
Keesokan harinya, Sara benar-benar memenuhi janjinya untuk menemani Anin melakukan terapi lagi. Setelah beberapa kali tidak bisa menghadiri terapi karena kegiatan pemotretannya yang padat. Kali ini akhirnya, Anin mau untuk kembali mengunjungi seorang terapis.
“Ayo, Kak … kita berangkat sekarang?” tanya Sara yang saat itu tengah berdiri di depan kamar Anin yang kebetulan saat itu terbuka.
Anin pun tersenyum dan meminta Sara untuk masuk, “Sini Sara, masuk saja dulu. Sebentar, aku merapikan tatanan rambut dahulu,” ucapnya.
Sebenarnya enggan, tetapi Anin menarik tangan Sara dan membawa Sara untuk memasuki kamarnya. Bagi Sara, kamar pasangan suami istri adalah sebuah privasi tersendiri, dan Sara tidak enak memasuki kamar itu. Lagipula, sudah enam bulan tinggal di kediaman Belva, Sara tidak pernah memasuki kamar itu. Menjaga privasi antara Belva dan Anin.
Sara tampak mengedarkan pandangan matanya di kamar yang begitu luas dengan sebuah bed berukuran besar yang berada di tengah-tengah kamar. Mata Sara terhenti, saat melihat foto pernikahan Anin dan Sara. Di dalam foto itu Belva begitu tampan dengan mengenakan Tuksedo berwarna hitam, dan Anin terlihat begitu cantik dengan menggunakan gaun pernikahan berwarna putih. Seperti pernikahan Raja dan Ratu dalam dongeng anak-anak yang sering kali Sara dengar. Pernikahan itu pastilah pernikahan yang mewah dan istimewa mengingat nama besar Belva dan juga Anin sebagai salah satu model Ibukota.
“Duduklah dulu, Sara,” ucapan Anin yang membuat Sara mengerjap.
Wanita hamil itu mengangguk, kemudian duduk di sofa yang berada di sudut kamar itu, “Jangan lama-lama Kak, nanti kita terlambat,” ucap Sara kali ini yang berusaha mengingatkan Anin.
“Tenang saja, kita tidak akan terlambat,” sahut Anin sembari menatap penampilannya di depan kaca rias berukuran besar dengan berbagai jenis produk skincare dan make up yang berjejer rapi di depan meja rias itu.
Sara seakan menelan salivanya sendiri, dirinya berpikir bahwa seorang model memang membutuhkan skincare dan make up yang begitu banyak. Sedangkan di depan meja rias hanya ada serum, dan make up ala kadarnya. Akan tetapi, Sara kemudian mengalihkan pikirannya dan kini dia duduk diam sembari menunggu Anin. Hingga akhirnya, Anin pun telah selesai, “Yuk, kita berangkat sekarang,” ajaknya.
Keduanya kemudian berjalan keluar dari kamar Anin. Dengan diantarkan seorang sopir, Anin dan Sara kembali mendatangi Psikoterapis yang akan menolong Anin untuk sembuh dari Tokophobia yang dia derita.
Setelah menunggu, akhirnya keduanya kembali bertemu dengan Dokter Astrid. Dokter yang sudah berusia paruh baya itu tampak menyambut Sara dan Anin dengan ramah.
“Halo, selamat datang kembali,” sapa Dokter Astrid.
“Halo Dok,” sahut Anin dan Sara hampir bersamaan.
“Bagaimana perkembangannya sejauh ini?” tanya Dokter Astrid.
Anin tampak menggigit bibir bagian dalamnya dan kemudian mengangguk, “Saya baik, Dok …,” jawab Anin.
Kemudian Dokter Astrid tampak melihat kepada Sara yang turut duduk di samping Anin, “Hmm, begini Bu Anin … kebetulan sahabat Ibu kan sedang hamil. Coba deh, Ibu terkadang turut mengusapi perutnya merasakan tendangan bayinya. Jika nyatanya ketakutan Ibu berkurang, mungkin saja Ibu akan segera sembuh dari Tokophobia. Saya lihat Bu Anin dan sahabat ini terlihat akrab, jadi manfaatkan momen ini untuk sekaligus menyembuhkan fobia yang Ibu derita,” penjelasan dari Dokter Astrid.
“Kenapa demikian, Dok?” tanya Anin kemudian.
“Iya Bu, sekarang mari kita lakukan checklist satu per satu. Bu Anin takut enggak melihat perut sahabat ini yang begitu besarnya?” tanya Bu Astrid.
Anin tampak menggelengkan kepalanya, “Tidak … saya tidak takut,” jawabnya.
__ADS_1
“Lalu, pernahkan Bu Anin mengelus perut sahabat Ibu yang sedang hamil?” tanya Dokter Astrid lagi.
Lagi, Anin menggelengkan kepalanya, “Belum, saya pernah mengelusnya. Sekalipun kami dekat, tetapi rasanya ngeri mengelus perut Sara yang terlihat begitu besar,” jawabnya dengan jujur.
Dokter Astrid kemudian tersenyum, “Perlahan-lahan saja Bu Anin. Coba banyak ngobrol dengan sahabat Ibu karena sahabat Ibu sedang hamil kan. Bagaimana rasanya menjadi Ibu hamil? Bagaimana mengalami morning sickness itu? Bagaimana bahagianya mendapatkan perhatian lebih dari seorang suami di saat hamil? Bagaimana persiapan melahirkan nanti? Banyak mengobrol, lakukan terapi keluarga,” ungkap Dokter Astrid.
Usai mendengarkan penjelasan dari Dokter Astrid tampak Sara yang meredup sorot matanya.
Aku bukan sekadar sahabatnya. Akan tetapi, bayi dalam kandunganku ini adalah anak suaminya …
Aku hanya ladang dan menerima benih dari suaminya. Sebuah ladang yang membiarkan benih itu bersemi hingga waktu panen tiba nanti …
Bagaimana bisa kami membicarakan perhatian lebih dari seorang suami kepada istrinya yang tengah hamil, jika suaminya juga adalah suaminya.
Sara tersenyum getir, pelik sesungguhnya. Akan tetapi, dirinya sendiri yang mendorong Anin supaya wanita itu bisa sembuh dari Tokophobianya. Mungkin, usai sembuh dari ketakutan itu, Sara masih berharap bahwa Endometriosis yang diderita Anin juga sepenuhnya sembuh.
“Apakah memang bisa sembuh, Dok?” tanya Anin dengan tidak yakin.
Terlihat Dokter Astrid mengangguk, “Bisa … ketakutan itu hadir karena ada sinyal-sinyal berupa sugesti yang dikirimkan ke otak sehingga otak memprosesnya hingga timbul rasa takut. Kita bisa mengatasi ketakutan itu, dan dengan banyak cara. Kasus Bu Anin jika Ibu merasa tidak takut melihat sahabat Ibu yang hamil seharusnya itu adalah sebuah perkembangan yang cukup baik,” jelas Dokter Astrid lagi.
Setelah konsultasi, Anin tampak memijit keningnya yang terasa cukup pening. Ya, dirinya memang biasa saja melihat perut Sara yang kian hari kian membuncit. Itu karena memang Anin lebih banyak menghabiskan banyak waktu di luar kota untuk pemotretan selama ini. Apakah itu berarti dirinya harus mengurangi jadwal pemotretannya dan menghabiskan banyak waktu di dalam rumah bersama dengan Sara?
Pilihan yang sulit sebenarnya bagi Anin, tetapi dia ingin mencoba untuk sembuh kali ini. Wanita itu harus mempertimbangkan baik-baik setiap keputusan yang akan dia ambil karena bersangkutan dengan karirnya sebagai seorang model.
“Sara, apakah kamu hamil seperti itu menyakitkan?” tanya Anin perlahan.
Saat Anin mempertanyakan itu, Sara tahu maksud Anin. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak sakit, Kak …,” jawabnya
Jauh lebih sakit saat malam pertama, Kak …
Rasanya nyawaku terlepas dari diriku sendiri waktu itu.
Jawaban itu tertahan, Sara kemudian menatap kepada Anin. “Sembuhlah Kak … tadi Dokter mengatakan jika sudah ada perkembangan bagus. Kuharap tidak lama lagi kamu akan sembuh,” ucap Sara dengan tulus.
Sekali pun perasaannya tidak menentu, tetapi Sara dengan tulus berharap bahwa Anin akan sembuh. Sekali pun ada hari-hari di mana Sara menginginkan Belva untuk tinggal bersamanya, tetapi dalam hatinya Sara tetap berdoa dan berharap bahwa setiap sakit yang Anin derita bisa sembuh.
Anin kemudian menghela nafasnya, “Yah, semoga saja … sekali pun aku pun tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Terima kasih ya, sudah mau menemaniku siang ini.” Anin mengucapkan terima kasihnya kepada Sara. Berkat Sara mendorongnya untuk terapi konseling dan juga menemaninya, Anin mau kembali menghadapi sessi terapi ini.
__ADS_1
Sara kemudian mengangguk, “Sama-sama Kak,” jawabnya singkat.
“Hari masih siang, mau mampir ke kafe sebentar Sara?” tanya Anin perlahan.
Akhirnya Sara pun mengangguk, “Baiklah Kak, aku akan mengikutimu,” jawabnya.
Hingga Anin meminta kepada sopirnya untuk mengantarnya ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari tempat praktik Dokter Astrid. Wanita itu kemudian mengajak Sara memasuki kafe yang cukup cozy dan memiliki beberapa spot foto itu.
Akan tetapi, saat Sara memasuki kafe itu, terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya.
“Hei, Sara … kamu kemari?” sapanya.
Sontak saja Sara menghentikan langkah kakinya dan mencari ke arah sumber suara, wanita hamil pun cukup terkesiap mendapat temannya di Kopi Lab yang ternyata menjadi barista di kafe itu.
“Oh, hei Zaid … kamu bekerja di sini?” tanya Sara.
Merasa bahwa Sara tampak kenal dengan barista di kafe itu, Anin lantas berbisik kepada Sara. “Dia siapa? Teman kamu, cakep juga,” ucapnya.
“Hanya teman, Kak,” sahut Sara dengan singkat.
Zaid lantas tersenyum, “Ah, sampai lupa … duduklah. Nanti ada waitress yang akan datang memberikan buku menunya,” ucapnya.
Sara kemudian mengangguk dan dia kembali berjalan bersama Anin mencari spot tempat yang teduh untuk menghabiskan siang berdua.
“Kelihatannya dia baik padamu,” ucap Anin dengan tiba-tiba sembari melirik kepada Sara.
“Iya, Kak … kami bertemu beberapa bulan lalu saat aku mengikuti kelas meracik minuman di Kopi Lab,” jawabnya.
Anin kemudian menganggukkan kepalanya, “Oh, teman dari kelas kopi itu ya?” tanyanya perlahan.
“Iya,” sahut Sara dengan singkat.
“Hanya teman?” tanya Anin lagi.
Sara lagi-lagi mengangguk, “Iya, hanya teman,” jawabnya.
Rasanya seolah Anin ingin tahu hubungan Sara dengan Anin, tetapi pada kenyataannya perasaan dalam hatinya hanya mengangguk Zaid sebagai teman. Ya, hanya sebatas teman.
__ADS_1