
Keesokan harinya, Belva benar-benar menepati janjinya untuk pulang lebih sore. Pria itu terlihat pulang dari kantor sekitaran jam 16.30. Evan yang melihat Papa pulang lebih cepat pun berteriak kegirangan.
“Yeay, Papa pulang … Papa pulang lebih cepat,” teriak Evan kali ini.
Sara yang melihat begitu bahagianya Evan pun turut tersenyum. Hatinya merasa lega karena Evan begitu bahagia kali ini. Selain itu, Sara juga bahagia karena Belva, suaminya itu memprioritaskan Evan.
“Tuh, Papa sudah menepati janjinya untuk pulang cepat hari ini kan Van,” ucap Sara kepada putranya itu.
“Iya Ma … Evan senang,” sahut Evan.
Terlihat Evan kini berlari ke arah pintu, ingin menyongsong kehadiran Papanya. Begitu pintu dibuka, Evan pun tersenyum dengan lebar.
“Papa,” teriaknya kali ini.
“Iya Nak … Papa pulang cepat hari ini,” sahut Belva. Pria itu tampak mengusapi puncak kepala Evan. “Papa mandi dulu sebentar yah … sepuluh menit. Evan tunggu Papa yah,” ucap Belva kali ini kepada Evan.
Belva pun segera berlari menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya. Dia akan cepat-cepat mengguyur badannya terlebih dahulu dan setelahnya akan bermain dengan Evan. Waktu sore yang akan dimanfaatkan Belva untuk bounding dengan Evan.
Benar-benar hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, Belva turun dari kamarnya dan menuju ke ruang bermain Evan.
“Hei Boy! Mau main apa kita?” tanya Belva kepada putranya itu.
“Pa, Papa kan sudah mandi. Papa mau enggak main bola sama Evan di halaman?” tanya Evan kepada Papanya.
Tentu saja Evan bertanya terlebih dahulu karena Papanya sudah mandi, sudah bersih. Sementara jika ingin bermain sepakbola sudah pasti Papanya akan kembali berkeringat.
“Yuk, kita main bola. Di taman saja yah,” balas Belva.
“Yeay! Makasih Papa,” teriak Evan lagi. Sungguh Evan pun merasa begitu bahagia karena Papanya menuruti keinginannya untuk bermain sepakbola.
Mulailah Belva bermain sepakbola dengan Evan. Evan yang menjadi penendang, sementara Belva menjadi penjaga gawang. Menghalau setiap tendangan Evan, tetapi ada pula saat Evan berhasil membuat goal dengan menendang gola hingga masuk ke dalam gawang.
__ADS_1
“Ah, Papa kalah deh,” teriak Belva kali ini.
“Papa yang fokus Pa … tangkap Pa,” sahut Evan.
Sementara Sara yang duduk di tepi taman itu tampak tertawa dan mengamati interaksi Belva dan Evan. Sungguh, hati Sara pun menjadi begitu menghangat melihat keakraban Belva dengan Evan. Terlihat bagaimana bahagianya Evan bisa bermain dengan leluasa dengan Papanya sendiri.
“Yeay, goal!” teriak Evan lagi saat anak berusia 4 tahun itu berhasil mencetak goal. Bahkan Evan melakukan selebrasi layaknya pemain sepakbola profesional yang merayakan usai berhasil mencetak goal.
Sara hanya geleng-geleng kepala melihat keseruan Evan. “Good job, Evan!” teriak Sara sembari mengacungkan dua ibu jarinya kepada Evan saat putranya itu berhasil membuat goal.
“Thanks Ma … Evan jago kan Ma?” tanyanya kepada Mamanya yang duduk di bangku taman itu.
“Iya, Evan keren … jago banget,” jawab Sara.
Puas bermain sepakbola, kemudian Belva masih bermain di taman dengan Evan. Dari sini terlihat sekali perbedaan aktivitas Evan saat bermain dengan Papanya dan dengan Mamanya. Jika bermain dengan Sara, aktivitas yang dilakukan Evan sebatas membaca buku, mewarnai, atau menonton televisi. Sementara jika bersama dengan Belva, banyak kegiatan fisik dan ketangkasan yang dilakukan keduanya.
“Sudah petang Van … masuk dulu istirahat yuk,” ajak Sara kali ini.
Tampak Sara menyeka keringat di kening Evan dengan menggunakan handuk kecil. “Istirahat dulu ya Nak … kalau sudah hilang keringatnya, nanti mandi yah … biar tidak biang keringat,” ucap Sara.
“Oke Ma,” sahut Evan.
Ternyata Evan segera masuk ke dalam rumah, dan kini giliran Belva yang menghampiri istrinya itu.
“Papanya Evan juga berkeringat loh Ma,” ucap Belva dengan tiba-tiba.
Kali ini Sara mengambil tissue, dan menyeka keringat di kening suaminya itu. “Enggak anaknya, enggak Papanya sama-sama manja deh,” ucap Sara sembari menyeka keringat di kening suaminya itu.
“Manjanya cuma sama Mamanya Evan saja,” sahut Belva.
“Kamu berkeringat lagi deh Mas,” sahut Sara kali ini.
__ADS_1
“Iya … tetapi gak apa-apa sih. Yang penting Evan bahagia bisa bermain dengan Papanya,” jawab Belva kali ini.
Sara terlihat menganggukkan kepalanya secara pias, “Benar banget … nanti kamu juga bisa mandi lagi. Kan tinggal nyalain shower atau berendam di Bath up. Akan tetapi, waktu berkualitas dengan Evan gak bisa tergantikan. Bisa bounding dengan anak sendiri itu menyenangkan,” sahut Sara.
Ya, memang tidak ada waktu yang lebih menyenangkan selain bisa memiliki waktu yang berkualitas untuk dekat dengan anak atau yang biasa disebut dengan bounding. Waktu berkualitas untuk mengetahui kesukaan anak, perasaan anak, melakukan kegiatan seru bersama. Kendati hanya dengan bermain sepakbola, tetapi Evan terlihat begitu senang bisa bermain dengan Papanya.
“Benar Sayang … menebus waktuku yang beberapa hari ini begitu sibuk. Makasih ya udah selalu ngertiin kami berdua,” ucap Belva.
Tidak dipungkiri bahwa Sara sekalipun Ibu kandung Evan, tetapi Sara juga harus beradaptasi untuk memahami Evan dan juga Belva. Untung saja Sara bisa beradaptasi dengan cepat dan tentunya sangat baik.
“Iya Mas, mau aku ambilin minum?” tawar Sara kali ini kepada suaminya itu.
“Yuk, kita masuk ke rumah saja. Sudah petang Sayang, mulai keluar nyamuknya,” balas Belva kali ini.
Keduanya segera memasuki rumah, dan Sara mengambilkan air putih untuk suaminya itu. Sementara Evan terlihat di ruang keluarga sedang menonton channel Youtube kesukaannya. Sekaligus mendinginkan tubuhnya usai bermain sepakbola dengan Papanya.
“Senang hari ini Van?” tanya Sara yang mengambil tempat duduk di samping putranya itu.
“Senang Ma … Pa, lain kali main bersama lagi yah,” pinta Evan kali ini kepada Papanya itu.
“Tentu, Boy! Nanti kita bisa main bersama lagi. Weekend ini kita ajarin Mama renang yuk Van? Masak Mama kamu ini tidak bisa berenang,” ucap Belva sembari melirik Sara.
“Mama tidak bisa berenang?” tanya Evan kepada Mamanya itu.
“Iya, Mama tidak bisa berenang, Van,” sahut Sara.
“Ya sudah … weekend belajar berenang ya Ma. Evan jago berenang loh Ma,” cerita Evan kali ini kepada Mamanya.
Tampak Belva yang beringsut dan berbisik di telinga Sara dengan begitu lirih, “Mau aku belikan pakaian renang Sayang?” tanyanya.
Sara tampak membolakan kedua matanya, tidak mengira bahwa Belva akan mengatakan demikian kepada dirinya. Sontak saja, Sara menyipitkan kedua matanya dan menatap tajam suaminya itu. Benar-benar suaminya yang sedang mode nakal karena pasti yang dibayangkan Belva tentu adalah pakaian renang terbuka. Dasar Belva!
__ADS_1