Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Keluarga Cemara


__ADS_3

Sore hari yang damai dengan Evan yang kini bermain dengan Papa Belva, sementara Elkan bermain dengan mengoceh khas suara bayi dengan Mama Sara. Sungguh, keluarga itu terlihat layaknya keluarga cemara. Di mana Papa, Mama, dan anak-anaknya bermain dengan begitu bahagia. Bahkan saat menemani Evan bermain, sering kali Belva melirik ke Sara. Pria itu berpikir bagaimana bisa istrinya itu begitu aktif, bersemangat, dan ceria untuk mengasuh anak-anaknya.


Sampai malam mereka bermain, tetapi menjelang jam 20.00, sebagaimana jam rutin yang sudah ditetapkan untuk tidur bagi Evan dan Elkan, Belva dan Sara pun segera masuk ke dalam kamar dan menidurkan anak-anaknya. Kali ini Evan meminta didongengkan oleh Papanya, sementara Sara menidurkan Elkan dengan memberikannya ASI. Mungkin karena kecapekan bermain sejak sore, tidak membutuhkan waktu lama, Evan dan Elkan pun sudah tertidur.


Ketika anak-anak tidur, waktu bisa dimanfaatkan oleh Sara dan Belva untuk mengobrol, menikmati camilan, pacaran lagi, atau bercinta. Namun kali ini, ada yang berbeda. Sebab, Belva mengajak Sara untuk duduk bersama di tepi kolam renang. Menurut Belva, angin malam ini tidak terlalu dingin. Juga, mencari suasana baru yang bisa kini menumbuhkan keharmonisan dalam berumahtangga.


“Kiddos seharian rewel enggak?” tanya Belva kepada istrinya itu.


Sara pun yang duduk di tepi kolam renang, perlahan mulai memasukkan kakinya ke dalam kolam. Menggerakkan kakinya, hingga air di dalam kolam itu beriak karena gerakan kaki Sara. Kemudian Sara menoleh dan menyipitkan matanya kepada suaminya itu.


“Sekarang yang ditanyain duluan dua Kiddos. Mana pernah nanyain Mamanya Kiddos duluan,” balas Sara.


Belva tersenyum, pria itu segera merangkul bahu Sara dan mendaratkan kecupan berkali-kali di bibir istrinya yang tengah manyun itu. Begitu gemas rasanya dengan istrinya itu.


Chup! Chup! Chup!


“Kamu bikin aku gemas banget sih. Jadi, cerita cemburu nih sama Duo E?” tanya Belva kemudian.


Sara menggelengkan kepalanya, bukannya dia bersifat kekanak-kanakkan. Hanya saja, ada kalanya dia juga ingin mendapatkan perhatian dari suaminya.


“Bukan cemburu … kan sekali-kali yang ditanyain Istrinya dulu kan gak apa-apa,” balas Sara.


Belva tersenyum, dia segera membawa tangan istrinya itu, menggenggamnya erat. “Sini Sayang … kamu seharian ini ngapain aja? Aku kangen banget loh sama kamu,” balas Belva kemudian.


“Bohong,” sahut Sara dengan cepat.

__ADS_1


“Tuh, kalau aku jawabnya jujur, kamu bilangnya kamu berbohong. Padahal aku bilang yang sesungguhnya.  Terus aku harus gimana biar kamu percaya sama aku?” tanya Belva kini kepada istrinya itu.


Sara mengedikkan bahunya, kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Memilih diam, menikmati terpaan angin malam, dengan kaki yang berendam di dalam kolam. Hanya duduk berdua seperti ini saja, rasanya sudah begitu romantis.


“Mas, tuh tadi Kakak Evan minta adik cewek,” ucap Sara pada akhirnya kepada suaminya.


“Boleh, yuk … sekarang?” tanya Belva.


Rupanya pria itu memiliki semangat 45, sampai mendengar ucapan istrinya rasanya ingin segera eksekusi dan mengabulkan permintaan putra sulungnya itu.


“Jangan Mas, Elkan masih ASI. Kasihan nanti kalau aku hamil harus lepas ASI. Terus, katanya kalau Caesar kan jaraknya harus 3 tahun. Kalau sebelum tiga tahun dan aku sudah hamil lagi emang tidak masalah?” tanyanya kepada Belva.


“Ya kan buat dulu saja Sayang … hasilnya kan belakangan. Usaha dulu, hasilnya menunggu diberi sama Tuhan,” balas Belva dengan tersenyum dan mengedipkan satu matanya.


“Ihh, genit deh pakai kedip-kedip gitu. Tidak mengira, kamu bisa genit juga ya Mas. Ah, kalau mengingat kamu dulu yang dingin, tidak banyak bicara, sekarang bisa jadi kayak gini itu keajaiban,” balas Sara dengan terkekeh geli.


“Hmm, suka semuanya sih … baik dulu maupun sekarang, aku sama-sama suka sih. Cuman, lebih suka yang sekarang. Kamu yang sekarang itu pria yang hangat, pria yang perhatian, luar biasa deh,” balas Sara.


Belva pun tersenyum, dalam hatinya dia senang mendengarkan perkataan istrinya yang tengah menilainya itu. Sungguh, Belva tidak merasa keberatan, tetapi Belva sangat senang karena penilaian dari istrinya itu sangat berarti untuknya.


“Asalkan kamu senang … aku juga senang, Sayang. Sini, pacaran dulu kita Sayang. Menikmati waktu di saat anak-anak baru tidur,” ucap Belva.


“Kamu bisa aja sih Mas … tiap malam kan juga pacaran. Mulai dari nonton film, ngobrol sambil makan camilan, kadang juga melakukan hal yang lain,” balas Sara.


“Hal lain apa? Bisa diperjelas? Sesekali bicara terus terang enggak apa-apa kok,” balas Belva.

__ADS_1


“Ya itu … hal-hal yang kayak gitu,” balas Sara dengan menundukkan wajahnya.


“Kayak gitu gimana?” tanya Belva lagi.


Sara menggelengkan kepalanya, terlalu malu untuk mengucapkan hal-hal yang dilakukan mereka untuk melepaskan berbagai hormon pemicu stress dan merasakan efek dari hormon dophamine yang membuat keduanya melayang-layang, merasakan terpaan gelombang dan benar-benar luar biasa.


“Bercinta?” tanya Belva dengan berbisik lirih di telinga Sara.


Ya Tuhan, hanya sekadar mendengar ucapan suaminya saja. Sara sudah begitu malu. Grogi justru seperti ini dengan suaminya.


“Bulan madu ketiga yuk Sayang … pengen seharian gitu sama kamu tanpa ada yang mengganggu,” ucap Belva.


Hasratnya sebagai seorang pria terkadang menginginkan menikmati rasa bulan madu tanpa ada gangguan sama sekali. Namun, mengingat Evan dan Elkan, rasanya hal itu tidak mungkin. Belva pun sepenuhnya tahu bahwa Sara juga akan menolaknya.


“Sekarang … sudah tidak bisa, Mas. Ada Kiddos yang harus diasuh dan diurus. Maaf,” balas Sara.


“Iya enggak apa-apa … aku juga tahu. Sudah ada Duo E. Hanya saja, kadang pengen ngurung kamu seharian di dalam kamar. Ah, kapan bisa enak-enak seharian,” ucap Belva lagi.


“Nanti kalau anak-anak sudah besar … kita akan punya banyak waktu,” balas Sara dengan terkekeh geli.


Ketika anak-anak masih kecil, orang tua memang harus menyesuaikan diri dengan anak-anaknya mereka. Hal-hal yang dulu dilakukan dengan leluasa, ketika sudah ada anak, semuanya tentu akan berubah. Tidak salah menginginkan sesuatu, tetapi memang terkadang harus menahan diri. Sebab, tidak semua keinginan dan kemauan akan terjawab dan terkabul dengan cepat.


“Iya-iya … aku sabar kok. Cuma, kayaknya aku setuju kalau kamu hamil lagi Sayang … sekalian capeknya. Bukannya membuatmu sebagai tempat produksi anak, hanya saja mumpung kamu masih muda, masih usia produktif untuk hamil dan melahirkan. Tambah satu saja Sayang, usai itu enggak lagi,” ucap Belva.


“Aku mending ke Dokter dulu ya Mas, konsultasi dulu … aku cuma takut kalau pengaruhnya besar karena kemarin Caesar. Ya, paling tidak Elkan agak besar dulu,” balas Sara.

__ADS_1


“Iya, sesiapnya kamu saja … yang penting aku rela dan ikhlas. Untuk mengasuh anak jangan dipikir, nanti aku bisa sewa babysitter,” balas Belva.


Sara menganggukkan kepalanya, kemudian dia memilih kembali bersandar di bahu Belva. Sejenak menikmati suasana malam yang temaram, dan juga saling berpegangan tangan. Menikmati sedikit waktu yang bersama dan kian menghangatkan hubungan keluarga mereka.


__ADS_2