Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Memberi Waktu


__ADS_3

Sepanjang malam agaknya Zaid harus menyusun ulang strategi. Kali pertama dia mengatakan perasaannya dan langsung ditolak memang menyesakkan. Akan tetapi, Zaid merasa bahwa untuk mendekati Sara perlu banyak cara. Jika hanya baru satu kali mengungkapkan kemudian dia tolak, hingga membuatnya patah semangat itu tidak ada dalam kamus Zaid.


Pria itu memutuskan dalam dirinya sendiri untuk bisa kembali berjuang. Tidak peduli berapa kali pun Sara menolaknya nanti, tetapi Zaid akan terus berusaha.


“Kali ini kamu boleh menolakku Sara, tetapi aku tidak akan menyerah. Aku akan kembali berjuang,” ucap pria itu dengan lirih sembari merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


Sementara bagi Sara sendiri, wanita itu pun tidak menyangka bahwa Zaid menyatakan perasaannya. Jujur saja Sara menjadi grogi saat mendengar pengakuan cinta dari Zaid. Namun apa daya, semuanya tidak seturut dengan keinginan hatinya. Oleh karena itulah, Sara merasa bahwa keputusannya menolak Zaid adalah sebuah keputusan yang tepat.


“Baru setengah tahun aku menjadi janda … semuanya terlalu cepat. Luka di hatiku belum sepenuhnya pulih. Aku masih harus berjuang untuk masa depanku dan Evan. Aku tidak ingin jatuh dalam perasaan semu, aku ingin fokus menjadi Ibu Susu bagi putraku terlebih dahulu,” ucap Sara dengan lirih.


Bagi mereka yang pernah gagal, apalagi terluka dan terjebak dalam masa lalu yang begitu pelik memang tidak mudah rasanya untuk kembali membuka lembaran baru. Sekali pun masa lalu tetap berada di tempatnya, berada di belakang kita, tetapi bayang-bayangnya selalu menghantui bahkan untuk tahun-tahun yang akan datang. Itu pun yang dirasakan Sara sekarang ini. Tidak ingin terjerat dalam perasaan semu karena masih banyak yang harus Sara perjuangkan untuk dirinya sendiri dan untuk Evan.


Komitmennya ingin terus memberikan ASIP bagi Evan begitu besar, sehingga Sara hanya cukup berkonsentrasi dengan bisnisnya dan Evan saja. Bahkan Sara masih rutin mengonsumsi suplemen pelancar ASI yang tinggi Asam Folat dan Omega 3 supaya kualitas ASI-nya tetap terjaga.


“Biarkan aku fokus dengan semua yang ingin kucapai dalam hidup ini. Aku tidak mau lagi menjalin hubungan dalam satu perasaan yang semu. Lagipula, setelah sekian lama menunggu seseorang, menunggu tanpa kepastian, rasanya aku tidak ingin lagi menjalin kasih,” gumam Sara dengan lirih.


Sara memilih menyimpan kantong-kantong ASIP ke dalam lemari es dan memilih merebahkan dirinya. Beristirahat dan esok dia akan kembali ke Coffee Bay. Berharap malam akan membuainya dalam mimpi, dan Tuhan berikan bunga tidur berupa sosok Evan yang akan menghiasi malamnya.


***


Keesokan Harinya …


Menjelang jam 09.00, Sara keluar dari kostnya dan berjalan menuju Coffee Bay. Jalan kaki menjadi rutinitas bagi Sara di pagi dan malam hari. Sebenarnya bisa saja Sara membeli sebuah mobil dengan type city car, hanya saja Sara lebih memilih berjalan. Dengan berjalan kaki, Sara bisa sedikit berolahraga mengencangkan sendinya dan melihat-lihat sekelilingnya.


Tidak sampai sepuluh menit, Sara sudah tiba di Coffee Bay miliknya. Sara tampak terkejut saat melihat mobil Zaid yang sudah terparkir di depan rukonya. Wanita itu pun memperlambat langkah kakinya, sungkan sebenarnya kembali bertemu Zaid setelah peristiwa semalam. Akan tetapi, yang terjadi sekarang ini … justru Zaid sudah menunggunya.

__ADS_1


Zaid sendiri melihat kedatangan Sara yang terlihat dari spion mobilnya pun terlahan keluar dari mobilnya, pria itu sudah memasang senyuman di wajahnya.


“Pagi Sara,” sapanya kepada Sara.


Bagi Sara sendiri justru terasa begitu aneh, karena Zaid merasa seolah-olah tidak ada yang terjadi dengannya. Biasanya orang yang usai ditolak akan melihat menyingkir dan tidak menemui orang tersebut untuk beberapa saat lamanya. Akan tetapi, Zaid nyatanya justru sudah memasang senyuman di wajahnya dan menyapa Sara pagi itu.


“Eh, Zai … kamu sudah di sini?” tanya Sara dengan sungkan.


Bahkan Sara memilih menunduk dan beberapa kali menghela nafas karena enggan menatap wajah Zaid secara langsung. Ada perasaan tidak enak karena semalam menolak pria itu.


“Tentu aku ada di sini … lagipula kafeku bisa berjalan tanpa diriku. Karyawanku bisa diandalkan,” balas Zaid.


Terkesan percaya diri memang, tetapi sebagai seorang pebisnis memiliki kepercayaan diri itu juga sangat penting.


Lantas Sara mengangkat pintu besi ke atas, dan nyatanya Zaid dengan sigap membantu Sara mengangkat pintu besi itu.


“Biar aku bantu,” ucap Zaid.


Tanpa ba bi bu, Zaid langsung mengangkat pintu besi dan menyodokkannya ke atas, kemudian menata banner berdiri yang bernama Coffee Bay dengan berbagai menunya di sana.


“Apa lagi yang mau dibantu?” tanya Zaid.


Faktanya memang begitulah Zaid. Pria itu begitu suka membantu, bahkan saat karyawan Sara kewalahan karena banjir orderan, Zaid tidak segan untuk turun tangan dan membantu para karyawan Sara.


“Eh, sudah Zai … sudah. Terima kasih,” sahut Sara.

__ADS_1


Rasanya begitu sungkan dan canggung. Mencoba bersikap biasa dan seolah tak terjadi apa-apa juga terasa berat bagi Sara.


“Sara, bisa aku minta waktu sebentar untuk berbicara?” tanya pria itu.


Akhirnya, Sara pun mengangguk dan mempersilakan pria itu untuk kembali berbicara.


“Iya, silakan saja,” balas Sara.


Zaid tampak menunduk, menyusun terlebih dahulu beberapa kalimat di otaknya dan berharap bisa mengucapkan kalimat itu dengan lancar. Hingga kemudian Zaid pun mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Sara.


“Begini Sara … aku tahu dengan keadaanmu dan masa lalumu. Hanya saja, aku tetap merasa bahwa aku masih bisa berjuang. Jadi, kamu bisa mengambil waktu sebanyak yang kamu mau dan aku terus berusaha dan berjuang untuk meyakinkanmu. Semalam mungkin aku ditolak, sapa tahu saat aku mau berjuang hingga titik darah penghabisan, kamu akhirnya berubah pikiran,” ucap Zaid.


Zaid merasa dirinya bukan pecundang yang menyerah begitu saja, ketika Sara menolaknya. Zaid benar-benar berpikir bahwa Sara harus melihat kesungguhan dan ketulusannya. Jika Sara sudah merasa yakin dengan dirinya, sapa tahu Sara akan berubah pikiran dan akhirnya menerima perasaannya.


“Jangan lakukan itu, Zaid,” respons Sara.


Bukan tanpa alasan. Dulu Sara pernah berada di posisi Zaid. Sara pernah berdiri dan hanya menunggu, sekian waktu lamanya nyatanya sama sekali perasaannya tak terbalas. Sara tidak ingin Zaid mengalami pahitnya terluka dan kecewa seperti dirinya.


Sekalipun Sara sudah memperingatkan, nyatanya Zaid justru menggelengkan kepalanya, “Tidak masalah Sara … aku akan menunggu. Kata orang menunggu itu membosankan. Namun, tidak akan terasa membosankan bagiku. Ini adalah keputusanku, Sara … biarkan aku berjuang dan berusaha keras. Aku akan buktikan bahwa aku tidak peduli dengan semua masa lalumu itu,” jelas Zaid dengan sungguh-sungguh.


“Sebaiknya jangan Zaid … masih banyak gadis di luar sana. Kejarlah mereka … perjuangankanlah mereka,” sahut Sara.


Zaid lantas menatap tajam wajah Sara, “Hati tidak pernah bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. Sama seperti hatiku yang nyatanya memilih untuk tertarik dan jatuh cinta padamu. Jadi, biarkan aku berjuang dengan diriku dan hatiku. Jika, sampai waktunya nanti dan kamu tidak membalas perasaanku tidak masalah. Seorang pria sejati, tidak akan kembali dari medan perang dengan menundukkan wajahnya. Ya, aku akan memberimu waktu dan aku akan terus berjuang Sara,” ucap Zaid dengan sungguh-sungguh.


Bagi Zaid tidak masalah jika Sara membutuhkan waktu sebanyak mungkin. Baginya dirinya akan terus berjuang, siapa tahu perjuangannya akan membuahkan hasil dan bisa menggetarkan hati Sara.

__ADS_1


__ADS_2