
“Pak … jangan seperti ini,” ucap Sara saat merasakan bagaimana Belva menyandarkan kepalanya di punggungnya. Sementara tangan pria itu melingkari pinggang hingga perutnya.
Akan tetapi, Belva seakan abai. “Biarkan seperti ini dulu, Sara,” sahut pria itu.
Sara mencoba bertahan dengan diam. Wanita itu kembali fokus dengan pompa ASI miliknya. Botol ASI itu sudah terisi hampir separuh, seperti miliknya masih mengeluarkan ASI, oleh karena itu Sara masih harus menunggu sampai sumber ASI nya kosong. Setelahnya, dia akan memompa bagian satunya.
Beberapa menit berlalu, dan sekarang botol ASI itu terisi kurang lebih 150 ml ASIP. Setelahnya, Sara membersihkan miliknya dan menuang ASIP itu ke dalam kantong ASIP. Membubuhkan tanggal dan jam waktu dia pumping.
Setelahnya, Sara mulai akan mempumping bagian satunya. Sembari menghela nafasnya, Sara mengeluarkan miliknya dan mulai memasangkan pompa ASI di sana. Akan tetapi, sebelum pompa itu berhasil dipasang, tangan Belva bergerak dan mengenai buah persiknya yang ranum.
“Pak Belva,” ucap Sara dengan mendengkus kesal.
Rupanya Belva tidak bertindak macam-macam, gerakan tangannya tadi murni hanya sebatas refleks.
“Sorry Sara, refleks,” ucap pria itu dengan masih menaruh kepalanya di punggung Sara.
“Sengaja pun, aku juga tidak tahu,” sahut Sara.
Terasa hembusan nafas hangat Belva yang mengenai tengkuk Sara, menghadirkan rasa aneh pada diri Sara. Kemudian Belva yang semula memejamkan matanya, perlahan matanya pun terbuka, “Kalau sengaja, tidak perlu juga aku bersembunyi di balik punggungmu,” jawab pria itu.
__ADS_1
Entah hanya Sara yang merasa, tetapi suara Belva terdengar sedikit serak dan dalam. Mendengar suara Belva, membuat Sara terpikirkan geraman pria itu dulu. Merasa pikirannya sedang tidak jernih, dengan cepat Sara harus membuang jauh-jauh pikirannya. Sara memilih diam dan melanjutkan pumpingnya. Lebih cepat lebih baik.
Hampir sepuluh menit berlalu, Sara telah selesai melakukan pumping dan menyimpan hasil pumpingnya di kantong ASIP.
“Sudah Pak, aku harus mencuci alat pumping ini dan mensterilnya dengan air panas,” ucap Sara. Isyarat supaya Belva segera mengurai tangannya yang masih di pinggangnya.
Akan tetapi, mendengar Sara yang sudah selesai. Tangan Belva memang terurai dari pinggang Sara. Akan tetapi, tangan itu justru membelai dengan lembut dari telapak tangan Sara, naik ke siku, hingga ke lengan. Belaian perlahan yang membuat Sara meremang.
“Pak Belva, please Pak,” ucap Sara pada akhirnya meminta pria itu menghentikan tindakannya yang begitu impulsif.
Bukan berhenti, nyatanya Belva justru mengecup tengkuk Sara. Tubuh Sara pun rasanya tersengat menerima kecupan dari bibir Belva di tengkuknya.
“Aku wanita yang baru saja melahirkan Pak Belva,” ucap Sara pada akhirnya. Bentuk respons bahwa baru sepakan Sara melahirkan dan dirinya masih berada di masa nifasnya.
“Aku tahu, kamu tidak bisa disentuh,” sahut Belva.
Pria itu perlahan membalik tubuh Sara, membuat wanita itu berhadap-hadapan dengannya. Tanpa permisi, ibu jari dan jari telunjuk Belva bergerak dan mencapit dagu Sara. Pria itu melabuhkan bibirnya tepat di atas bibir Sara. Mengecupi bibir itu perlahan, menyesap dua belah lipatan bibirnya, dan memagutnya lembut.
Benar-benar tindakan impulsif yang dilakukan oleh Belva malam itu. Biasanya pria itu hanya sekadar memeluk Sara atau melabuhkan kecupan hangat di kening Sara. Akan tetapi, sekarang ini pria itu mencium bibir Sara.
__ADS_1
Tangan Sara bergerak dan mendorong dada pria itu, “Stop, Pak Belva … jangan seperti ini,” ucap Sara dengan mengikis wajahnya.
Merasa bahwa Sara menolak, Belva memegangi kedua tangan Sara. Pria itu menatap wajah Sara dengan begitu lekatnya, “Sara, i care you. Sangat, sangat peduli padamu,” ucap Belva.
Akan tetapi, pada Sara yang dia inginkan bukan sekadar ucapan peduli dan terima kasih. Dirinya butuh satu kata yang membuatnya yakin dan bisa memberi arti untuk semua sikap Belva kepadanya selama ini.
Satu kata yang cukup bagi Sara untuk tahu perasaan apa yang sesungguhnya dimiliki Belva kepadanya. Lagipula, dirinya adalah seorang wanita dan butuh kepastian, butuh pengakuan, tidak ingin menerka-nerka sendiri dan memberi arti dari sebuah hubungan yang telah terjadi antara dirinya dengan Belva.
“So please, may i kiss you? just a kiss, not anymore,” ucap Belva.
Rupanya pria itu kali ini meminta untuk bisa mencium Sara. Ya, hanya sekadar ciuman tidak akan lebih.
Belum sampai Sara menjawab, Belva sudah kembali melahap bibir Sara. Kali ini dengan ciuman yang memburu. Pria itu sedikit menelengkan wajahnya, menyesap lipatan bibir bawah milik Sara, menjulurkan sedikit ujung lidahnya untuk benar-benar menyapu bibir Sara yang manis. Lantas Belva menelengkan sedikit wajahnya, menahan tengkuk Sara untuk memperdalam ciumannya.
Bibir itu menari-nari di atas bibir Sara, lidahnya menelusup untuk masuk dan merasai kehangatan rongga mulut Sara. Usapan bibir dan lidah Belva rasanya membuat Sara benar-benar menahan sesak di dada.
Lidah Belva yang basah dan hangat, tak henti-hentinya memberikan buaian terhadap bibir Sara. Ya, lidah itu melakukan penjelejahannya di dalam sana. Membuat Sara limbung, tangannya terasa dingin, tak mampu untuk terlepas dari Belva saat ini.
Dorongan apa yang membuat Belva seakan begitu bergelora hingga pria itu malam ini meminta untuk bisa menciumnya. Di sisa-sisa nafas yang mereka hirup kian menipis, Belva kemudian membawa bibirnya sesaat menjauh dari bibir Sara, tetapi bibir yang hangat dan basah itu, justru mengecupi leher Sara. Memberikan usapan dan sapuan yang hangat dan basah di sana.
__ADS_1
Di batas pertahanan yang dia miliki, Belva kemudian merengkuh tubuh Sara dalam pelukannya. Memeluk tubuh wanita itu dengan begitu eratnya, “I care you, Sara … sangat mempedulikanmu,” ucap pria itu dengan merengkuh tubuh Sara dengan begitu eratnya.