
“Tidak apa-apa, Papa … setelah ditinggal cuti selama dua pekan sudah pasti pekerjaannya menjadi banyak banget,” ucap Sara dengan tersenyum menatap wajah Belva.
Mendengar ucapan Sara dan senyuman manis yang tercetak jelas di wajah Sara membuat luruh seluruh kecemasan Belva. Tampak Belva yang memandang Sara dengan tatapan yang berbeda. Belva menerka-nerka dalam hati mungkinkah bahwa Sara sama sekali tidak marah padanya. Belva semula berpikir bahwa hari pertamanya bekerja dan pulang telat akan membuat Sara marah kepadanya. Akan tetapi, yang terjadi kini justru Sara berbicara begitu lembut dan tersenyum dengan begitu manisnya kepadanya.
“Papa mandi dulu yah … dibiasakan begitu pulang dari kerja, mandi dulu,” ucap Sara lagi kepada Belva. Sara mengingatkan kepada suaminya untuk bersih-bersih dulu begitu pulang dari kerja. Sehingga saat mendekat kepadanya dan juga Evan, Belva sudah dalam keadaan bersih.
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Belva pun menganggukkan kepalanya. Pria itu berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Kurang lebih 15 menit, Belva membersihkan diri. Pria itu kembali turun ke ruang keluarga dengan badan yang segar dan harum tentunya. Parfum beraroma Sandal Wood menguar begitu saja dari badannya.
“Kalian sedang lihat apa?” tanya Belva begitu mendatangi Sara dan Evan yang masih berada di ruang keluarga.
“Ini Pa … lihat Talking Tom Gold Run,” sahut Evan.
Tampak Belva turut melihat video yang dilihat Evan bersama Sara itu. Sekalipun Belva tidak terlalu tahu, tetapi sebagai seorang Ayah, Belva pun mencoba memahami apa yang sedang dilihat Evan. Menilai bahwa yang dilihat Evan adalah konten yang baik dan sesuai dengan usianya. Bukan konten yang berisi adegan dewasa dan tidak bagus untuk tumbuh kembang Evan.
Melihat Belva yang sudah bergabung di ruang keluarga, Sara kemudian beranjak terlebih dahulu. Sara berniat membuatkan minuman untuk suaminya yang baru saja pulang kerja. Wanita itu menuju ke dapur dan membuatkan Teh hangat untuk suaminya. Sara kembali dengan sebuah nampan kecil di atasnya terdapat cangkir keramik berwarna putih dengan ukiran bunga-bunga yang begitu indah.
“Diminum dulu Papa,” ucap Sara yang mempersilakan Belva untuk minum terlebih dahulu.
“Makasih Sayang,” sahut Belva.
Pria itu tampak mengangkat cangkir keramik itu dengan tangan kanannya. Mencium aroma Teh yang begitu harum, kemudian menyesapnya perlahan. Aroma dari Teh Melati yang cukup menenangkan Belva. Terlebih Tehnya dalam kondisi hangat, terasa sangat enak.
__ADS_1
“Ah, Teh bikinan kamu selalu saja enak,” balas Belva kali ini.
Sara hanya tersenyum mendengar pujian dari suaminya itu. Tentu Sara merasa senang karena Belva senang dengan Teh buatannya.
“Sehabis ini makan malam dulu ya Pa,” ucap Sara.
Terasa kikuk sebenarnya harus memanggil Belva dengan panggilan ‘Papa’, tetapi Sara berjanji jika berada di hadapan Evan, maka Sara akan memanggil suaminya itu dengan panggilan Papa. Sekaligus memberikan contoh kepada Evan bahwa Sara menghargai suaminya itu.
“Iya,” sahut Belva.
Selang lima belas menit, Sara pun mengajak Belva dan Evan untuk makan malam bersama. Sara begitu telaten melayani suami dan anaknya itu. Seakan-akan bisa melayani keduanya membuat Sara begitu bahagia.
Kendati demikian, Belva sama sekali tidak mengatakan kepada Sara bahwa dirinya sama sekali belum makan siang. Jika dirinya memberitahu bahwa belum sempat makan siang, sudah pasti Sara akan begitu khawatir.
“Iya Mama,” sahut Belva.
Usai makan malam, Sara kemudian menidurkan Evan. Menunggu sampai putranya itu tertidur. Setelahnya barulah Sara masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Belva yang sedang duduk di sofa sembari memijit pelipisnya sendiri.
“Baru ngapain Mas?” tanya Sara kali ini.
“Eh, kamu Sayang … gimana Evan sudah tidur?” tanya Belva kepada Sara.
__ADS_1
“Sudah … sejak sore Evan nanyain kamu pulang. Katanya biasanya Papanya sampai di rumah jam setengah lima sore. Untung saja perhatiannya bisa dialihkan,” cerita Sara kali ini kepada Belva.
Terlihat Belva menghela nafasnya dan kemudian menatap Sara, “Sorry … kerjaan di kantor banyak banget. Aku terlalu sibuk bekerja sampai lupa waktu. Banyak file yang harus aku cek satu per satu,” cerita Belva dengan jujur kali ini kepada Sara.
“Iya tidak apa-apa. Aku sendiri juga memprediksi pasti kerjaanmu di kantor baru banyak banget. Terlebih setelah liburan dua pekan. Hal yang wajar, jika begitu masuk kerjaan jadi menggunung,” respons Sara.
Masih tampak terlihat bagaimana Sara bisa memaklumi Belva. Sungguh, rasanya Belva begitu bersyukur memiliki istri seperti Sara. Pria itu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sara dan memejamkan matanya perlahan.
“Makasih yah, kamu sudah mau memaklumi aku. Iya, aku tadi sempat kaget dan bingung file dokumen di meja itu banyak banget. Jadi, aku mencoba mengerjakannya satu per satu. Aku sampai lupa tidak membalas pesanmu dengan cepat. Aku juga sampai pulang terlambat. Maaf,” ucap Belva kali ini kepada Sara.
Sara pun menganggukkan kepalanya, tangannya kemudian bergerak dan mengusapi puncak kepala suaminya itu. “Tidak apa-apa. Aku bisa memaklumi semua tentangmu. Hanya saja sesibuk apa pun kamu bekerja, jangan lupa makan siang. Jangan sampai bekerja dengan perut kosong. Nanti justru bisa membuatmu sakit. Jadi, usahakan untuk makan tepat waktu,” balas Sara.
“Iya Sayang,” sahut Belva. Terlihat Belva mengurai kepalanya dari bahu Sara sejenak kemudian menatap wanitanya itu, “Aku bersyukur banget memilikimu dalam hidupku. Sekarang ada kamu yang memperhatikan aku dan memaklumi aku. Aku berjanji akan menjaga kesehatan dan tidak akan pernah mengecewakanmu,” janji Belva kali ini kepada Sara.
Bahkan Belva berbicara dengan begitu bersungguh-sungguh. Belva berjanji tidak akan pernah mengecewakan Sara.
“Iya Mas … tidak apa-apa. Kita harus saling memaklumi satu sama lain supaya kehidupan rumah tangga kita bisa langgeng dan harmonis. Yang penting itu kejujuran dan keterbukaan satu sama lain. Lain kali jika pulang terlambat, kasih tahu dulu ya Mas … sehingga aku bisa menjawab Evan juga,” pinta Sara kali ini.
“Iya. Lain kali aku akan memberitahumu terlebih dahulu. Sekalian aku mau minta maaf, jika seminggu ini pekerjaanku akan lebih sibuk karena banyak banget kerjaan yang harus aku cek,” ucap Belva.
Kali ini Belva mengatakan kesibukannya yang benar-benar menggunung terlebih dahulu kepada Sara. Dalam satu minggu ini Belva akan sibuk karena menyelesaikan beberapa pekerjaan yang dia tinggalkan selama dua pekan. Berharap Sara bisa memakluminya dan memaklumi kesibukannya sebagai seorang CEO Agastya Property.
__ADS_1