Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Second Plan


__ADS_3

“Pa, kenapa Mama terlihat sedih Pa?” tanya Evan kepada Papanya yang masih mengemudikan mobilnya.


Belva yang mendengarkan pertanyaan Evan pun melirik sekilas ke arah putranya itu, “Mama sedih karena berpisah dengan kita, Van.”


Memang Belva tidak ingin menjelaskan semuanya secara gamblang. Mengingat usia Evan yang masih kecil, dan permasalahan mereka berdua cukup sensitif. Sehingga Belva hanya mengatakan bahwa Sara terlihat bersedih karena harus berpisahnya dengan mereka berdua.


“Apa Evan tidak boleh tinggal bersama Mama di sini?” tanya Evan.


Tentu itu adalah pertanyaan yang bukan tanpa sebab, karena sebelumnya Evan pun pernah berada di Bogor dan tinggal bersama dengan Sara. Bahkan sebelum Papanya menikahi Sara kembali, Evan pernah menginap dengan Sara di Bogor. Sehingga kali ini, Evan pun bertanya kepada dirinya tidak tinggal di Bogor bersama dengan Mamanya.


Belva tersenyum menatap putranya itu, “Kita akan tinggal di Bogor, Van … di villa kita,” ucap Belva.


Mendengar jawaban dari Papanya, Evan pun tersenyum lebar. Itu berarti dirinya masih tinggal satu kota dengan jarak yang tidak begitu jauh dengan Mamanya. Berarti di lain waktu nanti, Evan bisa kembali menemui Mamanya lagi.


“Benar Pa? Papa tidak bekerja?” tanya Evan kepada Papanya.


“Papa bisa bekerja dari Bogor, Van … hanya saja, nanti saat Papa bekerja, kamu main sama Jerome dulu yah,” ucap Belva.


“Iya Pa … yang penting nanti anterin Evan ketemu Mama lagi ya Pa … baru sebentar saja Evan sudah kangen,” balasnya.


Sebenarnya itu bukan hanya perasaan Evan. Belva pun merasakan perasaan yang sama. Dirinya juga sudah sangat merindukan Sara dan ingin memeluk tubuh istrinya yang beraroma Pomello yang sangat segar itu. Akan tetapi, apa daya sekarang Sara tengah meminta waktu untuk sendiri.


Namun, Belva pun tidak kekurangan akal. Buktinya sekarang justru Belva mengajak Evan untuk tinggal di Bogor. Walaupun tinggal secara terpisah, tetapi Belva bisa melihat Sara dari jauh. Ini adalah second plan atau rencana kedua yang dipikir oleh Belva sendiri.

__ADS_1


Begitu tiba di villa miliknya, kenangan pertama yang Belva ingat tentu adalah kenangan masa pernikahannya dengan Sara yang digelar di sini. Di mana dia meminta Amara menjemput Sara secara tiba-tiba dan kemudian menikahinya di villa ini. Perbukitan hijau, dan deretan pohon cemara seolah menjadi saksi bahwa di tempat yang indah dan begitu damai ini, Belva menikahi Sara dan pria itu berjanji untuk menjadikan Sara sebagai cinta terakhirnya.


Sayangnya, saat badai menerpa Belva berusaha mencari rencana lain supaya bisa dekat dengan Sara dan mendapatkan hati istrinya itu kembali.


“Papa sedih yah?” tanya Evan sekarang ini kepada Belva.


Pria itu kemudian menoleh melihat ke arah Evan dan kemudian mengusap puncak kepala putranya itu, “Papa tidak apa-apa, Van … yuk, kita main bersama,” balas Belva.


Semua itu Belva lakukan supaya Evan tidak terpikirkan dengan permasalahan yang terjadi padanya dan juga Sara. Belva harus menjadi seorang Ayah yang bisa menenangkan putranya itu, menjaga hatinya.


***


Sementara itu di rumahnya …


Yang ada Sara justru terus-menerus menangis. Air matanya seakan tak pernah mengering dan terus berderai begitu saja. Perasaan yang tidak tenang, dan juga ada ketakutan saat Belva jauh darinya justru akan membuat pria itu kembali dekat dengan sekretarisnya. Membayangkan semuanya itu membuat Sara bergidik ngeri dan takut.


“Aku kangen kamu, Mas … sangat kangen kamu,” ucap Sara dengan tergugu penuh pilu.


Ketika hari mulai petang, bahkan Sara tidak menyalakan lampu di ruang utama tersebut. Wanita itu menangis hingga tertidur di sofa yang berada di ruang tamu.


Sara tidak mengetahui, jika ada sosok pria yang mengintainya dari luar rumah. Seorang pria yang rela terkena gerimis yang turun petang itu untuk mengintai dan memastikan Sara benar-benar baik-baik saja di sana.


Sudah pasti pria itu adalah Belva. Ya, Belva memilih menitipkan Evan kepada Amara, dan kemudian Belva kembali ke rumah Sara. Rasanya pria itu sangat tidak tenang melihat Sara yang sendirian di rumah. Terlebih sekarang, hati Belva kian kalut saat melihat rumah Sara masih begitu gelap.

__ADS_1


“Apa yang sedang kamu lakukan di dalam sana, Sara? Aku sangat merindukanmu,” ucap Belva yang mengusap wajahnya yang basah karena terkena gerimis petang itu.


Dinginnya udara kota Bogor seakan tidak dihiraukan lagi oleh Belva. Yang Belva hiraukan adalah keadaan Sara sekarang ini.


Petang nyatanya berganti dengan malam, hingga akhirnya terlihat seorang wanita yang berjalan keluar dari rumah itu, dan itu adalah Sara. Sara terlihat hendak menyalakan lampu di luar rumahnya.


Tidak disangka matanya bersitatap dengan sosok pria yang berdiri di dekat pintu gerbang rumahnya. Sara terkesiap, wanita itu mengucek matanya jangan-jangan jika matanya salah melihat sekarang ini. Akan tetapi, sosok pria yang dia lihat sekarang ini adalah nyata, yaitu suaminya Belva Agastya.


Menyadari bahwa sekarang Sara tengah menatapnya, Belva pun melambaikan tangannya ke arah Sara.


“Sayang,” sapanya. Suaranya bercampur dengan dentingan gerimis sore itu.


Sara hanya menunduk, air matanya berlinangan begitu saja. Rasanya Sara ingin berlari dan menghambur ke dalam pelukan pria itu. Akan tetapi, Sara tidak melakukannya. Perasaan gamang di dalam hati lebih mendominasi sekarang ini.


Namun, Belva tidak tinggal diam. Pria itu berusaha membuka gerbang dan berlari ke arah pintu masuk tempat Sara berdiri sekarang ini.


“Sayang,” sapanya lagi dengan nafasnya yang terengah-engah. Udara dingin dan tubuh yang wajah tidak menyurutkan Belva untuk datang dan menunggunya.


Akan tetapi, nyatanya Sara justru melarikan diri. Wanita itu segera masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu begitu saja.


“Sayang … aku datang buatmu. Aku akan menunggu di sini, sampai kamu menerimaku kembali. Aku tidak bisa jauh darimu, Sayang. Aku akan terus menunggu di sini,” ucap Belva kali ini.


Di balik pintu nyatanya Sara justru menangis. Menangis dengan perasaan campur aduk. Bahkan wanita itu terisak-isak dengan dada yang sesak. Rasanya begitu berat, tetapi hasrat di dalam hatinya juga begitu merindukan Belva.

__ADS_1


“Aku akan tetap menunggumu, Sayang … aku buktikan bahwa aku tidak berbohong padamu. Jika ada satu nama yang ada di hati itu jelas adalah namamu, Sara Valeria. Jika ada wanita yang menghiasi hari-hariku, itu pun jelas adalah dirimu. Jika ada wanita yang akan menjadi cinta terakhirku, jawabannya juga pasti bahwa itu adalah dirimu.” Belva berbicara dengan bersungguh-sungguh.


Itu adalah ungkapan isi hatinya. Itu adalah ungkapan perasaan terdalam dari seorang Belva Agastya. Harapannya bahwa Sara mendengarkan ucapannya dan hati wanita itu akan segera melembut. Sungguh, tidak ada yang Belva harapkan saat ini selain bisa bertemu dengan Sara dan segera memeluk tubuh istrinya itu.


__ADS_2