Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Tidur Lebih Pulas


__ADS_3

“I Miss U So Much,” ucap Belva dengan kembali memeluk Sara.


Hari sudah lewat tengah malam, tetapi Sara masih memeluk suaminya itu dan masih menangis. Benar, dirinya terkejut, tetapi juga ada rasa kesal karena Belva tidak segera membalas pesan-pesannya. Sara terlanjur panik karena handphone suaminya yang tidak aktif, tetapi setelah melihat Belva ada di hadapannya, dan bisa memeluknya, Sara merasa begitu lega.


Sementara Belva tersenyum, pria itu masih berdiri membiarkan wajah Sara yang masih berada di perutnya dengan kedua tangan yang melingkari pinggangnya.


“Ditinggal dua hari saja, sesedih ini sih,” ucap Belva lagi.


Tentu itu bukan ucapan mengejek, jauh di dalam hatinya justru Belva merasa senang karena dia pulang dan sudah dinantikan oleh istrinya itu. Baru pertama dalam hidupnya, Belva merasakan ada seorang wanita yang menunggunya sampai meneteskan air mata. Entah itu karena hormon kehamilan yang membuat Sara mudah sedih, atau memang dorongan dalam hati Sara yang membuatnya menangis. Apa pun itu, Belva sangat bahagia karena Sara terlihat sangat mencintainya. Sebagai seorang pria dan seorang suami, tentu Belva merasa sangat berbahagia karena mendapatkan cinta secara penuh dari istrinya itu.


“Abis kangen,” sahut Sara. Itu adalah pengakuan yang jujur dari Sara. Pengakuan bahwa dirinya benar-benar kangen pada suaminya itu.


“Kan Papa sudah pulang, Mama jangan sedih dan menangis lagi yah … kasihan adik bayinya ikut sedih loh nanti,” ucap Belva yang mengingatkan istrinya itu dengan nada suara yang terdengar begitu lembut.


Sebab, kondisi perasaan Ibu hamil berpengaruh pada janin dalam rahimnya. Jika Ibu bahagia, janin pun bahagia di dalam sana. Sementara, jika Ibunya bersedih, maka janinnya di dalam sana juga bisa gelisah. Janin yang berada di dalam rahimnya, bisa turut merasakan semua perasaan dan emosi yang dirasakan Sara.


“Ini sudah lewat tengah malam, Sayang … jadi sekarang tidur yuk,” ajak Belva kepada istrinya itu.

__ADS_1


Pria itu kemudian membantu Sara berbaring, kemudian dia merebahkan dirinya di samping Sara. Belva menelisipkan tangannya di bawah kepalanya Sara, dan kemudian membawa kepala istrinya dekat dengan lengan dan dadanya, mengusapi rambutnya perlahan.


“Aku bela-belain usai rapat langsung pulang duluan. Semua survei lahan sudah selesai, jadi aku bisa pulang lebih cepat ke Jakarta. Aku melewatkan makan malam, biar bisa ketemu sama kamu dan Evan,” balas Belva.


Sebab, pada faktanya Belva memang lebih memilih melewatkan makan malam supaya bisa sampai di rumahnya lebih cepat. Jarak tempuh Surabaya - Jakarta dengan menggunakan pesawat udara membutuhkan waktu kurang lebih dua jam penerbangan. Akan tetapi, Belva tentu harus tiba di Bandara Juanda, Surabaya lebih awal. Melakukan check in dan boarding, hingga akhirnya bisa terbang ke Jakarta.


“Terus ini enggak makan dulu?” tanya Sara kepada suaminya. Mendengar cerita dari Belva membuat Sara merasa tidak tega jika harus membiarkan suaminya tertidur dengan perut kosong.


“Sudah makan roti kok di dalam pesawat tadi … dapat roti tadi, jadi aku sudah memakannya. Aku makan besok pagi saja, Sayang … sarapan. Ini sudah terlalu malam,” jawab Belva.


“Yakin? Jangan tidur dengan perut kosong,” ucap Sara. Sebab, Sara juga tidak ingin jika suaminya itu harus tidur dengan perut kosong.


Kemudian Belva menundukkan wajahnya dan melabuhkan kecupan hangat di kening Sara.


“Sekarang sudah sangat malam … tidurlah. Aku akan memelukmu sepanjang malam ini,” ucap Belva.


Sara pun menganggukkan kepalanya, mengambil posisi nyaman dengan tertidur di dada Belva, merasakan detak jantung suaminya yang seirama, menghirup aroma parfume kesukaannya, dengan satu tangan yang melingkari pinggang suaminya itu. Tidak membutuhkan waktu lama, Sara pun segera terlelap dalam pelukan Belva.

__ADS_1


Sementara Belva masih menunggu sampai Sara benar-benar terlelap. Belva lantas sedikit beringsut, pria itu menyangga kepala dengan tangannya, menatap wajah Sara yang terlelap dan terlihat sembab di sana.


“Kamu benar-benar mencintaiku ya Sayang? Sampai aku tingga bekerja dua hari saja, kamu menangis seperti ini. Kemarin kamu menangis, dan sekarang kamu pun menangis. Gimana aku bisa jauh-jauh darimu, jika kamu begitu menungguku kembali. Gimana aku bisa jauh-jauh darimu, jika kamu menunjukkan cinta yang sebesar ini kepadaku. Ku harap, aku bisa membahagiakanmu dan tidak akan pernah mengecewakanmu,” gumam Belva dengan lirih.


Pria itu kemudian kembali mendaratkan kecupan di kening Sara, dan kemudian memeluk istrinya itu, turut tidur dalam buaian dengan sang istri yang memeluknya erat dan terlihat begitu posesif itu.


Hingga pagi menjelang, Belva yang bangun terlebih dahulu. Pria itu membuka kelopak matanya perlahan-lahan, dan tersenyum menatap wajah Sara yang masih terlelap di sisinya. Wanita yang selalu cantik tanpa mengenakan make up yang tebal. Lantas, Belva pun merapikan anakan rambut yang ada di kening Sara, membelai wajahnya dengan lembut, kemudian tersenyum sendirian menatap wajah Sara. Seakan menikmati pemandangan istrinya yang terlelap membuat Belva bahagia sendirian. Wanita yang Belva yakini bahwa dirinya pria pertama yang menyentuh Sara. Pagi yang membuat Belva teringat bagaimana kali pertama merenggut mahkota istrinya itu hingga membuat Sara trauma dan ketakutan. Kehamilan Evan yang membuat dirinya berpuasa begitu lama, dan juga penyatuan terakhir penuh air mata. Belva yakin, bahwa Sara sebenarnya sudah mencintainya sejak lama. Hanya saja, Sara setipe dengannya, tidak bisa mengungkapkan cinta, hingga dadanya sesak dan bergemuruh karena ungkapan yang tidak bisa terucapkan.


Lama Belva memandangi wajah Sara, hingga istrinya itu perlahan mengerjap dan kelopak matanya perlahan-lahan terbuka. Wanita itu tersenyum sembari menutup wajahnya yang baru saja bangun tidur. Akan tetapi, Belva segera menahan tangan Sara yang hendak menutup wajahnya.


“Pagi Sayang,” sapa Belva dengan tersenyum pada Sara.


Sara tidak membalas, tetapi wanita itu segera mencerukkan wajahnya ke dada Belva dan memeluknya erat.


“Lelap kan tidurnya? Sudah ada yang memelukmu lagi,” ucap Belva yang tersenyum dan merengkuh tubuh Sara dalam pelukannya.


Terlihat Sara yang menganggukkan kepalanya secara samar, “Iya, tidurku lebih lelap karena kamu pulang. Aku kangen,” balas Sara dengan suaranya yang masih terdengar serak.

__ADS_1


“Jadi, aku kayak obat tidur dong Sayang … soalnya kamu jadi pules banget semalam. Hmm, aku cinta kamu,” balas Belva.


Memang Belva masih menunggu sampai Sara benar-benar terlelap semalam, setelah Sara tertidur barulah Belva yang memejamkan matanya. Dia bisa melihat Sara yang tertidur pulas, walaupun semalam wajahnya begitu sembab, tetapi sekarang Sara bangun dengan wajah yang cerah. Kian cerah karena Belva memandang istrinya itu dengan penuh cinta.


__ADS_2