
Tidak terasa waktu telah berjalan hampir enam bulan lamanya. Malam ini, usai pulang dari Coffee Bay, Sara memilih berbaring dan menatap foto-foto Evan yang memenuhi galeri ponselnya. Tidak dipungkiri, saat sendiri seperti ini, rasaya Sara kian merindukan Evan. Membayangkan bagaimana tumbuh kembang putranya itu. Bahkan Sara sendiri mengunduh aplikasi tumbuh kembang bayi dan sekadar untuk memberitahu dirinya sendiri perkiraan tumbuh kembang Evan.
“Hai, putranya Bunda … kamu sekarang sudah 8 bulan yah? Itu, artinya sudah 6 bulan lamanya Bunda keluar dari rumah Papamu. Evan sekarang sudah bisa apa? Bisa tidur miring, belajar duduk, belajar tengkurap, atau apa Evannya Bunda? Setiap kali mengingat kamu, hati Bunda rasanya begitu sakit, Van … maafkan Bunda. Bunda bukan Ibu yang baik bagi kamu. Akan tetapi, satu kepercayaan Bunda bahwa kamu akan selalu sehat di sana, Evan … kamu benar-benar melengkapi dan memberi kebahagiaan untuk keluarga Agastya,” gumam Sara dengan begitu lirih.
Faktanya memang demikian, Evan adalah anak keluarga Agastya, di dalam tubuhnya mengalir darah Belva Agastya, sehingga sudah pasti bahwa bayi kecil itu melengkapi dan memberikan kebahagiaan untuk keluarga Agastya. Sementara bagi Sara sendiri, rasanya tiba-tiba hatinya terasa lebih sedih.
Bukan karena teringat kepada Belva, tetapi dia bersedih karena melewati setiap masa tumbuh kembang Evan. Seribu hari pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas di mana seorang anak tumbuh optimal, mencapai setiap tahap tumbuh kembangnya. Akan tetapi, Sara sebagai seorang Ibu nyatanya justru melewatkan periode emas kehidupan putranya.
Milestone Evan mulai bayi kecil itu bisa tidur dengan posisi miring, tummy time (tengkurap), babbling (mengoceh dengan suara khas bayi), belajar duduk, MPASI (makanan pendamping ASI) pertamanya, dan tumbuh kembang lainnya terlewatkan oleh Sara. Ada rasa bersedih dan penyesalan yang begitu dalam bagi Sara.
“Coba Bunda bayangkan ya Evan … MPASI pertamamu, pasti Mama Anin membuatkan pure buah untukmu yah? Evan suka buah apa Alpukat, Pisang, Pepaya, atau Apel? Evan makan MPASI yang banyak ya biar sehat dan semakin gemoy. Lalu, kamu sudah bisa belajar duduk kan Nak? Huhh, Bunda sangat sedih karena tidak bisa melihat semuanya itu. Andai Bunda berada di sana dan mengasuhmu setiap hari ya Nak … sayangnya, Bunda memilih untuk menyerahkan kamu sepenuhya kepada Mama Anin dan Papa Belva,” ucap Sara lagi.
Beberapa lama memandangi foto-foto Evan nyatanya air mata Sara berlinang dengan sendirinya. Kerinduan di dalam hatinya serasa tak tertahan. Wanita itu kini justru terisak dengan memeluk foto Evan yang sudah dia cetak dan tempatkan di nakas sisi tempat tidurnya.
Hiks!
“Maafkan Bunda, Evan … maafkan Bunda. Ini semua adalah salah Bunda. Sewa menyewa rahim yang berujung pilu karena Bunda harus ikhlas kehilanganmu. Kita hanya berbeda kota saja Evan, tetapi Bunda tidak bisa menemuimu. Hanya satu jam perjalanan dengan menaiki Kereta Rel Listrik, tetapi Bunda tidak bisa menggapaimu. Sehat-sehat dan selalu bahagia ya Putraku. Evannya Bunda … sampai kapan pun, Bunda akan selalu menyayangimu,” ucap Sara dengan terisak pilu.
Merasa begitu kangen dengan Evan, bahkan tanpa Sara sadari sepanjang malam Sara meringkuk dalam tidurnya dengan memeluk foto Evan di dalam pelukannya. Tidak terasa pagi pun menjelang. Suara alarm dari handphone milik Sara yang membangunkan Sara pagi itu.
__ADS_1
Perlahan Sara pun mengerjap, mengucek perlahan matanya, dan juga menguap. Setelahnya, Sara memandang pigura foto Evan yang masih berada di dalam pelukannya.
“Selamat pagi putranya Bunda …,” sapa Sara. Wanita itu membayangkan bahwa Evan ada berada di dekatnya. Tidak peduli tiap kali Sara memandang foto itu, pastilah Sara akan menyapa putranya itu.
Begitu bangun tidur, Sara memilih menampung ASI-nya terlebih dahulu. Mengosongkan sumber ASI miliknya. Wanita itu nyatanya kembali murung.
“Semoga saja setiap kantong ASIP ini bisa menjadi perantara bahwa Bunda sangat menyayangimu, Evan … semua nutrisi dalam ASIP ini sangat bagus untuk tumbuh kembangmu. Bunda memang melewatkan setiap milestone (pencapaian) yang kamu lalui. Akan tetapi, Bunda selalu mengirimkan sumber kehidupan untukmu akan kamu sehat, nutrisimu terpenuhi, dan kamu memiliki sistem imunitas di badan kamu sehingga kamu tidak mudah sakit. I am always missing you and loving you, Evan,” ucap Sara dengan lirih.
Setelahnya, Sara memilih membersihkan badannya. Mengguyur badannya di bawah air shower dan bersiap untuk berangkat ke Coffee Bay. Sudah beberapa bulan berlalu dan bisnis Coffee shopnya pun cukup bagus. Dari segi pendapatan, respons pelanggan, bahwa karyawannya bekerja dengan sangat baik. Sara berpikir bahwa ini adalah cara Tuhan untuk mengobati hatinya dan mengisi kekosongan dalam hatinya.
Hingga akhirnya, Sara berjalan dari tempat kost menuju Coffee shopnya yang jaraknya hanya belasan meter saja. Sembari berjalan kaki, Sara mengamati area di tempat itu yang pagi hari saja sudah begitu ramai. Mungkin karena berdiri di area yang ramai dan sibuk, sehingga Coffee Bay tergolong ramai dan stabil tiap harinya.
“Pagi-pagi udah rajin amat sih Mbak,” terdengar suara pria yang mengejutkan Sara pagi itu.
“Zai, kamu …,” balasnya.
Zaid pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Aku sudah memarkirkan mobilku di depan Coffee Bay, tetapi masih tutup. Ya sudah, aku beli makan dulu buat sarapan. Mau sarapan bersama?” tawar Zaid.
Rupanya pria itu baru saja menuju tempat penjual Bubur Ayam, dan Zaid mengangkat kantong plastik di tangannya yang berisi dua kotak styrofoam berwarna putih. Dan ini bukan kali pertama Zaid datang dengan berinisiatif mengajak Sara untuk Sara.
__ADS_1
“Makasih Zaid … hanya saja aku belum lapar,” sahut Sara.
Ya, usai semalam dirinya begitu merindukan Evan. Bahkan, pagi hari ini pun Sara bangun dengan kembali berlinangan air mata saat melakukan pumping. Agaknya mood Sara hari ini kurang baik, sehingga Sara merasa tidak berselera makan.
Zaid sendiri seakan tak putus asa. Pria itu tetap berjalan di sisi Sara dengan menjinjing kantong plastik di tangannya, mengekori Sara hingga masuk ke dalam Coffee Bay. Zaid lantas menaruh kantong plastik itu di atas meja.
“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanya Zaid yang kini berdiri di depan meja kasir dan memperhatikan Sara yang sedang mempersiapkan berbagai hal sebelum kedatangan karyawannya.
“Enggak … aku baik-baik saja,” sahut Sara.
Bukan maksud Sara untuk menunjukkan moodnya yang memang kurang bersemangat hari ini. Hanya saja, Sara memang tengah begitu merindukan putranya.
Perlahan Zaid pun menghela nafasnya dan menatap Sara, “Tidak mungkin kamu seperti ini dengan tiba-tiba. Pasti ada penyebabnya. Tidak mau cerita?” tanya Zaid pada akhirnya.
Menghiraukan ucapan Zaid, Sara memilih kembali bersiap dan mengecek semuanya sudah siap dan nanti Coffee Bay tinggal dibuka. Sara lantas memaksakan dirinya untuk tersenyum.
“Tidak apa-apa, Zaid … sarapanlah terlebih dahulu. Aku akan menyelesaikan ini semua terlebih dahulu,” ucap Sara.
Zaid merasa memang Sara adalah wanita yang tertutup, dan tidak ingin lagi menekan Sara, akhirnya Zaid pun mengangguk dan berjalan mundur.
__ADS_1
“Baiklah Sara … hanya saja, tidak semua harus kamu tanggung sendirian, kamu bisa bercerita kepadaku,” ucap Zaid.
Sara memilih mengangguk dan tersenyum. Wanita itu tahu pasti apa yang membuatnya seperti ini. Akan tetapi, untuk saat ini Sara tidak bisa bercerita kepada siapa pun termasuk Zaid mengetahui perasaannya dan rindunya yang teramat dalam bagi Evan. Biarlah dirinya sendiri yang menanggungnya.