
Malam hari pun tiba. Menjelang jam 20.00 malam, barulah Belva pulang dari kantornya. Saat memasuki rumah, suasana di dalam rumah sudah begitu sepi. Belva tahu bahwa mungkin saja Sara masih berada di dalam kamar Evan dan menidurkan putranya itu. Seakan tidak ingin mengganggu Sara dan Evan, Belva memilih masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan badannya terlebih dahulu. Rasanya penat dan capek di badan begitu hilang saat mengguyur badannya dengan air shower yang hangat dan merilekskan.
Saat Belva selesai mandi dan menyegarkan dirinya, rupanya Sara sudah berada di dalam kamar dan terlihat sedang duduk di sofa.
“Mas, sudah pulang?” tanya Sara kepada suaminya itu.
“Iya Sayang … maaf yah harus lembur lagi. Sudah seminggu lembur terus,” balas Belva kali ini.
Sara hanya tersenyum pias menatap suaminya itu. Sebenarnya bukan hal yang baru bagi Sara melihat Belva yang lembur dan pulang malam. Sebab, dulu saat dirinya terlihat pernikahan kontrak dan sewa rahim dengan Belva, pria itu juga sering kali pulang malam. Jadi, Sara sama sekali tidak kaget dengan Belva.
Hanya saja sekarang keadaannya berubah karena ada Evan yang sudah bisa bertanya dan juga membandingkan kenapa akhir-akhir ini Papanya begitu sibuk dan pulang malam.
“Makan dulu yuk Mas … aku temenin,” ajak Sara kali ini kepada Belva.
Sara sangat yakin bahwa suaminya itu pastilah belum makan. Oleh karena itu, Sara mengajak suaminya untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Sebab, Sara tidak akan membiarkan Belva tidur dengan perut kosong.
Keduanya kemudian turun dari kamar mereka di lantai dua, kemudian menuju ke meja makan. Sara dengan taletan tampak menyiapkan makan malam untuk Belva, mengisi piring kosong suaminya itu dengan nasi, sayuran, dan lauk pauk.
“Kamu tidak makan Sayang?” tanya Belva kepada Sara.
“Enggak … aku sudah makan tadi sama Evan,” jawab Sara.
__ADS_1
Bukannya Sara menolak untuk makan terlalu malam. Hanya saja tadi memang dirinya sudah makan malam bersama Evan. Sehingga sekarang, Sara cukup menemani suaminya itu makan malam.
Belva mengangguk, pria itu kemudian begitu lahap menyantap makan malamnya. Sesekali melirik ke arah Sara yang duduk di depannya. Sara sendiri seakan juga duduk manis dan memastikan suaminya itu makan dengan lahap dan perutnya pun terisi.
“Makasih Sayang sudah menemaniku makan,” balas Belva kali ini.
Sara tampak tersenyum dan mulai membereskan meja makan. Bahkan Sara juga mencuci sendiri peralatan makan yang baru saja dipakai oleh suaminya. Setelah menyelesaikan semuanya, keduanya pun kembali menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya.
“Mas, boleh berbicara sesuatu,” ucap Sara kali ini.
Menurut Sara ini adalah waktu yang tepat di mana suaminya sudah segar dan mengisi perutnya, mungkin akan menjadi waktu yang tepat untuk mengobrol dengan suaminya sebelum tidur.
“Tentang Evan,” sahut Sara.
Tampak Belva beringsut dan kini menatap ke arah Sara. “Iya … Evan kenapa?” tanya Belva kemudian.
“Begini … aku tahu dan bisa memaklumi jika pekerjaanmu sangat banyak. Hanya saja ada hati yang harus kamu jaga. Tentu saja adalah Evan. Hari ini anaknya merajuk dan terlihat kecewa karena Papanya pulang malam. Tadi Evan cerita biasanya Papa selalu pulang sore, itu berarti secara tidak langsung dia bisa membandingkan. Evan ingin bermain Lego, Uno, dan permainan lainnya bersama Papanya,” cerita Sara kali ini.
Belva tampak diam dan mendengarkan cerita Sara. Pria itu kemudian tampak mengusapi wajahnya secara kasar. Seakan dirinya disadarkan dengan realita betapa sibuknya dirinya sekarang ini.
“Maaf Sayang … aku benar-benar minta maaf,” balas Belva kali ini.
__ADS_1
Sara tersenyum dan menepuki bahu suaminya itu, “Tidak apa-apa Mas … hanya saja sediakan waktu juga dengan Evan. Kecewa tidak apa-apa sih. Justru Evan bisa mengenal perasaan kecewa itu seperti apa. Namun, tetap saja kita orang tuanya harus menolongnya dan memperhatikan kebutuhannya. Dia butuh Papanya untuk bisa bermain bersama dan melakukan banyak kegiatan seru bersama,” balas Sara.
Sekaligus saat ini Sara sedang menjadi penyambung lidah bagi Evan. Cerita dan perasaan Evan yang mungkin saja tidak bisa disampaikan Evan secara langsung kepada Papanya, Sara yang menyampaikan semua itu kepada Belva.
“Benar Sayang … Evan sudah bisa membandingkan situasi dan kondisi. Harusnya aku menyadari itu. Baiklah, terima kasih sudah menceritakan perasaan Evan kali ini kepadaku,” jawab Belva.
Jika Sara tidak menyambung lidah Evan dan bercerita kepada Belva, mungkin saja Belva tidak pernah tahu bagaimana perasaan Evan dan apa yang diinginkan putranya itu. Akan tetapi, karena Sara sudah menceritakan semuanya Belva pun bisa membenahi diri dan menyediakan waktu berkualitas bersama Evan.
“Iya Mas … tidak apa-apa. Aku tahu kamu sibuk, cuma tetap jangan menghiraukan Evan. Berikan waktu untuk Evan,” pinta Sara kali ini kepada Belva.
Ada helaan nafas panjang dari Belva, kemudian Belva menganggukkan kepalanya. “Iya Sayang … aku akan meluangkan waktu untuk Evan. Terima kasih banyak sudah mengingatkanku. Aku sadar sebagai seorang pria kadang aku tidak tahu apa yang Evan rasakan. Syukurlah, aku memilikimu. Seseorang yang berhati lembut dan begitu memahami dan mempedulikan Evan. Dengan demikian, aku pun bisa mengetahui isi hati dan perasaan putraku sendiri,” jawab Belva.
Tidak dipungkiri bahwa pria terkesan tidak sensitif dan merasa kejadian sehari cukup dalam hari itu. Padahal perasaan anak itu sangat kompleks. Perlu diketahui, diurai, dan dicari jalan keluarnya. Belva sangat bersyukur dengan adanya Sara, Evan bisa menceritakan perasaannya. Selain itu, Belva juga bisa membawa diri dan harus bersikap seperti apa kepada putra semata wayangnya itu.
“Ya sudah … besok usahakan pulang sore dan ajak Evan bermain yah,” pinta Sara. Tentu saja kali ini Sara meminta supaya kekecewaan Evan tidak berlarut-larut.
“Oke Sayang … besok aku pulang sore dan mengajak Evan bermain. Maaf juga, aku harus spent time dengan Evan terlebih dahulu,” balas Belva. “Waktu dengan Mamanya Evan kapan?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
Terlihat Sara yang tersenyum pias dan melirik ke arah Belva, “Prioritaskan Evan dulu … buat Mamanya kapan-kapan tidak apa-apa,” jawab Sara.
Ya, memang saat ini yang mendesak dan perlu mendapatkan perhatian lebih adalah Evan. Sara tidak keberatan sama sekali, justru lagi-lagi bisa menunjukkan bahwa dirinya begitu bisa memaklumi Belva dan Evan.
__ADS_1