
Usai bertemu dengan Zaid, keesokan harinya Belva mengumpulkan seluruh staf ahli untuk memperketat keamanan di perusahaannya. Termasuk bagian data-data perusahaan yang harus diamankan. Selain itu, memperkuat setiap area dengan CCTV yang terkoneksi langsung dengan handphone miliknya, sehingga Belva bisa melihat keadaan perusahaannya di mana saja mereka berada.
Sekarang, Belva sudah merasa senang dan lega. Baik itu data dan infrastruktur sudah bisa dia tangani. Rasanya sekarang Belva bisa kian fokus untuk bekerja dan mengeksekusi setiap projek yang dia terima.
Siang itu, handphone Belva berdering, rupanya ada Sara yang menelponnya siang itu.
“Halo, Mas,” sapa Sara melalui panggilan telepon siang itu.
“Ya, halo Sayang … ada apa?” tanya Belva.
“Nanti sore pulang jam berapa Mas? Ingat kan, hari ini kita periksa kehamilan lagi,” ucap Sara yang memberitahu suaminya itu.
“Untung kamu mengingatkan, baiklah aku akan pulang lebih awal. Kamu siap-siap saja yah, aku akan pulang lebih cepat hari ini,” balas Belva.
“Baik Mas, aku tunggu yah,” balas Sara dan kemudian mematikan panggilan telepon itu.
Sara memilih untuk mandi dan bersiap. Tidak lupa, Sara menyiapkan buku catatan pemeriksaannya. Sehingga, nanti saat Belva datang, dirinya tidak perlu mencari-cari lagi dan tinggal berangkat. Menjelang sore barulah Belva datang, memanggil istrinya dan mengajaknya untuk ke Rumah Sakit.
“Kamu mandi dulu enggak, Mas?” tanya Sara.
“Nanti malam saja, Sayang … sekarang cek adik bayi dulu saja,” balas Belva.
“Ya sudah, aku panggil Evan dulu ya Mas,” balas Sara.
Sara memanggil Evan yang sedang bermain di ruang bermain, kemudian mengajak putranya itu untuk ke Rumah Sakit memeriksakan adik bayi yang masih berada di kandungannya. Belva yang mengemudikan sendiri mobilnya, dan membawa istri serta Evan menuju ke Rumah Sakit.
“Semua yang di sini mengandung ya Ma?” tanya Evan yang cukup mengamati para wanita hamil yang mengantri untuk diperiksa itu.
“Iya, Van … semuanya sedang mengandung, ada adik bayi di dalam perut Ibu-Ibu ini,” balas Sara.
Evan tampak menganggukkan kepalanya, sesekali Evan bisa duduk tenang. Namun, ada kalanya Evan juga berjalan-jalan ke sana ke mari. Sampai akhirnya giliran Sara yang dipanggil dan melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
“Selamat sore, Dok,” sapa Sara yang memasuki ruangan pemeriksaan bersama suami dan anaknya itu.
“Sore … bagaimana Bu Sara sehat?” tanya Dokter Indri dengan ramah.
“Sehat, Dok … alhamdulillah,” sahut Sara.
“Setelah flek kemarin sudah aman kan Bu? Sudah dicoba untuk berhubungan belum?” tanya Dokter Indri lagi.
Berbicara mengenai berhubungan, sejak flek hingga sekarang Sara dan Belva belum berhubungan sama sekali. Selain Belva yang juga disibukkan dengan Anthony dan perusahaannya. Sara juga masih ada rasa takut, jika akan terjadi flek lagi.
“Belum Dok, belum berhubungan sejak flek itu,” jawab Sara dengan jujur.
Ingat ya, saat konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan, kejujuran pasien itu penting. Sebab, advice yang akan diberikan oleh Dokter juga berdasar dengan pengakuan dari pasien. Bukan hal yang tabu, karena semuanya dalam ranah medis.
“Dicoba tidak apa-apa Bu, terlebih nanti Trimester tiga bisa lebih sering berhubungan untuk menguatkan otot panggul dan menstimulasi kontraksi pada bayi. Jadi, jangan takut,” ucap Dokter Indri lagi.
Sara menganggukkan kepalanya dan tersenyum, malu sebenarnya. Akan tetapi, memang menjelang persalinan Dokter memang menyarankan kepada pasien untuk berhubungan supaya memperkuat panggul dan juga menstimulasi terjadinya pembukaan.
Kemudian seorang perawat membantu Sara untuk menaiki brankar, menyingkap kemeja yang dikenakan Sara, dan kemudian mengoleskan USG Gell di permukaan perut Sara. Sementara Dokter Indri sudah bersiap dengan transducer di tangannya.
“Kehamilan sekarang di usia 19 - 20 minggu. Panjang janin dari kepala sampai tumit kurang lebih 25 centimeter, dengan berat sebesar 315 gram. Jika dibayangkan mungkin sudah sebesar pisang. Ibu mau melakukan USG 4D kan?” tanya Dokter Indri lagi.
“Iya Dok, mau lihat wajahnya adik bayi,” balas Sara sembari tersenyum. “Oh, iya … sekalian mau lihat jenis kelamin babynya, Dok,” ucap Sara lagi.
Ya, di pemeriksaan kali ini ada dua hal yang ingin dia lihat yang pertama adalah wajah babynya dan kedua adalah jenis kelamin babynya. Sara merasa menunggu dan penuh harap untuk bisa melihat keduanya itu. Dua hal yang belum pernah dia lakukan saat hamil Evan dulu, dan sekarang Sara ingin mencobanya.
“Baik, kita akan coba yah,” balas Dokter Indri.
Lantas dengan transducer di tangannya, Dokter Indri menggerakkan transducer itu di tangan Sara dan kemudian sedikit menekan di perut itu. Pertama, menunjukkan detak jantungnya terlebih dahulu, kemudian memotret dengan bagian dari wajah bayi tersebut.
“Nah, Ibu bisa lihat di monitor. Pak Belva bisa perhatikan juga yah … terlihat dengan jelas bahwa ini adalah janin Ibu Sara. Ini adalah bagian kepala, perut, tangan, kaki, dan ini adalah wajahnya yah Bu … ini bagian mata, hidung, dan bibirnya. Bisa diidentifikasi kan si baby lebih mirip Mama atau Papanya,” ucap Dokter Indri.
__ADS_1
Sara dan Belva sama-sama fokus menatap di monitor yang menunjukkan wajah baby mereka saat masih berada di dalam janin. Rasanya sungguh luar biasa bisa melihat seperti apa wajah si baby saat dia masih berada di dalam kandungan.
“Kalau pengamatan saya, lebih mirip Pak Belva yah,” lanjut Dokter Indri.
Sara pun tertawa, mungkin saja babynya akan mirip dengan Belva karena tidak dipungkiri hamil kali ini, dirinya sangat mencintai Belva dan rasanya ingin selalu menempel dengan suaminya itu.
“Ibu Sara dan suami, pengennya babynya berjenis kelamin apa nih?” tanya Dokter Indri kepada keduanya.
Sara kembali tersenyum, tetapi rupanya Belva yang memberikan jawaban, “Cewek atau cowok tidak masalah sih, Dok … yang penting istri dan si baby sehat,” jawab Belva.
Dokter Indri pun menganggukkan kepalanya, “Semisal dapatnya cowok lagi tidak apa-apa kan Bu Sara dan Bapak?” tanya Dokter Indri.
“Tidak apa-apa, Dok … kalau yang kedua cowok, berarti masih ada alasan untuk minta anak lagi, sapa tahu dapat cewek,” balas Belva yang tentunya hanya bercanda.
Namun, memang biasanya kaum pria akan menggunakan alasan tersebut supaya istrinya mau untuk hamil lagi. Dalih belum memiliki anak dengan jenis kelamin yang mereka inginkan.
“Benar Pak, biar punya alasan ya Pak,” balas Dokter Indri.
Kemudian Dokter Indri segera menggerakkan transducer di tangannya, “Selamat ya Bu Sara dan Pak Belva, babynya ini bisa menjadi teman bermain bola nih untuk Kakak Evan,” ucap Dokter Indri.
Memahami arti ucapan Dokter Indri, Sara pun tertawa, “Cowok lagi ya Dok?” tanyanya.
“Iya, cowok lagi Bu … selamat ya Bu Sara. Tidak apa-apa kan?” tanya Dokter Indri.
Belva dan Evan juga turut tertawa, tidak mengira bahwa janin di perut Sara adalah laki-laki. Itu berarti Sara akan menjadi satu-satunya wanita di dalam istana mereka.
“Wah, masih ada peluang tambah anak berarti,” celetuk Belva dengan tiba-tiba.
Kali ini Dokter Indri turut tertawa. Memang biasanya para suami akan mengatakan demikian saat melakukan pemeriksaan.
Bagi Sara dan Belva sendiri, keduanya sama sekali tidak mempermasalahkan bayinya laki-laki atau perempuan. Baik laki-laki atau perempuan sama saja bagi mereka. Yang terpenting bagi Belva adalah istrinya itu bisa menjalani masa kehamilan dengan bahagia, sehat, dan selamat sampai tiba waktunya masa bersalin nanti.
__ADS_1