
Bogor menjadi tempat yang dituju Sara sekarang ini. Wanita itu telah sampai di kost miliknya. Sebuah kost yang memiliki fasilitas kamar mandi dalam dan berada di jauh dari Kebun Raya Bogor. Sehingga akses ke pusat kota pun tidak perlu terlalu jauh.
Memasuki kamar kost itu, Sara mengedarkan pandangannya. Mengamati sekelilingnya, dan wanita itu terduduk begitu saja di atas ranjangnya yang kali ini hanya berukuran single size. Kondisi yang begitu berbeda dengan kamarnya di kediaman Belva yang memiliki fasilitas terbaik dan ranjang berukuran super king size. Sementara di dalam kost ini, fasilitasnya hanya ala kadarnya saja.
“Kamu di sana sedang ngapain Evan? Kamu tidak menangis kan? Bunda sudah kangen sama kamu … tetapi, Bunda yakin bahwa kamu di sana akan baik-baik. Bunda percaya bahwa Mama dan Papa kamu akan menjaga, merawat, dan mengasuhmu dengan baik,” gumam Sara dengan begitu lirih.
Setelahnya Sara mengeluarkan beberapa foto dari sling bag miliknya. Fotonya saat hamil dulu bersama Belva yang diambil di salah satu studio foto. Jari-jari tangannya bergerak mengusap foto tersebut.
“Suami yang tak pernah bisa kugapai … terima kasih sudah membiarkan aku singgah sementara waktu di hidupmu. Sekalipun singkat, tetapi semua kenangan bersamamu tidak akan bisa aku lupakan. Tahukah kamu Pak Belva … aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, aku sudah terlalu jatuh dengan rasa ini kepadamu. Sekian waktu aku menggenggam cinta sendiri. Namun, sebanyak waktu yang aku punya, sebanyak waktu yang ku miliki untuk menunggu nyatanya kamu tidak pernah mengungkapkan perasaanmu. Aku tidak ingin bertahan tanpa kepastian. Jika bagimu cukup untuk sekadar peduli padaku, tetapi aku menginginkan cintamu. Aku memilih pergi, kembali menyimpan perasaanku sendirian. Walau demikian, aku berdoa untukmu dan Kak Anin selalu bahagia, hingga maut memisahkan kalian berdua,” ucap Sara dengan meneteskan air matanya.
Fotonya bersama Belva mungkin menjadi foto terindah dalam hidupnya, keesokan harinya Sara akan berniat mencetak foto itu dan akan menaruh di kamarnya. Sekaligus dia akan mencetak foto-foto Evan, foto yang bisa dia pandangi sebagai pelipur lara bagi hati dan jiwanya.
Usai itu, Sara mengamati cincin emas pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya. Dengan berat hati, Sara melepas cincin itu dan menjadikannya sebagai liontin di kalung miliknya.
“Cincin ini tidak akan melingkar lagi di jari manisku, pernikahan kita telah berakhir. Akan tetapi, cincin ini akan dekat di hatiku, dekat di jantungku yang tetap berdetak, sama seperti cinta yang kumiliki padamu yang terus berdetak seperti detak jantungku ini.”
Sara membaringkan dirinya perlahan di atas tempat tidurnya, menatap fotonya bersama Belva dan foto-foto bayi Evan di handphonenya. Air matanya berlinangan begitu saja. Hatinya begitu pedih. Pagi tadi dia masih bisa melihat Evan, menyusuinya, menggendongnya, dan sekarang Sara harus kembali sendirian, sebatang kara tanpa siapapun di sisinya.
__ADS_1
***
Sementara itu di kediaman Belva. Malam itu, usai Evan telah tertidur. Rupanya Belva tidak langsung tertidur, pria itu keluar dari kamarnya dan justru memasuki kamar Sara. Pria itu seakan teringat bagaimana nyaris setiap malam dia mendatangi kamar ini dan menidurkan Sara.
Belva duduk di sofa dan memandang ranjang di depannya. Teringat bagaimana dia menelisipkan satu tangannya sebagai sandaran bagi Sara, memeluk tubuh wanita itu sembari mengusapi perutnya yang buncit saat mengandung Evan, dan Belva justru teringat dengan pergulatan mereka berdua.
Pergulatan yang begitu bergelora dan penuh dengan air mata. Bagaimana Sara mendesah perlahan, hingga mencengkeram punggungnya. Ah, membayangkan semua itu seakan kepala Belva menjadi begitu pening rasanya.
“Sara, sekarang kamu tinggal di mana? Baru satu malam, kenapa ini sudah berjalan begitu lama? Kenapa kamu tidak memilih tinggal Sara?” tanya Belva sendirian malam itu.
Dalam hatinya Belva menerka-nerka, apa sesungguhnya yang menjadi pertimbangan bagi Sara sehingga wanita itu memilih pergi dari rumahnya. Padahal dirinya dan Anin sama-sama tidak keberatan untuk melanjutkan hubungan ketiganya. Lagipula, Anin dan Sara selama ini juga rukun, saling menyayangi layaknya kakak dan adik. Sara juga yang mendukung Anin hingga Anin bisa sembuh dari Tokophobia yang diidapnya. Keberadaan Sara memberikan dampak yang positif bagi Anin juga.
“Sara, aku berharap … suatu hari nanti keputusanmu akan berubah. Aku berharap kita bisa bersama lagi Sara. Begitu berat melihat kamar ini kosong tanpa ada sosok dirimu. Semua sisi di kamar ini penuh dengan bayanganmu, bahkan aku teringat kali terakhir penyatuan kita di sini. Sialnya, semua itu tidak pernah bisa berlalu, Sara.”
Belva pun bergumam perlahan, “Sara … Sara ….”
Kepedihan nyatanya tidak hanya dirasakan Sara di sana, tetapi juga Belva. Ya, dorongan kuat atas rasa kehilangan yang membuat pria itu mendatangi kamar Sara. Duduk termenung sendirian di dalam kamar itu.
__ADS_1
Sementara itu, Anin menyadari bahwa Belva tidak ada di kamarnya. Wanita itu lantas keluar dari kamar, berniat mencari di mana keberadaan suaminya itu. Rupanya Anin melihat pintu kamar Sara yang setengah terbuka. Anin mengintip dari celah pintu yang terbuka dan wanita itu melihat Belva yang duduk dengan menyandarkan punggungnya di sofa dengan matanya yang terpejam.
Perlahan Anin datang dan menghampiri Belva.
“Kamu di sini? Aku mencarimu,” ucap Anin perlahan.
Terkesiap, Belva pun membuka matanya dan menegakkan kembali punggungnya. Pria itu menolehkan lehernya melihat Anin yang sudah duduk di sampingnya.
“Ah, iya … sukar melepas kebiasaan selama satu tahun terakhir,” balas Belva.
Tentu saja itu adalah kebiasaan di mana nyaris sepanjang malam Belva akan mendatangi Sara di kamarnya. Menunggu wanita itu tertidur, barulah tengah malam Belva kembali ke kamarnya sendiri.
Anin pun mengangguk, perasaannya sebagai wanita pun seakan bisa menerima ucapan dari suaminya itu.
“Iya … aku tahu. Tidak apa-apa, di sinilah dulu. Jika sudah kembalilah di kamar,” balas Anin.
Usai mengatakan itu Anin berdiri, tangannya bergerak untuk menepuk bahu suaminya itu. Ya, Anin pun akan memberikan waktu buat Belva. Dia tahu semuanya itu tidak mudah, bukan hanya bagi Belva, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Ya, Anin pun merasa kehilangan sosok Sara.
__ADS_1
Belva menganggukkan kepalanya secara samar, dan kembali menyandarkan punggungnya di sofa. Hatinya terlampau pedih saat ini, tetapi dia tidak bisa berbicara. Hanya bisa menahan semuanya seorang diri. Perasaannya untuk Sara seperti apa pun, tidak bisa terucapkan.