Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Nama Pilihan Papa


__ADS_3

“Baby kita Sayang … Princess kita!”


Belva berbicara dengan meneteskan air matanya. Menyambut seorang bayi, selalu saja membuat Belva menangis. Rasanya begitu emosional dan sungguh terharu. Oleh karena itu, di kala menyambut anak-anaknya selalu saja Belva menangis.


“Iya Mas,” sahut Sara yang juga berlinangan air mata.


Bayi perempuan yang sudah dia nantikan sejak lama. Kini, dua jagoan mereka yang bermain dengan seorang putri kecil. Sara berharap baik Evan dan Elkan juga akan menyayangi adik kecilnya itu.


Tidak berselang lama, bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu pun ditengkurapkan di dada Sara dan melakukan proses inisiasi menyusui dini, sementara di bawah saja, sayatan di perut Sara juga kembali dijahit.


“Bayinya ya Bu Sara … biar melakukan proses inisiasi menyusui dini dulu,” ucap perawat.


“Iya,” sahut Sara.


Sara yang masih berlinangan air mata menundukkan wajahnya dan melihat bayi kecil itu, tampak bergerak dan menangis begitu kencang di dadanya. Sementara Belva justru sudah beberapa kali mengusapi puncak kepala bayi kecil itu.


“Lucu sekali … lihat dia menemukan apa yang dia mau,” ucap Belva sembari menunjuk gerakan si baby yang bergerak dan menemukan sumber nutrisi pertamanya itu.


Belva memang sesenang dan sebahagia ini tiap kali menyambut anak-anaknya. Bukan hanya Evan dan Elkan, sekarang pun rasanya mengamati pergerakan pertama bayi membuatnya sangat bahagia. Bayi yang merupakan buah cintanya dengan Sara. Bayi yang di dalam darahnya mengalir darahnya dan Sara, hasil perpaduan genetif yang menghasilkan makhluk indah yang sekarang sedang menangis dan mulai menghisap ASI milik Sara.


“Cantik banget,” ucap Belva dengan tersenyum.


Baru pertama kali bertemu saja, rasanya Belva sudah terpesona dengan bayi yang cantik dengan bibirnya yang mungil yang merah itu. Sungguh, mungkin seperti inilah Sara saat kecil dulu. Miniatur dari Mamanya.


“Bu Sara … layaknya metode ERACS, jadi sakit yang ditimbulkan tidak akan begitu sakit. Hanya saja, nanti tetap akan diberikan pereda nyeri yah,” jelas Dokter Indri kemudian.


“Baik Dokter … kira-kira saya bisa berjalan setelah berapa lama?” tanya Sara.


“Satu hari bisa, tetapi itu semua tergantung dengan tubuh Ibu juga. Sama ini, karena jarak dari kelahiran Elkan ke adiknya yang belum ada tiga tahun genap, maka bekas operasi yang dulu, kami buka lagi. Setelah ini, misalnya … ingin memiliki momongan lagi, lebih baik setelah tiga tahun atau lebih,” jelas Dokter Indri.


Ada Belva yang menundukkan wajahnya dengan menahan tawa, sementara Sara yang mengangguki penjelasan dari Dokter Indri. Namun, dalam hatinya dia begitu sebal dan gemas dengan suaminya itu.


“Tuh, Mas … udah yah, jangan bikin aku hamil lagi,” ucap Sara dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Sontak saja Dokter Indri dan beberapa perawat yang ada di sana pun tertawa mendengar ucapan Sara itu. Sementara Belva pun juga merasa malu, tetapi bagaimana lagi jika memang impiannya bisa mendapatkan anak yang banyak dari Sara.


“Boleh Pak … boleh memiliki anak lagi, tetapi jaraknya yang harus diatur. Wanita juga memerlukan waktu untuk dirinya. Rahim saja juga memerlukan waktu setidaknya 40 hari untuk kembali ke bentuk aslinya, jadi wanita juga perlu waktu untuk dirinya,” jelas Dokter Indri.


Walau anak adalah anugerah, tetapi tubuh dan sistem reproduksi wanita juga membutuhkan waktu penyesuaian. Untuk itu, para keluarga memang diimbau untuk mengatur jarak kelahir, selain bisa membuat stunting, tetapi jarak yang terlalu dekat juga membuat seorang Ibu mengalami kecapekan secara fisik dan juga mental.


"Baik Dokter," jawab Belva pada akhirnya.


"Kalau saya kayaknya sudah saja, Dok ... sudah tiga, dan sekarang juga sudah punya baby girl. Kayaknya sudah cukup, Dok," balas Sara.


Mendengar jawaban Sara, lagi-lagi Dokter Indri tersenyum. Memang ada pasangan yang berpikir bahwa dua anak cukup, tetapi memang ada pasangan yang menginginkan anak yang banyak, seperti Belva. Yang penting orang tua mengatur kehamilan dengan sebaik mungkin, dan anak-anak tumbuh dengan nutrisi yang terpenuhi dan juga memiliki lingkungan tumbuh kembang yang mendukung pertumbuhannya.


"Iya, sudah saja, Sayang," balas Belva pada akhirnya.


"Janji?" sahut Sara.


"Iya, janji ... kasihan kamu mengandung dan melahirkan dalam jarak yang dekat. Sudah, baby girl ini saja," jawab Belva.


Lagi-lagi Dokter Indri pun tersenyum mendengar ucapan Belva itu. Hingga akhirnya hampir satu jam setelah Inisiasi Menyusui Dini selesai, Dokter Indri bertanya kepada Belva dan Sara.


"Sudah menyiapkan nama untuk adik bayi belum nih?" tanyanya.


Belva yang kini tampak menganggukkan kepalanya, "Sudah, Dok ... sudah persiapan sejak si bayi diketahui berjenis kelamin cewek," sahut Belva.


Ini memang request khusus dari Belva bahwa dia yang ingin memberikan nama untuk putri kecilnya itu. Sara pun juga tidak keberatan, sehingga memang Sara tidak mempersiapkan nama untuk bayinya. Dia sepenuhnya akan menerima saja nama yang dipilih oleh suaminya.


"Namanya sudah dipilih khusus sama Papanya, Dok," balas Sara dengan terkekeh geli.


"Wah, luar biasa ... jadi, adik bayi siapa sih namanya?" tanya Dokter Indri kemudian.


"Eiffel Kirana Agastya," sahut Belva dengan yakin.


"Eiffel, akan menjadi panggilannya," tambahnya.

__ADS_1


Mendengar nama Eiffel, sontak saja Sara teringat dengan bulan madu kedua mereka di Champ De Mars, di mana Menara Eiffel menjulang tinggi dengan pesonanya yang memanjakan mata mereka, dengan langit kota Paris sebagai atapnya. Sungguh, Sara tak menyangka bahwa Eiffel adalah nama yang Belva pilih untuk putrinya.


"Wah, bagus sekali namanya ... unik," balas Dokter Indri.


Kemudian Dokter Indri menyelesaikan pekerjaannya dengan membantu persalinan Sara, kemudian Si baby Eiffel dibawa ke inkubator untuk disinari dan juga diobservasi selama enam jam.


Sara pun dipindahkan ke kamar perawatannya setelah dibersihkan. Wanita itu masih ingin bertanya perihal nama yang dipilih oleh suaminya, "Kenapa pilih nama Eiffel?" tanya Sara.


"Iya, karena baby kita kan made in Paris. Jadi, untuk mengingat perjalanan cinta kita aku memilih nama Eiffel," balas Belva.


"Oh ... aku kirain karena apa?" tanya Sara.


"Biarkan kita tumbuh jadi anak yang memiliki berbagai pesona dalam hidupnya, juga cantik, dan juga penuh cinta karena Menara Eiffel adalah simbol tersohor dari Kota Cinta yaitu Paris. Lebih dari itu, mengingat Eiffel, aku akan selalu ingat bahwa di tempat itu aku memadukan kasih dengan bidadariku, kamu ...."😘


...🍃🍃🍃...


Dear All,


Menuju satu bab lagi dan novel ini akan tamat. Akan tetapi, jangan galau yah karena cerita tidak akan berakhir di sini. Kisah Evan akan aku mulai esok yah.


Jadi, silakan Bestie follow nama pena aku dan dapatkan notifikasi begitu kisahnya Evan terbit yah.


Inilah spill untuk cerita baru esok hari.



Untuk menikahi gadis yang dia cintai, justru membawa Evan Agastya terjerat dalam sebuah hubungan yang pelik dan menyakitkan. Pernikahan kontrak yang membuat Evan mau tidak mau harus menjalaninya untuk sesaat demi menikahi gadis yang dia cintai, Andini Sukmawati.


Dapatkan Evan untuk menjalani pernikahan kontrak dengan Arine tanpa melibatkan perasaannya, dan menyempurnakan perasaan cinta untuk Andini.


"Menikah bukan kontrak perjanjian, melainkan persembahan diri tanpa syarat!"


Besok yahhh😘😘

__ADS_1


__ADS_2