
Dua hari sudah, Belva dan Sara serta si baby kecil Eiffel berada di Rumah Sakit. Namun, hari ini akan menjadi hari bahagia karena si putri kecil itu akan pulang ke rumah Papa dan Mamanya, sekaligus bertemu dengan Kakak-kakaknya, Evan dan Elkan.
Belva sendiri sudah menyelesaikan semua pembiayaan Sara dan juga mengambil obat di apotek yang masih harus Sara minum untuk beberapa waktu usai persalinan. Ada antibiotik dan juga vitamin yang diberikan oleh Dokter Indri. Setelah pria itu mendorong kursi roda, di mana ada istrinya dan si bayi mungil dalam gendongan sang Mama.
“Pulang ke rumah kita ya Sayang,” ucap Belva sembari mendorong kursi roda itu.
“Iya Mas … aku juga sudah kangen sama Evan dan Elkan,” balas Sara.
Ya, sudah dua hari tidak berada di rumah dan bertemu dengan Evan dan Elkan, rasanya Sara sudah begitu kangen rasanya. Ingin bertemu dan memeluk dua putranya.
“Sebentar lagi … udah kangen sama Duo E?” tanya Belva.
“Iya, duo E selalu di hati … cuma sekarang punya Little E, jadinya tambah lengkap keluarga kita,” balas Sara.
Belva pun tersenyum sembari terus mendorong kursi roda itu. Rasanya, keluarga adalah segalanya untuk Belva. Istri yang baik, anak-anak yang tumbuh sehat dan bahagia sudah membuat Belva sendiri merasa bahagia. Hingga tidak terasa, mereka telah sampai di parkiran mobil dan Belva segera membantu Sara untuk duduk di belakang kursi kemudinya dengan menggendong Baby Eiffel hanya dengan menggunakan tangannya saja.
“Ingin mampir ke suatu tempat untuk membeli sesuatu? Kue misalnya,” tawar Belva sembari melajukan mobilnya perlahan keluar dari parkiran Rumah Sakit.
“Enggak … pulang saja. Kalau pengen beli sesuatu, bisa pesan antar saja nanti. Udah pengen ketemu Evan dan Elkan, juga aku sudah kangen kamar kita,” jawabnya.
Sebuah pengakuan yang sangat jujur dari Sara bahwa dua hari tidur di Rumah Sakit membuatnya sudah begitu rindu dengan kamarnya. Rasanya ingin segera merebahkan dirinya di ranjang favoritnya itu.
“Kamu bisa saja … sayangnya, aku masih harus puasa lama ya Sayang? Sebulan lebih," balas Belva dengan menggelengkan kepalanya.
"Ujian yang sebenarnya dimulai Papa," balas Sara dengan terkekeh geli.
"Benar, kesiksa banget aku jadinya," balas Belva.
Itu adalah jawaban yang benar-benar jujur dari seorang Belva Agastya bahwa dirinya merasa kesiksa karena istrinya yang usai melahirkan. Kendati demikian, Belva tetap berusaha menahan diri. Sebab, bagaimana pun istrinya membutuhkan waktu untuk pulih.
"Nah, sudah sampai Evan dan Elkan pasti seneng banget lihat Mamanya pulang," ucap Belva kini.
Rupanya benar mendengar suara mobil di depan rumah, dua jagoan kecil itu segera membukakan pintu untuk Belva dan Sara.
"Mama, Papa, Adik …."
Keduanya berteriak dan begitu bahagia menyambut Mama dan Papanya yang sudah pulang dari Rumah Sakit. Terlebih Evan yang lebih tinggi, anak itu sedikit berjinjit dan tersenyum melihat adiknya yang masih bayi.
"Cantiknya … cantik seperti Mama," ucap Evan. "Namanya siapa Ma?" tanya Evan lagi.
"Eiffel, namanya Eiffel," balas Sara.
Mendengar nama Eiffel yang disebut, Elkan pun berteriak, "Eiffel Tower ya? Ke Paris!"
"Dari nama Menara Eiffel ya Ma?" tanya Evan lagi.
"Iya Nak, dari Menara Eiffel. Nama ini pilihan Papa kamu," balas Sara.
Evan kemudian menatap Papanya, "Bagus Pa, unik kan … Evan kira akan dinamai Elsa, seperti karakter Putri itu," balas Evan.
Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya, "Enggak … Papa ingin nama yang unik dan indah saat diucapkan dan diingat. Jadi, bagus kan nama pilihan Papa?" tanya Belva.
"Iya bagus banget," sahut Evan.
__ADS_1
***
Dua bulan kemudian ....
Masa dua bulan usai melahirkan telah berlalu, hari-hari dihabiskan Sara untuk recovery dan juga mengasuh Evan, Elkan, dan Eiffel. Mengasuh ketiga anaknya sendiri, Sara sama sekali tidak merasakan kerepotan. Justru dia sangat senang sekali bisa mengasuh anaknya seorang diri.
"Mama ... Eiffel menangis, mau susu," teriak Elkan sambil berdiri di depan box bayi milik adiknya yang berada di dalam kamar Mamanya.
"Iya, Kak Elkan ... sini Mama gendong dulu adiknya yah ... Mama berikan ASI dulu yah," balas Sara.
"Iya, Adik nangis," sahut Elkan.
Dalam pemikiran Elkan sebagai anak kecil, dia mengira bahwa adiknya yang masih bayi itu menangis karena ingin meminum ASI. Padahal ada beberapa hal yang membuat bayi menangis, misalnya diapersnya penuh, atau gerah. Namun, Elkan selalu menganggap bahwa adiknya itu menangis karena ingin minum susu.
Setelahnya Sara segera menimang Eiffel dan mulai memberikan ASI untuk bayinya. Rupanya Elkan pun juga diam-diam mengamati adiknya itu.
"Tuh, diam," tunjuk Elkan.
"Iya, dia harus, Kak Elkan," jawab Sara. "Ya sudah, sekarang sudah malam ... Kakak tidur juga yuk. Besok pagi bangun biar udah seger badannya. Oke?" intruksi dari Sara kepada Elkan.
Elkan pun segera berlari ke dalam kamar mandinya untuk mencuci tangan dan menggosok gigi terlebih dulu. Setelahnya, Elkan mencari Papanya untuk membacakan dongeng dan menemaninya tidur hingga terlelap.
Rupanya malam itu baik Evan dan Elkan, bahkan si kecil Eiffel sama-sama tertidur lelap. Sehingga begitu Eiffel tertidur, Sara memilih untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Mengingat bahwa masa nifasnya sudah lama selesai, sehingga kali ini Sara berpikir untuk memberikan kejutan untuk suaminya. Lagipula, dalam dua bulan ini Belva juga begitu tenang dan sabar. Sehingga Sara berpikir tidak ada salahnya Sara memberikan kejutan untuk sang suami.
Cepat-cepat mandi, kemudian Sara mengenakan sebuah lingerie berwarna hitam yang dia tutupi dengan bathrobe. Setelahnya dia memakai body lotion dan tidak lupa menyemprotkan parfum. Maklum, terkadang selama menyusui Eiffel, bau badan Sara itu terkadang bau minyak telon, parfum bayi, bahkan juga bau ASI. Kali ini, wanita itu agaknya benar-benar mempersiapkan sedemikian rupa untuk suaminya.
Malam ketika Elkan sudah tertidur, Belva pun memasuki kamar mereka dengan memasuki connecting room.
“Sayang, baru ngapain?” tanyanya melihat istrinya yang sedang duduk di depan cermin rias.
Perlahan Belva menghampiri istrinya itu dan memegang kedua bahunya. “Kamu itu masih muda Sayang … masih cantik dan akan selalu cantik,” ucapnya.
Sara pun tersenyum, “Wanita itu kalau sudah punya anak bisa lebih cepat keliatan tua Mas, jadi harus dirawat,” sahutnya.
“Gak apa-apa Sayang … di mataku kamu tetap paling cantik kok,” ucapnya.
Usai mengatakan itu, perlahan Belva menciumi puncak kepalanya istrinya yang saat itu setengah basah lantaran Sara memang keramas malam itu. Akan tetapi, pria itu rupanya tidak berhenti di situ saja. Bibirnya justru mengecupi leher jenjang istrinya yang saat itu hanya mengenakan bathrobe.
“Harum banget sih Sayang … kamu bikin aku pengen,” ucapnya sembari masih menciumi sisi leher istrinya.
Sementara Sara hanya diam dan membiarkan suaminya itu yang beberapa kali menciumi lehernya. Dalam hati ingin rasanya wanita itu tertawa, karena suaminya yang terang-terangan sudah menginginkan sesuatu.
“Kalau pengen … ya, ayo,” sahut Sara. Wajah wanita itu sudah bersemu merah hanya karena berbicara seperti itu kepada suaminya.
Perlahan Belva menaruh dagunya di bahu istrinya itu, “Kamu sudah selesai?” pertanyaan yang tentu akan ditanyakan bagi semua pria yang istrinya baru saja selesai masa nifas.
“Sudah …,” jawab Sara dengan tersenyum.
Rupanya di sana Belva pun juga tersenyum, penantian selama lebih dari 40 hari akhirnya kini sudah saatnya untuk berbuka puasa. Dengan cepat pria itu membopong istrinya ke dalam ranjang mereka dan tidak lupa meredupkan lampu di kamar mereka. Kemudian dia segera mengungkung wanitanya itu. Bertumpu pada kedua sikunya.
Tidak perlu menunggu waktu lama karena Belva memang tengah dahaga, dia seperti kafilah yang menyusuri Gurun Sahara dan ingin segera mendapatkan oase yang menyejukkan tenggorokannya. Pria itu dengan segera menyapa bibir istrinya. Menciumnya dengan begitu dalam, menyesap kedua belah lipatan bibirnya, memagutnya perlahan, dan juga memberikan gigitan kecil yang membuatnya kian memperdalam ciumannya. Bibir semanis cotton candy dan kehangatan rongga mulut yang selalu dia rindukan seolah-olah dia lahap dengan habis dan seperti tidak ada bosannya untuk mencicipi manis dan hangatnya rasa itu.
Sejenak meninggalkan bibir istrinya, penjelajahan bibir pria itu turun pada leher jenjang istrinya. Ditambah dengan parfum yang sebelumnya disemprotkan oleh Sara membuat pria itu dengan gairah yang tak mampu ditahan lagi mulai menyapu leher itu dengan lidahnya dan meninggalkan kecupan hangat dan basah di sana. Setiap apa yang pria itu lakukan nyatanya benar-benar membuat Sara layaknya menghela napasnya dan menekuk sepuluh jari kakinya.
__ADS_1
“Kamu harum banget sih Sayang … kamu sengaja goda aku ya?” tanyanya di sela-sela aktivitasnya yang masih mengecup leher istrinya itu.
Perlahan Sara pun tersenyum, “Malam ini spesial buat kamu, Mas,” ucapnya dengan napas yang sudah terengah-engah.
Setelah itu seolah kedua tangan Sara kembali menarik wajah suaminya, dan dia segera menyapa dengan begitu lembut bibir suaminya itu. Sama sekali wanita itu pun tidak mau menahan karena yang dia inginkan sekarang adalah sama-sama memuaskan dahaga.
Sembari mencium bibir istrinya, satu tangan pria itu menarik tali bathrobe yang dikenakan istrinya, betapa terkejutnya dia saat tangannya meraba di sana rupanya masih ada lapisan begitu tipis dan menempel di permukaan kulit istrinya. Perlahan pria itu menarik wajahnya, dia segera menghalau bathrobe itu dari tubuh istrinya dan membuangnya begitu saja. Untuk pertama kali, dia melihat istrinya mengenakan lingerie yang terbuat dari kain lace yang begitu tipis itu.
“Kamu cantik, Sayang …” pria itu berbicara dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Setengah duduk, Sara justru menutupi area dadanya yang saat itu nyaris terbuka karena lingerie yang dia kenakan. “Sebenarnya, aku malu, Mas …,” ucapnya.
Akan tetapi, dengan cepat Belva menyingkirkan kedua tangan istrinya itu pria itu mengamati pemandangan indah di hadapannya, kemudian kembali tersenyum.
“Jangan ditutupi. Kamu cantik.” Usai mengatakan itu, Belva kembali mendorong istrinya untuk rebah dan mengukungnya. Melepas kain lace berwarna hitam itu dengan asal. Ciuman dan sapuan bibir dia labuhkan di bibir dan leher istrinya, tangan sibuk meraba setiap inci epidermis kulit istrinya yang halus. Bahkan tangannya meremas salah satu buah persik yang begitu ranum di sana. Akan tetapi, Belva sangat ingat ketika istrinya dalam fase memberikan ASI maka dia tidak bisa bermain dengan area dada istrinya. Hingga akhirnya pria itu hanya sekadar mengecupnya sesaatnya, mengobati kerinduan dengan satu kecupan. Perlahan, dia terus turun, dan mulailah dia menginvansi inti tubuh istrinya. Menyapu inti tubuh istrinya dengan lidahnya. Sapuan lidah yang membuat Sara meremas sprei di bawahnya.
“Mas …” ucap Sara seolah suara di tenggorokannya begitu tercekat.
“Nikmati saja Sayang … jangan ditahan,” sahut Belva dengan terus memporak-porandakan inti tubuh istrinya itu. Hingga tidak membutuhkan waktu lama keluarlah cairan dari bawah sana.
Perlahan pria itu bangkit dan melepaskan pakaian yang dia kenakan, dia mengambil tempat di antara kedua kaki istrinya dan berusaha membuka paha istrinya, kemudian menyatukan dirinya perlahan. Menghujam perlahan, maju dan mundur dengan begitu berirama, dan kedua tangannya yang memegangi pinggang istrinya.
“Astaga Sayang …” racaunya kali ini.
Kemudian dia merapatkan dirinya dengan istrinya, meraup bibir istrinya dan satu tangan yang membelai paha istrinya disertai dengan hujaman dan desakan yang kian lama justru terasa kian cepat, hingga tubuh keduanya sama-sama berpeluh. Beberapa kali Sara menggigit pundak suaminya itu dan mengcengkeraman punggung suaminya.
“Ya Tuhan … Mas.” ucapnya dengan memejamkan kedua matanya.
Seolah membiarkan racauan dari wanita yang kini berada di bawahnya, Belva kian menggebu, dan melesakkan inti tubuhnya begitu dalam. Menghentak dalam satu hentakan yang begitu keras dan cepat, hingga akhirnya pria itu rubuh di atas tubuh istrinya. Dengan deru nafas keduanya yang begitu terengah-engah.
“I Love U, Saraku Sayang …” ucapnya dengan masih mencerukkan kepalanya di dada istrinya dengan badan yang menegang dan peluh yang membasahi badannya.
“I Love U, Mas Belva.” balas Sara di sisa-sisa napas yang dia miliki.
Saat deru napas mereka kian stabil, perlahan Belva mengangkat badannya, kemudian mencium bibir istrinya itu. “Makasih ya buat kejutannya. Tahu enggak Sayang? Setiap momen dalam hidup adalah kamu. You are special moment for me. I love U.” ucapnya.
Malam itu seolah menjadi malam yang panjang di mana sepasang suami istri sama-sama mereguk manisnya nektar cinta dan memuaskan dahaga keduanya. Bukan hanya sekali, tetapi hingga tiga kali keduanya sama-sama memuaskan hasrat dan gejolak yang keduanya rasakan.
***
A Few Moment Later ....
"Luar biasa ... kita bermain sampai dini hari," ucap Belva yang masih menstabilkan nafasnya.
Sementara Sara yang berada dalam pelukan Belva sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Bahkan rasanya ingin segera terlelap dalam pelukan suaminya.
"Mas, mau enggak berjanji satu hal kepadaku?" tanya Sara.
"Hmm, apa?" tanyanya.
"Jangan tinggalin aku lagi ya Mas ... jangan terpikat dengan wanita lain di luar sana," ucap Sara.
"Iya, Sayang ... aku janji. Selamanya aku hanya akan menjadi milikmu. Kalaupun aku berbagi hati, itu hanya dengan Evan, Elkan, dan Eiffel. Janji!"
__ADS_1
Belva kemudian mengeratkan pelukannya dan mengecupi kening istrinya, "Ini kisah kita Sayang ... kisah Belva dan Sara. Kisah yang diawali dengan Rahim Sewaan, tetapi berakhir indah. Berakhir dengan aku tidak hanya memiliki rahimmu, tetapi memiliki tubuh, jiwa, dan ragamu. Aku memiliki kamu seutuhnya dan sepenuhnya. Di sepanjang hidupku, dengan kamu yang berada di sisiku, biarlah seluruh dunia tahu bahwa kisah kita berawal dari rahim sewaan berakhir indah. I Love U More!"
-TAMAT-