
“Masih ada yang ingin dibeli lagi enggak Mama Sayang? Mumpung kita masih di Mall nih,” tanya Belva kepada Sara. Sebelum pulang, memang Belva berniat bertanya, jika ada sesuatu yang ingin dibeli oleh istrinya, mereka bisa sekalian mencarinya di Mall. Tidak perlu bolak-balik lagi.
“Kelihatannya udah sih Pa … yang habis cuma lipstik saja kok,” balas Sara.
“Buat perlengkapan persalinan kamu sudah semuanya? Kalau ada yang belum beli di sini sekalian saja,” balas Belva.
“Sudah kok Pa … kopernya saja sudah siap, tinggal masukkan ke mobil nanti. Semua perlengkapan untuk Baby Boy, aku, dan juga Papa sudah masuk semua ke dalam koper kok. Aduh, kebayang persalinan nanti bikin aku deg-degan deh,” aku Sara dengan jujur.
Saat suaminya menanyakan perihal perlengkapan untuk bersalin, justru tiba-tiba Sara merasa deg-degan. Kali ini dia akan merasakan pengalaman melahirkan dengan metode Caesar yang belum pernah dia coba sebelumnya. Oleh karena itulah, Sara merasa deg-degan. Untuk itu, Belva segera menautkan jarinya di sela-sela jari Sara, menggenggam tangan istrinya itu dengan begitu erat.
“Ada aku, Mama Sayang … tidak perlu takut. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama,” balas Belva.
Ada helaan nafas dari Sara, tetapi tidak berselang lama Sara pun menganggukkan kepalanya, “Makasih Papa Belva, aku merasa siap untuk menghadapi hari H nanti, yang pentinf selalu dampingi aku yah,” pinta Sara.
“Always, Dear. Aku akan selalu mendampingi kamu,” sahut Belva dengan sungguh-sungguh.
Di masa persalinan, para Ibu hamil sangat membutuhkan kehadiran suaminya yang akan menguatkannya di masa-masa terberat harus berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan baby mereka. Kali ini, Belva berjanji akan menemani Sara. Tidak akan membiarkan istrinya itu berjuang sendirian. Belva akan selalu ada di samping Sara dan mendampingi istrinya itu.
“Makasih Papa,” balas Sara.
Merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu beli di Mall tersebut, kemudian ketiganya memilih pulang untuk beristirahat. Lagipula, berada di Mall waktu rasanya berjalan begitu cepat. Hanya membeli kosmetik, menunggu Evan bermain, dan makan bersama saja, sekarang sudah sore. Itu artinya sudah lebih dari empat jam mereka berada di pusat perbelanjaan itu.
__ADS_1
Lantaran membawa istrinya yang hamil besar, Belva pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan berhati-hati sangat mengemudi, karena tidak mau terjadi apa-apa dengan kehamilan istrinya itu.
Begitu telah tiba di rumah, rupanya ketiganya cukup kaget karena kedatangan para keluarga di rumah mereka. Sampai Sara terbelalak dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini.
“Mama, Papa, Amara, dan Rizal, kapan kalian datang?” tanya Sara yang kaget melihat keluarga besar suaminya yang sudah berkumpul di ruang tamu.
“Siang tadi,” sahut Amara.
Kemudian Sara pun menyapa mertuanya terlebih dahulu, mencium punggung tangan mertuanya, dan Mama Diana berdiri dan memeluk menantunya itu. “Gimana sehat Sara?” tanya Mama Diana.
“Sehat Ma,” balas Sara.
Mama Diana tersenyum mengamati Sara dan kemudian tangannya terulur dan memberikan usapan di perut Sara yang sudah begitu besar, “Sudah waktunya bersalin ya Sara … maafkan Mama, empat tahun lalu kami tidak datang dan tidak menemani kamu saat melahirkan Evan. Kini, kami akan di sini dan menemani kamu. Waktu bersalin nanti, jangan pikirkan Evan. Biarkan Evan di rumah, dan kami akan mengasuhnya,” ucap Mama Diana.
“Terima kasih banyak Mama,” balas Sara.
“Sama-sama Sayang … dua hari lagi persalinannya kan?” tanya Mama Diana lagi.
“Iya Ma … dua hari lagi. Harus Caesar karena rupanya terjadi plasenta previa. Jadi yah, harus Caesar Ma,” jelas Sara.
“Tidak apa-apa … Caesar atau Normal tidak masalah. Dulu pun Mama melahirkan suamimu itu normal, dan Mama melahirkan Amara Caesar karena posisi bayi yang melintang,” cerita Mama Diana.
__ADS_1
Kemudian Mama Diana, mengeluarkan kotak makan dari paper bag miliknya dan memberikannya untuk Sara. “Ini, kamu makan yah … tadi Mama belikan Nasi Ayam Hainan. Mama masih ingat, di Singapura dulu kamu ingin makan Nasi Ayam Hainan, tapi belum kesampaian. Jadi, Mama belikan di bandara tadi. Dihangatkan dulu,” ucap Mama Diana.
Mendapatkan oleh-oleh dari Mama Diana dan Papa Agastya tentu saja membuat Sara begitu suka. Di Singapura dulu, memang dia belum sempat membeli Nasi Ayam Hainan, sekarang mendapatkan oleh-oleh dari Mama Diana, tentu saja dia sangat senang.
“Wah, makasih banyak, Ma ….”
Sungguh senang rasanya, bisa berkumpul bersama keluarga besar. Rumah besar milik suaminya juga meriah dengan hadirnya mertuanya dari Singapura dan juga keluarga Amara. Selain itu, Evan juga bisa bermain-main dengan Jerome. Kali ini, Sara merasa lega karena bisa menjalani proses bersalin dengan lebih nyaman.
“Makasih banyak Mama, Papa, Amara, dan Rizal yang sudah datang ke mari dan juga membantu Sara. Sara seneng banget, karena nanti Evan bisa bermain dulu sama Jerome. Jujur, Sara juga merasa berat jika meninggalkan Evan saat Sara di Rumah Sakit. Terima kasih banyak,” balas Sara.
Mendapatkan support penuh dari keluarga suaminya membuat Sara begitu bahagia. Sesuatu yang tidak bisa Sara rasakan saat melahirkan Evan dulu. Seakan kini, Tuhan menghujani hidupnya dengan kebahagiaan. Bukan hanya mendapatkan suami dan putra, tetapi Sara juga mendapatkan keluarga dari pihak suami yang menyayanginya.
“Sudah Kak … jangan menangis. Ibu hamil harus bahagia, biar babynya juga ikut bahagia. Semangat ya Kak … yang dikatakan Mama benar, kami ke mari untuk menemani Kakak dan memberikan dukungan secara penuh kepada Kakak,” balas Amara.
“Thanks Mara … kamu Adik Ipar terbaik,” balas Sara.
Belva yang melihat kebahagiaan di mata Sara pun merangkul bahu istrinya itu, memberikan usapan di bahu itu. Tidak peduli dengan keluarga yang menatapnya, tetapi Belva merasa sangat senang karena seluruh keluarganya bisa hadir dan mendukung Sara. Mendapatkan kasih sayang sebesar ini sudah pasti membuat Sara bahagia dan juga terharu di waktu yang bersamaan.
“Kamu juga Kakak Ipar terbaik, Kak … kamu bisa mencairkan gunung es dalam hati Kakakku,” balas Amara dengan tertawa.
Belva pun menatap tajam pada adiknya itu, “Tidak ada gunung es, yang ada bukit berbunga yang selalu mekar untuk Sara setiap hari,” balas Belva dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Tuh, kamu bisa aja kan Kak … Mama, lihat tuh Kak Belva, Ma,” teriak Amara kini.
Mama Diana dan Papa Agastya yang melihat perilaku anak-anak mereka pun tertawa. Itu adalah pemandangan indah bagi para orang tua di masa senja, melihat anak-anak yang hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lain.