
Dalam diam rupanya nyaris sepanjang hari Zaid mengamati Sara. Di hadapannya sekarang berdiri Sara dengan menunjukkan aura yang dingin dan tidak terbaca. Sekalipun saat pelanggan datang dan memesan kopi atau menu lainnya dari Coffee Bay dan Sara tersenyum, Zaid tahu pasti bahwa Sara sedang tidak baik-baik saja.
Lagipula, Zaid ingat dengan cerita Mamanya bahwa wanita adalah ahlinya untuk menyembunyikan segala sesuatu. Di balik senyuman di wajahnya, ternyata hati seorang wanita tengah menyimpan duka. Di balik tawa yang sedang mereka tunjukkan, ternyata hati seorang wanita tengah teriris perih. Untuk itu, wanita adalah makhluk yang begitu pandai menyimpan rahasia dan perasaannya. Apa yang ditunjukkan di luar bisa bertolak belakang dengan hatinya.
Untuk itu, Zaid memilih untuk diam dan mengamati Sara. Dalam benaknya, Zaid sangat yakin senyuman yang ditunjukkan Sara sekarang ini hanya sekadar senyuman formalitas belaka. Bahkan pagi tadi saat bertemu, Zaid melihat bagaimana mata Sara yang terlihat sembab.
“Kamu tidak pulang, Zaid?” tanya Sara perlahan kepada pria itu.
Keberadaan Zaid sendiri di Coffee Bay milik Sara memang berpengaruh. Pria yang sebenarnya hanya partner bisnis bagi Sara itu nyatanya begitu gemar meluangkan waktunya berada di Coffee Bay. Bahkan tak jarang, Zaid menjaga garda terdepan yang siap membantu Sara dan para karyawan di Coffee Bay.
“Tidak, aku menunggu kamu,” jawab Zaid.
Mendengar jawaban Zaid pun perlahan, Sara duduk di depan pria yang sudah menjadi temannya dan penolongnya selama dirinya berada di Bogor.
“Aku bisa pulang sendiri, Zaid … lagipula kenapa?” tanya Sara pada akhirnya.
“Apa kamu tidak bisa membagi setiap luka, setiap kesedihan di dalam dirimu kepadaku?” tanya Zaid pada akhirnya.
Ketika Sara mendengar pertanyaan Zaid, Sara kembali berdiri melanjutkan sejenak kegiatannya sebelum menutup Coffee Bay dan pulang ke rumah.
“Ayo kita pulang, Zaid … ini sudah malam,” ajak Sara.
Akan tetapi, Zaid menggelengkan kepalanya. Pria itu seakan harus berbicara dengan Sara. Untuk itu, Zaid pun mengajak Sara berkendara sejenak dengan mobilnya.
“Ayo … ikut aku sebentar untuk menghirup udara segar,” ajak Zaid.
Lantaran tak bisa menolak, Sara pun memasuki mobil Zaid. Wanita itu hanya menghela nafasnya dan menerka kemana Zaid akan membawanya semalam ini. Rupanya tidak lama, mobil itu kini berhenti di setiap taman kota.
“Sara …,” panggil Zaid kepada wanita yang kini duduk di sebelahnya itu yang tidak lain adalah Sara.
“Hmm, apa?” balas Sara.
“Boleh aku berbicara sesuatu secara jujur kepada kamu?” tanya Zaid.
__ADS_1
“Iya,” sahut Sara dengan singkat.
Zaid lantas menghela nafasnya perlahan dan pria itu kembali bersuara, “Sejujurnya … aku suka sama kamu, Sara. Jika kamu bertanya sejak kapan? Sejak kali pertama kita bertemu di Kopi Lab dulu aku merasa tertarik kepadamu. Bukannya aku tidak tahu bahwa saat itu kamu hamil dan memiliki suami, tetapi nyatanya perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Sekarang, tidak bisakah kita melakukan penjajakan Sara? Aku single, begitu juga dengan kamu. Kita bisa sama-sama mencobanya, dan kamu bisa membuka kembali lembaran baru,” pengakuan itu akhirnya keluar juga dari bibir Zaid.
Sara yang mendengarkannya pun tercengang. Tidak mengira bahwa Zaid akan mengucapkan perasaannya kepadanya. Sara justru merasa tidak nyaman dengan Zaid sekarang ini. Suasana di mobil itu pun berubah menjadi hening.
Beberapa saat kemudian, Zaid kembali berbicara.
“Aku sedih jika kamu menyimpan segala sesuatu seorang diri. Aku sedih tiap kali melihat kamu murung. Aku sedih karena kamu menanggung semua masalah hidupmu sendiri. Kamu bisa berbagi denganku, Sara … aku akan dengan sukarela memberikan telingaku untuk mendengarkan semua ceritamu,” balas Zaid.
Perlahan Zaid melepas seat belt yang dia kenakan, tangannya Zaid bergerak untuk menggenggam tangan Sara, tetapi dengan cepat Sara menghindar. Rasanya dia tidak ingin disentuh lagi oleh pria. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja Sara tidak ingin sembarangan pria menyentuh dirinya.
Melihat respons tangan Sara yang menghindar, Zaid pun kemudian tersenyum. Pria itu menyadarkan punggungnya di kursi kemudi dan kembali berbicara.
“Apa kamu tidak ingin membuka lembaran baru, Sara? Aku akan menerimamu apa pun keadaanmu. Aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu,” ucap Zaid lagi.
Kali ini, Zaid berbicara dengan jujur. Zaid merasa suka dengan Sara, tidak peduli dengan masa lalu wanita itu. Justru saat Sara mengakui dan menceritakan masa lalunya yang begitu pelik yang ada justru Zaid ingin menjadi tempat bersandar bagi Sara. Pria itu ingin menjadi sosok yang selalu ada buat Sara. Bahkan Zaid rela meninggalkan kafenya hanya untuk bisa berlama-lama dengan Sara di Coffee Bay. Rasanya memang gila, tetapi Zaid pun merasa tidak bisa terlalu lama jauh dari Sara.
“Zai … maaf, aku tidak bisa,” balas Sara pada akhirnya.
“Kita sama-sama lajang, tetapi situasi kita benar-benar berbeda Zaid. Aku tidak ingin menjalin hubungan lagi dengan pria,” ucap Sara dengan tegas.
Mengalami semua masa sulit seorang diri dan juga ketidakpastian yang Sara dapatkan dari sosok pria di masa lalunya membuat Sara tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan pria. Sara merasa jika pun saat ini dirinya hidup, dia akan hidup hanya bagi Evan, putranya.
“Kenapa Sara, kamu takut dengan orang lain dan semua penilaiannya?” tanya Zaid.
“Tidak … aku tidak menakutkan semua itu. Selama kita hidup, orang lain akan melihat kita. Baik dan buruknya kita akan tetap menjadi penilaian bagi orang lain,” balas Sara.
“Lantas karena apa Sara?” tanya Zaid.
Zaid seolah terus berusaha dan mencari tahu alasan apa yang membuat Sara tidak bisa menerimanya.
Sara pun menundukkan wajahnya, beberapa kali Sara tampak memejamkan matanya secara dramatis.
__ADS_1
Permasalahanku dengan hatiku belum usai, Zaid …
Aku tidak ingin menjadikanmu sebagai pelarian semata …
Sekali pun aku telah terbebas dari ikatan, tetapi ikatan di dalam hati ini siapa yang bisa membebaskannya?
Jika nyatanya hanya ada satu nama dan satu pria yang selalu singgah di hati ini …
Maafkan aku, Zaid …
Aku dan hatiku belum sepenuhnya baik-baik saja …
Waktu memang telah berlalu, tetapi rasa di hatiku nyatanya tetap terpatri di dalam sana …
Sara hanya mampu berbicara dengan hatinya sendiri, bibirnya menutup sempurna seakan wanita itu tidak mampu memberikan jawaban kepada Zaid sekarang ini.
“Jawab aku, Sara,” pinta Zaid saat ini.
“Aku seorang janda dan memiliki seorang putra, Zaid … lebih baik carilah gadis di luar sana. Menjalin hubungan dengan wanita sepertiku terlalu berisiko,” sahut Sara.
Akan tetapi, nyatanya Zaid justru tertawa dan terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya.
“Tidak masalah kamu janda, Sara … lagipula di luar sana banyak juga pemuda yang mengejar cinta janda. So, apa yang kamu takutkan?” tanya Zaid lagi.
“Tidak bisa, Zaid … sekalipun aku telah terbebas dari sebuah ikatan pernikahan, aku tidak siap dengan semuanya ini. Maaf,” balas Sara pada akhirnya.
Sejujurnya ada hal yang lain yang lebih mendominasi Sara saat ini. Hal yang membuat Sara memilih tetap mempertahankan perasaannya. Sekali pun cinta itu sama sekali tidak terbalas, tetapi rasanya Sara tidak bisa menghapus perasaan dan ikatan cinta di hatinya begitu saja. Ya, Sara mengakui dalam hatinya sendiri bahwa perasaannya untuk pria yang pernah singgah di dalam hidupnya benar-benar belum usai.
Untuk itu, Sara tidak ingin menambah luka dan justru menyakiti Zaid dengan hatinya sendiri yang sama sekali belum tuntas. Sara lebih banyak memahami hati dan perasaannya, dan tidak ingin memulai satu hubungan di saat hatinya belum sepenuhnya beres. Lagipula, waktu sudah berjalan setengah tahun, bagi Sara waktu setengah tahun terlalu cepat untuk kembali memulai satu hubungan.
“Jadi kamu menolakku, Sara?” tanya Zaid lagi. Seakan kali ini Zaid meminta kepastian dari pertanyaannya.
“Iya, Zaid … maaf,” sahut Sara.
__ADS_1
Sara sudah sampai pada keputusannya. Dia harus menolak Zaid untuk alasan khusus yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Sara tidak ingin menerima Zaid hanya karena pria itu selalu bersikap baik untuknya. Lebih baik menolaknya, daripada menjalin satu hubungan baru dengan penuh rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.