Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Tokophobia


__ADS_3

Selang sepekan berlalu, kehidupan rumah tangga Belva dengan Anin dan Sara juga berjalan pada tempatnya. Bahkan, Sara pun memenuhi janjinya untuk mengantar Anin ke psikolog untuk melakukan terapi untuk mengatasi Tokophobia yang dia derita.


"Ayo, Kak … aku akan mengantarmu terapi," ucap Sara yang kali ini sedang memanggil Anin.


Anin mengangguk, sebagaimana Sara sudah menerima tawarannya bulan madu, kali ini Anin pun mau untuk melakukan terapi.


"Bagaimana bulan madumu kemarin?" tanya Anin kali ini kepada Sara.


"Baik, Kak," jawab Sara pada akhirnya.


"Baik bagaimana apakah berhasil?" tanya Anin lagi kepada Sara. "Mungkinkah kalian sudah bersama?"

__ADS_1


Rasanya Anin begitu penasaran kepada Sara hingga menanyakan hal demikian. Hingga, akhirnya Sara hanya menganggukkan kepalanya secara pias.


Anin justru tertawa, "Bagaimana Belva?" sebuah kalimat pertanyaan yang ambigu.


Untuk itu, Sara pun memilih diam. "Sudah Kak, ayo kita turun dan segera melakukan sessi terapi," ucap Sara yang tentunya mengalihkan pembicaraannya dengan Anin.


Sungguh, pertanyaan yang Anin tanyakan tidak ingin dia jawab sama sekali. Apa untungnya mengungkapkan bagaimana Belva, toh sebagai seorang istri sudah pasti Anin pun juga sudah tahu bagaimana perangai Belva.


Kini, Sara dan Anin berada di dalam sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Ruangan itu terlihat asri dengan beberapa tanaman yang dibawa masuk ke dalam ruangan. Hingga muncullah seorang Psikolog yang bernama Dokter Astrid menyapa keduanya.


“Halo, Dok …” sahut Anin dan Sara bersamaan.

__ADS_1


“Yang ingin melakukan sessi konsultasi Ibu Anin kan ya? Bisa diceritakan terlebih dahulu apa permasalahannya?” tanya Dokter Astrid.


Anin pun mengangguk, “Benar Dok … beberapa tahun yang lalu saya mengidap Tokophobia,” jelas Anin kepada Dokter Astrid.


“Bagaimana bisa mengalami Tokophobia, Bu?” tanya Dokter Astrid kepada Anin.


“Berawal dari Endometriosis yang saya idap, rasa sakit tiap kali datang bulan, hingga saya pernah memiliki seorang teman yang meninggal saat melahirkan. Sejak itu, saya berpikir bahwa melahirkan itu sangat sakit dan saya menjadi sangat ketakutan,” cerita Anin kali ini.


“Tokophobia adalah ketakutan di mana seseorang memiliki ketakutan berlebih untuk hamil dan melahirkan. Rasa takut itu yang membuat seorang Ibu tidak mau untuk mengandung dan melahirkan. Sebuah penelitian juga mengatakan bahwa 20-78% wanita mengalami ketakutan bersalin. Akan tetapi, hanya ada sebanyak 13% saja yang mengalami ketakutan berlebihan hingga menghindari kehamilan. Dengan demikian apakah Bu Anin juga menghindari kehamilan?” tanya Dokter Astrid yang menjelaskan tentang Tokophobia sekaligus menanyakan sebuah pertanyaan kepada Anin.


Anin menggigit bibirnya, “Ah, saya selain takut hamil dan melahirkan, tetapi Dokter juga memvonis bahwa saya tidak bisa mengandung. Endometriosis saya sudah kronik hingga menyebabkan nyeri panggul, sakit setiap kali berhubungan, dan terakhir saya tidak bisa mengandung. Periode menstruasi saya pun bisa sampai dua minggu lamanya, dan itu terasa sangat menyakitkan” cerita Anin kali ini.

__ADS_1


Kali pertama, Anin menjalankan sessi konseling terapi seperti ini. Rasanya lega, bisa menyampaikan dan menceritakan apa yang selama ini dia alami. Hanya saja, di waktu bersamaan Anin terlihat menyedihkan dengan sakit yang dia alami.


Sara yang mendengarkan sessi konsultasi Anin pun terasa sesak. Tidak mengira jika dirinya berada di posisi Anin, belum mungkin Sara bisa menjalani semuanya bahwa mengikhlaskan suaminya sendiri untuk menyewa rahim.


__ADS_2