Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Bunga Mawar Merah


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, pekerjaan di Agastya Property bisa dikerjakan dengan baik. Terlebih dengan adanya sekretaris baru yang bisa mengorganisir tugas-tugas sekretaris dan meringankan pekerjaan Belva sebagai seorang CEO. Baru sepekan berlalu, tetapi Anisa dan Ridwan terlihat bisa saling bekerja sama dan bisa mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Efeknya tentu, dalam sepekan ini Belva pun bisa pulang ke rumah lebih cepat.


Sama seperti hari ini, jam 15.00 Belva sudah tiba di rumah. Pria itu segera berlari menuju kamar mandi di dalam kamarnya dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Memastikan tubuhnya bersih, barulah Belva mendatangi Sara yang saat ini tengah duduk di taman.


“Aku cariin kemana-mana, rupanya kamu di sini,” ucap Belva mendatangi Sara yang duduk di bangku taman berwarna putih itu.


“Cari udara segar, Mas … sambil lihat bunga-bunga. Suka sekali,” balas Sara.


Rupanya Sara memang tipe seorang wanita yang bahagia hanya dengan melihat hal-hal yang sederhana. Sekadar duduk di taman di dekat kolam renang, sembari melihat bunga-bunga kertas yang bermekaran saja sudah membuat Sara begitu bahagia.


“Kamu suka bunga?” tanya Belva sembari merangkul bahu istrinya itu.


“Suka, suka banget,” balas Sara.


“Mau aku buatin taman bunga untukmu di sini?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


Akan tetapi, nyatanya Sara justru menggelengkan kepalanya, “Enggaklah Mas … enggak usah. Ini saja sudah banyak kok bunganya. Itu ada Bunga Kertas, ada Bunga Kencana Ungu, dan ada Bunga Cantik Manis. Udah cantik banget,” balas Sara.


Kemudian Belva menunjuk sebuah bunga yang berjarak beberapa meter dari sisi kolam. “Itu bunga yang kamu tanam dulu. Bunga mawar merah, dia tumbuh dengan subur. Aku selalu meminta Tukang Kebun untuk merawatnya, memberikan pupuk, dan mengganti tanah dan sekamnya,” ucap Belva.


Ya, itu karena saat Sara tinggal dulu di kediaman Belva, Sara sempat menanam sebuah bunga Mawar. Setelah empat tahun berlalu, rupanya bunga itu pun tumbuh subur.


“Kenapa kamu menanam bunga Mawar Merah?” tanya Belva kali ini kepada Sara.


“Iya, karena bunga Mawar Merah adalah tanda cinta. Tanda aku mencintaimu. Saat itu aku tidak berani mengungkapkannya, karena itulah … kuharap saat kamu melihat bunga yang aku tanam ini, kamu akan tahu isi hatiku,” jelas Sara kali ini.

__ADS_1


Mendengarkan ucapan Sara, Belva pun tersenyum. Pria itu lebih tak mengira karena Sara adalah tipe orang yang mengungkapkan perasaan dengan cara yang berbeda. Belva tidak mengira jika Sara menanam bunga Mawar Merah itu untuk menyatakan perasaannya yang tidak terucap.


“Kamu rupanya romantis juga, Sayang,” respons Belva kali ini.


Rupanya mendengar ucapan Belva, Sara hanya menunduk malu. Baru kali ini Sara mengungkapkan kenapa dirinya menanam bunga Mawar Merah itu di kebun milik Belva. Mungkin jika saat itu Belva lebih peka, pria itu akan tahu perasaan Sara kepadanya. Sayangnya, saat itu Belva adalah sosok yang tidak peka dan diam, ditambah bahwa Belva tidak bisa mengungkapkan perasaannya, sehingga bunga itu hanya berdiri sebagai bunga. Tanpa bisa menjadi sebuah cara untuk mengekspresikan cinta.


Keduanya pun menikmati sore bersama di sisi kolam renang itu. Belva yang merangkul bahu Sara, dan Sara yang menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Sesekali tangan Belva bergerak dan menautkan jarinya di dalam sela-sela jari milik Sara. Menggenggamnya, menautkannya, memberi sedikit remasan di sana. Belva berharap bahwa kali ini tangan Sara lah yang akan selalu ada di genggamannya sampai akhir ajal menjemputnya nanti.


***


Beberapa hari kemudian …


Jika sepekan sebelumnya, Belva bisa pulang dari perusahaannya lebih cepat. Kali ini, Belva nyatanya harus pulang terlambat. Sebelumnya, Belva pun juga sudah memberitahukan kepada Sara bahwa mungkin dirinya pulang saat petang.


[Sayang, hari ini aku pekerjaan penting yang tidak bisa kuwakilkan.]


[Jadi, aku pulang agak terlambat.]


[Hanya terlambat, tetapi tidak sampai malam.]


[Tunggu aku yah.]


Pesan itu terkirim dengan cepatnya. Belva merasa tenang karena bisa memberitahu Sara terlebih dahulu bahwa dirinya harus pulang lebih terlambat hari ini.


Sementara itu di rumah, Sara yang usai membaca pesan dari Belva pun membalasnya dan mengatakan bahwa dirinya akan menunggu sampai Belva pulang. Untuk itu, Sara memilih menemani Evan membaca buku-buku dongeng cerita anak. Akan tetapi, waktu sudah menunjukkan malam, dan Belva belum juga datang. Tentu saja, Sara menunggu karena suaminya itu tidak segera pulang.

__ADS_1


Tepat ketika Evan sudah tertidur, dan Sara kembali ke kamarnya. Betapa terkejutnya Sara melihat buket bunga Mawar Merah dalam ukuran besar yang berada di atas ranjang. Perlahan tangan Sara terulur dan meraih bunga itu. Kemudian wanita itu menyunggingkan senyuman di wajahnya sembari mencium bau bunga Mawar Merah yang harum itu.


Baru saja Sara larut dengan bunga Mawar Merah yang begitu indah itu, Belva rupanya keluar dari kamar mandi, dan menghampiri Sara.


“Suka dengan surprise-nya?” tanya Belva dengan tiba-tiba.


Pandangan Sara pun beralih dari semula menatap bunga-bunga mawar dengan kelopaknya yang begitu indah itu, beralih kepada Belva.


“Loh Mas, sudah pulang?” tanya Sara seolah terkesiap. Bahkan Sara tidak melihat jika Belva sudah mandi, bersih, dan berada di dalam kamar. Sebab, biasanya Belva akan menengoknya di kamar Evan terlebih dahulu. Sekarang, suaminya itu seakan memberikan kejutan yang tak seperti biasanya. Kejutan yang membuat Sara bahagia.


Pria itu menganggukkan kepalanya dan kini berada di hadapan Sara. Kemudian Belva mengeluarkan sekuntum bunga Mawar Merah dari balik punggungnya dan menyerahkannya kepada Sara.


“Sayang, aku adalah pria klasik … maka dari itu aku memberikan Bunga Mawar Merah yang klasik ini kepadamu sebagai tanda cintaku. Sama seperti Bunga Mawar Merah adalah tanda cinta, maka aku pun sangat mencintaimu,” ucap Belva kali ini.


Rasanya diri Sara begitu meleleh saat ini. Dia benar-benar tidak mengira bahwa Belva bisa memberikan kejutan seromantis ini kepadanya. Sampai air mata pun berlinangan dengan sendiri dari sudut mata Sara.


“Makasih Mas, aku juga cinta kamu,” balas Sara.


Wanita itu kini hanya menggenggam sekuntum bunga Mawar Merah yang diberikan Belva dan kemudian memeluk suaminya itu. Sebab, saat seseorang mengungkapkan cinta, tiada yang lebih indah selain menyambutkan dengan ciuman manis dan pelukan hangat. Sara kini sedikit berjinjit, wanita itu mendaratkan sebuah kecupan di bibir suaminya.


Chup!


“Dengan senang hati aku menerima tanda cinta darimu ini. I Love U,” balas Sara.


Itulah ungkapan hati. Jika di masa lalu, Sara hanya bisa menanam bunga Mawar Merah dengan harapan saat Belva melihat, Belva akan tahu isi hati Sara. Sekarang, dengan memberikan bunga Mawar Merah yang sangat indah, Belva akhirnya membalas ungkapan isi hati Sara. Katakan perasaan dengan bunga, itu yang sedang Belva nyatakan hari ini.

__ADS_1


__ADS_2