Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Selamat Tinggal


__ADS_3

Semalaman mungkin akan menjadi momen yang tak akan dilupakan Sara. Bagaimana pria yang membuat perasaannya kalut dan resah kembali menggumulinya. Akan tetapi, air mata yang sama-sama mereka teteskan terasa seperti luapan perasaan yang tak terungkap.


Bahkan semalam Belva dengan sengaja bermalam di kamar Sara. Sepanjang malam, pria itu memeluk tubuh Sara dengan dekapannya yang hangat. Kendati Sara tak bergeming, tetapi Sara hanya merasa mungkin ini kali terakhir. Memberikan hak kepada suaminya, karena usai semuanya ini berakhir Sara akan benar-benar meninggalkan Belva.


Keesokan harinya, pagi hari Sara telah berkemas. Semua barang telah dimasukkan ke dalam koper. Perlahan kedua bola mata mengedar melihat setiap sisi kamar itu, menghela nafasnya yang terasa berat dan air matanya yang seakan telah tertahan di sudut matanya.


Usai semuanya, Sara turun dari kamarnya. Wanita itu berpamitan dengan Bibi Wati.


"Bibi, Sara pamit yah … Sara akan pergi dari sini," katanya dengan memeluk Bibi Wati.


Asisten Rumah Tangga yang begitu baik kepada Sara itu tak mengira bahwa Sara akan pergi dari kediaman Belva.


"Loh, Mbak Sara mau kemana? Kenapa tidak di sini saja? Kasihan Evan nanti," sahut Bibi Wati.


Jika berbicara mengenai Evan, sudah pasti hati seorang Ibu akan begitu lemah dan hancur. Hanya saja, Sara sudah memiliki pertimbangannya sendiri.


"Evan akan tumbuh sehat dan bahagia bersama Papa dan Mamanya, Bi," sahut Sara.


Bibi Wati pun meneteskan air matanya, "Baiklah Mbak Sara … hati-hati ya Mbak Sara. Bibi doakan di mana pun Mbak Sara berada Mbak Sara akan selalu sehat, murah rejekinya, panjang umurnya. Bibi sedih sekali Mbak Sara pergi dari sini," ucap Bibi Wati.


Sara pun mengangguk, "Makasih Bi … Sara juga berdoa supaya Bibi sehat selalu ya, Bi," pamit Sara.


Rupanya di ruang tamu Belva dan Anin sudah berdiri di sana dengan menggendong Evan. Anin terlihat meneteskan air matanya.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Anin lagi.


Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya Kak … aku akan pergi dari sini," balas Sara.


"Tidak bisakah kamu tetap tinggal, Sara?" tanya Anin. Ya, dalam hatinya Anin hanya ingin supaya Sara berubah pikiran.


Tangisan Sara pecah juga. Tidak mengira hari yang benar-benar pilu ini akan tiba. Wanita itu terisak dengan menutup wajahnya dengan satu tangannya.


"Aku akan pergi, Kak … aku serahkan Evan kepadamu," balas Sara.


Kedua tangan Sara terulur dan hendak menggendong Evan sejenak.


"Evan, putranya Bunda… tumbuhlah menjadi anak yang sehat dan bahagia ya. Maafkan Bunda karena sekarang Bunda harus pergi. Bunda boleh pergi dari sisimu, tetapi kasih sayang tetap untukmu sepanjang masa. Maafkan Bunda, Nak. Sehat-sehat bersama Mama dan Papa kamu ya Evanku," pamit Sara kepada bayinya.


Suaranya beriringan dengan tangisan dan isakan yang terdengar begitu pilu. Sara menggendong Evan dengan air matanya yang terus berderai dan menciumi wajah Evan di sana.


Usai menggendong Evan, Sara menyerahkan kembali bayinya kepada Anin.

__ADS_1


"Kak, aku serahkan Evan kepadamu ya Kak. Suatu hari tolong katakan kepadanya kalau aku begitu menyayanginya," ucap Sara.


Anin pun menerima Evan dalam gendongannya dengan menangis.


"Iya Sara, saat Evan mulai besar nanti, aku akan mengatakan kepadanya bahwa Bundanya sangat menyayanginya. Lain waktu, datanglah kemari dan tengoklah Evan, rumah ini akan selalu terbuka untukmu," balas Anin.


"Iya Kak, makasih banyak sudah menerimaku," sahut Sara.


Usai itu, Sara mengulurkan tangannya kepada Belva, tetapi pria itu segera merengkuh tubuh Sara yang bergetar ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh Sara dan mengusapi punggungnya perlahan.


"Aku pamit Pak Belva … kuserahkan Evan, kepadamu," ucap Sara dengan tergugu pilu.


Dadanya terasa begitu sesak, air matanya tak bisa terbendung lagi. Kalimat perpisahan yang akhirnya Sara ucapkan.


Belva pun mengangguk, "Hati-hatilah Sara … ayo, aku mengantarmu," balas Belva.


Sebelum keluar dari rumah, Sara kembali mencium Evan. Air matanya kembali berderai.


"Selamat tinggal Evan," ucapnya.


Setelah itu Sara memalingkan wajahnya, memegangi dadanya yang terasa sesak dan dia masih menangis sesegukan. Sangat berat rasanya. Sekalipun, hatinya meronta-ronta, tetapi ini adalah keputusannya sendiri.


Di belakangnya Belva berjalan dengan mendorongkan koper milik Sara. Pria itu lantas mengikuti Sara yang berjalan beberapa langkah di depannya.


"Ke stasiun saja, Pak," balas Sara.


Belva lantas memasukkan koper-koper Sara ke dalam bagasi mobilnya. Belva membukakan pintu co-driver untuk Sara, "Ayo, masuklah," kata Belva.


Sara mengangguk dan mulai memasuki mobil mewah milik Belva. Wanita itu memejamkan matanya dengan menyeka air matanya. Belva kemudian mengitari mobilnya dan segera memasuki kursi kemudi.


Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama diam dan Belva benar-benar menurunkan Sara di stasiun.


"Sara, boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" ucap Belva.


"Apa Pak?" sahut Sara.


"Please, jangan pernah kembali bekerja di bar lagi. Aku tidak ingin kamu berurusan dengan Anthony lagi. Jangan ganti nomormu Sara," pinta Belva.


Sara hanya menganggukkan kepalanya, tetapi tidak menjawabnya. Lagipula, dalam hatinya sudah pasti bahwa Sara tidak akan kembali ke bar dan bekerja hingga tengah malam di sana. Sara akan mencoba untuk menata hidupnya dengan lebih baik lagi. Sara sadar bahwa bekerja di bar sangat berbahaya untuk keselamatannya.


Hingga akhirnya, mobil yang dilajukan oleh Belva sampai di stasiun di pusat Ibukota. Sebelum Sara keluar dari mobilnya, Belva menahan pintu Sara.

__ADS_1


“Kamu tidak ingin menyampaikan apa-apa?” tanya Belva.


“Tidak Pak, terima kasih untuk semuanya,” balas Sara.


Ya, Sara pikir sudah tidak ada lagi yang ingin dia sampaikan kepada pria itu. Semua sudah dia sampaikan kepada Anin tadi. Lagipula, bukankah tadi Belva juga sudah mendengarnya?


Belva lantas menatap wajah Sara, terlihat rahang pria itu yang mengeras, helaan nafas yang berat juga terdengar beberapa kali dari hidung dan mulut Belva.


“Kenapa kamu justru pergi Sara? Bagaimana Evan akan tumbuh?” tanya Belva.


Jujur saja dalam hatinya, perasaan Belva begitu gamang. Yang dia pikirkan sekarang ini tentu adalah Evan.


“Evan akan tumbuh dengan baik, sehat, dan bagaimana karena kamu dan Kak Anin akan merawatnya dengan baik. Terima kasih banyak Pak Belva. Aku boleh pergi?” tanya Sara sekarang.


Belva lagi-lagi menghela nafasnya dan memeluk Sara, “Biar aku memelukmu untuk kali terakhir Sara … ingatlah, kamu memiliki aku, Anin, dan juga Evan. Jangan merasa sendiri. Jika ada apa-apa, hubungilah aku. Seringlah mengunjungi Evan, bagaimanapun juga kamu adalah Bundanya,” ucap Belva.


Nyaris saja air mata Sara akan kembali tumpah, tetapi sebisa mungkin, sekuat tenaga Sara mencoba menahannya. Tidak membiarkan air matanya menetes sekarang ini. Kendati demikian, Sara menganggukkan kepalanya secara samar.


“Baik Pak Belva, aku pamit. Dalam dua minggu sekali aku akan mengirimkan ASIP ke rumahmu untuk Evan,” balas Sara.


Ya, sekalipun dia berada jauh nantinya, tetapi ASIP bisa dia kirimkan dalam rentang 1x24 jam yang disimpan dalam ice cooler. Sekalipun dia jauh, Evan akan tetap mendapatkan ASIP eksklusif darinya. Sara sudah berkomitmen akan terus mengirimkan ASI-nya, hingga Evan berusia 2 tahun. Semoga saja tanpa peristaltik alami dari mulut dan lidah bayi, ASI-nya bisa bertahan dan terus keluar hingga Evan berusia 2 tahun nanti.


Usai mengatakan itu, Sara mengurai pelukan Belva. Wanita itu keluar dari mobil mewah Belva Agastya, dan juga membawa beberapa koper miliknya. Sara mulai berjalan dengan mendorong koper di tangannya.


Baru beberapa langkah Sara berjalan, Belva sudah kembali memanggil nama Sara.


“Sara … sampai jumpa lagi,” ucap pria itu.


Refleks, seketika Sara menoleh. Ya, wanita itu kini bisa melihat Belva yang tengah melambaikan tangan kepadanya. Sara menganggukkan kepalanya, dan terus berjalan.


“Selamat tinggal Pak Belva … selamat tinggal cinta pertamaku. Sekalipun aku hanya memilikimu sementara waktu dalam kurun waktu 12 bulan, terima kasih sudah singgah sesaat di hidupku. Selamat tinggal Pak Belva, dan ku harap kita tidak akan bertemu lagi,” Sara berkata dengan hatinya sendiri. Sekali-kali dia tidak akan menengok lagi ke belakang. Sebab, melihat Belva yang ada di belakangnya sudah pasti akan melemahkan hatinya.


Selamat tinggal Pak Belva ….


Selamat tinggal Cinta Pertamaku ….


Selamat tinggal Papa dari putra kandungku ….


Kita telah bertemu dan kita telah berpisah ….


Terima kasih untuk persinggahan selama 12 bulan ini.

__ADS_1


Selamat tinggal Suami yang tak pernah bisa ku gapai ….


__ADS_2