
Usai memeriksakan kondisi janinnya, kini Belva, Sara, dan Evan melakukan pembayaran pemeriksaan terlebih dahulu dan juga menebus resep di apotek. Hari memang sudah mulai malam, dan Evan juga belum mengeluh mengantuk. Evan masih terlihat bersemangat dan berjalan dengan menggandeng tangan Mamanya itu.
“Tadi, adik bayinya yang bergerak-gerak seperti berenang di monitor itu ya Ma?” tanya Evan.
“Iya Nak, Adik bayinya yang berenang-renang tadi. Evan lihat ya tadi?” tanya Sara.
Evan pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Iya Ma, lihat kok. Dulu Evan juga seperti itu Ma? Evan juga berenang-renang di dalam perut Mam?” tanya Evan yang begitu kritis.
“Benar Evan … dulu kamu juga berada di dalam perut Bunda selama 9 bulan 10 hari. Sampai masanya melahirkan, baru deh Mama melahirkan kamu dengan didampingi Papa,” balas Sara.
Saat Sara menjawab pertanyaan dari Evan, Sara rasanya seolah mengingat kembali bagaimana dulu dirinya mengandung dan berada di ruang tindakan untuk melahirkan Evan. Merasakan sakit yang teramat sangat tiap kali badai kontraksi itu datang. Sekujur tubuhnya terasa begitu sakit. Namun, semua rasa sakit itu hilang saat melihat bayinya telah lahir. Evan kecil dengan tangisannya yang merupakan suara yang paling merdu bagi Sara.
Beberapa menit mengantri untuk mendapatkan obat bagi Sara. Kemudian Belva membawa istri dan anaknya untuk menuju parkiran dan kembali pulang ke rumah. Baru beberapa saat Belva mengemudikan mobilnya, rupanya sudah tertidur di atas carseat yang dia duduki.
“Mas, agak pelan aja nyupirnya. Itu Evan tertidur,” ucap Sara yang melihat Evan tertidur. Saat itu posisi carseat milik Evan di belakang kursi kemudia milik Belva.
“Kecapekan dia Sayang … udah malam juga. Biasanya kan Evan jam setengah delapan sudah tidur,” balas Belva.
__ADS_1
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya, Evan pasti kecapekan. Aku sih seneng Mas, karena ada kamu dan Evan. Setiap kali Evan bertanya tentang Adiknya, rasanya aku jadi keingat saat masih mengandung Evan dulu. Sekarang, rupanya Tuhan titipkan lagi buah hati buat kita,” balas Sara.
Hingga tidak terasa, mobil yang dikemudikan Belva kini telah sampai di rumahnya. Pria itu melepaskan seatbealtnya dan kemudian berbicara dengan suara lirih kepada Sara, “Biar aku yang gendong Evan ke dalam,” ucap Belva.
“Iya Mas, pelan-pelan saja,” balas Sara.
Mulailah Belva membopong Evan, dan melangkahkah kakinya perlahan memasuki rumah. Bahkan Belva menaiki anak tangga dengan membopong Evan. Tampak Sara yang berjalan di depannya mulai menuju kamar Evan dan membukakan pintu.
“Selamat tidur, Evan,” ucap Belva begitu membaringkan putranya itu ke atas tempat tidurnya.
Sara pun juga turut mendaratkan kecupan sayang di kening Evan dan menyelimuti putranya itu, “Selamat tidur, Evanku,” ucap Sara.
“Mau tidur sekarang?” tanya Belva.
Terlihat Sara yang menggelengkan kepalanya perlahan, “Belum, masih belum ngantuk,” jawabnya.
“Mas, boleh bicara?” tanya Sara kali ini kepada suaminya.
__ADS_1
Belva pun tersenyum, pria itu membawa tangannya untuk membelai sisi wajah Sara. “Kamu ini kalau mau bicara pasti bilang begitu. Padahal, aku pasti akan mendengarkanmu, Sayang. Ada apa?” tanya Belva.
“Tentang Evan … kan saat ini aku sedang hamil. Jangan sampai semua perhatian dilimpahkan ke aku dan juga bayinya. Akan tetapi, Evan juga harus diperhatikan, supaya Evan tidak merasakan iri hati dan bisa menyayangi adiknya dan orang tuanya,” cerita Sara kali ini kepada suaminya.
Belva diam mendengarkan ucapan Sara kali ini. Memang memiliki anak lagi, juga berarti membagi perhatian dan kasih sayang antara Si Sulung dan Si Bungsu nantinya. Jangan sampai larut dalam menyambut baby, Si Sulung akan merasa terabaikan. Untuk itulah, Sara meminta kepada Belva supaya mereka berdua bisa bersama-sama memberikan kasih sayang dan perhatian yang sama besarnya untuk Evan dan adiknya.
“Bener Sayang, kita harus memikirkannya juga. Lalu, bagaimana caranya?” tanya Belva.
“Libatkan Evan, Mas. Jadi kita kasih tahu dia perkembangan adiknya. Kenalkan dia dengan sosok adiknya sejak dini. Aku tahu porsi kasih sayang memang akan berkurang, tetapi usahakan untuk bisa memberikan kasih sayang dan perhatian berdasarkan porsinya. Mungkin sekarang karena Adiknya masih di dalam perut Mamanya, perhatian dan kasih sayang untuk Evan tidak berkurang. Namun, nanti saat adiknya sudah lahir, sudah bisa dilihat langsung dengan mata, baru deh terasa. Jadi, ya nanti kalau adiknya sudah lahir, kita membagi waktu ya, Mas … jangan Mama dan Papa megang adiknya dan mengabaikan Evan. Sebab, anak kecil bisa terluka,” jelas Sara saat ini.
Memang ada banyak hal yang bisa memicu anak merasa terluka, salah satu dengan orang tua yang abai dan lebih fokus ke salah satu anak. Sekalipun terkadang anak tidak bisa mengutarakan isi hatinya, tetapi setiap peristiwa yang dilihat anak bisa tertanam di hati, menimbun, hingga menyebabkan luka tersendiri di dalam hati anak.
“Baiklah Sayang … aku juga mau melakukan yang terbaik untuk Evan, kamu, dan Adiknya nanti. Ya sudah, mulai sekarang kenalkan Evan sama adiknya yah. Untuk hal ini, aku percayakan kepadamu. Sebab, kamu yang setiap hari berada di rumah dan memiliki banyak waktu dengan Evan. Sementara di sore hingga malam hari, aku juga akan melakukan hal yang sama. Waktu buat Mamanya Evan dan Adik bayi kalau malam yah,” respons Belva.
Sara pun menganggukkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya itu di dada Belva, “Mas, aku tuh enggak nyangka bisa hamil lagi dan itu adalah benih dari kamu. Kupikir hubungan kita akan benar-benar usai setelah peristiwa rahim sewaan itu. Di saat aku sudah membulatkan diri tidak ingin menikah lagi, menutup hatiku rapat-rapat, tetapi aku justru kembali bertemu denganmu dan kini aku kembali mengandung anakmu,” cerita Sara kali ini.
Belva tersenyum, tangan pria itu mengusapi lengan Sara dengan gerakan naik dan turun, “Maafkan aku di masa lalu yah. Aku sadar, di masa lalu aku banyak melukaimu. Aku tidak banyak memberikan perhatian untukmu. Sekarang, aku akan lebih banyak memperhatikanmu dan bayi kita. Sebisa mungkin aku menebusnya,” ucap Belva kali ini.
__ADS_1
“Iya, tetapi dibandingkan semua luka dan kecewa di masa lalu. Aku lebih bersyukur sekarang. Bersyukur bisa memilikimu pria yang untuk kali pertama bisa mendebarkan jantungku. Pria pertama yang menyentuhku. Aku cinta kamu!” ungkap Sara kali ini kepada Belva.
Ya, dibandingkan mengingat semua luka dan kecewa di masa lalu. Sara merasa lebih bersyukur karena Allah memberi kesempatan kedua bersama Belva dengan kondisi yang sepenuhnya berbeda. Untuk semua karunia ini, Sara merasa benar-benar bersyukur.