
Masih terasa hangatnya bibir Belva di pipinya. Sepeninggal Belva, Sara termangu dengan memegangi pipinya yang baru saja mendapatkan kecupan dari Belva. Usai memegangi pipinya, tangan Sara lantas memegangi dadanya yang kali ini ritme jantungnya tidak karuan. Kenapa pria itu kini begitu suka membuat jantungnya berdetak melebihi ambang batasnya.
Setelahnya, Sara menunggu Evan dan Belva di ruang tamu. Sampai pada akhirnya, dua pria berbeda generasi itu berjalan menuruni anak tangga. Belva menjinjing koper dengan corak anak-anak bergambar superhero yang berisi pakaian dan perlengkapan Evan.
“Mama, Evan sudah siap,” ucap Evan kali ini kepada Sara.
Sara pun mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan putranya itu. Rasanya begitu senang karena Belva memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa mengajak Evan bersamanya selama tiga hari.
“Evan beneran mau ikut Mama? Tidak nangis mencari Papa kan nanti jemputnya hari Sabtu loh yah,” tanya Sara kali ini. Sara hanya ingin memastikan bahwa Evan tidak akan menangis dan mencari Papanya. Sebab, Evan akan turut tinggal bersamanya selama tiga hari.
“Iya Ma … Evan tidak rewel dan akan menurut sama Mama,” jawabnya dengan menunjukkan wajah yang begitu yakin.
Setelahnya Sara pun berpamitan dengan Bibi Wati dan kemudian memasuki mobil Belva. Kali ini pria itu yang mengemudikan mobilnya sendiri. Menempuh jarak Jakarta - Bogor tidak masalah bagi Belva. Justru Belva bisa memanfaatkan waktu untuk lebih dekat dengan Sara.
Dengan kecepatan sedang, Belva mengemudikan mobilnya. Menyisiri jalanan di Ibukota, hingga sekarang mobilnya sudah kembali menjejaki di kota Bogor. Ini menjadi kali pertama bagi Belva untuk berjauhan dengan Evan.
“Sara, tolong jagalah Evan selama tiga hari ini. Sabtu nanti aku datang menjemputnya dan juga pesanku tadi,” ucap Belva. Secara tidak langsung Belva sedang mengingatkan Sara dengan pesannya barusan.
Sara pun menganggukkan kepalanya, dirinya dan Evan kemudian turun untuk masuk ke dalam perumahannya.
“Evan, jangan nakal yah … kalau Mama bekerja, Evan tidak boleh rewel yah,” pesan dari Belva kepada putranya itu.
Belva lantas memeluk dan mencium kedua pipi Evan. “Take care yah ….” ucap Belva kepada putranya itu.
“Mama tidak dipeluk dan dicium Pa?” tanya Evan dengan tiba-tiba.
Entah mengapa Evan memiliki pemikiran seperti itu, jika Papanya memeluk dan menciumnya harusnya Papanya juga memeluk dan mencium Mamanya. Belva pun mengangguk, pria itu berjalan mendekat ke Sara, dan segera memeluk wanita itu. Parfum beraroma Jeruk Pomello yang masih menjadi kesukaannya menguar dengan manis dan segar saat dirinya memeluk Sara. Lantas Belva mengurai pelukannya dan mendaratkan bibirnya lagi untuk mengecupi kedua pipi Sara secara bergantian.
“Aku pamit yah,” pamit Belva kali ini. Suara pria itu terdengar begitu lembut di indera pendengaran Sara.
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya, hati-hati Pak Belva,” jawabnya.
Jujur saja Sara salah tingkah. Apalagi setelah mendapat pelukan dan ciuman di pipi dari mantan suaminya itu, rasanya jantung Sara berdebar-debar sekarang,
Kemudian Sara dan Evan pun melepaskan kepergian Belva. Mereka melambaikan tangan kepada pria yang melajukan mobilnya perlahan itu.
“Bye Papa,” teriak Evan.
***
Selang dua hari …
Mengajak Evan turut besertanya membuat rumah Sara kian hidup rasanya. Bangun pagi, ada Evan yang turut berbaring di sampingnya. Setiap pagi ada acara membuat sarapan bersama dan juga Evan yang terkadang menemaninya ke Coffee Bay.
__ADS_1
Hingga malam hari ini, barulah Belva teringat dengan surat dalam amplop berwarna putih yang diberikan Belva kepadanya. Menunggu Evan tertidur lelap, barulah Sara membuka amplop berwarna putih itu.
Pelan-pelan Sara membukanya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya. Dengan tenang, Sara kemudian membaca tulisan tangan dalam selembar kertas itu.
Untuk Sara,
Hai Sara,
Bagaimana kabarmu? Saat kamu menerima suratku ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini bersamamu. Aku sangat ingin bertemu lagi denganmu, sebelum aku menutup mataku untuk selamanya.
Sara,
Aku ingin berbicara bahwa dalam diam sebenarnya aku tahu jika kamu dan Belva saling mencintai. Jangan jadikan aku sebagai penghalang bagi kebahagiaan kalian. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku ikhlas membagi suamiku denganmu. Namun, saat aku tiada nanti … aku menyerahkan Evan kembali kepadamu. Jagalah dan rawatlah dia … Evan membutuhkan figur seorang Mama.
Sara,
Ketahuilah, waktuku tidak lama lagi. Sebagai keinginan terakhirku. Kembalilah pada Belva … dia mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan menekan perasaanmu sendiri. Sebab, kamu tidak pernah mengambil Belva dari sisiku. Melainkan, Tuhanlah yang telah menyerahkan dia kepadamu. Berbahagialah bersama Belva dan Evan.
Tertanda,
Anin
Usai membaca surat dari Anin, dada Sara terasa sesak. Air matanya berlinangan begitu saja. Sara membawa surat itu di depan dada.
“Kak Anin,” ucapnya lirih sembari terisak.
Usai itu, Sara lantas mencari handphone miliknya dulu. Benarkah bahwa Belva mengiriminya pesan. Mungkin inilah waktunya untuk membuka tabir kenyataan yang sesungguhnya tentang perasaan Belva padamu.
Sara berlari ke kamar dan membuka salah satu nakas penyimpanannya. Lantas dia mengambil handphonenya yang dulu. Mencolokkan charger pengisi daya sejenak, kemudian menyalakannya. Beberapa saat Sara menunggu hingga masuklah beberapa pesan dan tertera nama Belva di sana.
Jari-jari Sara pun bergerak untuk menemukan ikon berwarna hijau pengiriman pesan dan panggilan itu.
[To: Sara]
[Sara, kamu kemana?]
[Kamu tidak ingin kembali ke rumah ini?]
[Evan beberapa hari ini menangis. Dia tantrum. Mungkin saja dia merindukan Bundanya.]
Berganti hari …
[Sara, bagaimana kabarmu?]
__ADS_1
[Bukankah sebelumnya aku sudah meminta supaya kamu jangan mengganti nomormu.]
[Kamu di mana Sara?]
[Jika kamu menerima pesan ini, balaslah Sara …]
Beberapa pekan kemudian …
[Sara, pesanku belum kamu terima yah?]
[Apa yang sebenarnya terjadi Sara?]
[Aku bahkan mencarimu.]
[Sara …]
[Sara …]
[Aku cinta kamu.]
[Aku terlambat menyadarinya, tetapi yang pasti aku cinta kamu, Sara.]
Tertera tanggal yang berbeda, tepatnya dua tahun yang lalu …
[Sara,]
[Hari ini Anin sudah berpulang ke rahmatullah.]
[Jika kamu menerima pesan ini, tolong bacalah dan balaslah.]
[Aku dan Evan sama-sama terpuruk, tetapi aku akan segera bangkit untuk Evan.]
Satu tahun kemudian …
[Sara,]
[Hari ini ulang tahun Evan ketiga. Putra kita kian hari kian tumbuh sepertimu.]
[Rupanya pesan-pesanku masih tidak berbalas yah?]
[Aku cinta kamu, Sara … selalu cinta kamu.]
Perasaan Sara begitu bergejolak hari ini. Belva rupanya benar bahwa dirinya selama ini mengirimkan pesan kepada Sara. Begitu banyak pesan yang baru bisa di baca sekarang ini.
__ADS_1
“Pak Belva,” ucap Sara dengan terisak.
Tidak mengira saat tabir itu terungkap, tidak hanya menyisakan rasa bahagia dan haru, tetapi ada rasa sakit yang seakan meremas hati Sara sekarang ini. Ada penyesalan dalam air mata Sara yang tumpah, tetapi ada fakta yang dia dapati bahwa Belva benar-benar mencintainya.