Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bertemu Mertua untuk Pertama Kali


__ADS_3

Sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari Orchard Road menjaga tujuan Belva dan rombongan menjelang sore itu. Pria itu dengan santai membawa Sara dan Evan menuju ke sebuah apartemen yang letaknya sangat strategis di kota Singapura. Dari kawasannya saja, bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah apatemen yang elit, dan tidak semua orang bisa membeli property di area yang dekat dengan Orchard Road. Mengingat bahwa Orchard Road adalah sebuah kawasan bisnis yang seakan tidak pernah tidur di negeri Singa.


“Silakan masuk Sayang … ini adalah aparetemenku,” ucap Belva yang mempersilakan Sara untuk memasuki apartemen itu.


Dengan menggandeng Evan, Sara memasuki apartemen mewah itu. Menerka-nerka ini adalah milik Belva sendiri atau milik orang tuanya. Jika milik Belva sendiri, mengapa apartemen ini begitu mewah. Dari segi desain hingga interiornya terlihat bahwa ini adalah apartemen yang begitu mewah.


“Amara dan Rizal di mana?” tanya Sara.


“Di unit sebelah … di rumah Mama dan Papa,” jawab Belva kemudian.


“Kenapa tidak ke sana?” tanya Sara dengan cukup bingung.


“Tidak … istirahat dan bersihkan dirimu terlebih dahulu, usai ini aku akan mengajakmu untuk menemui Papa dan Mama,” jelas Belva.


Sara menganggukkan kepalanya dan dia mengikuti saja instruksi dari suaminya itu. Di dalam kamar, nyatanya Sara justru makin gugup. Dia datang tanpa membawa buah tangan layaknya menantu-menantu di film yang biasa dia tonton. Selain itu, ada perasaan takut tertolak.


Melihat Sara yang masih bengong di kamar, Belva pun menghampiri istrinya itu.


“Hei, kenapa malahan bengong?” tanya Belva.


“Eh, enggak kenapa-napa, Mas …”


Sara menyahut dan berusaha menyembunyikan perasaannya. Akan tetapi, sesaat kemudian wanita itu bertanya kepada suaminya. “Aku sebenarnya sedikit takut,” ucap Sara pada akhirnya.


Belva pun menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu takut … tangan ini akan selalu bersamamu,” ucap Belva dengan begitu meyakinkan. “Sekarang bersiaplah yah … aku akan mengenalkanmu kepada Mama dan Papaku,” sambung Belva kali ini.


Mengikuti instruksi Belva, Sara pun menganggukkan kepalanya dan mulai membersihkan dirinya. Mengguyur badannya supaya terlihat segar. Setelah itu, Sara mengambil sebuah dress bermotif floral dan mengenakannya, tidak lupa Sara memoleskan sedikit make up di wajahnya.


Merasa penampilannya kali ini sudah pantas, Sara pun segera keluar dari kamarnya. “Mas, aku sudah siap,” ucap Sara.

__ADS_1


Belva yang tengah duduk di ruang tamu pun menatap Sara. Pria itu berdiri dan menyunggingkan senyumannya.


“Cantik banget sih,” puji Belva kali ini.


Sara pun menundukkan wajahnya, “Berlebihan tidak Mas? Jujur, aku tidak tahu harus bagaimana? Ini pengalaman pertama buatku,” balas Sara.


Dengan cepat Belva pun menggelengkan kepalanya, “Tidak berlebihan kok … cantik,” balas Belva.


Kemudian pria itu segera menggandeng tangan Sara dan menuju ke unit apartemen milik kedua orang tuanya. Hari ini Belva begitu yakin ingin mengenalkan Sara kepada Mama dan Papanya. Berharap kedua orang tuanya akan bisa menerima Sara dengan baik.


Dengan tenang, Belva menggandeng tangan Sara dan membawa wanita itu ke unit apartemen milik orang tuanya. Belva lantas mengepalkan tangannya guna mengetuk pintu di sana.


Tidak berselang lama pintu pun terbuka, rupanya Amara lah yang membukakan pintu bagi Belva dan Sara.


“Masuk Kak,” balas Amara.


“Halo Mama dan Papa,” sapa Belva kepada Mama dan Papanya.


Pasangan paruh baya itu tampak menganggukkan kepalanya dan menyambut Belva. Belva melepas sejenak tangan Sara dan memeluk kedua orang tuanya itu.


“Sudah berapa lama kamu tidak mengunjungi kami berdua,” ucap Mamanya Belva yang bernama Diana.


“Maaf Ma … pekerjaan Belva di Jakarta sangat banyak,” jawabnya kali ini.


Lantas Belva memeluk Papanya, “Papa, sehat?” tanya Belva.


Pria paruh baya dengan rambut yang sedikit putih itu pun menganggukkan kepalanya, “Seperti inilah Papa,” ucap Papanya Belva yang bernama Agastya Wijaya itu.


Kemudian Belva kembali berdiri di samping Sara, pria itu menatap wajah Mama dan Papanya bergantian.

__ADS_1


“Mama, Papa … Belva ingin mengenalkan seseorang yang spesial bagi Belva. Dia adalah Sara … istri Belva,” ucap Belva yang kali ini mengenalkan Sara kepada Mama dan Papanya.


“Selamat sore Mama dan Papa … perkenalkan saya Sara.” Kali ini Sara mencoba mengenalkan dirinya dan bersikap santun kepada mertuanya itu.


Bukan mendapat sambutan yang hangat, nyatanya Papa dan Mamanya Belva justru bersikap dengan. Tidak ada sapaan, tidak ada pelukan, benar-benar begitu dingin. Rasa takut yang menjalar di hati Sara rasanya kian menjadi-jadi saja.


“Sejak kapan kamu melepas status dudamu, Belva?” tanya Mama Diana sembari menatap putranya itu.


“Dua pekan yang lalu, Ma,” sahut Belva.


“Lalu, bagaimana kamu bisa mengenal wanita ini?” tanya Mama Diana lagi. Seolah Mama Diana ingin tahu bagaimana Belva bisa mengenal wanita yang sekarang diakui Belva sebagai istrinya itu.


“Belva sudah lama mengenalnya Ma … sudah empat tahun Belva mengenal Sara,” jawab Belva.


“Lantas kenapa kalian menikah tanpa meminta restu terlebih dahulu dari Papa dan Mama? Apakah karena kami berdua sudah tua, sehingga kamu bersikap seenaknya sendiri?” cerca Mama Diana lagi.


Merasa bahwa respons kedua orang tuanya tidak baik, Belva kini meraih tangan Sara dan menggenggamnya.


“Ma … setidaknya terimalah Sara dengan baik, Ma … Sara wanita yang baik,” ucap Belva kali ini. “Perihal pernikahan memang Belva yang begitu ingin menikahi Sara tanpa mengulur-ulur waktu lagi,” jelasnya.


“Apakah kamu yakin bahwa wanita itu menikahimu bukan untuk menguasai harta kekayaanmu?” balas Mama Diana dengan melirik ke arah Sara.


Sungguh, lama kelamaan, perkataan Mama Diana menyakiti hati Sara. Akan tetapi, Sara masih berusaha tenang dan menguasai emosinya.


“Sara bukan wanita seperti itu, Ma,” jawab Belva dengan tegas kali ini.


“Apa kamu yakin dengan latar belakang wanita itu? Apakah dia sekelas dengan kita?” Mama Diana masih menyahut dan kali ini yang menjadi pertimbangan Mama Diana adalah latar belakang Sara.


Sudah Sara pikirkan sebelumnya bahwa latar belakangnya akan menjadi boomerang suatu saat nanti. Sara paham benar bahwa dirinya begitu berbeda dengan Belva. Kesenjangan yang sangat jauh antara dirinya dengan Belva. Sara kini menyadari, sesukses apa pun dia di masa kini, tetapi tidak akan menghapus masa lalu dan tempat di mana dia berasal akan menjadi pertimbangan bagi orang lain. Belva memang menerimanya apa adanya, tetapi bagaimana jika kedua orang tua justru menolaknya. Seketika hati Sara menjadi begitu sesak. Hal yang beberapa hari dia takutkan akhirnya justru menjadi kenyataan. Sungguh, rasanya Sara ingin berlari dan tidak berani menghadapi kedua orang tua Belva itu.

__ADS_1


__ADS_2