
Beberapa jam usai Sara melahirkan, wanita itu sudah dibersihkan dan dipindahkan ke kamar perawatan. Sementara bayinya ditempatkan di dalam inkubator untuk diobservasi selama kurang lebih enam jam.
Setelah dua jam pasca bersalin, Sara merasa tubuhnya yang terasa sangat sakit. Semua tulangnya serasa dipatahkan. Juga bekas jahitan yang terasa perih dan begitu ngilu. Oleh karena itu, Sara memilih untuk tidur sebentar.
Tidak terasa siang itu, Anin datang untuk menjenguk Sara. Wanita itu begitu iba melihat Sara dengan wajahnya yang pucat dan terlihat begitu kecapekan. Kendati demikian, Anin tetap berusaha untuk membangunkan Sara.
“Sara … aku datang,” ucapnya sembari menepuk kaki Sara.
Merasa ada yang membangunkannya, Sara pun mengerjap. Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka, dan wanita itu pun perlahan-lahan membuka matanya. Sara cukup kaget saat melihat ada Anin di sana.
“Kak,” panggilnya dengan lirih memanggil nama Anin.
“Tidak perlu bergerak Sara, kamu istirahat saja dulu,” ucap Anin.
Sara mengangguk, wanita yang baru saja melahirkan itu masih terbaring di atas brankarnya. Sementara Anin duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan brankar Sara.
Anin menatap wajah Sara, “Terima kasih Sara … kamu benar-benar hebat. Semalam aku kemari, hanya saja aku menunggu sebentar di luar. Itu karena hanya seorang suami yang diperkenankan menemani istrinya bersalin,” ucap Anin.
Ya, sebenarnya semalam Anin juga datang saat Sara dalam proses bersalin. Bahkan wanita itu sempat megintip Sara yang menangis, merintih, dan kesakitan. Anin juga melihat bagaimana Belva yang begitu sabar mendampingi Sara. Pengalaman pertama bagi Anin melihat wanita yang hendak melahirkan. Sekalipun dia memiliki ketakutan terkait Tokophobianya, tetapi Anin tetap memberanikan dirinya sekadar untuk mengintip.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan Anin, membuat Sara merasa tidak enak hati. Sebab, suaminya juga adalah suami Anin.
“Maaf Kak,” ucap Sara pada akhirnya.
Anin dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Kamu tidak perlu meminta maaf, Sara … bagaimanapun Belva juga adalah suamimu justru dia harus mendampingi kamu untuk melahirnya bayinya,” ucap Anin pada akhirnya.
Anin kemudian menggenggam satu tangan Sara, “Terima kasih Sara … kamu benar-benar berjuang dengan begitu totalitas dan maksimal. Bayi yang kamu lahirkan akan mewarnai kehidupan rumah tangga kami,” ucap Anin lagi.
Mendengar apa yang diucapkan Anin, nyatanya hatinya kian terasa sesak. Ya, dirinya dan bayinya hanya pelengkap kebahagiaan semata. Rasa sakit seakan menghinggapi hatinya.
“Iya Kak,” sahut Sara. Ya, seakan Sara tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia pun kalut saat ini. Badannya masih begitu sakit, dan juga dengan hatinya.
Wanita itu lantas mengedarkan pandangan matanya, menilik ke penjuru kamar itu. Anin menyadari bahwa Sara mungkin sedang mencari Belva. Maka dari itu, Anin kembali berbicara.
__ADS_1
“Kamu mencari Belva ya? Tenang saja, dia sedang ke apotek sebentar untuk menebus obat,” ucap Anin.
Rupanya, tidak berapa lama kemudian Belva datang. Tepat seperti yang diucapkan Anin bahwa Belva datang dengan membawa sebuah kantong plastik dengan logo Rumah Sakit tersebut dan berisi obat-obatan untuk Sara.
“Kamu sudah bangun?” tanya Belva begitu memasuki kamar itu.
Sara pun mengangguk, “Iya sudah,” ucapnya.
Anin lantas melihat wajah datar Belva dan Sara, wanita itu justru tersenyum, “Dari semalam, dia selalu menemanimu, Sara … lihatlah kantong matanya yang menghitam karena Belva sama sekali belum tidur,” ucap Anin pada akhirnya.
Sara lantas melirik ke wajah Belva, ya dia melihat ada kantong mata di wajah pria tampan itu.
“Pulang dan istirahatlah Pak Belva, aku sudah baik-baik saja,” ucap Sara yang merasa bahwa Belva juga membutuhkan istirahat.
Akan tetapi, Belva dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku akan menemanimu di sini,” ucapnya.
Anin kemudian tertawa, “Iya, biarkan dia di sini Sara … lagipula kamu usai dijahit, tidak boleh banyak bergerak. Bagaimana jika kamu membutuhkan bantuan. Biar Belva di sini. Baiklah, aku pamit ya Sara. Speedy recovery,” ucapnya.
Sepeninggal Anin, Sara sedikit beringsut, tetapi rasanya benar-benar sakit. Masih terasa ngilu di pangkal pahanya. Untuk itu, Belva pun kembali mendekat, “Kamu membutuhkan sesuatu?” tanya pria itu.
Belva kemudian mengambil remote dan mengatur ketinggian brankar milik Sara, dan membuat Sara seakan duduk bersandar di atas brankar itu.
“Sudah enakan?” tanya Belva.
“Iya sudah, makasih Pak,” jawab Sara.
Hingga kemudian seorang perawat datang dan membawa sebuah box bayi yang didalamnya terdapat bayi mungil Sara dan Belva.
“Selamat siang Bu Sara … bayinya sudah diobservasi dan sekarang bisa di sini. Nanti akan ada Dokter Anak yang akan visiting yah … babynya bisa diminumin dulu karena sudah lama, haus babynya,” ucap perawat itu dan menyerahkan si bayi ke dalam pangkuan Sara.
Begitu perawat itu sudah keluar, Sara lantas bingung bagaimana dia bisa memberikan ASI jika Belva masih berada di situ. Rasanya begitu malu.
“Pak Belva tidak ingin keluar dulu? Aku mau memberikan ASI untuk bayinya,” ucap Sara. Sekalipun dia begitu malu, tetapi Sara memang berniat membuat Belva keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa aku di sini saja, lagipula aku suamimu, Sara,” ucap Belva pada akhirnya.
Akan tetapi karena malu, maka Sara meminta Belva mengambilkan sebuah kain untuk menutupi dadanya saat menyusui. Belva pun berusaha mencarikan kain yang dimaksud Sara di dalam koper wanita itu.
“Ini kan? Padahal tidak ditutupi juga tidak apa-apa,” sahut Belva pada akhirnya. Pria itu lantas mengalungkan kain itu menutupi dada Sara, “Padahal tadi waktu Inisiasi Menyusui Dini, aku juga udah lihat semuanya,” ucap pria itu pada akhirnya.
Ah, baru Sara tersadar bahwa saat IMD tadi, Belva pun bisa melihat bagaimana bayinya yang bergerak mencari sumber kehidupan pertamanya.
“Aku malu, Pak …,” ucap Sara pada akhirnya.
Nyatanyanya Belva justru tertawa, “Tidak perlu malu, aku suamimu,” ucap Belva lagi. Pria itu selalu menekankan bahwa dia adalah suaminya.
Kendati demikian, Sara tetap menutup area dadanya, mengeluarkan perlahan miliknya dan membiarkan si bayi mendapat ASI langsung dari sumbernya.
“Kapan mulai keluar ASInya, Sara?” tanya Belva dengan tiba-tiba.
Pasalnya sudah berbulan-bulan lamanya pria itu tidak menggumuli Sara, sehingga dia pun tidak tahu bahwa milik Sara sudah mengeluarkan ASI.
“Saat hampir memasuki kehamilan 9 bulan,” ucap Sara.
Belva kemudian mengangguk, “O … untunglah. Jadi, si bayi sekarang bisa mendapatkan ASI langsung dari sumbernya,” ucap Belva.
Ya, Belva pikir dirinya harus repot-repot membelikan susu formula untuk bayi berusia 0 hingga 3 bulan. Namun, ternyata milik Sara sudah mengeluarkan ASI, jadi itu tentu lebih baik bagi bayinya.
Sara tersenyum melihat bayi mungilnya yang begitu tampan. Bayi pun memiliki wajah yang dominan dengan Belva, mungkin bagian mata dan bibirnya saja yang mirip dengan Sara.
“Jadi, siapa nama si baby, Sara?” tanya Belva kini.
Sara kembali menatap lekat wajah putranya yang terlihat begitu damai mendapatkan ASI, lantas Sara menghela nafasnya sejenak.
“Evander … aku memberikannya nama Evander yang artinya pria yang berkelakuan baik dan mulia,” ucap Sara.
Belva pun mengangguk, “Nama yang bagus … kita bisa memberinya nama Evander Agastya. Evan … ya kita akan memanggilnya Evan,” ucap Belva dengan pasti.
__ADS_1
Pria itu sama sekali tidak keberatan dengan nama yang diberikan oleh Sara. Bagaimanapun, Belva sudah memberikan tugas mencarikan dan memberi nama untuk bayinya itu kepada Sara. Sehingga saat ini, Belva dengan senang hati menerima nama yang diberikan Sara itu.