
“Sebaiknya kamu pecat saja dia, Pak Belva,” ucap Zaid dengan tegas.
Tentu Zaid bukan sekadar berbicara. Akan tetapi, ada satu hal yang diketahui oleh Zaid. Untuk itulah, Zaid mengatakan supaya Belva lebih baik memecat sekretaris barunya.
“Aku akan melakukan penyelidikan. Sebab, aku tidak mungkin memecat seorang pegawai tanpa alasan yang jelas,” balas Belva.
Sebagai seorang pemimpin perusahaan besar, memang sangat tidak elok apabila Belva berlaku otoriter dan memecat orang tanpa alasan yang tepat. Lebih baik, Belva melakukan penyelidikan terlebih dahulu, sehingga ada alasan dan penyebab yang jelas mengapa dia memutuskan untuk memecat pegawainya.
Sara sendiri lebih banyak diam. Menerka-nerka sebenarnya apa yang direncanakan Anthony sekarang ini. Waktu sudah berlalu, tetapi mengapa Anthony masih ada merencanakan hal yang jahat kepadanya dan juga Belva. Dendam apa yang membuat Anthony melakukan hal demikian.
“Mas, lebih baik amankan dokumen-dokumen perusahaan. Terutama dokumen dengan mitra untuk projek yang besar,” ucap Sara kali ini kepada Belva.
Sekalipun hanya lulusan SMA, tetapi otak Sara cukup jalan. Bisa menghubungkan satu kasus dengan peristiwa yang sedang terjadi. Sara cukup diam dan dirinya berpikir, bahwa berurusan dengan Anthony mungkin saja berhubungan dengan tender perusahaan. Untuk itu, Sara meminta kepada Belva untuk lebih berhati-hati.
“Ah, benar Sayang … kenapa aku tidak terpikirkan itu? Aku akan menghubungi Ridwan sekarang juga,” ucap Belva.
Pria itu meminta izin untuk keluar sebentar dan menelpon sekretarisnya yaitu Ridwan. Belva memerintahkan kepada Ridwan untuk merahasiakan semua dokumen terkait dengan tender dengan perusahaan yang penting, termasuk dengan kerja sama Agastya Property dengan Jaya Corp. Bahkan Belva meminta kepada Ridwan untuk mengkoneksikan CCTV di ruangannya dan ruangan sekretaris ke handphonenya. Sehingga Belva bisa melihat gerak-gerik Annisa.
Belva memang tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja Belva akan memulai penyelidikan secara pribadi. Lebih cepat, lebih baik. Dengan demikian, apa motif tersembunyi Annisa pun bisa diungkap.
Saat Belva tengah menelpon Ridwan, di dalam ada Sara dan Zaid yang tampak canggung satu sama lain. Keduanya memilih diam sesaat, sampai akhirnya Zaid yang membuka suaranya dan mengajak Sara berbicara.
“Kamu baik kan Sara?” tanyanya.
“Iya, aku baik,” jawab Sara yang sedikit tersenyum kepada Zaid.
__ADS_1
“Syukurlah, jika kamu baik dan bahagia, aku merasa lega karena melepaskan perasaan ini,” respons Zaid sembari menatap wajah Sara.
Tidak dipungkiri bahwa Zaid memang berniat melepaskan perasaannya. Zaid yakin bahwa perasaannya untuk Sara selalu tulus. Bukan sekadar obsesi seperti yang dilakukan Kakaknya, yaitu Anthony. Zaid pun bisa mengelola hatinya dan berusaha keras untuk melupakan Sara.
“Kamu sudah move on kan Zai?” tanya Sara kali ini kepada Zaid. Sara bahkan memberanikan dirinya untuk bertanya apakah pria yang kini duduk di depannya itu benar-benar sudah move on.
“Aku masih berusaha, Sara … tidak mudah untuk mengubur semuanya begitu saja. Yang pasti, aku selalu berdoa untukmu dan suamimu,” balas Zaid.
Mendengar apa yang Zaid ucapkan, Sara benar-benar merasa lega. Ya, lega karena Zaid adalah pria yang tulus, bahkan Zaid berkata bahwa dia akan berdoa untuknya dan Belva.
“Kenapa sebenarnya dengan Anthony, Zai?” tanya Sara dengan wajah penuh selidik. Sara sangat ingin tahu motif apa yang dimiliki Anthony, hingga pria itu seolah begitu hobi mengganggu ketentraman hidupnya.
“Entahlah Sara … aku tidak tahu. Hanya saja, aku tahu bahwa Annisa adalah temannya Kak Anthony,” balas Zaid.
Sara menganggukkan kepala merespons ucapan Zaid. Memang apa yang direncanakan oleh Anthony, Zaid tidak mengetahuinya, tetapi Zaid pun mengenal Annisa sebagai seorang teman Anthony. Jadi, bisa dipastikan saat seorang musuh menyusupkan temannya ke kubu musuhnya, dapat dipastikan bahwa itu bukanlah sesuatu yang aman. Justru dalam kondisi genting.
“Benar sih … semoga saja, tidak memberikan dampak yang besar untuk Agastya Property,” balas Sara.
Dalam hatinya, Sara berdoa dan berharap bahwa perusahaan suaminya itu akan tetap stabil. Selain itu, dalam hatinya Sara juga berdoa bahwa kehidupan rumah tangganya bersama dengan Belva akan selalu harmonis. Kalaupun ada badai, semoga saja keduanya bisa bergandengan tangan dan melalui badai itu bersama.
“Sudah, tidak perlu dipikirkan. Fokus saja dengan kehamilanmu sekarang ini,” ucap Zaid.
Usai mengatakan semua itu, rupanya Belva kembali masuk dan mengambil duduk di samping istrinya itu. Pria itu menghela nafas dan Sara segera menggenggam tangan suaminya itu. Berusaha untuk menenangkannya.
“Gimana Mas?” tanya Sara.
__ADS_1
“Aman, Sayang … semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan projek yang berkaitan langsung dengan Agastya Property,” ucap Belva.
Zaid menganggukkan kepalanya dan berbicara kepada Belva, “Aku akan membantumu sebisamu, Pak Belva … tetapi, aku tidak berjanji. Semoga saja tidak ada hal yang serius,” balas Zaid.
“Thanks, Zaid … makasih banyak,” balas Belva.
“Yang penting fokus ke kehamilan Sara juga Pak Belva. Bagaimanapun Ibu Hamil membutuhkan perhatian lebih,” balas Zaid.
Seakan pria itu memberikan nasihat bahwa Belva juga harus memperhatikan Sara yang sekarang ini tengah hamil. Semoga saja dengan masalah yang terjadi kali ini, Belva bisa memberikan perhatian kepada Sara.
“Iya … thanks. Aku juga pasti akan memperhatikan Sara,” ucap Belva dengan sungguh-sungguh.
Sara melirik ke arah suaminya itu. Semoga saja Belva bisa menerima ucapan Zaid dengan baik, dan tidak terpengaruh hingga merubah suasana hatinya. Sebab, Sara tahu benar bahwa kedua pria itu sebenarnya ada rival di masa lalu.
Usai mengatakan semuanya dengan Sara dan Belva, Zaid pun berpamitan dengan mereka berdua.
“Baik, aku pamit dulu yah. Senang melihat kalian berdua di sini. Aku selalu berdoa semoga kalian bisa bergandengan tangan dan menghadapi semuanya bersama-sama,” ucap Zaid.
Sara menganggukkan kepalanya, sesekali Sara menatap punggung Zaid yang kian menjauh. Setelahnya, Sara kembali menatap suaminya itu.
“Apa harus ke Jakarta sekarang Mas?” tanya Sara.
“Tidak … tenang saja. Aku bisa menyelidikinya sendiri,” balas Belva.
“Yakin? Jika harus kembali ke Jakarta, sebaiknya kita kembali sekarang. Semoga saja tidak ada masalah yang serius dengan perusahaan,” ucap Sara.
__ADS_1
“Tenang saja, Sayang … aku bisa menyelesaikan masalah ini. Yang diucapkan Zaid barusan benar, aku harus lebih memperhatikan kamu. Jangan pikirkan mengenai perusahaan,” balas Belva yang ingin Sara tidak ikut memikirkan masalah Agastya Property.
Belva sudah memutuskan akan melakukan penyelidikan. Untuk itu, dia akan menyerahkan semuanya kepada Ridwan. Dari jauh pun, Belva bisa memantau kinerja Annisa dari CCTV yang terkoneksi dengan Smartphone nya. Jika itu terkait dengan Anthony, maka Belva akan membuat perhitungan dengan pria itu.