Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Welcome Home


__ADS_3

Setelah dua hari berada di Rumah Sakit. Kondisi Sara dipastikan baik, hanya saja Dokter Indri masih memberikan saran untuk Sara tidak memaksakan dirinya untuk bergerak. Sebab, membutuhkan waktu lama untuk memulihkan luka sayatan di perutnya. Selain itu, masih ada beberapa obat yang diberikan oleh Dokter Indri dan harus diminum sampai habis.


"Kamu duduk di kursi roda dulu saja, Sara ... biar Mama yang gendongkan Elkan. Kamu usai di-caesar, jika terlalu banyak bergerak justru bisa membuatmu semakin sakit. Ngilu nanti bekas jahitannya," ucap Mama Diana yang menjelaskan kepada menantunya itu.


Sara pun mengangguk, dia segera duduk di kursi roda yang sudah disediakan pihak Rumah Sakit. "Rasanya, Sara justru kayak orang yang sakit ya Ma," ucapnya sembari tertawa.


Sebenarnya Sara merasa dirinya sehat, tetapi dengan duduk di kursi roda seperti ini membuat Sara merasa dirinya seperti orang yang masih sakit saja.


"Tidak apa-apa, Sara ... kamu kan juga sakit. Sakit pasca bersalin. Di Malaysia, kamu ini baru saja keluar dari Hospital Korban Lelaki," ucap Mama Diana.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Mama Diana, Sara sampai terkekeh geli, "Kok namanya Hospital Korban Lelaki sih Ma? Itu serius?" tanya Sara kepada Mama Mertuanya.


"Benar Sara ... Mama tidak bohong sama kamu. Mama kan sering jalan-jalan ke Malaysia," jawabnya lagi.


"Berarti Sara kesakitan karena jadi korbannya Mas Belva," candanya kali ini yang membuat sang suami membolakan kedua matanya.


"Jadi, kamu merasa sebagai korban Sayang?" tanya Belva kali ini.


Sara justru tertawa, "Ya ... secara tidak langsung, aku korbanmu sih, Mas," jawabnya.


"Bukan korban juga dong, kan aku bertanggung jawab sepenuhnya kepada kamu. Kalau kamu merasa korban, kok rasanya aku seperti pelaku kejahatan saja," sahut Belva dengan mengernyitkan keningnya.


Kini Belva sudah mendorong kursi roda yang diduduki Sara secara perlahan-lahan. Sementara Mama Diana tertawa mendengar obrolan suami-istri itu. Dalam hatinya, Mama Diana selalu berdoa semoga jalinan cinta dan rumah tangga keduanya akan selalu bahagia. Tidak ada kesedihan dan lahirnya Elkan akan semakin menyemarakkan kehidupan rumah tangga keduanya.


Bagitu sudah sampai di parkiran mobil, Belva pun membopong tubuh Sara dan menduduknya di kursi belakang bersama dengan Mama Diana yang saat itu masih menggendong Elkan. Wajah Sara memerah karena begitu malu diperlakukan dengan begitu manisnya oleh suaminya sendiri.


"Mas, malu ...."


Sara berbicara dengan wajah yang bersemu merah di pipinya.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Sayang," balas Belva sembari memasuki kursi kemudinya dan mulai menjalakan mobilnya perlahan.


"Sebenarnya pulang besok tidak apa-apa Sara ... kan Caesar itu pemulihannya lebih lama daripada normal. Jadi, tidak apa-apa. Pemulihan kamu lebih penting," ungkap Mama Diana.


"Ada yang sudah kangen Evan dan kangen kamarnya, Ma," sahut Belva sembari melirik Sara dari kaca spion yang berada di depan.


Sara kemudian menundukkan wajahnya, malu rasanya karena suaminya itu menjawab dengan begitu gamblang kepada Mama Diana.


"Maaf Ma, hanya saja jika terlalu lama di Rumah Sakit, rasanya justru kayak orang sakit. Suasananya tidak seperti di rumah," balas Sara.


"Ya sudah, penting nanti jangan kecapekan. Mama dan Papa kalian juga akan di rumah kalian dulu, setidaknya sampai kamu sudah benar-benar pulih," ucap Mama Diana.


"Makasih Ma ... makasih sudah membantu kami," balas Sara.


Begitu sudah tiba di kediaman Belva, wajah Sara terlihat begitu bahagia bisa kembali tempat yang sudah dia rindukan itu.


"Makasih Papanya Evan dan Elkan," balas Sara.


Mama Diana pun terkekeh geli melihat tingkah konyol dan lucu anak serta menantunya itu. Mama Diana kemudian menidurkan Baby Elkan di dalam box bayi.


"Belva, bawa Sara ke kamar saja ... biar istirahat di kamar dulu, kasihan perutnya," ucap Mama Diana.


"Bantu aku jalan yah, Mas," pinta Sara kali ini.


Bukan membantu berjalan, nyatanya Belva justru menundukkan badannya, dan segera dia membopong tubuh Sara.


"Biar aku gendong saja ... kan korbannya lelaki kan? So, aku akan tanggung jawab penuh kepadamu. Suamimu ini tidak akan membiarkan kamu berjalan dan menahan sakit saat menaiki anak tangga," ucap Belva dengan penuh percaya diri.


Sara hanya bisa mengulum senyuman melihat aksi lucu suaminya itu. Dengan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, sesekali Sara mencuri pandang melihat wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Makasih Mamas," ucap Sara dengan lirih dan secara tiba-tiba.


Belva yang semula berwajah tenang, tiba-tiba saja berjalan sembari membopong Sara dengan senyum-senyum sendiri. Walau sekadar dipanggil 'Mamas' saja, senyuman sudah menghiasi wajah Belva Agastya.


Begitu sampai di dalam kamar pun, Belva mendudukkan Sara dengan hati-hati di atas tempat tidurnya. “Istirahat Sayang … kalau Elkan tidur, kamu ikutan tidur saja tidak apa-apa. Namanya juga usai melahirkan, tubuhnya masih sakit,” ucap Belva.


“Iya Mas … gampang kok, lagian aku juga belum ngantuk, nanti kalau aku ngantuk, aku bakalan bobok. Cuma, gimana dong kalau pengennya bobok sama kamu?” tanya Sara dengan mengedip-edipkan matanya kepada suaminya itu.


“Nanti malam bobok sama aku … sekarang mumpung Elkan bobok, kamu ikutan bobok. Biar aku yang mengasuh Evan dulu. Jangan sungkan sama Mama dan Papa. Mereka ada di sini justru untuk menjadi bala bantuan buat kamu,” ucap Belva.


Sara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Mas, aku tidak sungkan kok … malahan bersyukur karena banyak keluarga yang membantu,” balas Sara.


 Sara mengatakan dengan jujur, bahwa dirinya malahan merasa terbantu dengan datangnya mertua dari Singapura. Ada yang mengajak Evan bermain, dan ada yang membantunya. Di masa pemulihan, mendapatkan bantuan justru membuat Sara begitu senang.


“Sara, Mama masakkan daun katuk nih buat kamu. Makan dulu yah,” ucap Mama Diana yang sudah masuk ke dalam kamar Sara dengan membawa makan siang untuk menantunya. Kali ini Mama Diana bahkan memasakkan sendiri sayur daun katuk untuk Sara.


Biasanya Daun Katuk memang disarankan untuk dikonsumsi ibu yang menyusui supaya menambah produksi ASI-nya. Sara pun tersenyum dan menatap Mama mertuanya itu.


“Mama kok repot-repot sih … Sara jadi sungkan,” aku Sara.


“Tidak apa-apa, Sara … dulu waktu kamu melahirkan Evan, Mama tidak bisa melakukan apa-apa buat kamu. Sekarang, biarkan Mama yang melakukan sesuatu untuk kamu,” balas Mama Diana.


Ya, Mama Diana merasa bahwa saat Sara melahirkan Evan dulu, Mama Diana tidak bisa melakukan apa-apa karena Belva yang menyembunyikan asal-usul Evan. Namun, kini … ketika sudah tidak ada lagi yang disembunyikan, Mama Diana bahkan adalah figur mertua yang baik dan perhatian kepada Sara. Lihatlah, seorang istri pengusaha kaya raya mau menyambangi dapur dan membuatkan sayur daun katuk untuk menantunya.


“Mama, terima kasih, Ma … Sara jadi terharu. Jika, Ibunya Sara masih hidup … pasti Ibunya Sara akan melakukan hal yang sama,” balas Sara.


Diperlakukan dengan baik oleh mertuanya sendiri justru membuat Sara menangis. Teringat dengan Ibu kandungnya. Pasti ibu kandungnya akan melakukan hal yang sama andai beliau masih hidup. Sayangnya, di tengah kebahagiaan ini, tidak ada keluarga Sara yang turut hadir dan merasakan kebahagiaan ini. Sara terharu.


“Sudah, jangan menangis … kamu sekarang punya keluarga yang utuh. Ada Mama, Papa, Belva, dan Duo E kalian berdua. Jangan bersedih, biar nanti ASI-nya keluar banyak dan lancar,” ucap Mama Diana yang mengingatkan supaya Sara tidak bersedih karena wanita yang menyusui lebih baik mengelola emosinya, tidak larut dalam kesedihan, supaya ASI bisa tetap lancar dan cukup untuk si bayi.

__ADS_1


__ADS_2