
Tidak terasa hari berganti hari, minggu berganti dengan minggu. Bulan pun berganti bulan, tidak tidak terasa hari ini adalah hari yang istimewa bagi keluarga Agastya karena tepat hari ini, putra kecil mereka yaitu Evander Agastya akan berusia satu tahun.
Di dalam rumahnya, sudah didekorasi pesta ulang tahun berwarna biru. Terjadi aneka action figur superhero yang dihiasi ruang tamu keluarga Agastya. Anin terlihat begitu excited merayakan ulang tahun putranya, yaitu Evan.
“Bi Wati, tolong cek lagi untuk snack dan juga minumannya yah,” pinta Anin kepada Bibi Wati.
“Ya Nyonya … saya akan pastikan semuanya sudah siap. Maaf, kalau saya boleh bertanya apakah hari ini Mbak Sara juga akan datang?” tanya Bibi Wati dengan tiba-tiba.
Sebagai orang yang dekat dan sudah melayani keluarga Agastya sekian tahun lamanya, Bibi Wati tentu sudah tahu asal-usul Evan. Oleh karena itulah, Bibi Wati pun bertanya apakah mungkin Sara akan datang di hari yang istimewa dan spesial untuk Evan.
Lagipula, bagaimana pun Sara adalah Ibu Kandungnya Evan, jadi Bibi Wati berpikir bahwa mungkin saja Sara akan datang untuk sekadar menemui Evan.
“Kemungkinan tidak, Bi … semalam aku menghubungi Sara, tetapi nomornya sudah tidak aktif. Kalau nomornya masih aktif, sudah pasti aku akan memintanya untuk datang dan merayakan ulang tahun Evan,” sahut Anin.
Mendengar jawaban Anin, Bibi Wati pun mengangguk, “Oh, iya … Nyonya. Bibi cuma bertanya,” balas Bi Wati.
Merasa tidak enak hati, Bibi Wati lantas memilih melanjutkan pekerjaannya. Setelahnya Anin bersiap untuk mengganti pakaiannya dan juga mengganti pakaian Evan.
“Hari ini, hari ulang tahun kamu Evan … terima kasih sudah mewarnai hidup Mama dan Papa selama satu tahun ini. Terima kasih sudah tumbuh dalam pengasuhan Mama,” ucap Anin.
Lantas Anin tersenyum dan mencium pipi Evan perlahan, “Terima kasih juga Sara … satu tahun yang lalu aku melihatmu dari balik pintu kamar tindakan bersalin, melihat bagaimana kesakitannya kamu melahirkan Evan. Lihatlah Sara, Evan sudah tumbuh. Dia bahkan tengah belajar berjalan. Andai kamu melihatnya, pastilah kamu akan senang Sara. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu, kamu yang memberikan kesempatan untukku menjadi seorang Mama. Sekarang, putramu … putra kita ini sudah berusia satu tahun,” ucap Anin.
Tanpa terasa air mata berlinang dengan begitu saja di sudut mata Anin. Hidupnya yang semula hanyalah wanita yang tidak sempurna, bertahun-tahun berumah tangga, hidupnya begitu saja, tetapi saat ada Sara perlahan Tokophobianya sembuh, dan dia memilik kesempatan menjadi seorang Mama bagi Evan.
Menahan perasaannya, Anin lantas membawa Evan turun ke ruang tamu. Sebab, beberapa rekannya semasa masih menjadi model dahulu akan datang dan membawa anak-anak mereka untuk merayakan ulang tahun Evan. Sementara Belva sendiri, akan datang dari kantor. Pria itu sudah berjanji untuk pulang lebih cepat.
__ADS_1
“Wah, baby boy yang hari ini ulang tahun … selamat ulang tahun ya Sayang,” ucap salah seorang mantan model yang juga adalah teman Anin yaitu Sandra.
“Makasih Onty Sandra … wah, Kakaknya ini namanya siapa?” tanya Anin yang menyapa putra temannya itu.
“Namanya Ravendra, Onty … panggilannya Vendra,” sahut Sandra.
“Vendra sudah berapa tahun, Sandra?” tanyanya.
“Sudah 5 tahun, selisih empat tahun sama Evan,” balasnya.
“Ya sudah … having fun yah … aku ke sana dulu,” ucap Anin yang hendak menyapa teman-temannya yang lain.
Pada akhirnya tidak berselang lama, Belva pun sudah datang dari kantornya. Pria itu sudah rapi karena memilih mandi di kantornya sekalian, sehingga begitu sampai di rumah, dia sudah bisa bergabung dalam acara ulang tahun Evan. Selisih sepuluh menit, seorang MC acara yang diisi oleh orang dari agensi Anin dulu bersiap membuka acara ulang tahun.
“Sore semuanya … ayo, adik-adik yang mau merayakan ulang tahunnya Baby Evan maju ke depan yuk … kita akan mulai acara ulang tahunnya Baby Evan bersama-sama,” pinta MC tersebut.
“Sekarang kita tiba di inti acara yah … kita akan tiup lilin dan potong kue untuk Baby Evan yah. Silakan Papa Belva, Mama Anin, dan Baby Boy maju ke depan yuk … kita tiup lilinnya yah,”
Tiup lilinnya …
Sekarang juga …
Potong kuenya …
Sekarang juga …
__ADS_1
MC dan anak-anak yang hadir pun menyanyikan lagu wajib anak-anak ulang tahun itu, dan ketiga bersama-sama meniup lilin di atas kue ulang tahun yang besar dan bertingkat dengan dekorasi Superhero itu. Setelahnya, Anin memotong kue itu, dan membagikan potongan kue kepada anak-anak yang menghadiri pesta ulang tahun.
Usai perayaan utama, Anin berbincang-bincang dengan teman-teman modelnya dulu, sekalian melepas kangen. Sebab, sudah satu tahun juga Anin pensiun dari dunia modelling, Anin benar-benar fokus untuk mengurus dan membesarkan Evan.
“Gak nyangka yah … kamu akhirnya punya baby juga,” ucap salah seorang teman Anin.
“Iya … makanya aku memilih pensiun dan membesarkan Evan,” balas Anin.
“Si Baby Boy mirip banget sama Papanya sih,” balas seorang teman yang lainnya.
“Eh, katanya kalau si bayi mirip Papanya waktu hamil Mamanya cinta banget sama Papanya,” sahut teman Anin yang lainnya.
Tak ingin memasukkan semua ucapan itu ke dalam hati, Anin terlihat santai sembari memangku Evan. Sebab, sejujurnya Anin tahu wajah Evan memang kombinasi wajah suaminya dan Sara, Ibu kandung Evan. Kendati demikian, Anin bisa menerima semuanya karena yang pasti sekarang ini Evan adalah putranya, dan kedua tangan Anin sendirilah yang merawat, mengasuh, dan membesarkan Evan.
“Evan sudah satu tahun tuh Nin … tambah momongan lagi. Sekalian capeknya,” balas salah seorang teman Anin yang lainnya.
“Nanti saja, Evan masih kecil. Belum siap juga kalau punya adik sementara dia masih minum ASI,” balas Anin.
Jauh di dalam lubuk hatinya, hati Anin berdesir. Jika ingin memiliki anak lagi tidak mungkin, karena Evan saja adalah hasil fertilisasi (pembuahan) antara sel ovum milik Sara dan benih milik Belva. Akan tetapi, mungkin Anin akan kembali mengunjungi Dokternya dan bertanya berapa besar prosentase yang dia miliki untuk memiliki seorang anak. Mendengar ucapan temannya, agaknya hati Anin tergugah dan tentu akan terasa menggembirakan jika dia memiliki buah hati sendiri.
“Tidak apa-apa, Nin … sekalian saja repotnya. Jadi nanti kalau Evan dan adiknya sudah besar, kitanya enak karena tinggal membesarkannya saja,” sahut teman Anin itu.
“Iya sih … ada enaknya juga. Akan tetapi, banyak pertimbangannya kan. Ya sudah, coba nanti konsultasi sama suami dan Dokterku dulu,” jawab Anin.
Akhirnya, teman-teman Anin pun berpamitan untuk pulang. Sementara Bibi Wati dibantu sekuriti kediaman Belva mulai membersihkan kembali rumah Belva. Anin memilih beristirahat dengan Evan di dalam kamarnya.
__ADS_1
Jujur saja tiba-tiba hati Anin merasa gamang. Haruskah dia melakukan program untuk memiliki buah hati. Apakah dia tidak mau mencoba kali ini? Anin menghela nafasnya sembari menatap Evan yang tengah bermain-main dengan kontainer play miliknya.
“Apa Mama harus mencoba untuk berusaha, Van? Kamu mau tidak jika Mama berusaha memiliki adik buat kamu?” tanya Anin dengan lirih kepada putranya itu.