Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Sebulan Berlalu


__ADS_3

Hari berganti dengan hari, minggu berganti dengan minggu, hingga tidak terasa waktu satu bulan pun telah berlalu. Menikmati hari-hari di kediaman Belva, ibarat hanya sekadar menunggu waktu saja bagi Sara.


Wanita itu hanya sekadar menjalani perannya sebagai seorang Ibu kandung bagi Evan, dan sekaligus mengajari Anin tentang cara mengasuh Evan. Sebenarnya Sara tidak keberatan, hanya saja ada rasa sedih yang tersisa di dalam hatinya.


Sama seperti malam ini, Anin terlihat lebih yakin mengasuh Evan, sehingga Sara memilih untuk duduk-duduk di sebuah taman yang ada di dekat Kolam Renang milik Belva. Wanita itu menengadahkan wajahnya, menatap rembulan sang penjaga malam di atas sana, dan membiarkan angin malam menerpanya.


Tanpa Sara sadari Belva melihat dari balkon bahwa di bawah ada Sara. Untuk itu, Belva pun berniat turun dari anak tangga yang berada di kamarnya yang langsung menuju ke kolam renang. Pria itu segera mengambil duduk di samping Sara.


"Hei, kamu ngapain di sini?" tanya Belva kepada Sara.


"Duduk-duduk saja, Pak … lagipula, Evan sedang bersama Kak Anin," jawabnya.


Belva pun menganggukkan kepalanya secara samar, pria itu terlihat tenang duduk di samping wanita itu. Membawa satu tangannya merangkul bahu Sara.


"Apa yang sekarang kamu rasakan?" tanya Belva lagi.


Sara menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak. Aku hanya sekadar menikmati malam. Tidak ku sangka ternyata menikmati malam di sini sungguh indah," sahut Sara.


Bentangan angkasa yang gelap pekat, berpadu dengan air kolam renang dan beberapa lampu taman yang justru membuat suasana malam itu terlihat indah. Rasanya Sara menyesal, karena selama tinggal di rumah Belva hanya beberapa kali saja dirinya duduk-duduk di dekat kolam renang ini.


"Kamu bisa membagi perasaanmu padaku Sara … bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku peduli padamu," ucap Belva lagi.


Ya Belva ingin memberitahu kepada Sara secara langsung bahwa dia peduli dengan Sara. Wujud kepeduliannya, Sara bisa membagi perasaannya kepada Belva. Belva akan dengan senang hati mendengarkan cerita Sara.


Namun bagi Sara, ucapan Belva hanya sekadar ucapan formalitas belaka. Kepedulian itu bagi Sara perlu dijabarkan dalam ucapan dan tindakan. Sementara hubungan keduanya tidak sedekat dan seakrab itu untuk bisa saling membagi perasaan.


"Terima kasih Pak Belva, hanya saja aku tidak ingin membagi apa pun," sahut Sara.


Sekali lagi Sara menegaskan bahwa dirinya tidak ingin membagi apa pun dengan Belva. Lagipula, bagaimana mungkin dia membagi perasaannya yang mulai ada rasa untuk pria yang sekarang duduk di sampingnya itu. Sangat tidak mungkin bagi Sara untuk menyampaikan perasaannya kepada pria itu.


"Lalu, selama ini kamu berbagi dengan siapa Sara?" tanya Belva.


Agaknya pria itu ingin tahu siapa tempat bagi Sara untuk berkeluh kesah. Lagipula, Belva tahu bahwa Sara sebatang kara, tidak memiliki Ayah dan Ibu, bahkan saudara. Ada rasa iba yang Belva rasakan kini karena nyatanya Sara adalah pribadi yang tertutup dan tidak pernah membagi perasaannya.

__ADS_1


"Aku lebih menelan semuanya sendiri. Entah itu manis ataupun pahit, asam maupun getir dalam hidup ini, aku menelannya sendiri," sahut Sara.


Memang begitu adanya, dulu saat mendiang Ibunya masih ada. Sara adalah anak yang ceria, menjadikan sosok Ibu sebagai tempatnya berbagi dan berkeluh kesah. Namun, saat sang Ibu sudah tiada, Sara berketetapan untuk menelan semuanya sendiri.


"Kenapa begitu Sara?" tanya Belva lagi.


"Tidak apa-apa Pak Belva," sahut Sara.


Belva kemudian lantas diam, mendengar pengakuan Sara barusan justru semakin membuat pria itu seakan tak bisa berkata-kata lagi. Ingin menunjukkan kepeduliannya, nyatanya Sara yang terlebih dahulu menarik garis batas antara dirinya dengan Belva.


"Jangan sungkan kepadaku, Sara. Kamu bisa membagi hidupmu denganku," ucap Belva pada akhirnya.


Hampir 12 bulan berlalu, baru kali ini Belva merasa bahwa dia tidak sepenuhnya mengenal Sara. Dia hanya mengenal Sara sebagai wanita yang dia sewa rahimnya, tetapi tidak pernah mendengar bagaimana perasaan wanita itu. .


Sara menggigit bibir bagian dalamnya, wanita itu mendengkus dalam hatinya.


Sudah terlambat Pak Belva … 


Kamu akan mengambil Evan, perjanjian di antara kita akan berakhir. 


Biarlah kita menjadi orang asing. 


Biarlah kita tidak akan bertemu lagi. 


Namun, sejauh apa pun aku pergi nanti. 


Aku tetap akan mengingatmu, Pak Belva… 


Aku akan mengingatmu sama seperti aku yang akan selalu mengingat Evan, putra kita berdua. 


Merasa angin malam kian dingin menerpa, Sara pun berdiri dan berpamitan dengan Belva.


"Aku masuk ke dalam dulu Pak Belva, lagipula ini sudah waktunya Evan untuk minum ASI dan tidur," sahut Sara.

__ADS_1


Tidak menghentikan Sara, nyatanya Belva pun turut berdiri dan berjalan di belakang Sara. Pria itu menatap punggung Sara dari belakang, rasanya Belva ingin meraih tubuh Sara dan memeluknya erat. Akan tetapi, sikapnya yang impulsif pasti akan membuat Sara menolaknya. Bahkan kali terakhir, Belva dengan berani melabuhkan ciumannya di bibir Sara. Usai peristiwa itu, Sara seakan menjauh dari Belva.


Begitu sampai di dalam kamar, Belva pun turut memasuki kamar Sara.


"Tidak kembali ke kamar Pak Belva?" tanya Sara.


Dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya, "Sara, apakah hubungan kita akan terus seperti ini? Kenapa rasanya kau dan aku seperti orang asing?" tanya Belva kepada Sara.


"Bukan orang asing, Pak. Faktanya kita saling mengenal kok," jawab Sara.


Tentu ini adalah sebuah jawaban yang sekadar tidak membuat Belva berpikiran yang macam-macam. Hubungan yang serba salah, Sara mengharapkan yang lebih, sementara Belva pun seakan hanya berjalan tidak tempat. Tak pernah mengatakan bagaimana perasaannya yang selama ini untuk Sara.


"Ayolah Sara … jangan seperti ini," pinta Belva lagi.


Pria itu ingin merengkuh tubuh Sara, tetapi di arah yang berbeda Anin datang dengan menggendong Evan dan memberikannya kepada Sara.


"Evan nya sudah mengantuk ini Bunda, mau minum ASI," ucap wanita itu.


Wajah Sara yang semula dingin, perlahan terasa hangat saat menerima putranya itu. Dia dengan senang hati menerima Evan dalam gendongannya.


"Iya Kak, aku akan memberikan ASI untuk Evan," sahut Sara.


"Kapan-kapan boleh tidak Sara, kalau Evan tidur bersamaku?" tanya Anin kini kepada Sara.


Terasa berat sebenarnya, tetapi pada akhirnya pun Evan memang akan berada dalam pengasuhan Anin dan juga Belva. Mempertimbangkan semua itu, Sara pun mengangguk.


"Iya, boleh Kak," jawab Sara dengan lirih.


"Yes, makasih Sara. Baiklah Evan bobok yah. Besok main sama Mama lagi ya," ucap Anin sembari melambaikan tangannya kepada Evan.


Setelahnya Anin menatap Sara dan Belva bergantian, "Aku masuk ke kamar duluan, Sayang. Nanti menyusullah setelah Evan tidur," ucap Anin.


Sara segera masuk ke dalam kamarnya, sementara Belva mengangguk kepada Anin dan pria itu segera memasuki kamar Sara. Mengikuti Sara masuk, dia baru akan kembali ke kamarnya setelah Sara tertidur.

__ADS_1


__ADS_2