Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Pria Pantang Menyerah


__ADS_3

Sara rasanya benar-benar tidak percaya dengan sikap Zaid sekarang. Sara pikir saat dirinya menolak Zaid dengan tegas, pria itu akan mundur teratur. Akan tetapi, prediksi Sara kali ini tidak tepat. Yang terjadi justru Zaid kian bersungguh-sungguh untuk berjuang dan berusaha.


Sara bahkan tidak habis pikir kenapa Zaid bisa dengan mudahnya mengatakan bahwa dirinya akan berjuang. Tentu perkataan Zaid ini sedikit banyak membuat Sara bertanya-tanya.


Kamu mengingatkanku pada diriku yang dulu, Zaid … 


Kamu pernah berada dalam kondisi bahwa aku ingin berjuang bagi seseorang yang namanya mulai menghiasi hatiku … 


Sayangnya, aku terlalu lemah … 


Aku tidak memiliki daya juang sebesar dirimu. 


Aku berada dalam posisi menunggu, tetapi tidak dengan berjuang. 


Hingga ujung penantianku, aku memilih untuk melepaskan perasaan itu. 


Aku mengakhiri masa penantianku … 


Memangkas perasaanku … 


Dan, 


Akhirnya aku kalah. 


Jangan berada di posisi itu karena menunggu tanpa kepastian itu sangat tidak enak … 


Berjuang sendirian pun terasa kepayahan. 


Pilihanmu terlalu berisiko Zaid … 


Sara hanya mampu berbicara dengan hatinya sendiri. Ingin rasanya mengungkapkan semua itu, tetapi nyatanya Zaid telah sampai pada keputusannya.

__ADS_1


"Zai, please … jangan berjuang untukku karena aku bukan seseorang yang layak untuk kamu perjuangankan," ucap Sara pada akhirnya.


Dalam benaknya sekarang ini, Sara benar-benar berpikir bahwa dirinya memang bukan wanita yang tidak layak untuk Zaid perjuangkan. Masih banyak wanita di luar sana yang sepadan dan seimbang bagi Zaid. Sara merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita lain di luar sana.


"Tidak Sara … kamu boleh melakukan apa pun menurut kehendakmu, dan aku akan melakukan apa pun menurut kehendak hatiku," balas Zaid dengan yakin.


Agaknya terus meminta Zaid untuk melupakan perasaannya adalah sia-sia. Untuk itu Sara memilih diam, tidak menanggapi Zaid dan memilih melanjutkan aktivitasnya.


"Baiklah Sara … aku ke kafe dulu yah. Nanti sore aku akan kembali lagi kemari," ucap Zaid.


Bahkan setelah tadi berbicara dengan begitu serius, kali ini Zaid bisa berbicara dengan santai. Bahkan pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Sara. Sungguh tindakan yang begitu impulsif bagi Sara.


Hingga akhirnya, Sara memilih menganggukkan kepalanya kepada Zaid, "Baiklah ... hati-hati, Zai," balas Sara.


"Ingat Sara ... santai saja. Kamu bisa melakukan apa pun menurut kehendak hatimu, dan aku bisa melakukan apa pun yang kamu mau. Akan tetapi, jika kamu membutuhkan sesuatu jangan segan untuk meminta tolong padaku. Kamu bisa meminta tolong padaku kapanpun yang kamu mau," jelas Zaid.


Usai mengatakan itu, Zaid pun melambaikan tangannya dan pergi dari Coffee Bay.


"Bye Sara ... nanti aku balik lagi yah," pamit pria itu.


Beberapa jam pun berlalu, Sara masih berada di Coffee Bay sekaligus membantu para karyawan lainnya. Justru Sara bersyukur karena berada di Coffee Bay dan melayani pelanggan yang datang bisa membuatnya menjadi lebih sibuk dan melupakan perih di hatinya. Sekalipun terkadang badan menjadi lebih capek, tetapi Sara bisa berinteraksi dengan karyawannya, juga ternyata begitu senang menawarkan menu-menu yang unik dari Coffee Bay itu kepada pelanggan.


“Minuman yang recommended apa Kak?” tanya seorang pelanggan.


“Ada Frappuccino, Kak … best seller di sini, Kakak mau mencobanya?” tawar Sara.


“Oke boleh Kak … es nya less (tidak terlalu banyak) saja ya Kak,” jawab pelanggan itu.


Tidak membutuhkan waktu lama, Es Frappuccino sudah ready dan siap diberikan kepada pelanggan. Nina pun terkadang tersenyum menatap Sara.


“Kak Sara, jurus marketingnya mantap loh … hanya menawarkan beberapa pilihan minuman saja langsung deal,” ucap Nina.

__ADS_1


Mendengar ucapan Nina, Sara pun tertawa, “Kebetulan saja Nin … soalnya pembelinya tanya menu yang recommended, jadi ya aku tawarkan Frappuccino saja,” balas Sara.


“Kak Sara ini berjiwa marketing loh,” sahut Nina lagi.


Memang hubungan Sara dengan karyawannya tidak kaku, justru mereka terlihat ramah dan ada rasa kekeluargaan di Coffee Bay itu. Lagipula, menciptakan iklim kerja yang kondusif akan membuat karyawan lebih nyaman untuk bekerja. Itu juga yang terjadi di Coffee Bay, Sara dan para karyawannya terlihat akrab dan kerja sama bisa berjalan dengan baik.


Hingga menjelang malam, rupanya Zaid kembali mendatangi Coffee Bay milik Sara. Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya untuk kembali ke coffee shop milik Sara.


“Aku datang lagi,” sapa Zaid begitu membuka pintu masuk.


Sama seperti biasanya, pria itu terlihat ramah, wajahnya penuh senyuman dan seakan tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan Sara.


“Lama-lama kamu jadi pegawai Coffee Bay dong Kak Zaid,” ucap Nina dengan tiba-tiba.


Mendengar ucapan Nina, Zaid pun tertawa, “Sara … kamu mau pegawai tambahan tidak? Kayaknya boleh deh, aku jadi pegawai kamu saja,” balasnya.


Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, “Dari awal aku sudah bilang, aku gak kuat menggaji kamu, Zai,” balas Sara.


Zaid tidak marah, tetapi justru terkekeh, “Sama kamu … aku tidak mengharapkan gaji. Diterima bekerja aja, aku sudah ikhlas,” sahutnya.


“Tuh Kak Sara … agaknya bisa tuh buat bikin shake dan membuat Frappuccino,” balas Nina.


Obrolan mereka terhenti saat kembali ada pembeli yang datang dan memesan beberapa minuman. Zaid pun lantas berdiri mengamat open kitchen dari karyawan yang sedang meracik dan meramu berbagai minuman sesuai pesanan.


“Aku yakin prospek Coffee Bay milikmu sangat bagus sih Sara … gimana kamu tidak ingin membuka cabang kedua?” tanya Zaid.


Secara matematika memang penjualan Coffee Bay termasuk stabil, bahkan modal 20 juta rupiah sudah kembali di tangan. Akan tetapi, jika membuka cabang kedua artinya, Sara harus merogoh kocek lagi untuk membeli ruko. Selain itu, dia juga harus survei tempat yang menjanjikan untuk membuka cabang keduanya. Sebab, tidak mudah membuka cabang di kota yang baru.


“Terlalu cepat, Zaid … aku sendiri saja tidak yakin. Bisa memiliki satu usaha saja bagiku seperti mimpi,” sahut Sara.


Ya, wanita yang hidup sebatang kara, tidak lagi memiliki orang tua, dan pernah merasakan asam dan pahitnya kehidupan, kini bisa memiliki satu tempat usaha saja rasanya sungguh luar biasa. Seperti mimpi, maka dari itu terkadang Sara merasa tidak yakin dengan dirinya. Tidak ingin terlalu gegabah, Sara ingin membesarkan Coffee Bay di Bogor itu terlebih dahulu.

__ADS_1


“Kalau sekiranya kamu yakin langsung maju saja Sara … sama seperti aku karena sudah yakin dengan perasaanku, makanya langsung maju,” ucap pria itu sembari melirik Sara.


Mendengar ucapan Zaid, Sara memilih menundukkan wajahnya. Baginya tidak ada dalam logikanya antara keyakinan membuka cabang bisnis baru dan kaitannya dengan perasaan. Oleh karena itu, Sara memilih diam dan enggan meladeni Zaid. Sara tahu bahwa Zaid adalah pemuda yang baik, hanya saja dirinya tidak bisa memaksakan perasaannya sekarang ini.


__ADS_2