Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Momen Berharga Bersama Baby Evan


__ADS_3

Menjelang semakin dekat masanya tiba, Sara seakan ingin membangun momen berharga bersama Evan. Sara menyadari bahwa tidak banyak lagi waktu yang dia miliki bersama Evan di dalam rumah Belva ini. Sekalipun Anin dan Belva memperlakukannya dengan baik, tetapi hatinya terasa sakit karena keberadaannya di sini tak ayal hanya sebagai orang ketiga di antara Belva dan Anin.


Sara memilih melupakan perasaannya, wanita itu justru menyibukkan diri dan membuat momen berharga bersama Evan. Tak jarang, beberapa kali Sara mengambil foto Evan. Entah itu saat Evan usai mandi, berjemur, bahkan saat bayi itu tertidur. Galeri handphonenya kini dipenuhi dengan wajah Evan.


“Evan … nanti Bunda sudah harus pergi dari sini, Evan jadi anak yang baik yah. Tumbuh sehat dan bahagia bersama Mama dan Papa,” ucap Sara.


Ya, Sara beberapa kali sudah melakukan sounding dengan bayi Evan. Sounding sendiri adalah mengatakan sesuatu kepada bayi secara berulang-ulang. Sama seperti Sara, dia tidak ingin Evan tantrum saat dirinya pergi nanti, untuk mempersiapkan Evan, Sara sudah mengatakan hal itu kepada Evan secara berulang-ulang.


Sebab, apa yang disampaikan oleh orang tua kepada anaknya sekalipun si anak masih bayi, tetapi alam bawah sadar si anak akan bisa memahami perkataan orang tua yang diulang-ulang itu.


Mendengar perkataan Sara, bayi Evan hanya melihat Bundanya sembari mengoceh-oceh layaknya tengah berteriak.


“Aahh … aaa ….,” ocehan khas bayi dari Evan.


“Kamu tahu apa yang Bunda bicarakan ya Nak?” tanya Sara kemudian.


Lagi-lagi Evan menjawab dengan ocehannya, Sara merasa agaknya Evan pun tahu apa yang baru saja dia sampaikan kepada Evan.


“Nanti sehabis ini, mandi yah … Bunda mandiin. Putranya Bunda ini biar seger, harum, dan wangi. Kamu bau susu, Sayang,” ucap Sara sembari menunggu Evan.


Sebenarnya bagi Sara sendiri, pengalaman menjadi seorang Ibu sangat berharga. Melihat Evan setiap hari, 24 jam penuh, benar-benar membuat Sara begitu bahagia. Walau pun terkadang Evan tantrum dan begadang di malam hari, tetapi bagi Sara semua waktu yang dia habiskan bersama Evan akan menjadi begitu berharga dan tidak akan pernah terulang.


Sara pun tidak pernah mengeluh kelelahan dan sebagainya. Sara benar-benar menelan semua rasa yang dia rasakan seorang diri, tidak membagi bagaimana perasaan dan kondisi fisiknya kepada siapa pun.

__ADS_1


Menjelang jam 15.00, Sara sudah bersiap untuk memandikan Evan. Dengan hati-hati Sara melepaskan pakaian Evan, melepas diapers yang dikenakan Evan, kemudian membawa Evan menuju kamar mandi. Mengeramasi rambutnya perlahan, menyabun badannya dengan sabun bayi, kemudian membilas tubuh Evan dengan air hangat. Sesekali Sara bernyanyi-nyanyi merangkai kata-kata sendiri saat memandikan Evan.


“Mandi-mandi Evanku … ayo mandi sama Bunda. Biar Evan tambah cakep, mandinya dimandiin Bunda,” suara Sara yang seakan berirama dengan nyanyian yang dia senandungkan sendiri saat memandikan Evan.


Lagipula, para Ibu juga pasti piawai membuat lagu sendiri saat mulai memiliki bayi. Bisa menyanyikan lagu makan, minum susu, mandi, bahkan lagu pengantar tidur ciptaannya sendiri, mengalunkan dengan irama yang dibuat sendiri.


Menjelang sore, Anin datang ke kamar Sara.


“Hei … Mama datang abis dari Mall, belikan baju dan sepatu buat Evan nih,” ucap wanita itu menyerahkan paper bag kepada Sara.


“Makasih Kak,” sahut Sara.


“Wah, Evan sudah mandi yah … udah wangi nih anaknya Mama, abis ini main sama Mama yah, Bunda kamu biar giliran mandi,” sahut Anin.


Bukan bermaksud apa pun, tetapi Sara hanya ingin baik Anin mau pun Belva saat ingin memegang Evan sudah dalam keadaan bersih. Kuman dan virus dari luar sangat tidak baik bagi bayi. Oleh karena itu, lebih baik mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum memegang bayi.


Anin pun mengangguk, “Iya … aku sudah mandi. Aku ingat pesanmu kepada Belva, bahwa harus bersih sebelum memegang Evan,” ucapnya.


Mendengar jawaban Anin, Sara pun mengangguk, “Iya Kak … kasihan jika ada kuman atau kotoran yang menempel dari luar. Soalnya imun bayi kan belum sekuat orang dewasa,” balas Sara.


“Iya Sara … aku tahu. Kamu tidak ingin jalan-jalan Sara? Sudah sebulan berlalu dan kamu hanya berada di dalam rumah bersama Evan. Jika ingin jalan-jalan, pergilah bersama Belva besok. Serahkan Evan padaku,” ucap Anin.


Dalam pandangan Anin, Sara hanya berada di dalam rumah. Ya, sejak melahirkan Evan, Sara hanya keluar saat harus mengimunisasi Evan ke Dokter Anak saja. Selebihnya, Sara hanya berdiam di dalam rumah saja.

__ADS_1


“Eh, tidak perlu Kak … lagipula, aku memang tidak pernah keluar. Lebih baik me time sama Evan,” sahut Sara.


Anin pun merangkul bahu Sara, “Bersenang-senanglah Sara … besok keluarlah bersama Belva. Serahkan Evan padaku, lagipula sekarang aku bisa mengurus Evan, ASIP juga sudah ada tinggal dicairkan. Tenang,” ucap Anin.


“Gampang Kak, lagipula aku juga tidak tahu mau kemana,” sahut Sara lagi.


Setelah itu, Anin menghampiri Evan dan menggendong bayi itu, “Yuk … ikut Mama, Evan. Bunda kamu biar mandi dulu yah. Evan ikut Bunda, kita lihat akuarium milik Papa yah,” ucap Anin sembari menggendong Evan.


“Mandilah Sara, Evan biar bersamaku,” ucap Anin lagi sebelum keluar dari kamar Sara.


Sara kemudian mengangguk, ya mumpung ada Anin yang menggendong Evan, Sara memilih untuk bergegas mandi. Selanjutnya dia harus mengosongkan sumber ASI-nya dengan melakukan pumping terlebih dahulu.


Kurang lebih 15 menit berlalu dan Sara sudah keluar kamar mandi dengan wajah yang segar dan telah berganti pakaian rumahan yang bersih. Setelah itu, Sara memilih pumping terlebih dahulu. Usai pumping, barulah dia akan menyusul Anin dan akan memberikan ASI untuk Evan.


Beberapa menit berlalu, sumber ASI nya sudah berhasil dia kosongkan. Sara kemudian keluar dari kamarnya dan hendak menyusul Anin dan Evan. Anin berkata akan mengajak Evan melihat ikan di akuarium milik Belva, sehingga Sara menuruni anak tangga karena akuarium milik Belva berada di dekat ruang tamu.


Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, Sara melihat di depan kolam renang rupanya bukan hanya Anin dan Evan, tetapi ada Belva juga. Pemandangan keluarga bahagia yang indah. Lagi-lagi Sara menggigit bibir bagian dalamnya, tetapi Sara tetap berjalan melanjutkan langkah kakinya dan menghampiri ketiganya.


“Evan baru lihat apa?” tanya Sara begitu mendekati mereka bertiga.


“Lihat ikan, Bunda … nih ada banyak ikan ya Evan,” sahut Anin.


Sara pun tersenyum, hatinya terasa getir, tetapi takdirnya memang seperti ini adanya. Wanita itu berdiri berdiri agak sedikit menjauh dari Anin dan Belva yang begitu bahagia menunjukkan berbagai jenis ikan di dalam akuarium itu bersama Evan.

__ADS_1


__ADS_2