
Malam harinya, ketika Evan dan si baby Elkan sudah sama-sama terlelap, Sara pun menggunakan sedikit waktu di malam hari untuk mengobrol dengan suaminya. Menceritakan kegiatannya di rumah, menceritakan tumbuh kembang putra-putranya, ini adalah kebiasaan baru bagi Sara. Sebab, dulu saat Evan masih bayi, Sara tidak pernah melakukan ini. Sekarang, Sara memiliki waktu di malam hari untuk cerita dengan suaminya. Agar suasana terkesan berbeda, keduanya duduk bersama di balkon kamarnya. Menikmati semilir angin malam, dan melihat kerlip bintang yang tak seberapa di langit malam.
"Gimana seharian ini Mama Sayang? Kiddos aman?" tanya Belva kepada istrinya. Seolah itu adalah agenda rutin yang ditanyakan Belva kepada istrinya. Pertanyaan rutin yang ditanyakan oleh Belva dari Senin hingga Jumat.
Sebab, dengan mendengar cerita dari istrinya, setidaknya Belva tahu apa saja yang terjadi sepanjang hari. Belva tahu sepanjang hari, dirinya berada di perusahaan, oleh karena itulah dia menanyakan kegiatan harian putra-putranya. Sekaligus dia bisa mendengarkan keluh kesah istrinya yang masih dalam masa adaptasi untuk mengurus dua putranya.
"Mau cerita sedikit boleh Mas?" tanya Sara kepada suaminya.
"Tentu bolehlah ... kamu mau cerita apa saja, aku sudah pasti akan mendengarkan ceritamu," balas Belva disertai dengan anggukan dari kepalanya.
"Tadi si Evan tantrum, nangis tadi di pagi hari. Cemburu deh si Kakak sama Adiknya," ceritanya kepada suaminya itu.
Belva menatap wajah Sara, ingin lebih mendengar kenapa putranya Evan bisa cemburu kepada Elkan yang masih bayi.
"Kok bisa Sayang, emangnya kenapa tadi seharian?" tanyanya lagi.
"Pertama kan pagi tadi Kak Evan bangun itu nangis. Awalnya enggak mau mandi pagi, maunya nonton channel anak-anak. Aku tungguin, aku bujuk beberapa kali. Akhirnya aku memilih kembali ke kamar kan, rupanya Evan ngikutin aku, dan dengan keadaan mandi si Evan tetap tak mandiin. Nah, setelahnya dia bilang mau Mama yang baik," ceritanya kepada suaminya.
Tampak jelas helaan nafas yang berat dari Sara dan juga kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Katanya Mama cuma main sama Adik ... Evan pengen baca buku, main lego, main robot sama Mama. Adiknya cuma bobok dan minta ASI Mamanya terus," lanjut Sara.
__ADS_1
Menyadari suara Sara yang sedikit bergetar, dan mata yang sudah berkaca-kaca, Belva pun membawa tangannya, menautkan jari-jarinya di setiap sela-sela jari istrinya.
"Lalu, gimana Sayang?" tanya Belva lagi.
Sara menghela nafas sejenak, barulah dia mulai berbicara, "Ya, aku jelaskan baik-baik sih ke Evan kalau adiknya masih baby. Nanti kan kalau Elkan makin besar, bisa menjadi temannya Evan di rumah, bisa diajakin bermain," cerita Sara, dia seolah mengulang kembali perkataannya kepada Evan pagi tadi.
Belva menganggukkan kepalanya, dia yakin Sara pun sudah memberikan jawaban dan penjelasan yang tepat untuk putranya.
"Kamu kelihatan sedih Sayang?" tanya Belva kali ini.
"Iya sih ... saat Kak Evan bilang minta Mama yang baik, hatiku sakit ... seolah-olah aku ini Mama yang tidak baik. Namun, bagaimana lagi Mas, waktuku kan dibagi-bagi juga. Kalau Elkan bobok kan aku langsung main sama Evan, cuma kan mainnya di kamar saja sekarang. Jadi, kalau Elkan bangun dan minta ASI kan tinggal dikasih," ceritanya.
Belva menatap Sara, kini pria itu membawa tangannya untuk merangkul bahu Sara. Dengan perlahan dia menyandarkan kepala Sara di dadanya. "Sini, aku peluk ... cerita saja, tidak apa-apa," balas Belva.
"Kamu adalah Mama yang baik, Sayang. Mungkin saja Evan belum bisa memilih kalimat yang tepat. Jadi, jangan dimasukkan hati yah. Atau kamu mau pakai babysitter?" tawar Belva kepada istrinya.
Pikirnya dengan menggunakan babysitter, Sara bisa mengatur waktu dengan baik. Urusan anak-anaknya ada yang mengatur. Selain itu, Sara juga tidak kecapekan.
"Enggak usah ... aku senang kok mengasuh mereka berdua. Aku tuh sayang banget sama Evan dan Elkan. Cuma kan perhatian yang kuberikan juga sesuai porsinya. Si Adik kan perhatiannya ya ditimang, diberikan ASI, dan sebagainya. Sementara Si Kakak maunya ditemani bermain. Evan jadi posesif," jelas Sara kali ini.
"Kamu yakin? Tidak masalah pakai babysitter, kan aku bisa menggaji mereka," balas Belva lagi.
__ADS_1
Akan tetapi, di saat bersamaan Sara justru menggelengkan kepalanya, "Enggak usah ... aku asuh sendiri saja. Pendidikan utama dan pertama bagi anak kan dari Ibunya. Jadi, aku mau mendidik mereka, mengasuh mereka, menyayangi mereka. Tidak apa-apa, Mas," balas Sara dengan yakin.
Belva menganggukkan kepalanya, baginya keputusan Sara ini adalah keputusan yang hebat. Di matanya Sara adalah seorang Ibu yang hebat dan bisa mengutamakan anak-anaknya tanpa menghiraukan dirinya sendiri.
"Kamu adalah seorang Mama yang hebat, Sayangku ... Aku justru kasihan sama kamu, kamu enggak menghiraukan dirimu sendiri. Terkadang, beri waktu untuk dirimu sendiri, Sayang," balas Belva.
Selain itu Belva pun meminta kepada istrinya itu untuk memberi waktu untuk dirinya sendiri. Para ibu rumah tangga pun membutuhkan waktu untuk merileksasi dirinya sendiri.
"Makasih Sayang ... kamu hebat banget. Aku tahu mengurus anak itu tidak mudah, apalagi mengurus dua anak. Sekarang mungkin bisa lebih enak karena Elkan masih baby dan belum aktif. Namun, nanti kalau Elkan mulai aktif pasti kamu akan kecapekan," ucap Belva lagi.
"Tidak apa-apa Mas ... aku akan mengasuh mereka setiap hari. Mereka biar tumbuh dalam pengawasan dan pengasuhan Mamanya secara langsung," balas Sara.
Belva lantas mengusap lembut lengan istrinya dengan gerakan tangan naik dan turun, kemudian dia mendaratkan kecupannya di puncak kepala istrinya, "Makasih Sayang, sudah selalu memprioritaskan Evan dan Elkan. Kamu hebat banget Sayang. Sabar ya, Evan juga butuh adaptasi. Dulu kan waktu belum ada Adiknya, semua kasih sayang dan perhatian sepenuhnya untuk dia, sekarang harus berbagi dengan Elkan. Nanti lama-lama Evan bisa memahami kok," balas Belva.
Dalam masalah ini, sebenarnya yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi bukan hanya orang tua, anak terutama mereka yang sulung pun juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Untuk berbagi waktu, berbagi kasih sayang, dan perhatian dari orang tuanya dengan adiknya. Sama halnya Evan yang juga membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi.
“Makasih ya Mas, sudah mau mendengarkan ceritaku,” balas Sara yang membawa tangannya melingkari pinggang suaminya itu.
“Sama-sama Sayang … ini bedtime stories kita. Cerita malam sebelum tidur. Aku juga senang bisa dengarin cerita kamu. Walau kadang aku tidak bisa memberikan saran atau apa pun, kuharap dengan aku yang mendengarkan cerita kamu bisa membuat kamu sedikit lega. Mau cerita lagi? Mamas siap dengerin ceritanya Mama Sara,” balas Belva.
Senyuman pun terbit di wajah Sara, “Enggak … udah, udah lega kok. Didengerin gini saja sudah seneng banget. Makasih Mamas Sayang sudah mau dengerin keluh kesahnya Ibu Rumah Tangga ini,” balas Sara.
__ADS_1
Keduanya sama-sama tertawa, menengadahkan wajahnya ke langit luas. Menatap angkasa yang begitu gelap dan juga saling berpelukan bersama. Angin malam yang bertiup sepoi-sepoi terasa begitu segar, dan juga ada cerita yang dibagi bersama.