Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Menjadi Ibu Susu


__ADS_3

Tidak terasa telah dua pekan berlalu sejak Sara memutuskan keluar dari kediaman Belva. Wanita itu memilih kost di daerah Bogor, dan kali ini Sara berniat untuk membeli perumahan rakyat yang bisa menjadi tempat untuknya berteduh hingga hari tuanya nanti.


Sebelum melihat-lihat area perumahan rakyat bersubsidi, Sara hendak mengirimkan ASIP-nya terlebih dahulu untuk Evan. Ya, Sara sudah berkomitmen bahwa dia akan terus mengirimkan ASIP-nya untuk Evan. Selama sumber ASI-nya masih mengeluarkan ASI, Sara akan tetap mempumpingnya dan mengirimkan untuk Evan.


Kini, Sara mendatangi sebuah tempat pengiriman yang menawarkan jasa pengiriman satu hari. Lantaran jarak Bogor ke Jakarta tidak terlampau jauh, ASIP-nya bisa dikirimkan dan dalam satu hari sudah diterima oleh Anin.


"Lihatlah Evan, semua ASIP ini adalah bukti kasih sayang Bunda buat kamu. Bunda tetap menjadi Ibu Susu bagi kamu. Semoga dengan meminum ASIP ini aku tumbuh sehat, kuat, dan menjadi gemoy ya Nak," gumam Sara dengan lirih.


Sekalipun hari-hari yang Sara jalani tanpa melihat Evan terasa begitu berat, tetapi Sara yakin putranya akan baik-baik saja di sana. Selama keluar dari rumah Belva, nyaris sepanjang malam Sara menangis dan tidak bisa tidur karena terbayang wajah Evan. Tiap kali dia merindukan Evan, Sara akan membuka galeri handphonenya dan menggeser satu demi satu foto Evan di sana.


Sesekali Sara mempumping ASI-nya dengan berlinangan air mata, teringat bagaimana dia menyusui Evan. Sekarang, dia hanya bisa mempumping dan menampung ASI-nya, setelahnya barulah Sara akan mengirimkan kepada Belva.


"Pak, saya mau mengirim ASIP dalam pengiriman kilat satu hari ya Pak," ucap Sara kepada petugas pengiriman itu.


"Oh, iya bisa Mbak … kita bisa kirim ASIP juga dalam satu hari bahkan hanya beberapa jam, tergantung kemacetan di jalan ya Mbak," balas petugas pengiriman itu.


Sara pun mengangguk, "Baik Pak, jika bisa sampai lebih cepat justru lebih baik," balas Sara.


Mulailah petugas memastikan keamanan ASIP dalam box ice cooler itu, dan mencatat alamat penerima paketan tersebut. Sara menyebutkan alamat rumah tinggal Belva dan memberikan nomor telepon Anin di sana.


"Nama pengirim?" tanya petugas itu.


"Sara, alamat dan nomor handphone tidak perlu dicantumkan ya Pak," pinta Sara kepada petugas itu.


Sang petugas pun mengernyitkan keningnya, baru kali ini ada pengirim yang hanya memberikan namanya dan tidak mau mencantumkan alamat dan nomor handphonenya. Kendati demikian, petugas pun tetap melakukan seperti yang diminta Sara.


Kemudian Sara mulai membayar biaya pengiriman dan meminta kepada kurir yang mengantar untuk memotretkannya. Sapa tahu Anin yang menerimanya dan tengah menggendong Evan, sehingga Sara bisa melihat potret putranya sekarang ini.


Usai mengirimkan ASIP, Sara kemudian hendak mencari perumahan atau Ruko (Rumah Toko) yang berada di area Botani Square Bogor, mungkin saja Sara bisa memulai bisnis kecil-kecilan dengan uang yang saat ini dia miliki.


Sebab, Sara harus memikir otaknya dan berusaha memulai hidupnya. Ya, kehidupan terus berputar dengan segala problematikanya. Tidak ingin menganggur terlalu lama, Sara harus segera bergerak.

__ADS_1


Keinginannya memiliki ruko dua lantai. Lantai dua akan dia gunakan sebagai rumah, dan lantai satu akan dia gunakan untuk usaha. Pemikirannya sudah matang, tidak merealisasikan impiannya tersebut.


***


Selang beberapa jam … 


Di kediaman Belva, rupanya ada seseorang yang meneriakkan, "Paket …."


Ya, siang hari itu ada seorang kurir yang menyambangi kediaman Belva dan menekan tombol bel yang berada di pintu gerbang. Tidak lama berselang datanglah seorang sekuriti yang membukakan pintu gerbang.


"Ada paket, Pak … untuk Bu Anin," ucap Abang pengantar paket tersebut.


"Bisa saja saya yang menerima?" tanya si sekuriti.


"Baik Pak, tolong disampaikan untuk Bu Anin," jawab Abang kurir tersebut dan memberikan sebuah box ice cooler yang di dalamnya berisi ASIP.


Usai menerimanya sang sekuriti pun segera menutup kembali pintu gerbang dan hendak menyerahkan paketan tersebut kepada Nyonya Rumah.


Wanita itu mengernyitkan keningnya, merasa bahwa dirinya tidak memesan atau belanja apa pun secara online, tetapi nyatanya justru ada paketan yang datang untuknya.


"Dari siapa Pak?" tanya Anin.


"Waduh, saya lupa bertanya kepada kurirnya. Hanya saja kurirnya berpesan supaya diberikan kepada Bu Anin," jawab sekuriti tersebut.


Anin pun menerimanya dan segera membuka box ice cooler tersebut. Tidak menyangka, ternyata box berukuran sedang itu berisi ASIP beku. Menerima itu, tentulah Anin teringat kepada Sara.


Wanita itu meneteskan air matanya saat mengecek puluhan kantong ASIP di dalam box itu.


"Kamu menepati janjimu untuk memberikan ASIP untuk Evan, Sara. Tidakkah kamu kangen dengan Evan? Bayi kita sekarang gundul, aku mencukur rambutnya, Sara. Andai kamu melihatnya, wajah Evan menjadi lucu sekarang," ucapnya lirih.


Itu memang beberapa hari lalu, Anin mencukurkan rambut di kepala Evan. Sehingga sekarang bayi kecil itu gundul, tidak memiliki rambut di kepalanya. Wajahnya justru kian menggemaskan sekarang ini.

__ADS_1


Belva yang datang dari kantor siang itu pun tampak kaget melihat Anin yang terlihat menangis dan menyeka air matanya.


"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya pria itu. Belva cukup kaget karena pulang dan mendapati Anin yang tengah menangis.


"Sara … dia mengirimkan semua ASIP ini untuk Evan. Tidakkah kamu ingin mencari keberadaan Sara? Jika bisa, tolonglah … carilah Sara dan bawa kembali dia kemari. Sungguh, aku sama sekali tidak keberatan jika Sara kembali tinggal bersama kita. Dalam 12 bulan terakhir, aku justru merasa nyaman dengannya. Tolong, carilah Sara dan bawa dia kembali," pinta Anin kepada suaminya itu.


Permintaan yang cukup aneh dari seorang istri pertama, hanya saja Anin sebenarnya ikhlas dengan keadaan sekarang ini. Dia bisa menerima Sara. Ingin rasanya Anin mencari di mana keberadaan Sara dan membawa wanita itu untuk kembali ke kediamannya.


Belva pun mengangguk, "Baiklah … aku akan mencarinya. Semoga saja, aku bisa menemukan Sara," balas Belva.


Lantas Belva dan Anin bersama-sama menyimpan kantong ASIP beraneka warna dan dengan gambar yang lucu-lucu itu, menatanya berdasarkan tanggal yang tertera di kantong ASIP. Belva dan Anin akan memberikan ASIP berdasarkan tanggal itu kepada Evan.


Kamu bahkan begitu telaten melakukan pumping untuk Evan … 


Ini bukti kasih sayangmu yang tiada tara untuk Evan, Sara … 


Sekalipun kamu jauh, tetapi kamu memastikan Evan akan selalu meminum ASI … 


Kamu tidak akan membiarkan putramu itu mendapatkan nutrisi yang tak seimbang … 


Setiap kantong ASIP yang kamu kirimkan adalah bukti kamu menyayangi Evan dan mempedulikannya … 


Sekarang, di manakah kamu berada? 


Aku akan mencarimu, Sara… 


Kita akan bertemu kembali cepat atau pun lambat … 


Ya, aku yakinkan itu … 


Belva berkata dengan hatinya sendiri. Sekali pun Sara telah pergi, atas permintaan Anin dan atas dorongan hatinya, Belva akan mulai mencari keberadaan Sara. Dia akan membawa kembali wanita itu untuk tinggal di rumahnya. Mengurai benang kusut dan berharap untuk bisa mengembalikan semua pada posisinya.

__ADS_1


__ADS_2