin pun menganggukkan kepalanya, “Oke … baiklah. Nanti malam turunlah kalau Evan sudah tidur,” sahut Anin.


***


Kurang lebih jam 20.00, Sara kembali turun dari kamarnya dan menuju ruang keluarga. Malam yang dinantikan pun tiba. Malam ini akan menjadi malam di mana Sara akan mengambil keputusannya. Sara sudah memikirkan semuanya dengan matang, karena itu kali ini dia hanya cukup membesarkan hati untuk bisa menjalani keputusannya dengan lapang dada dan tanpa ada penyesalan di kemudian hari.


“Masuk dan duduklah Sara,” ucap Anin saat melihat kedatang Sara.


Lagi-lagi di depan meja terdapat sebuah Map berwarna biru, dan kali ini di sana terdapat buku tabungan dan sebuah kartu ATM. Sara hanya melihatnya dan tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut.


Sara duduk, menghela nafasnya perlahan, mengatur setiap susunan kata dalam otaknya dan mulai menatap wajah Anin dan Belva di hadapannya.


“Kak Anin dan Pak Belva, ada yang ingin aku sampaikan,” ucap Sara.


Tentu saja ucapan ini adalah kalimat pembuka dari serangkaian kalimat yang akan Sara ucapkan kepada mereka berdua. Wajah Anin tampak tersenyum, sementara Belva hanya menatap Sara dengan begitu lekat.

__ADS_1


“Bagaimana Sara?” respons Anin kemudian.


“Sebelumnya, aku mau berterima kasih untuk kebaikan Kak Anin dan Pak Belva kepadaku dalam kurun waktu 12 bulan ini. Aku rasanya sudah menentukan apa yang aku pilih. Apa pun keputusanku, ku harap Kak Anin dan Pak Belva akan mau menerimanya,” ucap Sara.


Wanita itu lantas menjeda sejenak ucapannya dan memejamkan matanya perlahan. Wajahnya yang semula menunduk kini perlahan terangkat dan menatap Anin dan Belva di hadapannya.


“Maaf Kak Anin, aku memilih untuk pergi dari sini.”


Keputusan Sara agaknya membuat Anin begitu shock. Wanita yang semula tersenyum itu, kini terlihat menatap Sara dengan sorot mata yang penuh kepedihan. Sementara Belva tampak menghela nafas panjang usai mendengar ucapan Sara.


“Kenapa Sara? Bukankah kita bisa membesarkan Evan bersama-sama?” tanya Anin.


Sara berusaha tersenyum, sekalipun dia tahu bahwa itu adalah senyuman getir. “Maaf Kak … hanya saja, aku yakin bahwa Evan akan mendapatkan orang tua yang baik. Kamu dan Pak Belva akan menjadi figur orang tua buat Evan. Sekalipun aku yang melahirkannya, aku rela melepas Evan untuk kalian berdua. Hidup harus terus berjalan Kak, aku akan melanjutkan hidupku di luar sana,” jelas sana.


Bukannya Sara egois karena mementingkan perasaannya sendiri, tetapi Sara yakin bahwa Anin dan Belva sudah bisa menjadi figur orang tua yang sepadan dan seimbang untuk Evan. Tanpanya, Evan pasti akan tumbuh dengan sehat dan bahagia. Biarlah Sara yang berkorban kali ini. Memberikan buah hatinya untuk memberikan kebahagiaan di rumah tangga Anin dan Belva sebagaimana perjalanan yang sudah dia tandatangani bersama dengan Belva.


“Tapi, Sara … apa kamu tidak kasihan dengan Evan?” tanya Anin.


Sara pun mulai berlinangan air mata. Berbicara tentang Evan selalu membuat hati dan dirinya lemah. “Tentu saja aku kasihan karena aku yang melahirkannya Kak … tetapi, tanpa aku pun kalian bisa membesarkan Evan. Memberikan cinta dan kasih sayang kalian berdua untuk Evan. Untuk ASI-nya jangan khawatir Kak, setiap minggu aku akan mengirimkan ASIP untuk Evan sampai dia berusia 2 tahun nanti. Sehingga Evan tetap bisa mendapatkan ASI eksklusif,” balas Sara.


“Kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Anin lagi.


Sara pun mengangguk, “Iya Kak … aku yakin,” balasnya.


“Kenapa Sara? Padahal kita bisa bekerja sama menjadi tim yang solid untuk membesarkan Evan,” sahut Anin lagi.


Ya, seakan Anin merasa tidak rela jika Sara harus pergi dan mengakhiri perjanjian yang sudah dia teken bersama dengan Belva. Di mata Anin, Sara bisa menjadi pelengkap dalam rumah tangganya, mereka bisa membesarkan Evan bersama-sama.


Anin kemudian menyodorkan sebuah buku tabungan dan sebuah rekening kepada Sara. “Sara, bukan maksudku untuk melakukan yang tidak benar. Akan tetapi, terimalah ini … di dalamnya ada tabungan berkisar 5 Milyar Rupiah lagi. Pakailah dan pergunakanlah untuk hidupmu di kemudian hari,” ucapnya.

__ADS_1


Akan tetapi, Sara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak Kak … tidak perlu. Terima kasih. Aku sudah menerima bayaranku di awal, aku tidak mau mengambil uang itu dan seakan-akan membuatku menjual anakku sendiri. Tidak Kak Anin, terima kasih banyak. Aku esok aku pergi,” balas Sara.


Tidak menunggu waktu lama, Sara kemudian berdiri dan dia berpamitan dengan Anin dan juga Belva. Dia akan segera mengemas barang-barang miliknya dan keesokan harinya, dia sudah membulatkan hatinya untuk meninggalkan kediaman Belva Agastya.


__ADS_2