
Keesokan harinya, mendengar permintaan Sara yang ingin training barista atau meracik minuman, Belva lantas mencoba melihat-lihat tempat untuk training membuat minuman. Bahkan, dia berselancar sendiri dengan mesin pencarian di handphonenya. Lantaran baru kali ini Sara meminta sesuatu, dan Belva ingin memberikan yang terbaik, maka pria itu mencarikan sebuah tempat training meracik minuman bersertifikasi. Mungkin saja, Sara akan berniat menggunakan sertifikat itu suatu saat nanti.
Setelah yakin dengan sebuah kursus yang dirasa Belva tepat, cocok, dan nyaman. Maka Belva sendiri lah yang mendaftarkan Sara secara online dan membayar biaya training itu. Berapa pun biayanya tidak menjadi masalah bagi Belva. Yang penting bakat Sara bisa tersalurkan dan juga Sara memiliki kegiatan di luar rumah.
Malam hari usai makan malam, Belva berpamitan dengan Anin bahwa dia akan menemui Sara sebentar. Lantaran Anin berada di rumah, sehingga Belva tetap mengatakan kemana dirinya saat ini.
"Aku akan menemui Sara sebentar," pamitnya saat akan keluar dari kamar.
Mendengar Belva yang berpamitan, Anin justru tertawa, "Temui saja. Lagipula, aku tidak melarangmu," ucapnya.
Merasa bahwa Anin sudah mengizinkannya, Belva kemudian menuju kamar Sara. Kali ini bukan sekadar menidurkan Sara, tetapi pria itu datang dengan kabar baik untuk Sara tentunya.
"Sara, kamu sudah tidur?" tanya Belva sembari membuka pintu kamar Sara.
Pria itu perlahan-lahan memasuki kamar Sara. Rupanya di dalam Sara tengah duduk di sofa, wanita hamil itu tengah tertawa-tawa dengan melihat sesuatu di layar handphonenya. Merasa bahwa Sara mengabaikannya. Belva pun kemudian berdehem, "Hemm, Sara," ucapnya lagi.
Agaknya kali ini atensi Sara pun teralihkan. Wanita itu lantas menaruh handphonenya di sofa itu, kemudian melihat pada Belva.
"Eh, Pak Belva, ada apa Pak?" Sara bertanya dengan menatap pria yang berjalan ke arahnya itu.
"Kamu sedang apa? Kenapa tertawa sendiri?" tanya Belva.
Sara lantas menunjukkan handphonenya, wanita itu rupanya tengah membaca sebuah Novel di Aplikasi Noveltoon yang baru saja dia unduh baru-baru saja. "Ah, ini ... aku sedang membaca novel digital," ucapnya.
Belva pun mengernyitkan keningnya, "Novel apa? Sampai membuatmu tertawa seperti itu?" tanya Belva sembari melihat layar handphone milik Sara.
"Ini Pak, judulnya Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta. Pasangan suami istri yang menikah karena perjodohan, dari tidak mencintai, suaminya poligami tanpa izin istrinya, sampai berakhir tokoh utama wanitanya pergi ke Manchester untuk kuliah S2. Di saat itu, suaminya yang berusaha mati-matian untuk meminta maaf dan mendapatkan hati istrinya. Ada beberapa Bab yang lucu di sana," jawab Sara.
Belva kemudian mengangguk, "Oh ... apa menyenangkan?" Belva kembali bertanya kepada Sara karena terlihat Sara begitu bahagia membaca novel itu dan juga sampai Sara tidak menyadari kedatangannya.
"Iya, Pak ... kata istrinya, suaminya itu suami paling modus sedunia. Aduh, membacanya saja aku jadi bahagia," ceritanya kali ini dengan tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah bisa menceritakan kegiatannya itu, Sara kemudian kembali bertanya kepada Belva, "Oh, iya ... untuk apa Pak Belva kemari? Bukan untuk menyuruhku tidur kan?" tanyanya.
"Tidak, masih jam 20.00, pasti kamu juga menolak kalau kau suruh tidur," jawab Belva.
Usai itu, Belva kemudian menunjukkan sesuatu di handphonenya kepada Sara, "Aku sudah mendaftarkanmu di Kopi Lab. Kamu bisa belajar meracik minuman di sana," ucapnya.
Wah, rasanya Sara benar-benar bahagia. Baru kemarin dirinya meminta, dan kali ini sudah dikabulkan. Refleks, Sara justru kini memeluk Belva, "Makasih Pak," ucapnya dengan perasaan yang begitu bahagia.
Sama halnya dengan Sara, Belva pun turut melingkari pinggang Sara dengan erat. Pria itu juga turut bahagia, tidak menyangka bahwa memberikan kebahagiaan untuk orang lain terasa sangat menyenangkan dan membuatnya juga sangat bahagia.
Menyadari bahwa kali ini mereka berpelukan, Sara lantas mengurai pelukannya, "Maaf Pak, aku tidak sengaja, terlalu bahagia sampai ...," ucapannya menggantung begitu saja di udara karena Belva justru kembali memeluk tubuh Sara.
"Tidak masalah, lagipula hanya sebatas berpelukan. Aku juga senang melihatmu sebahagia ini," ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
Tangan Belva tampak mengusapi punggung Sara naik dan turun, pria itu juga menghirupi aroma Jeruk Pomello di badan Sara yang terasa segar dan hangat. Bahkan Belva sampai memejamkan matanya beberapa kali, memeluk Sara rasanya begitu tenang.
Sekian menit berlalu, Belva yang kini mengurai pelukannya. Pria itu tersenyum menatap Sara, "Hanya aku meminta sesuatu hal kepadamu," ucapnya kali ini.
Kelopak mata Sara pun bergerak-gerak, mencoba menerka apa yang akan diminta Belva kali ini. Jika Belva meminta tubuhnya, maka Sara akan langsung menolaknya. Sungguh, dia tidak ingin digumuli Belva lagi.
"Aku mendaftarkan kamu di Kopi Lab. Namanya memang kopi, tetapi minuman yang akan kamu racik bukan hanya kopi. Nah, aku minta kepadamu karena kamu tengah hamil saat ini, saat mencicipi hasil minumanmu cukup satu atau dua sendok ya. Sebab, Ibu Hamil tidak boleh minum kopi terlalu banyak," ucapnya kali ini.
Mendengar apa yang diucapkan Belva, Sara pun merasa lega. Wanita itu lantas mengangguk setuju, "Oke Pak, siap."
Belva tersenyum, kemudian tangannya kembali terulur dan mengusapi puncak kepala Sara. "Nikmatilah waktu belajarmu, dan tiap usai kelas di sore hari, aku yang akan menjemputmu. Ah, iya ... satu hal. Di rumah, buatkan aku minuman yang kamu pelajari itu yah, aku mau menjadi orang pertama yang mencobanya."
Kali ini Belva berbicara dengan serius, rasanya memang dia ingin menjadi orang pertama yang dibuatkan minuman yang Sara pelajari. Mencicipi minuman yang dibuat oleh Sara. Kali ini, Belva benar-benar meminta Sara.
Akhirnya Sara mengangguk, "Baiklah, Pak," jawabnya.
...🌸🌸🌸...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian ...
Seorang supir di kediaman Belva mengantarkan Sara ke Kopi Lab untuk mengikuti training meracik minuman.
"Mbak Sara, ini saya cuma mengantar yah... nanti sore Pak Belva yang akan menjemput Mbak Sara," ucap sang sopir.
Sara pun tak menduga bahwa Belva sendiri yang akan menjemputnya sore nanti. Tentu saja Sara merasa senang.
Begitu sampai di Kopi Lab, Sara mulai mengikuti pertemuan pertama siang itu. Seorang Trainer mulai menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, dilanjutkan dengan berbagai hal tentang kopi, roaster, grader, hingga hal-hal lainnya.
Tampaknya mengikuti kelas seperti ini terasa menyenangkan bagi Sara, hingga tidak terasa dia bisa mendengarkan pembelajaran dasar tentang kopi. Setelah itu, Trainer memberikan waktu istirahat selama 15 menit bagi para trainee.
"Hai, halo... kenalkan aku, Zaid," rupanya ada seorang peserta yang ikut pelatihan yang tampak mengajak Sara berkenalan.
Merespons baik, Sara pun mengangguk, "Aku Sara," jawabnya menyebutkan namanya.
"O ... Sara yah? Kamu sedang hamil kan? Itu perut kamu membuncit, yakin ibu hamil ikutan kelas kayak gini?" tanya Zaid yang terlihat penasaran.
Sara pun lantas mengangguk, "Iya, hanya sekadar mencari kesibukan mengisi waktu luang," jawab Sara.
Pada kenyataannya memang dirinya mengikuti kelas ini hanya sekadar menghilangkan jenuh semata. Bukan bermaksud serius sebenarnya. Sebab, berdiam diri di rumah untuk waktu yang lama terkadang juga membosankan.
Zaid pun mengangguk, "Unik sih, tetapi kan Ibu Hamil gak boleh banyak minum kopi loh," sahutnya kali ini.
Mendengar ucapan Zaid, nyatanya kali ini Sara justru teringat kepada Belva. Sebab, kemarin pun Belva juga sudah memperingatkannya untuk tidak minum kopi banyak-banyak.
"Iya, aku tahu ... lagipula aku datang untuk belajar meracik minuman sih, bukan untuk minum kopinya," jawab Sara sembari tersenyum.
Pria itu mengangguk, "Ah, iya... benar juga. Semoga kita bisa jadi teman dan belajar banyak di kelas ini yah," ucapnya.
Sara pun mengangguk, "Iya, semangat belajarnya," sahutnya.
__ADS_1
"Kamu juga, kok aku rasanya tertarik sih sama kamu. Sudah hamil masih cari kegiatan meracik minum," ucap Zaid lagi.
Sementara Sara hanya tersenyum, tak ingin terlalu banyak menanggapi. Sebab, tujuannya mengikuti kelas ini memang untuk sebatas mengisi waktu luang saja. Lagipula bagi Sara, Ibu Hamil pun boleh mengikuti training yang dia mau dan inginkan.