Rahim Sewaan Mr. CEO

Rahim Sewaan Mr. CEO
Orchard Road


__ADS_3

Menjelang sore, Mama Diana dan Papa Agastya mengajak Sara dan Belva menuju ke ION Orchard Mall. Sebuah pusat perbelanjaan yang tersohor dengan berbagai barang branded kelas dunia yang berada di Jalan Orchard, Singapura. Tujuan mereka mengajak Sara dan Belva ke ION Orchard karena Mama Diana agaknya ingin membelikan sesuatu untuk Sara.


“Ayo Sara … kita belanja. Mengingat pernikahanmu dan Belva yang digelar mendadak. Mama dan Papa belum memberikanmu emas kawin,” ucap Mama Diana.


“Eh, tidak perlu Ma … Sara tidak membutuhkan emas kawin atau mahar apa pun. Cukup seperangkat alat sholat yang diberikan oleh Mas Belva,” jawab Sara dengan yakin.


“Apa Belva tidak memberikan mahar lainnya?” tanya Mama Diana lagi kepada Sara.


“Memberi Ma … Sara sudah menerima sepenuhnya mahar dan emas kawin dari Mas Belva. Tidak perlu membelikan untuk Sara lagi,” pinta Sara kali ini.


Sebab bagi Sara, emas kawin yang berupa mahar yang diberikan saat akad nikah adalah sebuah simbol. Sementara kesungguhan sebuah pernikahan adalah dirinya dan Belva yang akan sama-sama mengarungi rumah tangga berdua. Untuk itu, Sara pun tidak keberatan. Apa pun yang diberikan Belva sebagai emas kawin akan dia terima dengan penuh syukur.


Mama Diana lantas tersenyum dan mengusapi punggung tangan menantunya itu, “Terima kasih Sara … kamu begitu tulus dengan Belva. Padahal Belva dan kami bisa memberikanmu yang lainnya. Akan tetapi, kamu justru menolaknya,” balas Mama Diana kali ini.


“Doakan Sara dan Mas Belva bisa saling mengisi satu sama lain. Bisa menjalani kehidupan berumah tangga dan membesarkan Evan dengan bersama-sama,” pinta Sara kali ini kepada Mama Diana.


Sebab Sara sangat yakin dengan doa restu yang diberikan oleh mertuanya, rumah tangganya akan berjalan dengan semakin baik. Dia dan Belva bisa menjalani bersama-sama dan juga membesarkan Evan dengan penuh kasih sayang.


“Amin Nak … Mama dan Papa akan selalu mendoakan kalian berdua,” jawab Mama Diana. “Namun, ikut Mama ke ION Mall yah … Mama ingin belikan sesuatu buat kamu,” pinta Mama Diana kali ini.


Untuk itu, Mama Diana, Papa Agastya, Belva, Sara, dan Evan sore itu menuju ke ION Mall bersama-sama. Sekali pun Sara telah menolak, tetapi Mama Diana tetap ingin membelikan sesuatu untuk menantunya itu.


Begitu telah tiba di ION Mall, Orchard, Mama Diana mengajak Sara memasuki sebuah counter tas yang berada di lantai dua.


“Pilihlah sebuah tas yang bagus untukmu, Sara,” pinta Mama Diana kali ini.


“Eh, Ma … tidak perlu Ma … Sara masih memiliki tas di rumah,” balas Sara yang merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa Sara … jangan menolak pemberian dari orang tua,” sahut Mama Diana.

__ADS_1


Dengan berat hati, Sara pun memilih satu tas. Sara sengaja memilih yang paling murah di antara semua tas yang di-display di toko itu. Mama Diana cukup mengeluarkan blackcard miliknya dan membayar tas yang dipilih Sara. Kemudian, Mama Diana mengajak Sara ke sebuah outlet perhiasan yang mendunia yaitu J. Estina dan mengajak Sara untuk memilih satu set perhiasan.


“Pilihlah satu set perhiasan untukmu, Sara,” pinta Mama Diana lagi.


“Mama, tidak perlu Ma … Mas Belva sudah memberikan perhiasan untuk Sara,” balas Sara kali ini.


“Jika kamu tidak mau memilih, Mama yang akan memilihkan untukmu,” sahut Mama Diana.


Sara akhirnya menganggukkan kepalanya, dan memilih satu set perhiasan. Sara tidak memilih perhiasan dengan ukuran yang besar, cukup yang kecil saja. Lagipula, dirinya memang tidak begitu suka mengenakan perhiasan.


“Terima kasih, Ma … hanya saja sudah, Ma. Ini sudah begitu banyak,” jawab Sara kali ini.


“Baiklah … simpan dan pakailah itu sebagai hadiah dari mertuamu,” balas Mama Diana.


Saat seorang anak memulai hidup baru dengan menikahi seorang wanita, pihak orang tua akan memberikan hadiah untuk menantunya. Itulah yang ingin diberikan Mama Diana kali ini. Mungkin memang Belva sudah memberikan emas kawin untuk Sara. Akan tetapi, Mama Diana juga ingin memberikan hadiah tersendiri untuk Sara.


“Terima kasih banyak, Ma,” ucap Sara berterima kasih kepada mertuanya itu.


“Berikan kami tiga buah es potong,” pinta Belva kepada penjual Es krim potong yang sudah berusia lanjut di depan ION Mall, Orchard Road itu.


Setiap satu potong es krim dijual dengan harga 1 dollar Singapura atau setara dengan Rp. 13.000,-. Belva memberikan es krim dengan rasa cokelat kepada Evan, sementara untuk Sara adalah es krim dengan rasa stroberi, sementara untuk dirinya sendiri Belva memilih rasa mint. Ketiganya duduk di atas anak tangga yang berada di depan Orchard Road dengan menikmati es krim potong di tangannya.


“Terima kasih, Pa,” ucap Evan dengan bahagia. Tangisan di wajahnya pun sudah lihat. Tergantikan dengan raut wajah bahagia saat menerima es krim potong dari Papanya.


“Iya … jangan menangis lagi,” sahut Belva.


Belva sendiri tidak tahan melihat Evan menangis. Oleh karena itu, Belva merasa tenang begitu Evan sudah berhenti menangis dan terlihat bahagia dengan mencicipi es krim potong Singapura yang begitu legendaris itu.


“Mama, punya Mama enak?” tanya Evan kepada Mamanya.

__ADS_1


Terlihat Sara yang menyuapi es krim miliknya pada Evan. Membiarkan putranya itu mencicipi es krim miliknya.


“Hmm, enak Ma,” sahut Evan.


“Habiskan punya kamu dulu, Evan. Nanti kalau habis, Papa akan belikan satu potong lagi buat kamu,” balas Belva.


Itu sengaja Belva ajarkan supaya Evan bisa menghargai barang miliknya sendiri. Menghabiskan apa yang dia minta. Bertanggung jawab atas yang dia inginkan.


“Iya Pa,” sahut Evan dengan kembali memakan es krimnya.


Sara hanya tersenyum melihat suaminya itu. Lantas, Sara mengambil sebuah tissue dari sling bag miliknya dan menyeka bibir Evan yang belepotan karena makan es krim.


“Anaknya Mama … makan es krim sampai belepotan kayak gini sih,” ucap Sara sembari menyeka sisa-sisa es krim di bibir Evan.


Terlihat Evan tertawa, “Makasih Ma,” sahutnya.


“Jangan makan es krim terlalu banyak ya Evan … nanti gigi kamu bisa sakit, bisa batuk juga. Satu saja cukup yah,” ucap Sara kali ini yang memberitahu Evan.


“Iya Ma … sudah cukup satu saja kok,” sahut Evan.


Belva pun melirik ke arah Sara. Pikirnya, dia akan membelikan satu potong es krim lagi untuk Evan. Akan tetapi, setelah mendengarkan ucapan Sara, Belva pun mengurungkan niatnya. Cukup dengan memberikan satu potong es krim untuk Evan.


“Papa, kita kembali ke rumah kita di Jakarta kapan Pa?” tanya Evan kini kepada Papanya.


“Besok Nak … besok sore kita akan terbang ke Jakarta,” balas Belva.


Belva lantas melirik ke arah Sara, “Kamu juga tinggal bersama kami di Jakarta yah … untuk Coffee Bay di Bogor jangan dipikirkan. Sudah pasti Nina dan karyawan di sana bisa membesarkannya,” balas Belva.


“Iya … aku akan tinggal bersamamu dan Evan,” sahut Sara.

__ADS_1


Sebab bagi Sara, di mana pun suaminya tinggal. Dia akan turut tinggal bersama Belva dan Evan. Lagipula untuk Coffee Bay miliknya bisa berjalan dengan baik. Yang penting Sara tetap melakukan controlling dan evaluasi untuk setiap Coffee Bay yang dia miliki.


__ADS_2