Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kabar dari Zaid


__ADS_3

Sementara di Surabaya, Zaid yang tengah mengurus kafe miliknya yang dibuka di Surabaya itu pun kini tengah duduk di dalam ruangannya dan berselancar dengan handphone pintar di tangannya. Saat tengah memegang handphone itu, tiba-tiba saja Zaid terpikir dengan sosok Sara.


“Gimana kabarmu Sara? Apakah kamu sudah melahirkan sekarang?” gumam Zaid dengan begitu lirih.


Untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri itu, Zaid pun melihat di aplikasi Whatsapp miliknya, dan mencari kontak Belva. Sebab, Zaid juga memiliki nomor kontak Belva. Jarinya men-scroll nama Belva di sana dan kemudian dia melihat foto profil pria itu yang berubah. Sara tampak menggendong bayi, sementara Belva memangku Evan.


“Keluarga yang bahagia,” gumam Zaid lagi.


Ya, melihat Sara yang tampak bahagia menggendong bayinya dalam posisi duduk, dan juga disampingnya ada Belva dan Evan. Perlahan, Zaid menghela nafas panjang dan teringat dengan bagaimana dulu dia terpesona dengan Sara. Wanita yang cantik, baik, dan sederhana. Tidak mengira, bahwa wanita itu adalah istri dari pemilik perusahaan property yang cukup besar di negeri ini.


“Sama seperti doaku dulu … aku berharap kamu bahagia, Sara. Cukup melihatmu bahagia seperti ini saja, aku pun sudah merasakan bahagia. Agaknya nanti, kalau aku ke Jakarta, aku mau mengunjungimu dan bayimu, Sara.”


Kali ini Zaid berbicara lirih dan mengatakan keinginannya untuk bisa mengunjungi Sara saat dirinya akan datang ke Jakarta nanti. Namun, sebelum merealisasikan semua itu, Zaid berniat untuk menghubungi Belva terlebih dahulu. Dengan segera, Zaid menekan tombol ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.


“Halo,” sapa Zaid begitu mendengar bahwa teleponnya terhubung.


“Ya, halo Zai ….”


Dari sambungan telepon itu, justru Zaid mendengarkan suara wanita dan sudah pasti bahwa suara itu adalah Sara. Terdengar dari cara Sara memanggilnya. ‘Zai,’ ya itu adalah panggilan yang selalu Sara ucapkan dengannya.


“Oh, hai Sara … aku mencari Pak Belva,” ucap Zaid melalui panggilan seluler itu.


“Iya, baiklah,” jawab Sara.


Tidak berselang lama, telepon itu sudah dipegang sendiri oleh Belva, dan Belva pun segera berbicara dengan Zaid melalui panggilan telepon itu.


“Ya, halo Zaid,” sapa Belva kepada Zaid.

__ADS_1


“Halo Pak Belva … bagaimana kabarnya? Semuanya sudah aman?” tanya Zaid.


“Baik … kamu gimana? Makasih banyak yah … berkat kamu, urusan perusahaanku bisa dikendalikan sepenuhnya,” ucap Belva kali ini.


“Sama-sama Pak Belva … wah, agaknya ada yang memiliki kabar bahagia nih, kenapa enggak bilang-bilang, Pak,” ucap Zaid dengan suara terkekeh geli di sana.


“Benar Zaid … kami punya kabar bahagia. Sara sudah melahirkan,” ucap Belva kali ini. Dengan gamblang Belva memberitahukan bahwa Sara sudah melahirkan. Seakan Belva juga ingin berbagi kebahagiaan dengan Zaid. Sebab, Belva yakin dan percaya bahwa Zaid adalah pria yang baik dan tulus. Membagi kabar bahagia dengannya, tidak menjadi masalah untuk Belva.


“Aku tahu … aku melihatnya dari pembaruan di foto profilmu. Selamat Pak Belva … sekarang sudah memiliki dua jagoan. Kapan-kapan jika aku ke Jakarta, boleh dong aku mampir untuk bertemu dengan keponakanku?” tanya Zaid kali ini.


Mendengar apa yang diucapkan Zaid, Belva pun tertawa dan menganggukkan kepalanya, “Iya, tentu boleh … mampir saja,” balas Belva.


“Baiklah Pak Belva, selamat yah,” balas Zaid dan mengakhiri panggilannya siang itu.


Dalam hati Zaid, sekarang cukup untuk mengucapkan selamat melalui telepon. Di kemudian hari, jika dia ke Jakarta, Zaid berusaha untuk menemui Belva dan keluarganya, memberikan selamat untuk Sara dan bayinya.


***


Usai menerima telepon, Belva pun kembali menghampiri istrinya yang sedang menyusui Baby Elkan. Terlihat Belva memperhatikan Elkan yang begitu kuat menghisap ASI-nya, sampai terdengar suara layaknya orang yang begitu haus.


“Minum ASI-nya kuat sekali ya Sayang?” tanya Belva kepada Sara.


“Iya, Mas … kayak haus terus gitu. Padahal baby usia segini kebutuhannya masih sekitar 20 - 30 ml ASI saja,” jawab Sara.


“Mau aku belikan ASI booster, biar produksi ASI kamu banyak dan bernutrisi,” tawar Belva kepada istrinya itu.


“Yang dapat dari Rumah Sakit masih kok, Mas … aku habiskan dulu saja. Itu juga Mama sering banget masakin sayur Daun Katuk dan bikinkan Susu Almond. Sampai melimpah-limpah deh ini ASI,” jawab Sara.

__ADS_1


Belva pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Sara itu, “Melimpah enggak apa-apa … penting cukup saja buat Elkan … ya kan El, minum ASI biar tumbuh sehat dan kuat yah,” ucap Belva sembari memberikan usapan di kepala bayinya itu.


“Itu tadi Zaid ya Mas?” tanya Sara kepada suaminya.


Tadi memang handphone milik Belva berbunyi, sementara suaminya itu tengah membuang tissue ke tempat sampah yang ada di dalam kamar. Sehingga, Belva yang menyuruh Sara untuk menerima telepon itu terlebih dahulu.


“Iya Sayang … Zaid yang telepon. Dia mengucapkan selamat saja karena kamu sudah melahirkan,” cerita Belva kepada Sara.


“Oh … kirain kenapa?” balas Sara.


“Emang Zaid tidak mengucapkan apa-apa ke kamu?” tanya Belva dengan mengernyitkan keningnya.


Ada gelengan samar dari kepala Sara, “Tidak … tidak ada yang ngucapin kok. Cuma anak-anak Coffee Bay saja yang mengucapkan,” balas Sara.


Tidak ada orang lain yang mengucapkan kepadanya. Hanya seluruh karyawannya saja di Coffee Bay yang mengucapkan selamat kepadanya. Bahkan, Sara juga sampai lupa bahwa dia memiliki teman seperti Zaid.


“Oh … ya sudah. Intinya Zaid mengucapkan selamat untuk kelahiran Elkan. Nanti kalau dia ke Jakarta, dia juga akan main ke mari, jengukin Elkan,” balas Belva.


“Kamu beneran tidak cemburu sama Zaid, Mas?” tanya Sara kali ini.


“Tidak … tidak cemburu. Aku percaya sama Zaid. Dia pria yang tulus. Dia tidak seperti Anthony. Akan tetapi, jika Anthony yang menelpon, sudah pasti aku cemburu,” balas Belva.


Seakan Belva tengah membandingkan antara Kakak dan Adik yang dulu pernah memiliki perasaan kepada Sara itu. Kepada Zaid, Belva bisa bersikap baik dan biasa saja, tetapi tidak dengan Anthony yang begitu terobsesi dengan istrinya.


“Ya sudah … tidak perlu membicarakan yang dulu-dulu lagi. Yang penting sekarang adalah kita. Kamu, aku, Evan, dan Elkan. Keluarga kecil kita,” balas Sara.


“Benar Sayang … kali ini keluarga kecil dulu, nanti kita perbesar yah … maaf Sayang, rasanya aku beneran deh pengen punya banyak anak dari kamu. Lihatlah betapa cakepnya Evan, dan sekarang lucunya Elkan, kalau punya anak-anak cewek, kita bisa memiliki putri yang cantik-cantik,” balas Belva.

__ADS_1


“Mas, Mas … sayatan di perutku saja belum kering, kamu sudah bahas anak lagi. Sebel deh,” gerutu Sara kali ini.


Luka sayatan pasca operasi Caesar di perutnya saja masih belum kering, tetapi suaminya sudah beberapa kali berbicara mengenai anak. Rasanya Sara begitu sebal dengan suaminya sekarang ini.


__ADS_2