
Pulang dari ION Mall, entah berapa banyak paper bag yang dibawa oleh Mama Diana dan Papa Agastya. Bukan hanya Sara yang mendapatkan hadiah dari Mama Diana, tetapi Amara juga mendapatkan beberapa hadiah dari Mama Diana. Hari sudah berganti menjadi malam saat Sara dan Belva kembali ke unit apartemen mereka yang berada di Singapura.
Lantaran sudah begitu capek, Sara menidurkan Evan terlebih dahulu. Evan sudah mengeluh mengantuk. Oleh karena itu, begitu sampai di aparetemen, Evan segera tidur dan Sara yang menemaninya untuk tidur.
“Evan bobok yah … besok kita akan kembali ke Jakarta,” ucap Sara yang sembari mengusapi puncak kepala Evan.
“Iya Ma … Mama tidak akan ninggalin Evan dan Papa lagi kan? Kita bisa hidup bersama selamanya kan Ma?” tanya Evan saat itu kepada Sara.
Sara tersenyum mendengarkan pertanyaan dari Evan. Wanita itu tampak menganggukkan kepalanya, “Iya … Mama akan tinggal bersama Evan dan Papa,” balas Sara.
“Asyik. Evan sangat suka, Ma … Evan sayang Mama,” sahut Evan yang terlihat begitu bahagia mendengarkan bahwa Sara akan tinggal bersamanya.
“Mama juga sayang kamu, Evan,” sahut Sara.
Beberapa saat berlalu, Sara terlihat begitu telaten menidurkan Evan. Sangat suka rasanya bisa bercerita dan memeluk Evan setiap malam seperti ini. Banyak hal yang bisa dia ceritakan bersama Evan. Begitu Evan sudah terlelap, barulah Sara keluar dari kamar Evan.
Wanita itu kini memasuki kamar milik Belva yang tidak jauh dari kamar Evan.
“Mas, baru ngapain?” tanya Sara begitu memasuki kamar Belva.
Wanita itu melihat Belva yang sedang merapikan koper-koper miliknya. Pikirnya esok mereka akan kembali ke Jakarta. Sehingga, saat Sara menidurkan Evan, Belva melakukan packing terlebih dahulu supaya besok dirinya tidak perlu terburu-buru melakukan packing.
“Nyicil packing, supaya besok tidak terlalu repot,” balas Belva.
Sara menganggukkan kepalanya dan kemudian membantu suaminya itu untuk berkemas. Semua barang sudah mereka masukkan ke dalam koper. Hanya satu potong baju yang akan mereka kenakan esok hari yang mereka taruh di luar.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Sara begitu selesai dengan berbagai koper miliknya.
“Iya … besok kan tinggal ke bandara saja. Tidak perlu repot-repot packing lagi,” sahut Belva.
“Ini apartemen milikmu ya Mas?” tanya Sara sembari mengamati kamar di dalam apartemen itu.
“Iya … kalau di Singapura, aku akan tinggal di sini. Maklum Sayang. Di Singapura tidak bisa memiliki rumah. Warga di sini hanya bisa tinggal di apartemen atau rumah susun. Semua lahan sudah diatur penggunaannya oleh pemerintah,” jawab Belva.
__ADS_1
“Oh … jadi hanya mereka yang benar-benar kaya saja ya yang memiliki rumah?” tanya Sara.
“Iya … kepemilikan hipotek di sini sangat mahal,” jawab Belva.
Kemudian Sara memilih duduk di sofa, dan mengamati kamar milik Belva di dalam apartemen itu. Kesan minimalis begitu terasa di dalam kamar itu. Hingga akhirnya, Belva pun turut menyusul untuk duduk di samping Sara.
“Kenapa, masih ingin tinggal di sini?” tanya Belva.
Terlihat Sara yang menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku sudah kangen pulang,” jawab Sara.
Itu sangat wajar. Sebab dari bulan madu di Bintan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Singapura membuat Sara sangat capek dan rasanya ingin pulang ke Jakarta lagi. Bahkan terkadang Sara merasa ingin pulang ke Bogor. Kota yang dingin dengan curah hujan yang tinggi.
Belva tersenyum mendengar pengakuan Sara. Pria itu segera mendekap erat Sara dengan melingkarkan tangannya di pinggang Sara, dengan dagu yang dia taruh di atas pundak Sara.
“Bikin kenangan manis di apartemen ini yuk,” ucap Belva dengan tiba-tiba.
Sontak saja Sara membolakan kedua matanya dan menatap suaminya itu, “Kenangan manis, maksudnya?” tanyanya dengan hati yang penuh tanya.
“We can play together … Tonight,” jawab Belva.
“Besok kalau kecapekan gimana?” tanya Sara.
“Satu kali saja, tidak akan capek,” sahut Belva.
Belum sempat Sara memberikan jawaban, tangan Belva sudah begitu nakalnya memberikan remasan di area dada Sara. Memberikan tekanan dalam remasannya membuat Sara menahan nafas sepenuh dada.
“Mas,” ucap Sara yang seakan ingin menyingkirkan tangan suaminya itu dari area dadanya.
Akan tetapi, Belva hanya diam. Pria itu menyibak untaian rambut Sara dan mendaratkan kecupan-kecupan basah nan hangat di garis leher Sara. Kecupan yang berhasil membangkitkan gelenyar asing dalam diri Sara. Membuat wanita itu memekik dan menghela nafas saat merasakan bibir suaminya di garis lehernya.
Dengan menyentak tangan Sara, Belva membawa Sara untuk duduk di dalam pangkuannya. Tangan Belva dengan sigap menarik kaos yang dikenakan Sara menampilkan sembulan buah persik yang begitu ranum dan indah. Belva tersenyum nakal melihat Sara.
Bibir Belva segera mendarat dan menghadiahi kecupan di sembulan buah persik itu tanpa melepaskan wadahnya. Membawa satu buah persik itu keluar dan segera menghisap buah persik milik Sara dengan nafas yang memburu. Seakan-akan dirinya seperti bayi yang kehausan dan menemukan sumber ASInya. Semua itu dilakukan Belva dengan begitu bersemangat, hingga membuat Sara meremas rambut Belva.
__ADS_1
“Enak,” ucap Belva kemudian sembari menggigit puncak buah persik itu.
Desiran seakan membakar tubuh Sara, tangan Sara justru kian membenamkan wajah suaminya itu di area dadanya. Memberikan akses secara penuh kepada Belva untuk melakukan apa pun sesukanya.
Tangan Sara juga bergerak dan meloloskan baju yang dia kenakan Belva. Tangannya memberi rabaan di kepala, sisi wajah, leher, hingga area dada pria itu. Membuat Belva memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Sara kepadanya.
Sampai akhirnya, Belva tak mampu bertahan dengan gelora yang kian menyulut dirinya. Pria itu meloloskan sisa-sisa pakaian yang mereka kenakan. Meminta Sara untuk kembali ke pangkuannya, dengan mengangkat sedikit pantat wanita itu dan menyatunya dirinya dengan Sara.
“Tunggu sebentar Sayang … ah, luar biasa,” ucap Belva yang menahan tubuh Sara dan merengkuh tubuh itu dalam pelukannya.
Sara hanya memeluk Belva dan merasakan sesuatu yang terasa begitu penuh di bawah sana. Dengan posisi dirinya yang berada di atas pangkuan Belva justru membuat dirinya benar-benar di terpa badai kenikmatan.
“Gerakkan pinggulmu, Sayang,” instruksi Belva kali ini kepada Sara.
Dengan berpegangan pada bahu Belva, Sara pun mengikuti instruksi yang diberikan oleh suaminya. Menggerakkan pinggulnya perlahan. Merasakan tusukan pusaka di bawah sana yang membuat Sara berpeluh dan mencengkeram bahu suaminya dengan kian erat.
“Ah, luar biasa Sayang,” racau Belva kali ini.
Saat Sara menggerakkan pinggulnya, ada Belva yang seakan tak henti-hentinya menggoda buah persik milik Sara dengan ciuman dan hisapannya. Ada tangan-tangan yang meraba setiap lekuk feminitas di tubuh Sara. Candu asmara yang benar-benar menggoda dan siap mereka nikmati bersama.
“Aku gak tahan Mas,” keluh Sara kali ini.
Entah berapa kali dirinya diterpa badai kenikmatan yang membuat wanita itu begitu lemas rasanya. Nafasnya kian pendek-pendek dan seolah begitu kepayahan untuk bernafas. Belva tersenyum, pria itu lantas mengangkat pinggulnya, dan mengangkat tubuh Sara begitu saja. Menjatuhkan tubuh Sara di atas ranjang, dan segera Belva menindih tubuh istrinya itu. Memberikan hujaman yang berbalut kenikmatan. Lecutan yang berkobar dan tak akan pernah surut.
“Ah, astaga.” Belva lagi-lagi meracau. Semua kegiatan panas yang dia lakukan bersama Sara benar-benar nikmat.
Kian cepat Belva bergerak hingga pria itu beberapa kali memejamkan matanya dan menghela nafas. Sampai pada akhirnya Belva pun bergerak dengan kian kacau. Pria itu menggeram dengan rahang yang mengeras dan akhirnya Belva rubuh di atas tubuh Sara saat pusakanya berhasil melesakkan panah-panah cinta yang menembus hingga cawan surgawi milik Sara.
Itulah momen yang Belva dan Sara lakukan di Singapura. Satu malam yang berlimpah nektar cinta. Satu malam yang akan mereka ingat bahwa keduanya pernah bersatu dan membuat kenangan indah di negeri Singapura ini.
“I Love U, Sara,” ungkap Belva sembari melabuhkan ciuman di kening, mata, ujung hidung, dan bibir wanitanya itu.
“I Love U too,” balas Sara yang masih memeluk tubuh Belva dengan begitu eratnya.
__ADS_1
“Makasih ya … ini bakalan menjadi kenangan yang indah. Aku sangat mencintaimu,” balas Belva lagi.
Tidak dipungkiri bahwa momen ini adalah malam terakhirnya di Singapura. Malam terakhir yang ditutup dengan kenangan yang indah. Esok mereka akan kembali ke Jakarta, dengan rutinitas yang sudah menanti di depan mata.