
Usai pulang dari Rumah Sakit, Sara masih diam. Menimbang-nimbang mengenai perkataan Dokter Indri, ada kecemasan juga saat mengetahui bahwa posisinya bayinya melintang dengan jalan lahir yang tertutup plasenta. Sehingga, Dokter Indri memberikan advice bahwa operasi Caesar harus dilakukan untuk melahirkan nanti.
Kini di dalam kamarnya, Sara tampak duduk termenung dan mengamati foto hasil USG babynya. Jarinya bergerak dan mengusap kertas foto itu.
“Kenapa Sayang?” tanya Belva yang baru saja selesai mandi. Pria itu segera duduk di samping istrinya.
Belva tahu bahwa istrinya itu sedang remas, usai pulang dari Rumah Sakit banyak yang dipikirkan Sara. Sudah pasti yang Sara pikirkan berkaitan dengan kondisi janinnya dan juga advice yang diberikan Dokter Indri mengenai operasi Caesar. Seorang Ibu yang memiliki keyakinan bahwa bisa melahirkan secara normal, dan kemudian Dokter memvonis Caesar, memang membuat mental terguncang. Terlebih memang mendengar kata operasi itu membuat orang menjadi semakin takut.
“Enggak kenapa-napa kok Mas … cuma ya agak kepikiran saja,” balas Sara.
“Takut operasi Caesar?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Hmm, iya … sakit enggak sih? Melahirkan normal saja sakit banget, gimana kalau operasi tuh?” tanya Sara kali ini kepada Belva.
Belva lantas menggenggam tangan Sara, menaruhnya tangan itu di atas pahanya, dan satu tangan yang lain mengusapi punggung tangan itu.
“Tidak sakit kok … nanti kita bisa meminta Caesar yang tidak sakit, dan kamu bisa jalan lebih cepat. Aku temenin nanti,” ucap Belva.
Ya, Belva menjanjikan akan menemani Sara saat melahirkan nanti. Sama seperti dulu saat dirinya menemani Sara melahirkan Evan, kali ini Belva akan menemani Sara untuk melahirkan putra mereka.
“Bius epidural itu aku baca sih bikin sakit, Mas,” ucap Sara.
Bius atau anestersi epidural adalah jenis suntikan anestesi untuk operasi Caesar. Pembiusan ini tidak membuat tertidur, melainkan membuat pasien yang hendak melahirkan tidak merasakan sakit mulai dari area pusar hingga ke kaki bagian atas.
__ADS_1
"Jangan takut, Sayang ... sekarang ada operasi Caesar dengan metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang memiliki keunggulan minim rasa sakit dan proses penyembuhannya lebih cepat. Kamu nanti memakai yang ERACS aja yah," balas Belva yang memberitahu metode operasi Caesar yang lebih cepat penyembuhannya dan juga tidak terlalu menimbulkan rasa sakit.
"Itu mahal banget, Mas ... yang biasa dilakukan para artis itu kan Mas. Kemahalan Mas," jawab Sara.
"Untuk kamu dan baby kita, tidak masalah ... tidak akan menghabiskan penghasilan Coffee Bay milikmu selama sebulan kan?" goda Belva kepada istrinya.
Perlahan-lahan tawa terbit begitu saja dari wajah Sara.
"Mas, janji temenin aku ... aku takut," balas Sara.
Kali ini barulah Sara mengatakan dengan jujur bahwa dia takut ketika harus menghadapi operasi Caesar itu.
"Iya, aku temenin kamu ... kamu takut apanya?" tanya Belva.
"Ya, enggak ... dulu kan merasakan pembukaan satu sampai sepuluh. Terus udah kebayang kan kalau nanti bisa normal lagi. Ternyata Tuhan berkehndak lain. Ya, itu yang bikin aku takut," balas Sara.
“Makasih Mas … jadi, enggak apa-apa nih kalau aku Caesar aja?” tanya Sara.
“Enggak apa-apa … aku setuju sama Dokter Indri tadi kalau apa pun metode melahirkannya yang penting kamu dan baby kita selamat. Itu saja. Aku selalu berdoa buat kamu dan baby kita akan proses persalinan nanti lancar, sehat Mama dan babynya, dan sempurna,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.
Saat mengatakan semuanya itu, Belva tersadar … empat tahun lalu, dia tidak bisa menguatkan Sara seperti ini. Dia tahu bahwa Sara tidak bisa tidur dengan nyenyak, di malam hari kadang Sara terbangun, duduk bersandar di head board dan mengusapi perutnya. Kala itu, Belva hanya bisa memeluk Sara, dan menggenggam tangannya. Tidak ada kata-kata hangat dan motivasi yang bisa dia ucapkan seperti sekarang ini. Mengingat semua itu, Belva kembali merasa bersalah. Andai dulu, dia menjadi pria yang lebih terbuka dan bisa menguatkan Sara seperti ini pasti Sara tidak terlalu takut menghadapi persalinannya.
Belva menggerakkan tangannya dan kini memeluk Sara dengan begitu eratnya. “Jangan takut ya Sayang … aku akan mendampingi kamu. Dulu, aku sudah pernah mendampingi kamu melahirkan secara normal, kali ini aku akan mendampingi kamu untuk melahirkan Caesar. Jadi, ikhlas kan kalau Caesar?” tanya Belva lagi.
__ADS_1
Ada helaan nafas dari diri Sara, “Iya … cuma temenin ya Mas … aku takut,” balasnya.
“Iya-iya … sudah pasti bahwa aku akan menemani kamu. Sini, aku peluk … aku akan selalu ada buat kamu. Jadi kapan mau Caesar?” tanya Belva kepada istrinya itu.
“Sebenarnya sekarang kan sudah bisa. Cuma tadi Dokter Indri jelasin nunggu 39 weeks saja. Menunggu semua organ di tubuhnya adik bayi sudah sempurna, jadi ya seminggu lagi,” balas Sara.
Secara medis, baby berusia 37 minggu dalam kandungan sudah bisa dilahirkan secara Caesar. Hanya saja untuk usia yang matang, lebih baik operasi Caesar dilakukan saat baby berusia 39 minggu, di mana sistem organnya sudah sempurna, dan bayi sudah bisa bernafas dengan hidungnya. Sehingga, itu akan membantu bayi untuk beradaptasi dan juga bertahan di dunia luar.
“Ya sudah … nanti tiga hari sebelum kamu Caesar, aku akan urus cuti aku, aku akan mulai kerja dari rumah. Fokus ke persiapan persalinan kamu dulu yah,” ucap Belva.
“Selang dua hari saja, Mas … kan Caesar kalau siap tinggal di Rumah Sakit saja. Enggak harus nunggu tanggal HPL kan?” tanya Sara.
“Enggak apa-apa, selang tiga hari … bisa menemani kamu jalan-jalan dan melakukan apa pun yang kamu mau sebelum melahirkan dan kamu tidak bisa kemana-mana nanti,” balas Belva.
Setidaknya menjelang hari persalinan nanti, Belva ingin mewujudkan keinginan Sara terlebih dahulu. Selain menghilangkan stress, Sara juga bisa melakukan apa yang dia mau sebelum melahirkan dan mulai mengasuh baby nanti.
“Kali ini aku tidak akan berpisah dari babyku kan Mas?” tanya Sara.
Hanya sekadar bertanya seperti ini saja, air mata Sara sudah berlinangan. Teringat dengan momen di mana dia harus berpisah dengan Evan tidak lama setelah melahirkan. Kenangan itu tetap saja tersimpan di dalam hati Sara. Ada rasa takut jika harus kembali berpisah untuk putranya sendiri.
Ada gelengan kepala Belva dan pelukan pria itu di tubuh Sara juga semakin erat, “Tidak … tidak ada, Sayang. Maaf yah … pasti di masa lalu, kamu tertekan secara mental. Maafkan aku,” balas Belva.
“Aku hanya keingat masa lalu aja, Mas … dan aku tiba-tiba takut. Aku takut kalau harus berpisah lagi dengan bayiku. Dulu aku sebisa mungkin menekan perasaanku, bertahan dengan terus mengingat Evan. Kali ini, aku tidak bisa lagi, Mas. Aku ingin terus bersama dengan putra-putraku,” balas Sara.
__ADS_1
Belva kemudian menyeka air mata Sara, menangkup wajah istrinya itu, “Selamanya kita akan bersama Sayang … till jannah. Amin!”
Belva bersama dengan sungguh-sungguh. Tidak ada lagi nikah mut’ah, tidak ada lagi kisah rahim sewaan, yang ada adalah Belva ingin berada di samping Sara, mendampingi Sara hingga akhir usia. Till jannah, itulah doa dan harapan Belva.