Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Evan Merajuk


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, pekerjaan Belva di kantor rasanya begitu kian banyak saja rasanya. Dalam sehari entah berapa banyak file laporan yang harus dicek dan dilakukan finalisasi oleh Belva. Seakan sudah begitu banyak pekerjaan yang dia kerjakan, tetapi masih terasa begitu banyak.


Rasanya Belva begitu kepayahan dengan pekerjaannya yang begitu banyak. Untung saja, Belva bisa lebih fokus bekerja karena Sara benar-benar bisa dia andalkan sebagai seorang istri dan Mama bagi Evan. Bahkan Sara juga rutin mengirimi aktivitas harian Evan kepada Belva.


Sama seperti siang ini, ketika Belva begitu sibuk bekerja ada Sara yang menelponnya. Mendapatkan nama Sara muncul di benda pipihnya, Belva pun menghentikan sejenak pekerjaannya dan mulai menggeser ikon berwarna hijau di layar handphonenya.


“Ya, halo Sayang,” ucap Belva begitu menerima panggilan seluler dari Sara.


“Halo … Papa baru ngapain?” tanya Sara kepada Belva.


Jika dalam sedang berbicara dan Sara menyebut nama Belva dengan panggilan ‘Papa’, maka sudah bisa dipastikan jika Evan dengan bersama dengan Sara. Belva pun tersenyum tiap kali mendengar Sara menyebutnya Papa.


“Baru bekerja Mama Sayang … kenapa kangen yah sama Papa?” tanya Belva sembari terkekeh. Seakan-akan Sara sedang berada di hadapannya dan bisa dia pandang dengan kedua matanya.


“Evan Pa … yang kangen sama Papa,” sahut Sara kali ini.


Rupanya di rumah sana, Evan terlihat sedang merajuk dan bersikeras meminta Mamanya untuk bisa menghubungi Papanya. Evan mengatakan jika dirinya tengah kangen dengan Papanya itu. Tidak berselang lama, Evan pun meminta handphone milik Sara dan ingin berbicara langsung dengan Belva.


“Papa … ini Evan, Pa,” ucap Evan begitu bisa menerima handphone dari Sara.


“Ya Evan … ada apa Nak?” tanya Belva kepada putranya itu.


“Pap, sudah beberapa hari ini Papa pulang malam terus. Sekali-kali jangan pulang malam dong Pa. Evan ingin main sama Papa. Ingin berenang dengan Papa,” ucap Evan kali ini.

__ADS_1


Itulah cara Evan untuk melakukan protes. Anak sekecil Evan saja bisa menilai bahwa Belva sedang begitu sibuk bekerja dan meminta kepada Papanya untuk pulang lebih sore dengan alasannya dirinya ingin bermain dengan Papanya.


Terlihat Belva yang menghela nafas. Sebenarnya bukan inginnya untuk pulang lebih malam. Akan tetapi, banyaknya pekerjaan di kantor seolah tidak bisa dia hindari. Lebih cepat mengerjakan tentunya lebih baik. Hanya saja tetap saja Belva tidak boleh abai dengan Evan. Bagaimana pun putranya itu membutuhkan dirinya untuk menemaninya bermain dan melakukan kegiatan seru dengan Papanya.


“Besok ya Van … hari ini pekerjaan Papa sangat banyak. Evan bermain sama Mama dulu yah,” balas Belva kali ini.


Ya, untuk hari ini memang Belva tidak bisa pulang sore seperti biasanya. Akan tetapi, Belva berjanji bahwa besok dirinya akan pulang lebih cepat dari kantor.


Di rumah sana terlihat wajah cemberut Evan. Anak berusia 4 tahun itu rasanya kecewa karena Papanya tidak memenuhi apa yang dia minta. Padahal Evan hanya ingin bermain dan banyak kegiatan seru dengan Papanya, tetapi Papanya harus pulang malam. Besok barulah Belva menjanjikan akan pulang lebih sore.


Sebenarnya juga bukan maunya Belva untuk pulang larut. Jika bisa memilih, Belva lebih suka pulang siang atau sore hari. Memiliki banyak waktu bersama dengan Evan dan juga Sara.


“Yah, Papa … padahal Evan kan pengen bermain bersama Papa,” sahut Evan. Tetap saja Evan terdengar tengah merajuk dan membutuhkan perhatian dari Papanya itu.


Bahkan Belva juga tidak segan untuk meminta maaf kepada Evan karena hari ini tidak pulang lebih cepat dan menemani putranya bermain. Memang seorang anak akan dengan mudah kecewa di saat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, Belva pun juga tidak segan untuk meminta maaf kepada Evan di saat dirinya memang tidak bisa menuruti apa yang diinginkan Evan. Tidak ada salahnya orang tua meminta maaf kepada anak. Justru, Belva ingin memberikan contoh bahwa orang tua juga tempatnya salah. Orang tua bisa juga mengecewakan anak, tetapi orang tua harus dengan tulus meminta maaf kepada anak.


Evan pun akan belajar untuk memaafkan orang tuanya dan belajar memahami situasi yang dialami Belva sekarang ini. Sehingga kedua belah pihak sama-sama belajar sekarang.


“Ya sudah deh … tetapi janji yah Pap … besok Papa tidak boleh lembur. Evan kan kangen sama Papa. Kasihan Mama yang sudah sejak pagi mengasuh Evan dan mengajak Evan bermain,” ucap Evan kali ini.


Ucapan yang begitu terbuka dari Evan. Ya, Evan merasa bahwa Sara sudah menemaninya bermain sejak pagi. Menuruti apa saja yang Evan mau. Ada kalanya seorang anak juga ingin bermain dengan Papanya.


“Iya … Papa janji. Ya sudah, bisa berikan handphonenya kepada Mama dulu? Papa ingin berbicara dengan Mamamu,” pinta Belva kali ini.

__ADS_1


Terlihat Evan menganggukkan kepalanya dan mulai memberikan handphone kepada Sara. “Mama, Papa mau bicara kepada Mama,” ucap Evan kali ini.


Sara menganggukkan kepala dan menerima handphone dari Evan. Kemudian Sara mendekatkan handphonenya ke telinganya.


“Iya Papa, ada apa?” tanya Sara begitu sudah menerima kembali handphonenya.


“Maaf ya … beberapa hari ini aku sibuk banget. Sampai pulang malam. Apa yang diucapkan Evan barusan benar bahwa Mamanya sudah mengasuhnya sejak pagi dan mengajak Evan bermain. Maaf ya Sayang,” ucap Belva kali ini.


Ada rasa tidak enak di dalam hati Belva, sehingga saat ini pun Belva meminta maaf kepada Sara.


“Tidak apa-apa Papa … lagian Papa juga bekerja untuk Evan, untuk masa depan Evan. Biasa Evan baru merajuk dan kangen saja sama Papanya. Walaupun begitu Evan tetapi seorang anak yang baik kok,” balas Sara kali ini.


Sara tetap bisa memaklumi kesibukan Belva dan tidak mempermasalahkan kesibukan Belva yang begitu banyak di kantor. Bahkan bagi Sara, Evan yang sedang merajuk adalah sikap yang biasa. Ya, sikap alamiah seorang anak yang tengah merindukan Papanya dan ingin bermain-main dengan Papanya.


“Iya Sayang … maafkan aku yah. Bukannya aku melepaskan pengasuhan Evan kepadamu sepenuhnya, tetapi aku sangat sibuk,” balas Belva kali ini.


“Iya Papa … tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai telat makan. Walaupun sibuk, perut jangan sampai kosong. Untuk Evan, Papa tenang saja … aku akan mengasuh Evan,” jawab Sara kali ini.


Sekali lagi Sara seakan memberikan kepastian bahwa dirinya akan bisa mengasuh dan menenangkan Evan. Sungguh, sikap seorang istri yang pengertian dan bisa memaklumi seperti ini membuat Belva begitu tersentuh rasanya. Sara memang wanita yang baik. Kebaikan hatinya benar-benar terlihat dari pengertiannya.


“Makasih banyak Mama Sayang … bilangkan Evan yah … kalau Papanya bekerja keras bagai kuda untuk masa depannya. Besok, aku janji akan pulang lebih sore dan mengajak Evan bermain,” janji Belva kepada Sara dan Evan.


“Iya-iya … nanti aku sampaikan kepada Evan. Ya sudah, semangat lagi ya Papa bekerjanya. Awas, jangan telat makan. Jangan berbohong juga. Jaga hati selama di sana yah,” balas Sara.

__ADS_1


Usai mengatakan semuanya itu, Sara lantas mematikan panggilan selulernya. Kemudian Sara fokus untuk mengasuh Evan. Berharap Evan tidak lagi merajuk dan dirinya bisa mengalihkan kesedihan dan kekecewaan Evan saat ini.


__ADS_2