
Dua Bulan kemudian …
Tidak terasa, usia kandungan Sara sudah memasuki bulan keenam. Ibu hamil itu tampak lebih berisi lantaran kenaikan berat badannya, dan juga perutnya yang mulai membuncit. Kendati demikian, Sara merasa bahwa dirinya sangat sehat. Rasanya sangat menyenangkan bisa menjalani hari-hari kehamilan yang tanpa gangguan kesehatan, tidak ada mual dan muntah. Bahkan Sara masih bisa mengikuti kelas meracik minuman di Kopi Lab.
Tuhan memang begitu baik padanya, saat hamil dan tidak sepenuhnya mendapatkan hati Belva, tetapi kandungannya sama sekali tidak merepot. Bisa menjalani rutinitas setiap hari tanpa gangguan sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Sara yang sedang hamil. Dan, sekarang Sara sedang mengikuti kelas barista di Kopi Lab. Ibu hamil itu terlihat saat serius mengikuti instruksi Traineer.
“Membuat minuman itu terlebih kopi yang harus diperhatikan itu komposisinya. Contoh simpelnya adalah Cappucino dan Latte. Sekali pun, rasa keduanya hampir sama, tetapi komposisi dan teksturnya jelas sangat berbeda. Cappucino menggunakan susu lebih sedikit, tetapi teksturnya penuh buih. Sementara Latte menggunakan lebih banyak susu, tetapi teksturnya lebih encer,” jelas Traineer tersebut.
Mendengar penjelasan itu, Sara harus benar-benar mencatatnya. Di lain waktu, dia akan mencoba membuat sendiri Cappucino dan Latte. Lagipula, selama ini Belva juga terlihat senang setiap kali Sara menyodorkan minuman baru hasil kreasinya.
Usai kelas berakhir sore itu, Sara kemudian segera bergegas dari kelas, dan tentu tujuannya hanya satu yaitu menunggu Belva yang akan menjemputnya. Jikalau dulu, Sara yang harus menunggu pria itu. Setelah peristiwa Zaid yang mendekati Sara, yang ada justru Belva yang terlihat menunggu Sara terlebih dahulu.
Seperti sekarang ini, pria itu tampak berdiri di depan bangunan berlantai tiga itu dengan satu tangan yang dimasukkan dalam saku celana. Belva tampak mengamati pada setiap orang yang keluar dari Kopi Lab. Retina matanya seolah mencari-cari di mana sosok Sara, hingga akhirnya sosok yang tunggu pun sudah datang, Belva seketika tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Sara.
“Sudah selesai kelasnya?” tanya pria itu dengan tersenyum menatap Sara.
“Iya, sudah,” jawab Sara yang kemudian berjalan di samping Belva memasuki mobil yang sudah terparkir rapi beberapa meter di seberang sana.
“Kamu belajar apa hari ini?” tanya Belva.
“Tadi dijelaskan bedanya Cappucino dan Latte, aku baru tahu. Aku pikir minuman itu sama, karena rasanya yang hampir mirip. Ternyata berbeda,” cerita Sara kali ini kepada Belva.
Mendengarkan cerita Sara, Belva pun tertawa, “Yuk, kita mampir ke kafe sebentar. Aku rasanya sangat lapar,” ajaknya kali ini.
“Tidak makan di rumah Pak? Kak Anin menunggu kita,” ucap Sara. Ya, Sara masih ingat bahwa hari ini Anin berada di rumah dan wanita itu baru saja mengikuti sessi pemotretan dari luar kota.
Belva kemudian menggelengkan kepalanya, “Tenang saja, hanya sebentar,” ajaknya dan kemudian membuka pintu mobilnya bagi Sara.
__ADS_1
Rupanya pria itu benar-benar membawa Sara ke salah satu kafe yang tidak jauh dari Kopi Lab. Sara memilih memesan Jus Alpukat yang baik untuk janinnya. Sedangkan Belva memilih memesan Cappucino dan Latte. Sara tampak mengamati mengapa Belva memesan dua minuman itu sekaligus.
“Kenapa pesan dua Pak? Yakin habis?” tanya Sara.
Lagi-lagi Belva tersenyum dan mengangguk perlahan, “Tenang saja, kita bisa membaginya berdua kan?”
Akan tetapi, Sara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Ibu hamil tidak boleh banyak-banyak minum kopi, Pak. Kan kemarin itu Dokter Indri bilang kalau kebanyakan minum kopi bisa membuat refluks asam lambung, keguguran, bayi lahir prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Jadi, aku takut,” jawab Sara dengan jujur.
Benar yang diucapkan Sara karena sebuah penelitian untuk menyarankan bahwa jika Ibu hamil meminum 150-200 miligram kafein atau setara dengan 2 cangkir kopi setiap harinya bisa mengganggu kesehatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Untuk itu, Sara benar-benar mengurangi minum kopi. Bahkan Sara juga sudah lama tidak membuat Frappucino minuman kesukaannya itu.
“Aku senang karena kamu memperhatikan bayimu. Hanya saja, kalau mencicipi satu cecap tidak masalah kan?” tanya Belva kini.
Hingga akhirnya semua pesanan yang mereka pesan sudah tersedia di meja. Belva lantas menyodorkan secangkir Cappucino di hadapan Sara.
“Ini Cappucino, Sara. Buihnya lebih banyak, tetapi susu yang dipakai hanya sedikit. Cobalah minum,” ucap Belva.
Di mata Belva, Sara justru terlihat lucu sekarang ini. Pria itu mengulum senyuman dan menyeka sudut bibir Sara dengan menggunakan ibu jarinya. Sementara di hidungnya, Belva menyekanya dengan menggunakan sebuah tissue.
“Kamu seperti anak kecil, Sara … bagaimana bisa meminum Cappucino saja kamu sampai belepotan seperti ini,” ucap Belva dengan tertawa.
Sara pun mengerucutkan bibirnya, “Kebanyakan buih, Pak … jadi menempel di mana-mana deh,” sahutnya.
Setelahnya Belva menyodorkan Latte kepada Sara, “Sekarang coba yang ini. Satu cecap saja jangan banyak-banyak,” ucapnya yang terdengar seperti memerintah.
Mengangguk, hingga Sara kembali mencoba minuman Latte hangat itu.
“Ini namanya Latte, teksturnya lebih encer. Jadi kedua tampilan atau presentasi minuman ini saja sudah terlihat bedanya bukan? Yang Cappucino lebih berbuih, dan Latte tidak,” jelas Belva kepada Sara.
__ADS_1
“Wah, rupanya Pak Belva tahu yang seperti itu. Mending aku belajar aja sama Pak Belva daripada ke Kopi Lab,” sahut Sara sembari tertawa.
Hubungan Sara dan Belva sebenarnya memang tidak banyak peningkatan. Perasaan keduanya sama-sama tidak terucap. Hanya saja, keduanya lebih bisa sedikit akrab. Sekali pun tergantung canggung, tetapi yang terlihat kini bahwa Belva dan Sara bisa terlihat lebih akrab.
“Boleh, kamu mau belajar apa? Nanti aku ajarin,” sahutnya dengan bergurau kepada Sara.
“Kalau Pak Belva sukanya Cappucino atau Latte?” tanya Sara lagi.
Belva tampak mengamati dua cangkir berisi Cappucino dan Latte itu, kemudian matanya bergerak dan menatap Sara, “Aku lebih suka Frappucino … buatanmu,” jawab Belva kali ini.
Bukan jawaban yang Sara harapkan sebenarnya. Akan tetapi, hatinya cukup senang saat Belva mengatakan bahwa dia menyukai Frappucino buatannya. Di lain waktu Sara mungkin akan membuatkan Frappucino spesial untuk Belva.
Setelah itu, Sara kemudian menatap Belva, “Pak, besok aku izin untuk keluar sebentar yah?” ucap Sara kali ini.
“Kemana?” sahut Belva dengan tiba-tiba.
“Tidak jauh kok, aku mau mengantar Kak Anin untuk terapi lagi. Kata Terapisnya sih, dampak Tokophobia yang dialami Kak Anin mulai berkurang, jadi besok aku mau menemani Kak Anin ke psikiater lagi,” ucapnya.
Belva pun tersenyum menatap Sara, “Baiklah … yang penting hati-hati dan jangan terlalu kecapean. Kandunganmu sudah semakin membesar. Waktu bersaling tinggal beberapa bulan lagi.”
Usia kandungan Sara memang sudah memasuki bulan keenam, tidak terasa bahwa hanya tersisa tiga bulan lagi menjelang waktu bersalin. Untuk itu, Sara pun mengangguk, “Iya Pak, aku akan hati-hati dan tidak kecapean. Bagaimana pun prioritas untuk si baby nomor satu,” jawabnya.
Belva kemudian mengambil cangkir Cappucino dan meminumnya perlahan, pria itu sedikit melirik wajah Sara saat dia mencecap Cappucino itu, “Terima kasih banyak Sara, berkat dirimu tidak lama lagi aku akan menjadi seorang Papa,” ucapnya kali ini sembari menaruh kembali cangkir gelas di atas meja.
Sara pun mengangguk, “Sama-sama, Pak,” jawabnya sembari menunduk.
Jika Belva berterima kasih lantaran putranya akan segera lahir, Sara juga harus bersiap karena waktunya bersama Belva Agastya hanya tinggal beberapa bulan tersisa dari kontrak satu tahun yang diberikan oleh pria itu.
__ADS_1