
Berada di London, belum ada lima jam, tetapi Belva dan Sara sudah sama-sama menikmati madu cinta yang begitu manis. Madu cinta yang meninggalkan rasa manis dan membuncah di dalam hati. Sara hanya bisa tergolek lemas di atas ranjang, dengan memeluk tubuh suaminya itu.
“I Love U, Sayang,” ucap Belva dengan memejamkan matanya dan mengecupi puncak kepala Sara.
“I Love U, too,” balas Sara.
Tangan Belva kini bergerak dan menyentuh perut Sara yang rata, “Aku berharap kali ini benihku akan bersemi di sini. Kamu keberatan enggak hamil lagi?” tanya Belva kepada istrinya itu.
Sara beringsut guna bisa menatap wajah suaminya itu, “Kalau aku hamil lagi, berat badanku melar dan mungkin sudah melahirkan anak ketiga tubuh wanita susah kembali ke posisi semula. Kamu keberatan enggak? Kamu bakalan ilfeel enggak kalau nyatanya aku tidak good looking lagi?” tanya Sara dengan jujur kepada suaminya itu.
Sepenuhnya Sara menyadari bahwa tubuh wanita bisa berubah. Yang dulu langsing, setelah memiliki anak dan memberikan ASI, sisa-sisa lemak di dalam tubuh tidak sepenuhnya hilang. Oleh karena itu, Sara bertanya terlebih dahulu kepada suaminya dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
“Enggaklah Sayang, aku bakal selalu cinta sama kamu. Tidak peduli dengan bentuk badanmu nanti,” balas Belva dengan yakin.
Sara menggigit bibir bagian dalamnya, “Aku cuma takut aku main hati di luar sana, jika aku enggak menarik lagi. Apalagi kamu masih keren, kaya raya, dan CEO. Ibarat kata kamu tinggal tunjuk dan mengeluarkan uang, beres,” balas Sara.
“Jangan bicara seperti itu. Buktinya selama ini aku juga cuma sama kamu. Kamu tahu, di hati ini sekarang hanya ada satu nama, dan itu nama kamu,” balas Belva dengan serius.
Sara pun tersenyum, “Gombal banget sih Mas … kamu tambah umur, tambah gombal,” balasnya.
Belva pun terkekeh geli dan memeluk Sara, “Biarin … aku gombal juga cuma sama kamu aja kok. Gimana, mau tidak tambah anak lagi? Satu aja,” pinta Belva kali ini.
“Euhm, semuanya biar alamiah saja, Mas … tidak usah ditarget. Lagipula, benih-benih yang kamu lepaskan juga tidak semuanya berhasil mencapai ovum dan terjadi pembuahan. Jadi, sedikasihnya saja yah?” balas Sara.
__ADS_1
“Ya sudah, cuma selama perjalanan kita ini, kita usaha maksimal ya Sayang … lima hari,” ucap Belva dengan mengangkat tangan dan menunjukkan kelima jarinya.
Astaga, jika sudah bernegosiasi seperti ini dengan suaminya, sudah pasti Sara akan kalah. Sebab, selama lima hari tentu Belva akan terus meminta haknya. Seketika, Sara teringat dengan bulan madunya dengan Belva ke Pulau Bintan dulu, saat itu Belva meminta tiga hari penuh. Semuanya terbukti, dalam tiga hari memang keduanya menikmati waktu berdua. Walau tidak seharian penuh dan diselingi dengan perjalanan wisata, tetapi ada kalanya satu kali dalam satu hari, Belva akan mengajak Sara untuk bercinta.
“Lima hari apa aku kuat Mas?” balas Sara dengan merengek kepada suaminya.
“Kuat lah … kan tidak sepanjang hari, Sayang. Aku bukan pria gila yang mengajak kamu bermain sepanjang hari dan dengan durasi berlama-lama. Di kala momentnya tepat dan juga kalau kamu tidak capek,” balas Belva.
“Ya sudah, cuma kalau aku capek, aku bilang sama kamu yah,” balas Sara.
Senyuman pun terbit dari wajah Belva, “Makasih Sayangku … Mamas tambah semangat nih. Sebenarnya, kamu bisa meminta aku pengen baby girl Sayang. Cuma sedikasihnya saja sama Tuhan. Untuk melahirkan, nanti Caesar lagi saja. Tidak harus normal kok,” balas Belva.
Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … gampang nanti. Semoga saja Tuhan dengarkan permintaan Papa Belva,” sahutnya.
“Aku cuma pengen hidup bahagia sama kamu dan anak-anak kita saja kok Mas. Asalkan sama kamu, aku udah bahagia,” balas Sara.
“Kamu sweet banget sih. Mau makan malam sekarang atau nanti Sayang?” tanya Belva kepada istrinya. Itu karena perut Belva sudah merasa lapar. Dari Abu Dhabi menuju Heathrow, London, Belva hanya memakan sepotong roti. Sehingga sekarang sudah merasa sangat lapar.
“Pesan dari restoran hotel saja gimana Mas? Aku masih pusing. Kepalaku muter-muter, efek gak pernah naik pesawat dengan durasi yang lama,” balas Sara.
Belva beringsut, dan pria itu mengusapi kepala Sara, “Masih pusing yah? Kamu bawa teh enggak dari rumah? Aku seduhkan tehnya. Biasanya kamu kalau pusing kan minum teh hangat, udah hilang peningnya,” balas Belva.
“Aku bawa kok,” balas Sara. “Sebentar, aku ambil di koper dulu,” sahutnya.
__ADS_1
Sara mengenakan kembali pakaiannya terlebih dahulu, kemudian mencari teh yang memang dia bawa sendiri dari rumah. Bukan hanya teh, tetapi Sara juga membawa sambal dan juga mis instans dari Indonesia dengan rasa yang mendunia.
“Ini Mas, aku bawa teh dan kopi. Kamu mau kopi? Aku bisa buatkan,” balas Sara.
Belva menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku minum teh juga aja. Agaknya usai makan, kita istirahat dulu saja Sayang. Takutnya kalau kamu tambah pusing, sementara aku nanti kalau minum kopi malahan enggak bisa tidur. Kalau aku terjaga dan lihat kamu malahan bahaya Sayang … jadi aku minum teh saja,” balasnya.
Mendengar perkataan suaminya, Sara pun menyipitkan kedua matanya, “Tuh, nakal kan. Aku tuh tahu jalan pikiran kamu,” balas Sara.
“Nakalnya cuma sama kamu. Besok pagi kamu mau jalan-jalan ke mana dulu? Ke Big Ben atau ke mana?” tanya Belva kepada istrinya.
“Ke Big Ben boleh, Mas … sama mau naik London Bus ya Mas,” ajaknya kepada suaminya itu.
Belva pun langsung menganggukkan kepalanya, “Iya boleh … besok mau muterin kota London naik London Bus yah?” tanyanya.
“Iya, kan mencoba petualangan baru. Tujuannya liburan kan itu, mencoba hal-hal baru, menyenangkan diri,” balas Sara.
Beberapa saat terdiam, kemudian ada helaan nafas yang berat dari Sara, “Cuma … aku sudah kangen sama Kiddos. Evan dan Elkan, pengen videocall tapi selisih waktu tujuh jam. Jadi, mungkin nanti atau kalau di Jakarta sudah sore saja,” balas Sara.
“Iya Sayang … tidak apa-apa. Pengalaman pertama bepergian tanpa Evan dan Elkan yah? Enggak apa-apa, percaya saja Evan dan Elkan baik-baik di Jakarta,” balas Belva.
“Iya Mas, kalau sama Amara, aku percaya. Cuma karena aku sudah Ibu-Ibu, jadi meninggalkan anak itu rasanya berat,” balas Sara.
Belva kemudian memeluk Sara dengan eratnya, “Sabar … habisin waktu sama Papanya anak-anak dulu. Ada waktu juga buat berdua kayak gini. Pacaran dulu sama Papa,” balasnya.
__ADS_1
Sara menganggukkan kepalanya, dan dia membalas untuk memeluk tubuh suaminya. London dan Jakarta terpaut jarak yang begitu jauh, belum ada satu hari di London, tetapi Sara sudah merasa begitu rindu dengan Duo E.