Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Kooperatif Parenting


__ADS_3

“Ma, kenapa sekarang Papa pulangnya malam terus sih Ma?” tanya Evan secara tiba-tiba kepada Sara.


Mungkin menurut pengamatan Evan sekarang ini, sudah beberapa hari berlalu dan Papanya selalu pulang malam. Bahkan sejak pulang dari Singapura, menurut Evan memang Papanya menjadi sering pulang lebih malam. Padahal dulu, Papanya terbiasa pulang ketika masih sore. Sehingga Evan bisa bermain-main dengan Papanya di sore hari.


Mencoba memahami perasaan Evan, Sara berniat untuk mengajak anaknya mengobrol dan berdiskusi bersama. Anak berusia 4 tahun sudah bisa diajak berdiskusi tentunya dengan bahasa yang sederhana sesuai kemampuan berpikir anak berusia 4 tahun.


“Pekerjaan Papa di kantor sedang banyak, Nak … kan Papanya Evan usai liburan kan sama Evan. Ke Bintan terus habis itu ke Singapura untuk bertemu sama Oma dan Opa. Papa yang libur terlalu lama, pasti pekerjaan jadi banyak banget. Oleh karena itu, Papa harus lembur dan mengerjakan semuanya,” balas Sara.


Dari jawaban Sara, terlihat Sara ingin mengajak Evan untuk mengetahui kenapa Papanya pulang malam. Itu terjadi karena Papanya usai liburan panjang. Orang yang libur panjang dan tidak bekerja akan membuat pekerjaannya banyak. Bagaimana caranya untuk menyelesaikan pekerjaannya itu? Ya harus lembur dan mengerjakan semuanya. Ada sebab dan akibat yang coba Sara sampaikan kepada Evan kali ini. Tentu saja semua disampaikan Sara dengan bahasa yang sederhana dan bisa dipahami Evan.


“Papa dulu tidak pernah lembur Ma,” balas Evan kali ini.


Terlihat Evan tengah membandingkan bahwa dulu Papanya tidak pernah lembur. Sementara sekarang Papa jadi hobi pulang malam.


“Sebab, dulu Papa setiap hari ke kantor dan tidak liburan. Evan kangen Papa yah?” tanya Sara.


Sara hanya berharap melalui pertanyaannya, Evan bisa mengutarakan isi hatinya kepadanya. Setelahnya, Sara bisa mengakomodir perasaan Evan.

__ADS_1


“Iya Ma … Evan kangen sama Papa. Pengen kalau sore main bersama Papa. Main bola, main lego, main Uno, dan juga berenang bersama Papa,” jawab Belva.


Rupanya banyak kegiatan seru yang dirindukan Evan untuk bisa dilakukan bersama dengan Papanya. Akan tetapi, dalam beberapa hari ini semua itu tidak bisa dilakukan karena Papanya yang begitu sibuk.


“Nanti Mama coba bicara kepada Papa yah … lagipula Papa besok berusaha untuk pulang sore. Jadi, manfaatkan waktu untuk bisa bermain Papa yah,” balas Sara.


Terlihat Evan yang merespons dengan menganggukkan kepalanya. Evan tampak terdiam dan kemudian memeluk Sara.


“Makasih Ma … Mama sudah mengasuh dan menemani Evan bermain,” ucap Evan kali ini. “Dulu … kadang Evan bermain sendiri loh Ma. Kalau kecapekan bermain, Evan tidur sendiri. Namun, sekarang Evan punya Mama yang menemani Evan setiap hari,” cerita Evan kali ini kepada Sara.


Mendengar bagaimana dulu Evan bermain sendiri dan bahkan kecapekan hingga tertidur jujur saja membuat Sara begitu sedih. Sara bisa merasakan betapa sedih dan kesepiannya Evan harus tinggal di rumah sebesar ini.


“Iya Mama … makasih banyak Mama,” sahut Evan.


Sekalipun dari cerita dan dialog sehari-hari antara Evan dan Sara, sesungguhnya Sara sedang berupaya menerapkan kooperatif parenting dengan Evan. Kooperatif parenting adalah sebuah pola pengasuhan di mana orang tua bersikap mendukung dan responsif terhadap anak. Akan tetapi, tetap ada batasan yang diberikan oleh orang tua. Di satu sisi orang tua memberikan kasih sayang, tetapi di sisi lain untuk mendorong anak untuk mandiri.


Dari percakapan dengan Evan kali ini, Sara mencoba mendengarkan sudut pandang Evan. Mendengarkan cerita Evan dan memberikan nasihat yang bisa mengendalikan perilaku anak dengan menjalankan aturan yang disepakati bersama, berdiskusi, dan juga menggunakan nalar. Anak berusia 4 tahun seperti Evan sedang dalam fase di mana otaknya berkembang dengan sangat baik, karena itu Sara mencoba menggunakan nalar dan hubungan sebab akibat untuk berbicara dengan Evan. Dengan menggunakan nalar, alasan yang diberikan orang tua bisa lebih mudah diterima oleh anak.

__ADS_1


Sara pun memeluk Evan dengan begitu eratnya. Sara tahu banyak hal yang dialami Evan tanpa kasih sayang seorang Ibu. Termasuk untuk dua tahun terakhir. Rasanya hati Sara menjadi begitu pedih membayangkan anak sekecil Evan harus bermain sendiri, harus mengikuti Belva ke luar kota, harus dititipkan kepada Tante Amara, bahkan pengakuan Evan yang kecapekan tertidur sendiri. Pilu rasanya hati Sara saat ini.


“Mama percaya Evan akan tumbuh menjadi anak yang baik … belajar untuk taat ya Nak. Kecewa tidak apa-apa. Sama seperti saat ini Evan kecewa kan karena Papa tidak bisa pulang sore? Tidak apa-apa kecewa, yang penting kekecewaan itu dilampiaskan dengan baik,. Jika Evan merasa kecewa di dalam hati, Evan bisa lari ke Mama dan berbicara kepada Mama. Mama akan selalu ada buat Evan dan mendengarkan semua cerita Evan,” nasihat Sara kepada Evan kali ini.


Jika orang tua merasa takut bahkan tidak ingin anaknya mengalami perasaan kecewa. Berbeda dengan Sara yang tidak mempermasalahkan jika Evan mengalami perasaan kecewa. Sebab, anak yang mengenal dan merasakan berbagai emosi dalam hatinya akan belajar mengenali berbagai macam emosi dan juga berusaha menyelesaikannya. Anak kecewa tidak masalah, tetapi kekecewaan harus disingkapi dengan baik dan cara yang benar.


Tampak Evan menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … ya, kecewa dan kangen sama Papa. Namun, tidak apa-apa Ma, kan Papa sibuk bekerja juga buat Evan,” aku Evan pada akhirnya.


Nah, dari sini akhirnya Evan mengakui bahwa sekalipun dirinya kecewa dan kesal dengan Papanya. Akan tetapi, Evan tahu bahwa Papa sibuk bekerja juga untuk dirinya. Untuk mensejahterakan keluarganya.


“Nah, itu Evan tahu … lagipula, sekarang Evan punya Mama. Kita bisa melakukan banyak hal menyenangkan bersama,” balas Sara.


Di saat Belva tengah sibuk bekerja, Sara akan berupaya mengisi kekosongan itu dan menemani Evan. Lagipula, sekalipun bersamanya, tetapi Sara dan Evan juga bisa melakukan banyak kegiatan seru bersama.


“Iya Ma … Evan mau,” sahut Evan.


Dengan saling berbicara dan berdiskusi bersama, akhirnya Sara bisa mengakomodir perasaan Evan kali ini. Anak yang semula merasa kecewa dan rindu dengan Papanya akhirnya bisa menyadari bahwa Papanya sibuk bekerja juga untuk dirinya. Dengan pola pengasuhan kooperatif, orang tua bisa melakukan pendekatan dengan anak. Menggunakan nalar untuk mencerna sesuatu dan membiarkan anak mengenal emosi yang saat ini mereka rasakan.

__ADS_1


Rasanya sekarang Sara menjadi lega karena senyuman sudah kembali terbit di wajah Evan. Mengasuh anak bukan sekadar memberi dia makan dan minum. Akan tetapi, juga hadir dan terlibat dalam setiap fase yang dihadapi anak dalam tumbuh kembangnya. Memang Sara masih banyak belajar, tetapi Sara yakin seiring dengan berjalannya waktu, Sara akan bisa mengasuh Evan dengan lebih baik. Menjadi seorang Mama dan sekaligus sahabat bagi putranya itu.


__ADS_2